
"Kenapa kamu cemberut gitu?" tanya Aron, menarik pinggang Manda dalam dekapan hangatnya. dengan tangan kiri menyangga pinggangnya erat. dan tangan kanan membelai lembut wajah cantik Manda yang polos tanpa make up itu.
"Gak apa-apa"ucap Manda cuek. Seolah tak perduli dengan sentuhan lembut Aron padanya.
"Apa kamu mau belaian dariku yang lebih dari ini" tanya Aron menggoda.
"Ih.. siapa yang mau. enggak"jawab Manda tegas.
"Terus kenapa cemberut, lihat bibir kamu udah maju berapa senti itu"ucap Aron memegang bibir Manda dengan jemarinya.
"Apaan sih" Manda menepis tangan Aron.
"Jangan cemberut gitu napa, apa kamu mau hubungan kita sama seperti Vino dan Kesha."ucap Lian yin mencubit hidung mungil Manda.
"Gak mau, aku mau hubungan kita itu selalu akur tanpa ada percikan masalah sedikit apalagi gara-gara wanita. Aku gak suka, kalau kamu seperti Vino aku akan buang jauh-jauh lelaki seperti itu"ucap Manda semakin kesal.
"Kenapa kamu marah, aku hanya tanya sayang"ucap Aron mengusap lembut rambut istrinya itu. "Udah jangan ngambek, itu aku udah pesan makanan tadi. jadi gak bisa makan di luar kita makan di dalam saja. Kalau soal Kesha aku juga sudah suruh pelayan antarkan makanan ke kamarnya untuk 3 porsi ke kemar Angela."ucap Aron seolah dia sudah tahu semua yang ada di pikiran Manda saat ini.
"Mana makananya?"Tanya Manda jutek. Padahal memang dia sudah mengharapkan makanan dari tadi. Perutnya sudah menahan lapar tapi Aron gak menggubrisnya tadi sibuk dengan ponselnya.
"Itu di meja, sekarang udah gak cemberut lagi kan? " tanya Aron menatap wajah Manda sangat dekat.
"Gak tahu"Manda mendorong tubuh Aron menjauh darinya. ia beranjak menuju ke meja makan yang sudah penuh dengan berbagai makanan yabg sudah siap untuk di santap olehnya.
"Sepertinya sangat lezat.."Gumamnya menggosok ke dua tangannya, ia segera duduk dan mulai menarik salah satu porsi makanan di piring. "Aku makan dulu" Ucap Manda mulai meraih sendok dan menyantapnya sangat lahap, tanpa menunggu Aron lebih dulu untuk menemaninya.
Aron menatap Manda tersenyum, melihat wajahnya yang polos itu membuatnya semakin tak bisa jauh darinya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, dan segera duduk di depan Manda.
"Kamu suka?" tanya Aron menyangga dagunya menatap cara makan Manda yang sangat lahap.
"Suka, suka" ucap Manda dengan mulut masih penuh dengan makanan.
"Udah, telan dulu makanannya jangan bicara sambil makan"ucap Aron mengingatkan pada istrinya itu.
"Kapan kamu pesannya, kenapa tadi aku gak tahu"tanya Manda, yang nasih berusaha menelan makananya.
"Tadi waktu aku di kamar Mandi dan kamu kabur dariku"ucap Aron.
"Enak, kamu gak mau makan?" tanya Manda. "Enak lo? coba deh"ucap Manda menyuapkan makanan ke mulut Aron tanpa persetujuan darinya.
"Ini makan terus, enak kan?" Manda terus menyuapkan makanan itu ke mulut Aron, padahal mulutnya masih penuh dengan makan.
"Emmm...emm"ucap Aron mengibaskan ke dua tangannya ke depan seolah ia sudah menyerah tak bisa menampung makanan lagi mulutnya.
Manda tertawa kecil melihat Aron yang kl
kesusahan untuk nelan makannya.
"Sudah Manda, sudah penuh ini" gumam Aron perlahan menelan makananya, dan segera meraih satu gelas air putih yang sudah ada di depannya, lalu meneguknya habis.
"Bisa gak romantis dikit gitu, nyuapin pakai perasaan syang. pelan-palan sambil menikmati pandangan mata kita saling tertuju."ucap Aron menjelaskan.
"Nyuapin itu pakai tangan sayang bukan pakai perasaan. Kalau pakai perasaan gimana caranya"ucap Manda menggoda.
Aron menghela napasnya untuk sabar, menghadapi istrinya itu.
"Kenapa diam?" tanya Manda.
"Iya benar, sekarang aku memberi suatu hadiah dariku"ucap Aron.
"Apa?" tanya Manda langsung antusias.
"Kamu tutup mata dulu"ucap Aron beranjak berdiri.
