Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kedatangan Manda


Manda terdiam duduk di sofa wajahnya masih terlihat kusut, bahkan matanya sudah mulai memerah dan bengkak. Ia duduk di dekat kesha. Dan vino masih berdiri di samping mereka.


Meski hubungan kesha dan Vino belum mulai membaik seperti biasanya. Kesha kembali hanya untuk sahabatnya Manda. Ia merasa tidak tega harus meninggalakan manda sendiri karena ke egoannya pada Vino. Amarahnya pada Vino membuat ia tak memikirkan perasaan Manda.


Ia ingin menemani Manda, karena Vino sudah cerita sebelumnya jika hubungannya dengan Aron sudah membaik, namun yang bikin ia tambah khawatir karena ada Fany . Ia tahu Fany adalah wanita licik berbagai cara pasti ia lakukan. Bahkan ia pasti berani terus terang menyakiti Manda.


Dan kesha izin pada orang tuanya untuk tetap menemani Manda dan tinggal bersamanya. Sampai masalah benar-benar sudah selesai dan berakhir bahagia. Ia ingin menjaga Manda menjadi teman curhatnya saat ia sedih dan merasa sendiri.


Namun kini ia masih diam tak begitu menganggap Vino. Ia sudah tahu semua tentang Vino dan bagaimana perasaannya. Ia tak mau mengulangi kesalaham dengan kembali dengan Vino seperti dulu.


" Sepertinya kak Aron tak ada di rumah dari tadi" Ucap Kesha memecahkan keheningan di antara mereka.


" Pasti dia belum pulang" Ucap Manda yang masih menundukkan kepalanya dari tadi.


" Emangnya kak Aron tadi kamana, saat kamu ninggalin dia" Tanya Vino yang nampak penasaran. Kali ini tiba-tiba ia merasa sangat khawatir dengan Kakaknya.


" Dia mencoba mengejarku namun aku tak menghiraukan dia, dan aku pergi begitu saja" Tanpa sepatah kata Vino berlari keluar dari rumahnya. Ia tahu jika kakaknya pasti sekarang sedang minum. Perasaan khawatirnya ternyata  benar.


Karena hanya ia yang tahu kondisi dia nanti gimana saat ia minum lagi. Itu sangat bahaya baginya.


" Vino kamu mau kemana?" kesha dan manda spontan mengejar Vino. Mereka tahu sepertinya Vino tahu sesuatu tentang Aron. Namun dia tak mau berbicara dengan Manda.


" Aku pergi dulu, aku khawatir dengan kak Aron" Vino bergegas naik ke dalam mobil.


" Aku ikut" Ucap Manda menyusul masuk ke dalam mobil bersama kesha. Mereka duduk di belakang berdua.


Vino segera pergi menuju ke sebuah Bar di mana kakaknya dan Jack minum. Dan itu tak begitu jauh dari rumahnya. Hanya berjarak 15 menit jika mengemudi dengan mobil.


" Sebenarnya ada apa dengan Aron" Tanya Manda. Ia kini terlihat sangat cemas. Air matanya tak henti menetes memikirkan gimana keadaan Aron nantinya. Perasaan cemas dan khawatirnya kini di aduk jadi satu dalam hatinya.


Dan tadi adalah hal bodoh ia meninggalkan Aron begitu saja. Padahal dia sudah mencoba mengejarnya namun Ia tak perduli dan lebih memilih untuk sembunyi dari Aron.


" Kakak pasti minum sekarang, dia tidak boleh minum itulah yang di ucap oleh dokter" Ucap Vino tak membicarakan sebenarnya.


" Baiklah lebih cepat kita kesana jangan sampai terlambat" Ucap Manda ia kini terlihat lebih khawatir lagi.


" Semoga kamu masih di sana, aku berharap kamu baik-baik saja" Gumam Manda lirih. Dengan tabgan masih memegang erat tangan Kesha untuk menrnangkan hatinya sejenak.


