
Ke gelapan malam itu berubah menjadi hari yang cerah.
Aroma bunga pagi hari yang memenuhi udara di dalam kamar yang terlihat megah. di sambut dengan hangatnya sinar matahari yang menembus ke tubuh mungil Manda. Seakan terasa menghapus semua ketakutan di dalam hatinya.
Semua yang Manda rasakan perlahan mulai hilang saat melihat
Lengan Aron kini merengkuh tubuh Manda lebih erat bagaikan sebuah guling dalam pelukan nya.
Manda hanya terdiam memutar mata menatap sekelilingnya. Dia ingin sekali berdiri namun rengkuhan Aron sangat erat semakin membuat dia sesak nafas.
Manda mencoba melepaskan tangan kekar Aron di perutnya Tanganya kini semakin merengkuh erat tak membuat celah sedikitpun untuk Manda pergi. " Om.." panggil manda lirih.
Aron tak perdulikan panggilan Manda. Tiba tiba sebuah bibir Mengecup bibir dagu leher manda. nafas yang terasa hangat dan berat berhembus di lehernya seolah tubuh Manda menerima sebuah peringatan berbahaya lagi.
Tubuhnya tak bisa berkutik di samping lelaki itu. Entah dia benar masih tidur atau hanya pura-pura. Entahlah...
Terasa sekian lama Manda merasakan kehangatan pagi hari dari dekapan Aron kini dia mulai melepaskan dekapan nya perlahan. Aron berdiri dengan wajah nampak sangat dingin. Dia hanya terdiam tanpa sepatah katapun pada Manda seolah tak di anggap dari pandangannya.
Sebuah Pemandangan indah muncul di hadapan nya. sebuah pantulan sinar dari matahari pagi yang menembus langsung ke kaca kamarnya memperlihatkan jelas lekuk tubuh ramping dan sispeck milik Aron berada di hadapan matanya. Membuat ia terdiam sejenak. Manda merasa tidak menyangka harus seperti ini.
Namun Pemandang itu yang tak berangsur lama. Aron mulai meraih pakaian di tempat tidur. Lalu satu persatu mulai mengancingkan kemejanya dengan sangat teliti sampai ke atas. Dan menekuk sedikit kancing lengannya. Membuat penampilannya sangat sempurna. Baru kali ini Manda melihat sisi lain dari Aron benar benar berbeda dari Aron yang pertama ia kenal.
Mengingat kejadian yang di lakukan Aron tadi malam membuat dia muram. Ingin sekali dia marah pada Aron saat dia menginat keganasan Aron melahap tubuhnya. Bahkan seperti hewan buas yang datang ingin menerkamnya habis. Kini melihat wajah tampan aron di depanya membuat dia terdiam. Ia mulai bingung wajah yang tadinya sangat manis berubah drastis nampak Arogan dan dingin lagi. Bahkan tanpa menyapa manda di depannya. Wajahnya nampak sangat kaku tanpa senyum sedikitpun untuk menyambut pagi hari pada Calon istri barunya.
Melihat Aron beranjak pergi tanpa mengucap satu katapun pada nya.
Dengan sigap.
Manda mulai menarik nafas lega mendengar hentakan kaki Aron yang semakin menjauh dan beberapa saat terdengar suara pintu tertutup. Dia mulai menatap sekeliling nya beranjak dari tempat tidur yang sangat menakutkan itu.
Dia berjalan menuju ke cermin, lalu melihat tubuh nya di cermin di hadapa nya. Tubuh mulus nya penuh dengan tato bekas ciuman lelaki iblis itu. Bibir yang semula merekah berubah jadi hitam memar akibat gigitan lelaki buas yang sangat mengerikan dan manakutkan. Kini manda harus kehilangan kesuciannya di tangan Aron. Ingin rasanya dia marah namun apa boleh buwat ada satu misi yang belum ia capai menemukan seseorang yang membunuh orang tuanya.
Kali ini dia benar benar sudah tak bisa apa apa lagi. Tubuhnya sudah ternodai dan tidak akan pernah bisa pulih lagi. Mana ada lelaki yang mau menikahinya nanti. Beban fikiran yang terus mengahantuinya saat ini membuat dia semakin terpuruk di buatnya. Tak bisa bayangkan jika dia di hina suaminya nanti jika tahu kalau dia sudah tak suci lagi.
Wajah nya terlihat mulai memerah dia mengernyitkan dahinya,mendengus kasar, mengeluarkan semua amarah yang terpendam dalam hatinya.
" Semua gara gara dia" Ucap manda dengan amarah sudah semakin mengobar. Ia memukul kaca di depannya hingga pecah berkeping keping. Telihat darah segar menetes keluar dari tangannya. Manda hanya terdiam dengan tatapan kosong. Ingin sekali dia mengakhiri hidupnya namun balas dendamnya belum terpenuhi.
"Brak..." suara seseorang membuka pintu sangat kasar.
" Manda??" Ucap Vino berjalan mendekatinya dia menatap sekilas tangan manda terus mengeluarkan darah segar hingga berceceran di lantai coklat yang sudah terlihat bintik merah. Dengan pecahan kaca berserakan di kakinya.
