Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 234


“Syang, kamu mau makan apa sekarang?” tanya Aron, berjalan


menghampiri istrinya yang sibuk mengurus anak-anaknya.


“Terserah syang, emangnya kamu mau masak lagi buat aku?”


tanya Manda menatap ke arah Aron, yang berdiri di depannya.


“Apa yang kamu minta, aku akan masakin syang. Lagian kamu


juga masih sakit, jadi aku gak mau biarakan kamu jalan sendiir. Turun ke bawah,


untuk masak buat aku dan anak-anak.” Ucap Aron, menyisir rambut Manda dcengan


jemarinya. Lalu membelainya lembut.


Aron memang suka bermain dengan Rambut Manda yang selalu


terlihat wangi, dan lembut. Mebuatnya samakin betah dengannya. Manda semenjak


dengan Aron, ia lebih pandai merawat dirinya. Agar lebih cantik dan terawat.


“Kenapa kamu gak suruh masak pembantu kita syang!!” ucap


Manda


“Gak mau, aku mau memanjakan istri aku. Yang suah berhasil


melahirkan anak-anak aku dengan selamat” Aron mengecup kening Manda. “Makasih, ya,


Syang. Kamu sudah mejaga anak aku selama hampir sembilan bulan, dan kamu melewati


itu semua dengan  perasaan senang, dan


tak kenal lelah melakukan semua aktifitas. Aku bangga punya istri seperti kamu”


uacp Aron, mengusap pipi manda lembut.


“Iya, syang. Aku juga berterima kasih padamu, kamu telah


jadi suami yang baik buat aku.” Gumam Manda.


“Ya sudah. Duke dan Lia sama kamu juga ya” gumam Aron.


“Iya, Duke, Lia kamu sama mama ya. Biar papa kalaian masak


buat kita!!” ucap Manda pada ke du anaknya yang sibuk melihat adik batrunya,


yang sedang tidur.


Aron segera pergi meninggalkan Manda yang masih gendong


Axcel dan Brandon masih tertidur di ranjangnya.


“Ma, Duke nanti mau seperti ayah. Duke mau punya wanita


seperti mama, yang baik” ucap Duke dengan polosnya.


“Lia juga mau seperti mama” sambung Lia.


Manda yang selesai memberi asi anaknya Axcel, yang paling


sering rewel dari pada Brandon. Yang lebih banyak diam, jarang sekali menangis.


Manda meletakkan Axcel di ranjangnya dan duduk di sampingnya. Sedangkan Duke


dan Lia di depannya duduk bersama dengan pandangan menatap ke arah Brandon dan


Axcel.


“Ma, aku ingin jadi seperti mama dan papa saat besar nanti.


Kalian semua sangat baik” ucap Duke, menatap ke arah Manda.


”Lia, Duke kalian jangan jadi seperti kita. Jadilah diri


kalian sendiri. Apa yang Duke inginkan, dan apa yang Lia inginkan. Turuti apa


kata hati kalian. Dan ingat jangan jadi seperti orang lain. Jika kalian besar


jadilah diri kamu sedniri, sesuai dengan karakter kalian masing-masing” ucap


Manda menjelaskan, ia duduk mendekati ke dua anaknya itu. Mengusap kepala


mereka lembut.


“Kenapa Ma?” tanya Lia.


“Karena setiap orang punya kehidupannya sendiri-sendiri.


Jadi kalian harus jalani kehidupan kalian sendiri nanti. Dan saat dewasa kamu


harus selalu ingat apa yang mama ucapkan pada kalian.” ucap Manda. “Dan jika


mau tahu, nanti kalau kalian sudah besar, Kalian akan tahu sendiri. Apa yang


mama maksud.” Lanjut Manda menjelaskan.


