
Aron masih terus mengikuti Manda namun apalah daya manda masih tetap tak perdulikan lelaki yang tak ia kenal itu. Namun sebenarnya ia sudah mulai curiga dari awal tapi sebelum ia tahu detail ia tidak mau berburuk sangka dengan seseorang. Saat menatap wajahnya yang samar samar terlihat tadi.
Manda berjalan menuju ujung jalan tanpa perdulikan lelaki itu di belakangnya yang terus mencoba mengejarnya. Dengan langkah semakin vepat ia tak perfulikan Lelaki itu di belakangnya jauh.
" Hai kamu mau kemana?" Teriak Lelaki itu mencoba mengejar langkah Manda yang semakin cepat.
" bukan urusan kamu" ucap Manda cuek. Ia mengentikan sebuah bus di depannya.
" ikut aku " Lelaki itu mencoba menarik tangan Manda namun di tepis olehnya. Ia segera naik bus tanpa perdulikan ceroscos lelaki tak di kenal di sampingnya itu.
Tak henti sampai di situ Aron ikut naik bus bersama nya. Namun bukannya dapat duduk ia berdiri dengan desakan orang banyak membuatnya risih dan baru pertama kali dalam sejarahnya Aron. ia mau desak desakan naik bisa hanya untuk mengikuti manda. Tak mau di cap menyerah begitu saja perjuangannya masih belum berakhir. Apapun akan ia lakukan asalkan semua berjalan mulus dan manda lama-lama luluh dengannya. Jangankan naik bus jalan kakipun ia tempuh demi Manda.
Entah kenapa ia benar-benar perjuangkan Manda kali ini. Ia tidak mau Manda menjaga jarak dengannya seperti itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Meski kini harus panas panasan berdiri di dalam bus ia temouh meski sangat kesal dalam hatinya.
"Rasanya benar benar bikin aku muak harus berdesakan di dalam bus seperti ini" gumam Aron lirih. Ia melirik sekilas ke arah Manda yang duduk bersama lelaki di belakang jarak 1 sap tempat duduk. Sepertinya Manda tak perdulikan dia pandangnya tertuju pada jendela melihatkan pemandangan jalan di luar.
Ia mencoba menerobos kerumunan para penumpang lain agar bisa dekat dengan manda.
" Maaf aku boleh duduk di sini" ucap Aron pada lelaki di samping Manda.
" Boleh" Dengan senang hati lelaki itu berdiri dan memepersilahkan Aron duduk.
" Brukk..." tiba-tiba ada Seseorang menabrak punggungnya. Membuat topi dan kacamatanya jatuh di bawah dan sudah jadi rencekan di injak-injak olah penumpang lain.
" shittt" gumam Aron kesal.
" Maaf maaf" ucap seorang wanita paruh baya itu yang sedang terburu buru menggendong anaknya untuk turun.
" Iya" Balas Aron dengan senyum nya. Ia melihatnya tidak tega dengan wanita paruh baya itu yang harus menggendong anak bayinya sendiri berdesanan dengan penumpang lain.
Manda masih terdiam di tempat duduknya. tak perdulikan lelaki di sampingnya. ia hanya berdiam diri seolah acuh pada apa yang terjadi pada lelaki di sampingnya itu.
Aron melirik ke arahnya Manda sekilas.
"Bisa gawat kalau manda sampai tahu. Lagian kenapa bisa jatuh sih" Gumam Aron lirih. Mencoba menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh Manda.
Kini Manda sekilas menatap lelaki di sampingnya yang terlihat aneh dan ini benar benar sangat familiar. Rambut hitam pekatnya terlihat sangat familiar di ingatanya. Ia menarik tangan lelaki yang terus menutupi wajahnya.
Manda mengerutkan keningnya menatap lelaki di sampingnya itu.
" Kamu?" Pungkas Manda mebelalakan matanya seketika. Ia tak menyangka jadi kemarin yang membantunya adalah Aron. Dan dia pura pura untuk menjadi orang lain agar dekat dengannya. Tak bersimpatai Manda terlihat sangat marah.
Ia tak mau terbayang rasa curiga lagi. Manda menarik masker di wajah Aron.
" benar kan kecurigaanku" Tadi aku hanya diam dan sekarang benar benar kecurigaanku terbukti"Manda meninggikan suaranya. Ia tak perdulikan pandangan orang padanya. Entah apa yang ada dalam hati mereka melihatnya marah marah.