Manda menyambut kedatangan Vino dengan wajah yang semakin memucat. Dan sebuah senyuman tipis menatap nya seolah ingin sekali menceritakan semua beban hidupnya dalam dekapan Vino. Dia sadar jika Aron pasti melarangnya.
" Kenapa kamu masuk??"
"ARGGGGGH" Manda sangat marahN ia mengacak acak rambutnya frustasi.
Vino mencoba berjalan perlahan mendekatinya.
" Manda??" Vano sangat sigap menangkap tubuh Manda dan menggendongnya keluar dari kamar berlari turun dari tangga. Perasaan khawatis cemas jadi satu dalam hatinya. Ia melihat sekeliling mencari kakaknya namun tak muncul batang hidung kakanya di sana.
" Mau bawa kemana dia" Ucap Aron tiba tiba berdiri tepat di depan adiknya membuat langkah Vino terhenti.
" kak bawa dia ke dokter" pungkas Vino tipis dengan nafas ngos ngosan.
" kenapa dia??" Aron mulai panik melihat banyak darah di kaki dan tangannya. Dengan sigap dia meraih Manda dari tangan Vino berlari menuju ke mobilnya.
" kamu cepat berangkat sekolah, aku akan bawa dia ke rumah sakit" Pungkas Aron dengan nada buru buru.
Vino membukakkan pintu mobil Aron, mereka sudah masuk ke dalam mobil segera pergi dari rumahnya.
Vino terdiam menatap mobil Aron pergi. Kini seolah dia benar benar tak bisa lagi dekat dengan Manda. Kejadian semalam membuat Vino tak bisa tidur seharian benar benar membuat nya sangat kesal ingin marah pada kakaknya namun seakan mulutnya terkunci tapat di hadapan kakaknya dia tak bisa berkutik apa apa.
Kini dia melihat Manda menyakiti dirinya sediri membuat Vino semakin kasihan dengan dia. " kenapa kamu seperti itu Manda?"
" Aku tak sanggup melihatmu terluka" gumam Vino lirih, ia masih berdiri menatap dari kejauhan mobil Aron yang sudah melaju sangat jauh.
--00--
30 menit perjalanan Aron sampai di sebuah rumah sakit terbesar di kota. Kini Manda masih terbaring di ruang UGD dia tak sadarkan diri dan begitu banyak perawat dan satu dokter yang menanganinya. Entah apa yang di lakukan dokter di dalam. Aron berdiam diri duduk di luar menunggu kelanjutan kabar Manda dari dokter.
"Apa dia benar-benar sudah gila melakukan hal seperti itu" Ucap Aron nampak sangat gelisah. Wajahnya nampak khawatir dan cemas akan keadaan Manda.
Dia teringat saat kejadian Sindy lalu benar benar membuat dia terpukul. Dan sekarang dia melakukannya lagi pada gadis kecil yang tak berdosa itu. Membuatnya harus terbaring lemas di rumah sakit.
Tak lama dokter keluar dari ruanganan. Aron bergegas mendekatinya. " Gimana dok keadaanya??" Tanya Aron nampak sangat cemas dengan kondisi Manda.
" Dia baik baik saja lukanya sudah di jahit, namun nampaknya dia sangat shok sekali. Dan beban fikiran yang membuat dia tak sadarkan diri saat ini. Mungkin dia benar benar sangat terpukul" Jawab dokter itu menepuk pundak Aron.
" apa dia adik tuan, lebih baik harus jaga emosinya jangan sampai dia melakukan hal seperti itu lagi" pungkas dokter beranjak pergi meninggalkan Aron tanpa penjelasan lebih rinci lagi.
Aron tak perdulikan itu dia segera masuk melihat kondisi Manda , wajahnya terlihat sangat pucat. " Benar benar membuatku panik.. baru kali ini aku menemukan seorang gadis yang membuatku panik" Batin aron tersenyum tipis membelai lembut pipi Manda.
" Ayah ...ibu.." 2 kata yang di ucap Manda saat dia mulai sadar namun ke dua matanya masih ertutup rapat. membuat dia terdiam seketika.
" Kenapa dengan ayah dan ibunya" Batin Aron segera meraih ponsel di sakunya, lalu menelfon seorang assisten di perusahaannya. Mengucao kata itu membuat Aron juga teringat dengan Ibunya yang sudah meninggal.
" Cepat cari tahu kehidupan Manda semuanya" Ucap Aron lirih berjalan menjauh dari manda. Dia tidak mau Manda mendengar pembicaraannya dengan assisten .
" Baik tuan" balas Assisten nya.
" tumpuk semua berkas tentang dia di ruanganku. Aku akan segera kesana" pungkas Aron segera mematikan panggilan nya.
Sekilas Aron melihat manda saat tertidur, dia benar benar masih sangat polos. Tubuhnya sangat mungil namun apa yang merasuki jiwa Aron harus membuat gadis lugu itu masuk ke dalam perangkap nya.
" Aku akan segera menikahimu dalam minggu ini" pungkas Aron menyentuh pipi Manda dengan jemari jemarinya.