“Baik ma” jawab Lia dan Duke kompak.


````


Di sebuah mobil sport merah milik Aron, yang sekarang jarang


sekali dia pakai. Semenjak Manda punya Anak Duke dan Lia, ia sudah tidak mau


pakai mobil Sport itu yang hanya bisa di gunakan untuk dua orang saja. Jadi


mobil ityu sudah gak di pakai lagi, Aron memberikan itu pada adiknya Vino.


Suasana mobil nampak sangat hening, Kesha memilih diam menatap


ke depan. Tanpa melirik sedikitpun ke arah Vino di sampingnya.


Vino juga memilih diam, ia takut jika bicara malam menambah


keruh suasananya. Tapi tidak dengan matanya, yang selalu melirik ke arah Kesha,


**** hanya beberapa detik sata.


“Kenapa kamu melirikku?” tanya Kesha, meski tidak


Shiiitt... Kenapa dia bisa tahu, padahal aku ingin memandang


wajah dia diam-diam. Pikirnya dalam hati.


“Apa kamu gak punya mulut?” ucap Kesha, seakan langsung


menusuk hatinya. Semakin lama Kesha ucapanya semakin tajam, setajam pisau


belati yang baru saja di asah.


“Punya, kalau gak punya aku gak bisa merasakan kecupan bibir


kamu nanti di pernikahan kita” ucap Vino menggoda, dengan pandangan masih fokus


mengemudi mobilnya. Dengan kecepatan standart, ia melaju etah mau kemana lebih


dulu.


“Jangan berharap kamu bisa menikah dengan kau” ucap Kesha


jutek.


“Kenapa, berharap lebih baik. Asalkan hatinya sekuat baja,


mengharapkan seorang wanita yang tidak pernah perduli dengannya lagi” ucap


Vino, seketika membuat wanita itu terdiam, menelan ludahnya, melegakan


tenggorokannya yang terasa kering.


“Terserah kamu!! Dasar otak batu!!”


“Lebih baik jado otak batu, tidak bisa berpikir jernih soal


cinta. Agar tidak sakit hati lagi”


Kesha yang merasa sudah geram, ia menghembuskan napasnya


kesal, menarik bibirnya sinis. Dengan tangan bersendekap mentap ke depan.


“Jangan marah!! Kalau kamu marah, apa yang terjadi denganku


nantinya?”


“Siapa yang tahu.”


“Apa lagi aku juga gak tahu”


“Udah gak usah banyak bicara lagi.. Sudah pusing aku


mendengarkan omongan kamu yang entah lari kemana. Sekarang kita mau kemana


lebih dulu, ke pantai atau ke kontrakkanmu?” tanya Kesha sinis.


“Kita ke kontrakkanku saja” jawab Vino.


“Tapi kamu jangan sampai menyentuh aku sama sekali. Kamu


harus jaga jarak dnegan aku” ucap Kesha.


“Baiklah, aku akan jaga jarak dengan kamu, syangku.” Ucap Vino,


menarik bibirnya tipis dengan ke dipa menggoda khas miliknya.


“Iya” jawab Kesha jutek.


“Meski jarak kita juah, tapi hati kita selalu dekat. Bahkan


setiap hati kamu selalu menemaniku. Kamu selalu ada di hatiku”


“Hahh.. basi, jangan mencoba merayu ku.”


“Apa kamu gak percaya?”


“Enggak, kenapa juga aku harus percaya dengan kamu. Kamu itu


ngeselin, laki-laki play boy yang sok setia” ucap Kesha dengan wajah penuh


emosi menatap ke arah Vino.


“Aku dulu memang play boy, tapi itu dulu Sha, sekarang kamu


yang sudah memenuhi hatiku. Hingga tidak ada wanita yang bisa masuk dalam hati


ini. Hanya kamu wanita cantik yang sealu menamni setiap malamku, setiap mimpi


indahku” ucap Vino.


Kesha mengangkat ke dua tanganya sebahu, dan mengibas-ngibaskan


ke samping telinganya.


“Udah-udah, gak usah bawah itu” ucap Kesha, yang merasa


telinganya sangat gerah harus mendengar rayuan Vino yang semakin membuat ia


muak.


“Oke..” Vino menutup mulutnya rapat-rapat, namun ia tidak


bisa berhenti tersenyum dan melirik ke arah Kesha.


Sha, meskipun kamu seperti itu padaku, tapi aku tahu kamu


tidak serius bilang itu. Kamu jangan terlalu menyembunyikan perasaan kamu


terlalu lama Sha. Gumam Vino, menatap wajah pujaan hatinya.


---


Albert yang sudah berkemas dari hotel, ia langsung menuju ke


rumah Vina. Dan mobilnya berhenti tepat di depan rumahnya. Albert menarik


napasnya dalam-dalam, ia sekarang merasa ragu, ingin masuk ke dalam rumahnya, tapi


keberaniannya terasa menciut seketika.