Tak lama perjalanan Vino sampai di sebuah Bar. Ia segera turun dan berlari masuk ke dalam bar.


" Dimana kak Aron?" Tanya Vino menggebrak meja bar. Membuat semua orang menatapnya bingung. Vino tak perdulikan pandangan orang-orang di sana.


" kemana dia membawanya pergi" Vino terus bertanya dengan wajah dingin. Dan tatapan tajamnya.


" Saya tidak tahu tuan" pegawai itu nampak gemetar ketakutan.


" Ahhh.. " Vino berdecak kesal dan segera pergi masuk ke dalam mobil. Ia mencoba cek keberadaan Aron.


Vino membuka ponselnya melacak keberadaan dia di mana sekarang. " Untung saja ponselnya aktif" Gumam Vino. Beranjak masuk dalam mobil untuk melanjutkan perjalananya.


" Gimana ada gak Aron?" Tanya Manda kini semakin cemas.


" Udah kalian diam dulu, kita menuju ke suatu tempat untuk jemput kak Aron" Ucap Vino mengemudi dengan kecepatan tinggi keluar dari parkiran bar. Menuju ke apartemen Fany yang terlacak dari ponsel Aron.


" Gimana kalau Fany menjebaknya, ini akan jadi dampak buruk bagi Manda dan hubungan mereka nantinya" Batin Vino yang masih terdiam fokus dengan jalan di depannya. Dan sesekali ia melirik ke belakang. Manda terlihat sangat cemas dalam pelukan kesha.


15 menit perjalanan mereka sampai di sebuah apartement. Vino bergegas keluar di susul Manda dan Kesha berlari di belakangnya.


Vino mencoba cek dari ponselnya di mana apartement milik Fany. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan apartement nomor 201.


Vino dengan segera memencet bel agar Fany cepat keluar dari kamarnya. Kesha dan Manda bersembunyi di balik tembok sebelah kanan agar Fany tak melihat jika yang datang adalah Manda.


Fany membuka pintu, " Dimana kak Aron" tanya Vino dengan nada semakin emosi.


" Aron.." Manda berlari masuk ke dalam melihat Aron tertidur terbalut selimut. Ia nenarik napasnya dlaam-dalam. Matanya seakan berkaca-kaca melihat apa yang terjadi. Ia sangat sakit melihat semua itu hatinya benar-banar di ikat rapat hingga terasa sakitnya samoai ke tulang sekujur tubuhnya. Tapi ia mencoba menahan semua itu. Ia kini tak mau menangis di depan Fany.


Tak banyak bicara Vino mencoba membangunkan aron dan memepahnya keluar.


" Dasa licik" Ucap Kesha memapah tangan Manda yang masih terdiam mematung seakan ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kesha membawa Manda untuk pergi keluar dari apartement Fany mengikuti langkah Vino di depannya.


Manda duduk bersama Aron di kursi belakang mobil. Ia menggenggam erat tangan Aron. Bahkan membiarkan kepalanya bersandar di pundaknya. " Aku tak masalah kamu berbuwat itu dengan Fany, karena dia istri kamu. Tapi setidaknya kamu baik-baik saja" Gumam Manda dengan jemari menyentuh lembut pipi Aron.


Sebuah kecupan mendarat di kening Aron sangat lembut. Dan tetasan air natanya kini tak bisa tertahan lagi. Tetesan demi tetsan butiran mutiara itu jatuh tepat di punggung tangan Aron.


Aron perlahan membuka matanya, dengan pandangan samar-samar ia menatap Manda menangis di depannya.


" Jangan nangis, ku tetap mencintaimu sampai kapanpun" Ucap Aron dengan tangan memegang pipi kiri Manda. Lalu ia tertidur kembali. Tubuhnya semakin lunglai tak berdaya.


" Vino kita bawa Aron kerumah sakit" Ucap Manda dengan nada khawatirnya yang semakin menjadi.


Vano yang semula ingin membawa pulang Aron. Kini mobilnya berputar balik menuju ke rumah sakit.