
Vina hanya diam, mencoba menimang-nimang apa yang di katakan Albert. Dengan tangan mengusap dagunya, seakan ia masih berpikir untuk memutuskan ‘iya’.
“Gak, mau. Sudah kamu mandi dulu saja sana. Setelah itu..”
Belum sempat melanjutkan ucapanya Albert beranjak duduk, mengangkat tubuh Vina tanpa menunggu persetujuan kata ‘iya’ darinya. Ia tersenyum mentap tubuh polos yang pernah ia lihat malam itu, kejadian yang tak terduga, dan membuat dia ketagiahan dengannya.
“Albert turunkan aku.” ucap Vina.
“Gak mau, aku mau kamu berada di sini. Bersama dengan aku dalam satu bathup.” Ucap Albert.
“Aku gak mau, lebih baik kita mandi sendiri saja.” Jawab Vina tak suka.
“Enggak!! Aku mau mandi berdua dengan kamu,” ucap Albert tegas.
Vina menghela napasnya kesal. “Kenapa kamu seperti ini. Lagian nanti kalau kita menikah kamu bisa setiap hari bermanja berdua.” ucap Vina.
“Emangnya sekarang gak boleh?” tanya Albert, mengerutkan bibirnya dengan wajah kecewanya.
“Bukanya gak boleh, Albert. Aku hanya ingin bilang sama kamu nanti saja setelah kita manikah. Bukanya kalau kita semakin cepat menikah jauh lebih baik.” Ucap Vina.
“Kelamaan,” ucap Albert, menurunkan tubuh Vina di dalam kamar mandi, ia menarik selimut yang masih terbalut di tubuh gadis itu.
“Albert jangan!!” ucap Vina, mencoba meraih selimutnya, namun dengan sigap Albert membuang selimutnya di kamarnya, dengan tangan membuka sedikit pintu kamar mandi dan melemparnya asal.
“Albert!!” decak kesal Vina, menutupi tubuhnya dengan ke dua tanganya.
Laki-laki itu hanya tersenyum, melangkahkan kakinya tanpa menatap ke arah Vina. “Aku gak akan melihatmu.” Ucap Albert, yang mulai merendam tubuhnya di dalam bathup.
“Aku mandi di shower saja,”
“Eh.. kamu gak boleh kamana-mana, kamu harus mandi di sini, dengan aku. Jangan pergi!” Ucap Albert, beranjak bangkit memegang tangan Vina, mencegahnya pergi. Ia mengangkat tubuh Vina, meski penuh dengan penolakan, dan di sambung dengan pukulan kecil di dada Albert. Laki-laki itu tidak perduli, dan semakin menatap penuh hasrat di matanya, melihat kemolekan tubuh Vina di depan matanya.
“Turunkan aku, Albert.” Ucap Vina, terus memukul dada Albert.
“Gak mau!!” ucap Albert tegas, dengan senyum menggodanya.
Vina mentap tajam ke arah Albert, “Turunkan gak!!”
“Enggak!!” jawab Albert tegas, untuk yang ke dua kalinya.
Ia menjeburkan tubuh Vina ke dalam bathup berisikan penuh air, “Albert,” decak kesal Vina, mengusap wajahnya yang seakan penuh dengan air.
“Hehe.. maaf, lagian di suruh di sini saja menolak,” ucap Albert, yang segera masuk ke dalam bathup. Memeluk tubuh Vina dari belakang sangat erat. Ia tak mau wanitanya itu beranjak pergi lagi.
“Jangan pergi!!” ucap Albert, menyandarkan dagunya di pundak Vina, sangat mesra.
Vina yang semula kesal, ia tersenyum tipis, memegang tangan Albert yang melingkar di perutnya erat. “Aku gak akan pergi lagi, asal kmau benar-benar tulus dengan aku.” Ucap Vina, menoleh ke arah Albert tepat di sampingnya, ke dua mata mereka saling menatap satu sama lain. Hembusan napas berat Albert terasa di hidung Vina. Membuat gadis itu seketika memejamkan matanya.
“Ini ada apa?” tanya Albert menyentuh sudut bibir Vina. Gadis itu sontak terkejut dan membuka matanya lebar.
Vina mengerutkan keningnya, mentap bingung ke arah Albert. “Ada apa?” tanya Vina, mengusap bibirnya.