" Manda bisa dengarkan penjelasanku dulu" Ucap aron mencoba menyetuh tangan Manda namun selalu di tepis olehnya.
" gak ada yang perlu di jelasin lagi. Aku sekarang gak akan takut padamu. Soal hutang kakakku aku akan bayar semuanya" Manda beranjak dari duduknya segera pergi dengan perasaan marah yang mulai menggebu dalam hatinya.
" tunggu" Aron meraih tangan Manda namun dengan sigap Manda menepis tangan kekar Aron.
" haaaahhh..." Aron bergetak kesal membuat semua penumpang lain menatap ke arahnya dengan tatapan sinis.
" Pak turun di sini" Ucap Manda bergegas turun dari bus itu.
Kali ini ia harus menempuhnya dengan jalan kaki. Sekilas ia melihat Jam tangan Coklat yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul 07.30. Jika dia sampai telat entah apa jadinya dia nanti.
" Sepertinya aku harus lari maraton" pungkas Manda memulai ancang ancang untuk berlari.
" Sekarang lupakan dia dan ayo manda seamangat untuk bekerja" Gumam Manda memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Ia berlari mengeluarkan semua tenaganya.agar cepat sampai di Cafe tepat waktu.
#Aron POV
Aron masih di dalam bus dengan perasaan kesalnya. " Sialan semua rencana yang sudah aku siapin berantakan" gerutu Aron dengan nada kesal tak hentinya.
Ia tak perdulikan semua orang menatapnya. Lelaki itu beranjak berdiri dengan perasaan kesal menabrak setiap orang yang menghalangi langkahnya.
" berhenti" Ucap Aron pada sopir bus di depan. Lalu ia bergegas turun dari bus yang membuat ia merasa sangat kesal. Sudah panas panas naik bis meski ada AC di dalamnya masih terasa panas. Sekarang amanda mrah dnegannya mengetahui kenyataan rentang dirinya.
Ia meraih ponsel di sakunya mencoba menghubungi Jack yang sekarang entah masih di kantornya atau tidak.
" Jack" Ucap Aron
" Ada apa. Apa rencana kamu berantakan tumben menghubungiku" pungkas Jack dengan ucapan menggoda
" Kamu di mana sekarang"
" Di kantor..." belum sempat Jack melanjutkan ucapanya ia mamatikan ponselnya seketika memasukkannya ke dalam saku.
Ia menghentikan taxi yang Melintas tepat di depanya. Tak mau menunggu lama ia bergegas naik. Ia masih terlihat sangat marah. hari ini benar-benar tak terfikirkan olehnya. Manda mengetahui semuanya sangat cepat. Kini wajahnya terlihat sangat dingin.
" Manda aku tidak akan melepaskmu" gumam Aron dengan perasaan kesalnya sudah mulai menggebu gebu.
#Back Manda
" akhirnya sampai juga" Dengan nafas ngos ngosan ia menyeret kakinya berjalan masuk dalam Cafe yang sudah di depan matanya itu.
Tak mau menunggu lama lagi ia segera ganti pakaian. Tapi pikirannya masih sama ia terus memikirkan kejadian tadi benar benar membuatnya pusing. Ia sangat kesal, kemarin ia yang membohongi nya dan pura pura baik padanya.
Manda dengan tatapan kosong berjalan mulai membersihkan setiap meja di cafe. Ia teringat saat pertama ia bertemu dengan lelaki itu yang ternyata adalah Aron. Sempat ia terkesima dengan kebaikan lelaki itu tapi apalah ternyata semua sudah terbongkar itu hanya akal akalan Aron untuk dekat dengannya.
" Ngapain juga aku mikirin lelaki iblis itu lebih baik fokus kerja" ucapnya mencoba menyangkal pikiranya hang selalu di penuhi dengan Aron.
" Dor... " gertak Kesha membuat ia terjingkat menoleh seketika.
" kesha . Bisa gak jangan ngagetin aku " Ucap Manda kesak ia menekuk wajahnya yang terlihat muram.
" Manda kamu kenapa? Maaf deh" pungkas Kesha dengan wajah lesu menegrutkan bibirnya.
" aku bukannya marah karena kamu. Tapi ada pikiran lain yang menggangguku" Ucap Manda.
" Manda cepat kerja jangan ngobrol terus" teriak bos Manda.
" Ya sudah kamu cepat kerja. Kamu bisa cerita nanti apa masalah kamu" Ucap Kesha menepuk pundak Manda mencoba memberi semangat padanya.