
Aron bersandar duduk di ranjang, memegang ponselnya melihat beberapa berita hari ini. Manda hanya diam duduk bersandar di lengan kanan Aron di belakangnya, memposisikan dirinya senyaman mungkin. Tak hentinya tangan Aron mengusap lembut rambut panjang milik istrinya.
Mata Manda tertuju pada ponsel Aron melihat berita tentang pembunuhan berantai, "Syang lihat berita tadi itu apa?" tanya Manda mencoba meraih ponsel Aron.
"Berita apaan, kamu gak boleh lihat berita seperti ini."Gumam Aron mengangkat ke atas ponselnya.
"Lihat bentar syang penasaran, bukannya tadi soal berita pembunuhan"tanya Manda kesal, ia mengarutkan bibirnya dan tetap berusaha meriah ponsel Aron.
"Coba aja ambil kalau bisa"gumam Aron.
"Siniin aku mau lihat."Manda terus menarik tubuhnya mearih ponsel Aron di atasnya. Tangan Aron manarik pinggang ramping Manda dalam dekapan hangatnya. Ke dua tangan Manda memegang dada Aron dan tatapan tertuju pada wajah Aron tepat di depannya.
"Kamu mau menggodaku ya"bisik Aron.
"Dari pada lihat berita itu, lebih baik lihat resep masakan"Lanjut Aron mencubit hidung Manda yang fokus melihat wajahnya.
"Lepaskan aku, siaoa juga yang mau menggodamu."ucap Manda mencoba berdiri dari ranjangnya. Mendengar kata masak seolah Aron ingin sekali melihat Manda masak. Membuat hati Manda mulai bangkit untuk belajar masak lagi. Bisa gak bisa setidaknya ia berusaha yang terbaik untuk suaminya.
"Kamu mau kemana syang?" tanya Aron.
"Ke dapur"ucap Manda singkat.
"Ngapain?" tanya Aron nampak bingung, dengan istrinya yang tiba-tiba mau ke dapur.
kenapa istriku mau kedapur. Lagian dia juga gak bisa masak, aku gak mau kalau nanti ia masak jadinya seperti dulu lagi, berantakan semuanya,gumam Aron.
"Kamu mandi dulu saja, aku mau ke dapur ambil sesuatu"ucap Manda mencoba berbohong pada Aron.
"Tapi cepat kembali ya"gumam Aron.
"Iya,"Manda melangkahkan kakinya pergi menuju ke dapur. Ia tidak tahu Aron beneran pergi mandi atau hanya sekedar ucap kata "iya" saja.
"Hari ini masak apa ya?"Gumam Manda menatap seisi stok bahan makanan di dapur.
"Ah.. gimana kalau aku masak kue dan bikin soup" gumam Manda.
"Non, mau makan, biar saya sja yang masak non, nanti takutnya tuan Aron marah"gumam pembantu Aron, yang tiba-tiba datang menghampiri Manda didapur.
"Gak usah bii, aku mau belajar masak. Kamu ngerjain tugas lain saja"ucap Manda.
"Kalau begitu saya bantu saja non, saya takut nanti kalau tuan Aron marah pada saya non"ucap lembantu itu memohon pada Manda. ia takut jika tuanya marah melihat Manda masak sendiri. Apalagi dia tidak bisa masak, kalau sampai tangannya terluka bisa marah besar tuannya.
"Baiklah, bantu aku nyiapin semua bahanya ya bi, sekalian nanti tolong carikan stok tempung, aku juga mau bikin kue"ucap Manda.
"Baik non"ucap pembantu itu segera melaksanakan tugas dari Manda. Sebelum tuanya itu turun dan datang menemui Manda di dapur.
Manda mencoba memotong beberapa sayur dengan sangat hati-hati, ia juga takut jika tangannya terluka nantinya.
"Bi ambilkan terlur juga ya"ucap Manda.
"Baik non, apa non mau goreng telur"tanya pembantunya, ia khawatir jika Manda memasak menggunakan minyak.
"Iya bi, aku masih ingat dulu jika mama aku pernah bikin cemilan dari telur"ucap Manda.
"Biar saya saja non yang bikinkan, minyak panas takutnya tangan non Manda kepercikan minyak nanti. Aku takut non jika tuan Aron tahu. Dia pasti marah sama saya non"gumam pembantu itu menunduk ketakutan.
