
"Syang" panggil Aron, yang berbaring di ranjang.
"Apa syang" jawab Manda dengan nada lembutnya, ia bersandar duduk di ranjang, dengan tangan membuka setiap lembar majalah. Matanya tak berhenti melihat gambar beberapa bayi perempuan dan laki-laki yang begitu nenggemaskan. Dengan berbagao pse yang di potret.
"Kamu kenapa sibuk sendiri?" ucap Aron yang merasa tidak di perhatikan sama sekali olah istrinya dari tadi, bahkan meski dirinya bermain ponsel. Biasanya Manda selalu marah, dan mengambil ponselnya tapi kali ini dia diam, tak perdulikan apa yang di lakukan suaminya lagi. Asal masih di sampingnya ia juga tidak terlalu perduli.
"Syang coba lihat ini, tampan ya" ucap Manda melihatkan majalah itu pada Aron, dan menunjuk baby tampan, dengan pipi cabi yang menggemaskan. Aron menatap baby itu.
"Lebih tampan anak kita, dia itu tampan menggemaskan, pinter," ucap Aron yang sangat bangga dengan anaknya sendiri.
"Ya, kalau Duke ya tampan dari pada kamu" ucap Manda menggoda, dengan senyum tipisnya.
"Benar aku gak tampan?" tanya Aron, mencoba memastikan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Manda, dengan tatapan menggoda.
"Gak sama sekali" gumam Manda, tanpa berani menatap Aron.
"Anak aku saja tampan, jadi dia pasti mirip ayahnya yang tampan ini" gumam Aron penuh percaya diri, dengan tangan terus mengusap dagunya. Mengedip-ngedipkan mayanya menggoda.
"Gak. ada miripnya sama sekali, lebih tamoan anak aku dari pada papanya yang terlihat tamoan kalau di lihat dari ujung kukh" gumam Manda tanpa senyum terpaut di wajahnya.
Aron yang merasa tidak terima dengan ucapan Manda, ia menarik dagu Manda agar menatap je arahnya. "Apa yang kamu katakan syang" ucap Aron. "Jangan berbohong kalau aku tidak tampan, kenapa kamu mau dengan aku, dan kita menikah hingga dia sudah menginjak 3 tahun sekarang.
"aku suka kamu karena hati, bukan wajah ini." ucap Manda. "Hati ini dan hati ini sudah kenyatu, tak dapat di pisahkan" lanjutnya memegang dada Aron, lalu memegang dadanya.
Manda memejamkan matanya, ia tidak mau menatap mata Aron yang terus menggoda dirinya. "Aku ngantuk syang tidur dulu ya? Besok aku ada kuliah pagi lagi sekarang. ucap Manda, mencoba mencari alasan agar lepas dari Aron.
"Kenapa kamu menutup mata syang, aku ingin lihat mata indah kamu setiap malam sebelum tidur." ucap Aron. "Dan aku ingin minta sesuatu syang, lagian udah lama juga kita gak melakukan hubungan lagi" lanjut Aron, berbisik di telinga kiri Manda dengan suara lembut menggodanya. Agar Manda tertaruk dengannya, dan menurut setiap apa yang ia inginkan.
"Aku tidur dulu ya" ucap Manda, menepis tangan Aron dari dagunya . Dan mulai berbaring ke kanan, menghindari tatapan Aron yang memang terus menggodanya. membuat hatinya selalu luluh dan luluh lagi nantinya.
"Jangan tidur syangku, suami kamu minta jatah gak kamu kasih?" tanya Aron, memeluk tubuh Manda dari belakang, ia berbaring di samping Manda mendekatkan tubuhnya sangat erat dengan tangan terus mengusap perut besar Manda.
"Apa sih syang, geli tahu jangan pegang aku seperti itu" gumam Manda menyingkirkan tangannya di perutnya.
"padahal hanya pegang perut syang, belum yang lainnya" goda Aron, namun tak di gubris oleh Manda yang terus mencoba memejamkan matanya, agar ia cepat tertidur pulas.
