
Hari sudah menjelang siang terik matahari terlihat menyengat menembus kulit putih milik Manda. Dengan pakaian seadanya ia berjalan menuju ke suatu tempat kontrakan yang terlihat sangat sederhana hanya sepetak rumah yang cukup untuk tinggal satu orang.
Rumah yang terlihat di luar sangat usang. Manda menemui sang pemilik rumah yang tinggal bersebelahan dengan rumah usang itu. Untuk sekedar negosiasi harga kontrakan itu Manda masih punya beberapa tabungan miliknya mungkin cukup untuk bayar kontrak selama 1 tahun. Ya meski sisanya ia harus berjauang lagi nantinya untuk membayarnya.
" Manda apa benar kamu mau tinggal di tempat ini?." tanya Kesha melihat suasana rumahnya saja, gak banget harus tinggal di tempat usang seperti itu.
"Iya ini lebih murah dari pada yang lainnya. Udah kamu gak usah khawatir aku sudah biasa tinggal di tempat seperti ini" Jawab Manda beranjak membuka kunci gembok rumahnya.
" Udah ayo masuk" ucap Manda mulai berjalan masuk ke dalam rumah lalu menutup pintunya kembali.
Rumah yang terlihat kecil di luar di dalam setiap perabotan tertata rapi . Bahkan kelihatan lebih bagus dari pada luarnya.
" Keren!!" Pungkas Kesha menatap kagum desain unik rumah itu.
" ini benar benar bagus dan termasuk juga sangat murah" pungkas Manda menatap sekelilingnya.
" iya kita gak perlu bersih bersih lagi sepertinya ini sudah sangat terawat" Sambung Kesha mencoba memegang perabitan rumah itu yang sudah nampak sangat bersih.
" Iya. Oya apa kamu mau istirahat di sini dulu" ucap Manda pada kesha.
"Gak usah aku langsung pergi aja ada urusan mendadak" pungkas Kesha dengan senyum manisnya.
"Kenapa kamu gak jujur Sha kalau kamu mau jenguk Aron sama Vino" Batin Manda.
" Ya sudah hati hati ya" Ucap Manda melangkahkan kakinya keluar mengantarkan kesha menuju mobilnya.
Manda hanya diam melambaikan tangan ke mobil kesha yang sudah melaju jauh di depannya.
Ia tersenyum tipis berjalan masuk ke dalam rumah. Hanya melihat sejenak dalam rumah yang belum ia lihat keseluruhan.
Ia menuju ke sebuah dapur kecil yang memang di atasnya adalah kamar nya. Ya maklum memang rumahnya sangat kecil tapi ba,gi dia itu sudah termasuk layak. Dan desain rumahnya juga lebih modern dari rumahnya dulu.
Ia mencoba naik ke atas kamarnya untuk melonggarkan otot ototnya yang terasa sangat kaku.
Manda beranjak duduk di ranjang empuknya. ia mulai teringat akan barang barangnya yang masih di bawah ia bergegas membawa barang barangnya di ke atas dan mulai memasukan satu persatu bajunya di lemari kecil tepat di atasnya.
Ia membuka koper kecil yang ia bawa. menatap sejenak ada ponsel pemberian kesha kemarin ada di dalam kopernya. Padahal ia sudah menaruhnya di meja kecil samping ranjang sebelum pergi.
" Apa kesha sengaja memasukan ponsel ini" gumam Manda.
Ia mulai teringat dengan Aron tanpa ia ingin melihatnya meski hanya sebentar. Manda mengambil jaket miliknya serta masker dan topi untuk menutupi wajahnya agar tak ada yang mengenalinya termasuk Vino dan kesha.
Ia bergegas turun dari kamarnya berlari keluar rumah . jalan kaki menuju ke seberang jalan di depannya untuk menunggu sebuah bis lewat untuk pergi rumah sakit pusat kota. Dari berita yang pernah ia dengar dulu Aron di rawat di sana.
Tak lama sebuah bis berhenti tepat di depannya. Hanya butuh waktu 15 kenit ia sampai di pusat kota. Manda berhenti tepat di depan rumah sakit tempat Aron di rawat. Sebelum masuk ke dalam ia segera menggunakan topinya. Mengikat rambut panjangnya.
" Aku datang bukannya ingin kembali. Tapi hanya untuk menjenguk suamiku" gumam Manda berjalan masuk ke dalam rumah sakit yang nampak sangat ramai. Mungkin semua orang pada sibuk menjenguk sanak saudaranya masing masing yang di rawat di sana.
Manda berjalan sangat hati hati ia mencoba mengingat berita yang ada di tv kemarin di ruangan berapa Aron di rawat.
Manda melihat kesha dan Vino berjelan melewatinya. Ia dengan sigap bersembunyi di balik tembok agar tak terlihat oleh mereka.
" Vin!. kita makan di mana?" Ucap Kesha.