"Sudahlah gak apa-apa bi, aku bisa sendiri. Kau mau belajar masak sendiri biar gak ketergantungan terus"ucap Manda menepuk pundak pembantunya. "Sudah tananglah, jangan takut. Biar aku yang akan bicara sama Aron nantinya"ucap Manda menenangkan.
-----00---
Di balik kamar, Aron baru saja selesai mandi ia tidak melihat Manda ada di kamarnya.
"Kenapa dia belum juga kembali"gumam Aron.
merasa tak sabar menunggu Manda, ia melangkahkan kakinya pergi dari kamar. ia juga ingin tahu apa yang di lakukan Manda di dapur, membuat dia lama sekali belum juga kembali. Lagian Manda juga belum mandi.
Aron berjalan ringan menuju ke dapurnya, ia melihat sekilas ada Manda di sana sedang sibuk dengan kegiatannya memasak. Aron sengaja memelankan langkahnya agar Manda tidak mendengar langkahnya. Bahkan Manda yang sibuk itu tak melihat Aron di belakangnya.
Pembantunya yang mengetahui kedatangan Aron langsung menunduk ketakutan, ia takut jika Aron marah padanya. Aron memberi kode pembantunya untuk pergi dari samping Manda. Tanpa menolak pemabntu itu segera pergi.
"Bi.. Bisa ambilkan telur lagi gak."pinta Manda, ia belum sadar jika Aron sudah di belakangnya. Sesuai perintah Manda ia melangkahkan kakinya mengambil telur. Lalu kembali mendekati Manda,
"Apa yang kamu lakukan syang" tanya Aron memeluk pinggang Manda dari belakang.
"Syang, jangan mengejutkanku gitu napa"ucap Manda kesal.
"lagian sibuk banget sampai suaminya datang saja gak lihat"bisik Aron menyadarkan dagunya di pundak Manda. Ia semakin merengkuh erat pinggang ramping Manda.
"Aku lagi belajar masak buwat kamu, melihat kamu dari kemarin sedih aku tidak tega. Jadi sekali-sekali istri kamu ini masak buwat suaminya. Lagian tadi sepertinya kamu ingin aku belajar masak kan"ucap Manda memegang tangan Aron di pinggangnya.
"Kamu sejak kapan syang bisa masak"tanya Aron.
"Sejak hari ini, lagian aku gak mau terus-terusan gak bisa masak, mulai sekarang aku harus berlajar jadi istri yang baik dan berbakti pada suami, aku sudah tidak perduli dengan semua masa lalu, yang ada sekarang hanyalah masa depan kita berdua. Antara aku dan kamu." ucap Manda, membuat Aron terdiam.
Ia berjalan mundur ke belakang, dengan tatapan mata masih kosong. Aron bingung apa yang harus ia katakan sekarang. Ia masih berpikir jika Manda tahu tentang semuanya.
Merasa tak ingin kehilangan Manda, Aron merengkuh kembali pinggang Manda, menyandarkan dagunya di pundaknya. Namun dia hanya diam tanpa seuntai kata keluar dari mulutnya.
"Syang kenapa kamu diam?"tanya Manda menatap wajah Aron di pundaknya yang hanya terdiam seolah tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Syang apa kamu sakit?"tanya Manda lagi.
merasa tak di hiraukan oleh Aron, ia mencoba menjahili Aron yang terus melamun dan masih merengkuh erat pinggang Manda dari belakang.
Ini orang kenapa diam sih, apa ada masalah dia, batin Manda.
"Ia yang memang lagi mau memasak telur, ia mencolek sedikit telur yang masih mentah dalam mangkuk itu, di oles ke hidung mancung Aron.
"Manda!!" sontak Aron yang terkejut tersadar dari lamunannya, mencium bau amis yang nenyeruak ke hidungnya akibat ulah Manda.
"He..he. apa syang, lagian kamu terus melamun sih. Di ajak bicara dari tadi gak respon sama sekali"Gumam Manda. "Oya aku mau bantu masak jangan melamun terus"Lanjutnya.
"Tadi apa yang kamu colek ke hidungku?" tanya Aron.
"telur mentah"ucap Manda tanpa ragu.
"Apa?"syang aku sudah mandi barusan jadi harus cuci muka Lgi deh"gumam Aron.
"Lagian kenapa sih, ini juga di rumah gak ada yang tahu kamu sudah cuci muka belum, sudah mandi belum, lagian jangan khawatir gak tampan lagi gara-gara bau amis telur."ucap Manda dengan senyum menggoda.