“Gak ada apa-apa, kamu bohong ya,” decak Vina kesal. “Aku gak bohong, ini coba lihat.” Ucap Albert, memegang bibir Vina, mendekatkan bibirnya, hingga ke dua benda kenyal itu saling menyatu, melumatnya dalam penuh kelembutan tanpa saling menolak di antara mereka.
Vina yang semula terkejut dengan kecupan tiba-tiba dari Albert, ia perlahan menerimanya meraakn kelembutan bibir Albert yang ia rasakan.
Albert memegang dada Vina, mengusapnya lembut. Dengan melepaskan kecupan bibirnya dan beralih turun ke lehernya, membuat Vina mendesah pelan, menikmati perlakuan Albert yang semakin membuat ia tak bisa menahanya.
“Apa kita bermain lagi di sini,” ucap Albert, sontak membuat Vina melebarkan matanya menatap Albert.
“Maksud kamu” tanya Vina.
“Kita lanjutkan seperti yang tadi di kamar,” goda Albert.
“Gak mau, kamu nikahi aku dulu, dalam dua hari ini aku mau kamu segera manikahi aku.”
“Kalau orang tua kamu gak setuju bagaimana?” tanya Albert, seketika membungkam mulut Vina.
Kenapa aku tidak memikirkan itu tadi. Kenapa aku baru sadar, bagaimana kalau orang tua aku tidak setuju aku menikah dengan Albert, apa mereka akan mengijinkan aku menoikah saat tahu semuanya yang aku lakukan dengan Albert.
“Kenapa kamu diam?” tanya Albert, memiringkan kepalanya, menatap Vina yang diam menundukkan kepalanya.
Albert menarik napasnya dalam-dalam, memelauk tubuh Vina, “Jangan pikirkan soal orang tua kamu, aku akna buat orang tua kamu mau menikahkan aku dengan anaknya. Aku akan terus berjuang, untuk bisa mendapatkan kamu dengan segera.” Ucap Albert, mengusap kepala belakang Vina.
Berada dalam dekapan hangat tubuh Albert,Vina seakan merasa sangat tenang. Ia bisa mengontrol hatinya dan emosinya. “Sekarang, aku mau pergi dulu, kamu kalau mau berendam sediri saja.” Ucap Vina, melepaskan pelukan Albert.
“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Albert, memegang lengan Vina.
“Aku mau pakai baju dulu, setelah itu kita pergi bersama nantinya.” Ucap Vina.
“Baiklah, tapi kamu belum selsai mandinya.” Ucap Albert, beranjak berdiri, menarik tangan Vina untuk berdiri dan melangkahkan kakinya menuju ke shower.
“kita mau apa?” tanya Vina bingung.
“Aku mau basuh tubuh kamu dulu,” ucap Albert, segera membasahi tubuhnya lagi di bawah air shower dengan tangan membasuh tubuh Vina dengan sabun cair yang ia gunakan.
“Albert geli,” ucap Vina, menutup dadanya, dengan ke dua tanganya.
“Pegang dikit syang, hanya basuh tubuh kamu setelah itu kita pergi.” Ucap Albert.
“Baiklah, tapi gantian ya” ucap Vina, di balas dengan senyuman hangat dari Abert.
“Ya, pasti gantian syang.”
Albert Dan Vina saling membasuh tubuh mereka bergantian. Hingga 15 menit berlalu mereka bermain di dalam kamar mandi. Dan segera keluar dari dalam kamar mandi yang hanya menggunakan balutan handuk menutupi tubuh mereka.
“Dyang, bisa ambilkan baju aku kan?” pinta Alber.
“Di mana?” tanya Vina, melirik ke arah Albert yang masih berjalan di belakangnya.
“Di koper, kamu buka saja. Sandinya kamu pasti tahu kan?” ucap Abert.
Vina menautkan ke dua alisnya. “Maksud kamu? Bagaimana aku bisa tahu kata sandi koper kamu,”
“Kalau kamu tahu nomor ponsel kamu ambil bagian depan 6 dijit.” Ucap Abert, duduk di ranjang. Melihat Vina yang sudah membuka kopernya.
Ia menarik tangan Vina, membuat gadis tu duduk di pangkuannya. Dan memeluk tubuh Vina erat.
“Albert sudah, dari tadi kita sudah seperti ini, jangan menggodaku lagi.” Ucap Vina, memegang ke dua pipi Albert, dengan sedikit menekan pipinya gemas.
“Sudah cepat pakai baju, kamu mau segera bertemu orang tua aku gak?” tanya Vina.
“Emm baiklah.”