Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Lanjutan Manda


Manda, sudah hampir setangah jam ia masih  stay, di dapur bersama dengan Aron, seperti biasa melanjutkan kegiatanya tadi, sebelum Vino masuk ke dalam rumahnya. Dan Vino masih duduk di teras rumah, ia tidak mau masuk dulu, karena memang ingin menikmati pemandangan malam di luar.


“Syang sudah, nanti kalau Vino pulang bagaimana?” Manda, mencoba menutup kembali miliknya. Smbari meneruskan desahan kecil, yang measih keluar dari mulutnya.


“Jangan syang, bentar, lagian sudah terlanjur, gak enak kalau di batalin.” Ucap Aron, yang masih menyumbu mesra istrinya, membuat desahan kecil keluar dari mulut Manda, semakin menjadi.


“Syang! Sudah, ya!”


“Bentar!!” ucap Aron, yang masih tidak mau melepaskan Manda.


“Nanti, kalau kamu ingin lagi, bagaimana.” Ucap Manda, memegang kepala Aron, sembari mengacak-acak rambutnya, menahan rasa sesuangguhnya dari permainan jemari tangan Aron.


“Ya, gampang, tinggal masukin sayang?”


Manda menautkan alisnya, “Apa syang?”


“Lolipop,”


“Siapa yang bahas itu,” ucap Manda heran. Mengerutkan keningnya, dengan mata sedikit menyipit, menatap aneh pada Aron.


“Terus kamu bahas apa?” tanya Aron, yang mengira jika menginginkan itu.


“Sudah bahas di kamar, jangan di sini. Kalau pembantu kita tahu, aku yang malu juga syang.” Ucap Manda, beranjak turun.


“Tapi, kanapa malah kamu himpit tangan aku, syang. Apa kamu masih mau melanjutkan?” goda Aron.


Aron mengecup Manda yang terkahir, ia mengyembunyikan wajahnya di balik belahan dada Manda.


-----


Vino berjalan dengan santainya, dengan bibir menikmati senandungan musik yang ia nyanyikan, berjalan memejamkan matanya, tanpa sadar di depannya, sedang ada kakanya, bercumbu.


“Vino?” decak kesal Aron. hang sadar ada kangkah kaku mendekat, ia menoleh ke arah ke belakang.


Vino menyudahi nyanyainnya, ia menatap ke depan, dan seketika ia membalikkan badannya cepat.


“Oppss,,, maaf kak, aku lewat. Gak tahu kalau kakak lagi, enak-enak.” ucap Vino, yang tak sengaja melihat hal itu, menutup matanya dengan telapak tangannya. Dengan langkah mundur, ia mencoba mencari minuman di kulkas.


“Kamu apa di sini?” tanya Aron kesal, ia memeluk tubuh Manda, agar adiknya itu tidak melihatnya.


“Mau cari minum kak,” jawab Vino, tanpa menatap ke arah Aron.


“Apa kamu tadi, melihatnya?” tanya Aron memastikan.


“Enggak kok, cuma dikit.” ucap Vino, mencoba untuk berbohong. Sebenarnya ia tak sengaja melihat sedikit, tapi terlihat samar tak jelas, tapi ia tahu apa yang di lakukan kakaknya itu, karena dia laki-laki jadi ya, dia sudah paham, apa yang di inginkan laki-laki. Pada istrinya setiap harinya.


“Syang, lepasin tangan kamu, nanti saja di kamar.” Ucap Manda lirih. Ia dengan cepat, segera membenarkan dress miliknya.


“Kamu tutup mata, jangan melihat.” Ancam Aron, segera menundukkan badanya, membenarkan dalaman Manda, beranjak berdiri menatap Manda, mengecup keningnya. “Sudah, ayo pergi ke kamar,” ucap Aron, memegang tangan Manda.


“Bentar!!”


“Apa lagi syang, apa kamu masih mau lagi di sini,”


“Bukan itu!!” ucap Manda dnegan nada manjanya.


“Terus, apa?”


“Kopi kamu ketinggalan,” lanjut Manda, sembari meringis, menatap Aron, dengan telunjuk tangan menunjuk kopi yang ia buatkan untuk Aron.


“Sudah, buat Vino yang minum.” Ucap aron. Mengangkat tubuh Manda, berjalan menaiki anak tangga, menuju ke kamarnya.


“Kak, sudah belum.” Ucap Vino, yang tidak sadar jika kakanya sudah pergi.


“Mereka sudah pergi. Kenapa kau gak sadar langkahnya tadi,” gerutu Vino, berjalan mencari minuman, ia mengambil kopi yang sudah siap.