"Baiklah" Tanpa curiga Manda segera menutup matanya rapat. dan sudah menanti sebuah kejutan apa lagi yang ia dapatkan dari Aron.
Manda langsung membuka matanya, "Hanya itu kejutannya?" tanya Manda kesal.
"Emangnya apa, salah sendiri buwat aku kesal"gumam Aron.
"Ya, udah gak usah ajak bicara aku satu menit"gumam Manda.
"Kok hanya satu menit, gak kurang lama"ucap Aron menggoda.
"aku gak bisa jengkel, marah, emosi, terlalu lama denganmu. Karena..."Ucap Manda berdiri tepat di depan Aron.
"Karena aku sangat sayang dengan suamiku ini"Bisik Manda lirih.
Aron tersenyum mendengar ucapan Manda. Istrinya ternyata pandai juga merangkai kata untuk merayu.
Manda beranjak pergi duduk di sofa, "Syang bersihkan semuanya, yang belum habis buwat makan entar kalau aku lapar lagi"gumam Manda yang sudah duduk santai di sofa dengan ke dua kaki diatas meja, dan punggung bersandar di sofa, serta jemari membuka lembar demi lembar majalah yang sudah ada di meja tamu.
"Kenapa harus aku?" tanya Aron kesal.
"Kan kamu yang terakhir makan"gumam Manda.
Aron hanya bisa mengusap dadanya menahan rasa kesalnya. "Sabar dia lagi hamil, banyak permintaan aneh-aneh yang ia inginkan"gumam Aron dalam hati.
kringg...
ponsel Aron berbunyi, ia segera menuju ke kamarnya meraih ponsel yang berada di atas ranjang. Ada sebuah pesan masuk, dari manajernya.
"Kenapa dia mengirimku pesan"gumamnya.
"Maaf tuan, kemarin saya sudah mendaptkan oramg yang berani mengancam. tapi tadi waktu saya ke rumahnya dia sudah kabur dan semua barang sepertinya di bawa semuanya tuan"
membaca pesan itu mata Aron mulai mengeluarkan percikan kemarahan.
"Aaaahh... sialan. Berani kabur kemana dia, aku tidak akan tinggal diam"Aron melemparkan ponselnya ke lantai. Ia terlihat sangat kesal saat menerima pesan itu.
Manda yang duduk si sofa menatap Aron bingung, dengan apa yang ia lakukan. wajahnya terlihat benar-benar marah. terlintas lagi di benak Manda kejadian lali yang pernah Aron lakukan padanya.
Manda kini terdiam dan penuh ketakutan. Sepertinya Aron akan kembali lagi seperti pertama bertemu dengannya. Wajahnya kini sangat kaku lagi. Bahkan sudah penuh emosi yang mengobar seluruh tubuhnya.
Manda duduk menciut di sofa dengan ke dua kaki di atas sofa, di peluknya erat kaki itu. Ia menyembunyikan wajah ketakutannya dari Aron.
Aron terdiam menatap Manda yang ketakutan, ia berjalan mendekati Manda. "Syang.. maaf"ucap Aron mengusap punggung Manda lembut.
Manda hanya diam tubuhnya seakan bergetar, entah kenapa ia merasa takut saat mrlihat Aron marahnya seperti dulu. Padahal ia sebelumnya belum pernah seperti ini. Dan semenjak jadi suami Aron, Manda bahkan belum pernah periksa sama sekali ke dokter tentang kondisinya.
Karena merasa sudah baikan, tapi entah kenapa ia merasa seperti ini saat mendengar suara keras suaminya. Apa rasa trauma itu tumbuh lagi. Di tambah trauma karena penyiksaan dari Aron.
Ia ingin periksa kesehatannya, tapi ia takut jika Aron tahudan tak mau menerima kondisinya.
Meski sebenarnya diam-diam Aron sudah tahu semua tentang Manda namun ia lebih memilih diam tanpa banyak bicara.
"Syang" sapa Aron lembut duduk di samping Manda.
Manda menepis tangan Aron dadi pundaknya. Spontan Aron melihat tubuh Manda bergetar semakin hebat, ia langsung memeluknya erat. "Aku tadi hanya emosi pada seseorang bukan padamu"ucap Aron menjelaskan.
"Aku gak perduli"ucap Manda lirih.
"Syang udah dong ngambeknya ya, aku sebenarnya ingin sekali cerita padamu tentang masalahku"ucap Aron.
"Cerita aja!" Ucap Manda jutek.
"Lihatlah wajahku, aku tidak akan menyakitimu Manda. Aku sudah janji padamu"ucap Aron.
Manda hanya diam dan mendorong tubuh Aron menjauh darinya.