"Aku gak akan khawatir kok tenang saja"lanjut Manda.
"khawatir soal apa?"tanya Aron bingung dengan perkataan Manda.
"Soal cinta kita. "Ucap Manda dengan senyum lebar di bibirnya. "Lagian kalau kamu mandi atau gak aku juga tetap syang dan tetap jadi istri kamu" ucap Manda yang mulai menggoreng telur.
"Kamu kamu buwat masakan apa?" tanya Aron penasaran dengan apa yang akan di masak Manda.
"Buwat cemilan sayang dari telur, dan aku sudah buwatkan kamu soup di meja makan itu. Kalau kamu maja makan duluan gak apa-apa" ucap Manda yang masih mangaduk lagi telurnya.
Aron menepuk jidadnya. Melihat telur sebanyak itu di meja dapurnya.
"Masak mau bikin cemilan telur sebanyak itu syang" tanya Aron, melepaskan pelukannya.
"Ini aku mau bikin roti juga"ucap Manda.
"Bikin roti,emangnya kamu bisa syang?" tanya Aron.
"Enggak, ku belajar syang, sekalian mengingat resep yang mamaku buat dulu"ucap Manda.
"Ya sudah, sini aku bantuin"gumam Aron berdiri di samping Manda dan mulai mengaduk tepung dan telur yang sudah di dalam wadah, sedangkan Manda. Mulai memasak telur tadi menjadi cemilan ringan buwat dirinya nanti.
"Syang aku mau kamu mulai besok temani aku kerja" ucap Aron dengan tangan tak berhenti mengaduk.
"Kenapa harus aku yang menemani?" tanya Manda.
"Ya, siapa lagi kalau bukan kamu suyang, kamu istriku. Dan aku juga sudah berniat untuk nikah sah sama kamu saat anak kita sudah lahir nanti. sekalian aku memperkanlakn kamu pada semua rekan bisnis ku nantinya."ucap Aron menjelaskan.
"Iya masih lama nikahnya, baby kita saja baru 3 bulan. Tapi perutku juga semakin membuncit ya yang semakin membesar gini"gumam Manda mengusap perutnya yang sudah terlihat agak bucit, meski belum terlalu besar.
"Iya memang gitu syang, maka dari itu kenapa aku membawamu ke kantor. Biar aku bisa jaga kamu leluasa, meskipun kamu hanya duduk aku tidak masalah, lagian ku tidak mau kemau kerja dan cepek. Biarakan aku yang kerja untuk anak kita ini" ucap Aron meletakan wadah adonannya, lalu memegang perut Manda.
"Baiklah, tapi aku gak punya baju untuk pergi ke kantor."ucap Manda beralasan.
"Bicara soal baju aku baru ingat, kemarin pernah janji ke kamu jika memberi kejutan, san sampai sekarang belum juga aku kasih tahu ke kamu ya syang, nanti setelah makan bersama kamu ikut aku menuju ke ruang tepat di samping kamar kamu, aku mau menunjukan sesuatu untuk kamu" ucap Aron mencubit pipi menggemaskan Manda.
"Sakit syang kebiasaan deh"gumam Manda kesal.
"Emangnya, sesuatu apa?" tanya Manda menghentikan masaknya sejenak mendengar ucapan Aron itu.
"Kamu nanti juga tahu, udah sekarang masak dulu takutnya gosong lagi" ucap Aron.
"Oo.. iya syang aku mau tanya sesuatu?" tanya Manda.
"Tanya apa?" ucap Aron.
"Ini kue bumbunya apa saja?" tanya Manda polos.
Aron membuka matanya lebar, menepuk jidadnya melihat kelakuan istrinya yang aneh ini. Namun aneh-aneh tapi tetap cinta. "Kamu gimana sih syang, terus kamu ngapain masak jika kamu tidak tahu semua bahanya. gimana rasanya nanti"ucap Aron segera menggeser tubuh Manda ke samping.
"syang kamu lihat aku detail ya, semua bahan apa yang aku pakai, jangan sampai keliru. Takutnya bukan kamu kasih gula malah kamu kasih garam nantinya."ucap Aron menggoda.
"Apaan sih emang aku gak tahu apa beda gula sama garam"Jawab Manda kesal.
"Ya, siapa tahu aja sayang"ucap Aron jemari tangannya mulai membuat roti dengan sangat lihainya. Seolah dia memang sudah pengalaman.