“Pasti ini punya kak, Aron. Lebih baik, aku minum saja.” Vino, bergegas masuk ke dalam kamarya, membawa secangkir kopi, ia berjalan masuk ke kamar., dengan langakh lurus, menuju ke balkon kamarmya. Sembari melihat kamar Kesha, yang sepertinya, lampunya masih menyala.


“Lebih baik, duduk di sini. Melihat bidadari keluar.” Gerutu Vino, segera duduk, ia tak berhenti menatap kamar Kesha.


Drrtt ... drrrt... drrtt


Ponsel Vino bergetar, ia segera mengambil ponselnya, menatap layar ponselnya yang masih menyala. Pesan dari Kesha, seketika membuatnya bersemangat.


“Kamu sudah tidur,” pesan dari Kesha


“Belum," jawab Vino, dengan bibir tak berhenti terus tersenyum sepeti laki-laki yang memang baru pertama kali kasmaran.


“Kamu keluarlah,”


“Gak mau, di luar dingin,” jawab kesha.


Vino tidak membalas pesan Kesha, ia segera menghubungi kekasihnya itu, yang akan sah menjadi istrinya tiga hari lagi. mwmang sengaja ia vidio call, agar bisa melihat kegiatan kesha di dalam kamarnya.


“Ada apa telfon?’ tanya Kesha, yang sepertinya baru selesai dari kemar mandi,”


“Apa kamu tadi mandi?” tanya Vino, melihat tubuh Kesha di balik ponselnya, hanya berbalut handuk putih.


“Iya, pasti kamu belum mandi ya,”


“Nanti saja, aku mau bilang sesuatu sama kamu.” Ucap Vino.


“Memangnya, kamu mau bilang apa?”


Vino tersenyum, “Tadi, aku belihat Manda dan kakakku di dapur.”


“terus, kenapa juga kamu cerita, lagian Manda pasti nyiapin makan untuk Aron."


“Enggak, tapi lagi enak-enak, aku jadi gak sabar mau seperti itu dengan kamu.”


“Tunggu waktunya!!”


“Iya, iya syang.” Ucap Vino, mengerutkan bibirnya.


``````


Di sisi lain Vino yang sibuk vidio call Kesha, berbeda dengan Aron, yang tadi bermanja ria dengan istrinya, ia beranjak duduk di ranjang, menatap ponselnya. Tanpa perdulikan Manda yang sedang sibuk menyusui anaknya.


“Syang, kenapa kamu sibuk sendiri dengan ponsel kamu. Siapa yang menghubungimu?” tanya Manda, curiga, dari tadi ia terus menatap ponselnya.


“Ada pesan dari manajer kita dulu. Dia bilang jika Fany sudah sampai di sana, dan dia memang lagi bertengkar dengan keluargamya.”


Manda, melewatkkan anakanya di samping ia berbaring. Dan beranjak mendekati Aron, dan duduk di sampingnya. “Jadi, kamu selama ini, sibuk menghubungi manajer kamu di sana. Dan kamu mencari tahu tentang Fany, apa kamu mencintai dia, atau mengharapkan dia kembali?” tanya Manda, yang mulai curiga dengan Aron, lagian akhir-akhir ini Aron sering bericara dengan seseorang setiap malam, entah apa yang mereka bicarakan. Manda juga tidak terlalu mendengar pembicaraan mereka. ia ingin bertanya tapi dia, merasa takut jika Aron akan marah padanya.


Aron, meletakkan ponselnya, menghadap ke arah Manda, mencoba berbicara padanya. “Aku tidak ada perasaan dengannya, jika aku suka dengan Fany, kenapa aku menceraikannya dulu. Dan lebih memilih kamu. “ Aron, memegang ke dua tangan Manda, dengan tangan kanan memegang pipi istrinya, sedikit mengusapnya lembut.


“Kamu gak bohong? Terus siapa yang kamu telefon malam-malam, dan kalian sepertinya sangat akrab.” Ucap Manda, mengerutkan bibirnya, dengan kepala sedikit menunduk lesu.


Aron memegang dagu Mnada, sedikit mendongakkan kepalanya agar menatap matanya, “Jangan curiga lag padaku, aku hanya menghuungi manajer. Bukan wanita lain, sekarang aku sudah punya bidadari terindah. Yang selalu menemani hariku, memanjakan anak-anak aku.” Ucap Aron, mendekatkan bibirnya, dan langsung mengecup bibir Manda, lembut. Ia melepaskan sejenak, menarik napasnya, menatp istrinya.


“Kita lanjutkan permainan kita tadi syang,” ucap Aron, yang langsung melepaskan helaian kain yang menutupi tubuh Manda, tanpa mendengar jawaban ‘iya’, dari mulut Manda, Aron langsung mengecup bibir Manda, penuh gairah, dengan tangan langsung menjelajahi tubuh Manda, melanjutkan cumbuan yang sempat tertunda tadi.