"Bentar ya syang, aku buka" gumam Aron.
"Udah syang apa sih, ribet banget" ucap Manda. "Aku takut syang kalau kenapa-napa nantinya" lanjutnya.
"Baiklah, syang aku hanya ingin kanu bilang sesuatu pada teman kamu itu jangan terlalu dekat dengan kamu" bisik Aron. Manda menoleh ke arah Aron, ia bingung apa yang di katakan suaminya itu.
"Maksud kamu teman siapa syang?" tanya Manda.
"Teman lelaki kamu, meski aku kenal dengan kakaknya karena urusan bisnis tapi aku juga masih punya rasa cemburu syang jika melihat kamu dengan dia." ucap Aron, memegang pipi kanan Manda, dan mengusapnya lembut.
"Maaf syang, aku gak akan ulangi kok. Asal kamu juga janji padaku?" ucap Manda.
"Janji apa syang?" tanya Aron menatap menda bingung.
"Janji jika kita akan terus bersama dalam suka maupun duka, kita sudah jauh melewati semua ini. Aku gak mau jika semua perjuangan kuta selama ini akan sia-sia, kamu oendamping hidupku, kamu napasku, kamu jantungku. Jadi jangan pernah tinggalkan aku dan anak-anak." ucap Manda memegang dada bidang Aron, ia merasakan detak jantung Aron yang mulai tidak beraturan.
"Siap syang, aku gak bisa bicara puitis soal cinta, aky memang gak pandai merayu. karena aku gak buruh semuanya, aku hanya bisa membuktikan padamu jika memang aku benar-benar serius dengan kamu dan cinta dengan kamu" ucap Aron, dengan kecupan lrmbut di kening Aron.
"Iya syang, kamu memang lelaki yang terbaik. yang di berikan tuhan untuk aku. Aku syang denganmu" ucap Manda memeluk tubuh Aron sangat erat.
"Jika kamu ingin jatah ayo sekarang syang" ucap Manda lirih, berbisik di telinga kanan suaminya.
"Emang kamu mau beneran syang, kamu gak tegang kan" tanya Aron memastikan. "kamu juga ingat kata dokter, kalau ingin melakukanpikiran jangan tegang rilek saja dan kenikmati, dan ada bmgaya yang juga sudah di anjurkan oleh dokter." ucap Aron, melepaskan pelukan Manda dengan ke dua tangan memegang bahunya.
"Aku ingat" ucap Manda.
"Dan apa kamu ingat juga jika kamu di anjurkan di atas oleh dokter, saat berhubungan, apalagi sakerang, kandungan kamu sudah semakin besar" ucap Aron.
"Kandungan aku masih segini syang belum besar, ya kalau sudah enam bulan lebih baru kalau kamu ajak aku, nanti aku yang di atas" ucap Manda.
"Emangnya kamu mau di atas? Dan jika sudah besar apa kamu masih mau berhubungan dengan aku?" tanya Aron menggoda.
"Mau syang" ucap Manda. "Udah sekarang jadi hubungan gak?" tanya Manda kesal, saat dia sudah mau dan nunggu Aron, tapi malah dia santai dan terlalu banyak bicara hal yang menurutnya gak penting dan hanya buang-buang waktunya saja.
jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Manda yang tak bisa menahan ngantuk ia menguap lebar, dan terus mengusap matanya berkali-kali agar tidak ketiduran.
Aron tersenyum tipis, ia mulai memainkan permainnanya dengan sangat lihat, jemarinya bermain liar di tubuh Manda. meski sudah hamil, permainan Arin tidak berubah sama sekali, yang berubah hanya kecepatanya, ia takut jika mekukai Manda nantinya.
Mereka menutup tubuhnya dengan selimut tebal, Aron memainkan tugasnya dengan baik, bermain dengan sangat hati-hati, meski suafa jerit sakit keluar daru mulut Manda Aron hanya diam, dan melanjutkan aksinya dengan sangat hati-hati.
Lama berhubungan mereka tertidur pulas dalam balutan selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.