"Makan di restauran dekat sini saja ya . Gak papa kan?" Jawab Vino.
" oya soal Manda gimana? Apa dia sekarang baik baik saja" tanya Vino melanjutkan ucapanya.
" tenang saja dia baik baik saja" jawab kesha.
" sepertinya mereka akan keluar. Ini kesempatan aku untuk masuk ke dalam ruangan Aron" Gumam Manda melanjutkan langkahnya. Ia berhenti tepat di depan ruangan Aron menatap dari kaca kecil di pintu yang menembus langsung ke dalam ruangan Aron.
Melihat tak ada orang di dalam Manda mencoba untuk masuk membuka pintunya perlahan. Ia menatap Aron lagi setelah beberapa hari tak melihatnya. Entah kanapa hati Manda merasa sangat kasihan melihat Aron seperti itu. Tapi ia berusaha untuk tetap fokus pada pada pendiriannya.
" Cepatlah sadar bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk balas dendam" Pungkas Manda.
" Jika kamu berbaring seperti ini gimana caraku untuk balas dendam padamu. Jangan lemah seperti itu. Bukannya kamu yang memulainya. Kenapa kamu yang lemah. Ini belum saatnya berbaring terus di ruangan ini. Dan permainan kita belum di mulai" Ucap Manda melanjutkan katanya.
#Aron Pov
Di sebuah dimensi alam lain Aron hidup senang berdua bersama sindy. Ia menikmati saat saat bersama kekasihnya itu.
" Aron mau sampai kapan kamu terus di sini" Ucap Sindy.
" Aku mau tetap di sini bersama kamu. Aku tidak mau melukai orang lagi" Jawab Aron dengan kepala bersandar di pundak sindy.
Sindy membelai rambut Aron lembut. " Aron kembalilah ini bukan alam kamu. Masih ada orang yang menunggumu. Setiap perbuwatan yang kamu lakukan kamu harus berani menanggungnya" Ucap Sindy.
" Bangunlah" teriakan Manda terdengar jelas dalam telinga Aron menembus dalam dimensinya.
" Sepertinya Manda memanggilmu. Kembalilah" Ucap Sindy yang tiba tiba menghilang.
" Tapi aku ingin bersamamu" Teriak Aron beranjak mengejar bayangan Sindy.
" kamu kenapa gak bangun. Cepat bangunlah ini belum saatnya kamu terus berbaring seperti ini" Manda mencoba membangunkan Aron berkali kali.
Aron yang berada di alam lain mendengar teriakan Manda yang terus memanggilnya dengan penuh amarah. Ia sadar jika ia pernah bilang pada Manda untuk balas dendam padanya terhadap ulahnya yang sangat keji padanya.
Perlahan Aron sudah mulai menggerakan tangannya. Manda tahu Aron perlahan sudah mulai membuka matanya. Tak mau Aron melihatnya Manda berada di sampingnya. Ia bergegas pergi. Namun dengan sigap tangan Aron meraih tangan Manda.
" Maan....da" Ucap Aron dengan suara yang terasa berat.
Manda hanya diam ia tidak mau membalikkan badannya menatap mata Aron.
" jangan pergi" ucap Aron .
Manda tak menghiraukan ucapan Aron ia perlahan melepaskan tangan Aron berlari keluar dari ruangannya.
" Hei siapa kamu" teriak Vino yang memang melihat Manda berlari keluar dari ruangan Aron.
" Vino kak Aron sudah sadar" Ucap kesha yang sudah berada di dalam.
Vino beranjak masuk melihat kondisi Aron. Ia terlihat sangat senang melihat kakanya sudah benar benar membuka matanya kembali.
" Manda di mana?" Ucap Aron menatap Vino.
Vino dan kesha terdiam seketika ia tak sanggup berkata apa apa lagi pada Aron mengenai Manda.
Kesha dan Vino saling memandang satu sama lain seolah mulut mereka terkunci.
" aku tanya di mana Manda" Bentak Aron. Ia beranjak duduk melepaskan insus di tangannya. Ia mencoba untuk beranjak dari ranjang pasien untuk mengejar Manda.
" Kakak mau kemana??" Ucap Vino mecegah langkah kakanya.
" minggir aku mau cari Manda" Aron mendorong tubuh Vino agar tak menghalangi langkahnya.
" kakak percuma ingin bertemu Manda. Tapi dia tidak mau bertemu dengan kakak. Dia sangat membenci kak Aron. Bahkan dia tidak mau melihat sedikitpun wajah kak Aron" Ucap Vino dengan nada semakin tinggi.
" Gak mungkin aku merasa tadi Manda ada di sampingku" batin Aron yang terlihat terdiam.
Ia mulai merenungkan langkahnya untuk mencari Manda. Aron yakin pasti Manda tak mau melihatnya lagi. Bahkan untuk mengucap nama seakan ia tak sudi.