
Hampir 1 jam perjalanan mereka sampai di depan rumah. Aron sengaja membuat semakin jauh mengemudinya perjalanan yang semula bisa di tempuh 20 menit kini jadi 1 jam. Lelaki itu diam-diam memang mengajak jalan-jalan Manda keliling kota sejenak tanpa ia sadari.
Karena ia melihat wanita itu hanya terdiam duduk di balakamg menikmati pemandangan di jalanan dengan tatapan kosong hingga wanita itu tak menyadari jika Aron mengajaknya memutar-mutar di tengah kota. Itu kesempatan bagi dia untuk terus bersamanya memandang wajah cantiknya di balik kaca mobil di atasnya.
Meski tak bisa menyentuhnya lagi ia tidak permasakkan itu. Kini ia hanya ingin bisa menatap Manda dari jauh.
Aron beranjak turun berlari memutar ke depan, membuka pintu mobil Manda. Dengan pandangan acuh Manda keluar dari mobil melirik sekilas ke arah balkon kamar Aron di sana ada wanita cantik berdiri menatap tajam ke arahnya. Seakan ia ingin melemparnya jauh-jauh dari atas. Sepertinya wanita itu sangat cemburu dengan perlakuan Baik Aron pada Manda.
" Pasti kamu sangat cemburu" Gumam Manda lirih dengan senyum sinisnya. Ia melihat sekilas ke arah Aron meraih tangannya dan memeluknya erat hingga tangannya menempel ke dada Manda. Tanpa penolakan sama sekali dari Aron. Mereka berjalan ringan menuju ke dalam rumah yang nampak sangat hening.
Manda sengaja membuat Fany terpancing Emosinya. Meski musuh dia sebenarnya bukan Fany tapi dia penghambat rencananya. Yang harus segera ia singkirkan lebih dulu.
Di balik itu Aron sangat senang dengan perlakuan baik Manda yang secara tiba-tiba itu. Ia terus tersenyum menatap wajah cantik Istri simpanannya itu. Pandangannya terhenti ia melihat helaian rambut Manda menutupi wajah cantiknya.
Dengan segera ia menyelipkan ke telinga helaian rambutnya yang menutup ke mata. Ia tidak perduli entah kenapa Manda tiba-tiba memeluk tangannya. Yang paling penting baginya bisa dekat lagi dengan Manda hatinya sudah berbunga-bunga kegirangan.
mereka terus berjalan menaiki tangga tanpa seuntai kata keluar dadi mulut mereka berdua. Hingga langkah mereka terhenti di depan kamar Manda.
" Aku masuk ke kamar dulu" Ucap Manda melepaskan pelukannya.
" Baiklah"
Aron memegang kepala manda dengan ke dua tangannya menariknya perlahan. Ia mengecup kening Manda lembut, membuat bulu kuduknya mulai berdiri. Ia merasakan kelembutan hati Aron semakin lama membuat hatinya meleleh seketika. Napas wanita mulai tak beraturan jantungnya terasa di aduk-aduk. Jika dulu Aron seperti itu mungkin Manda sudah jatuh cinta dengannya.
" Jaga kesehatan " lanjut Aron mengusap pipi kanan Manda yang tanpa balutan make up tebal seperti istri sahnya itu yang tak pernah lupa dengan make upnya. Wajah wanita itu memerah seketika seperti kepiting rebus di buatnya. Ia masih terdiam kaku tak bisa mengucap satu kata pun keluar dari mulutnya. Hanya senyum tepaksa terpajang di wajahnya. Jantungnya benar-benar berdetak semakin hebat membuat nafasnya semakin sesak.
" iya! Aku masuk dulu" Jawab Manda datar mulai memutar gagang pintu berwarna perak dengan desain klasik, Lalu membukanya perlahan. Ia menghentakan kakinya masuk tanpa perdulikan Aron yang masih berdiam diri di depan dengan senyum samar.
Wanita itu segera menutup rapat pintunya. Ia bersandar di balik pintu mengusap dadanya berkali-kali. Ia tak bisa lama-lama di depan Aron dengan perlakuan lembutnya. Semakin lama jantungnya bisa-bisa copot di buatnya. Tatapan itu seakan meminta belas kasihan pada Manda. Jika terus menatapnya hatinya tak bisa di tahan lagi serasa ingin memeluknya sangat erat.
Ia mengintip di balik lubang kecil kunci kamarnya. Mencoba melihat Aron masih berdiri di depan kamarnya atau sudah pergi.
" Untunglah dia sudah pergi" Gumam Manda bersandar lagi ke pintu mengeluarkan nafas kasarnya perlahan. Ia kini bisa bernafas lega lagi tidak berhadapan dengan kelembutan Aron.
"Kasihan juga sebenarnya . Dia sudah sangat perhatian denganku. Namun apa yang aku perbuwat padanya" gumam Manda lirih menundukkan wajahnya.
Tiba-tiba pikiran itu perlahan menjauh.
Terbanyang dalam benaknya kenangan tadi saat Aron mencium keningnya. Dan mengusap lembut pipinya. Ia terus memegang pipi dan keningnya. Dan bibirnya yang tadi sudah di sentuh lembut oleh nya di depan restauran.
" Ahh.. Manda kenapa kamu memikirkannya" Ucapnya pada dirinya sendiri. Ia memukul berkali-kali kepalanya sendiri. Agar pikiran itu hilang dari otaknya.
Merasa sangat lelah dengan semua yang terjadi. Seraya memberatkan hati dan pikirannya saat ini. Ia menjatuhkan badannya ke atas ranjang berbaring sejenak. Dan tiba-tiba kejadian memalukan tadi terlintas lagi dalam pikiranya. Membuat ia berdecak kesal mengacak-acak rambutnya berkali-kali. Ia menutup rapat kepalanya bantal di sampingnya.
" Manda lupakan Manda" Gumamnya menasehati dirinya sendiri. Ia tak berhenti berbicara dengan dirinya sendiri agar pendiriannya tak tergoyahkan. Meski hatinya selalu menolaknya.
#Fany POV
" Sialan !" Umpat Fany mengobrak abrik sprei di ranjang miliknya. Ia terlihat sangat kesal melihat kemesraan Manda dan Aron di depan matanya. Sejak dia keluar dari mobil hingga Aron mencium keningnya ia melihat semuanya jelas di depan matanya.
"kurang ajar kamu? Aku akan membalasmu lebih sakit lagi " Gumam Fany lirih duduk di ranjangnya dengan gigi menggertak. Aliran darahnya mulai naik ke wajahnya hingga terlihat memerah.seakan amarahnya sudah mulai memuncak membara dalam tubuhnya. Api kemarahan berkobar di ruangan yang semula dingin jadi terasa panas. Meskipun Ac di kamarnya menyala namun atmosfer ruangan itu mulai berubah panas.
" Aku harus kasih pelajaran ke dia" Fany beranjak berdiri seketika, Ia berjalan dengan langkah cepat membuka pintunya kasar menutupnya dengan penuh emosi hingga suara keras pintu tertutup menggelegar di ruangan itu.
Ia berjalan menuju ke arah kamar Manda langkahnya semakin ceoat dengan tetesan amarahnya menjalar kemana-mana. dengan wajah terlihat sangat marah ia terus berdecak kesal mengeluarkan segala kata-kata kasar untuk Manda. Meskipun Manda tidak mendengarnya.
"Brakk..." fany membuka pintu manda seolah mendorong keras dengan sekuat tenaganya. Membuat Manda terkejut memalingkan pandangannya ke arahnya.
" Plakkkk" tamparan mendarat tiba-tiba di pipi kiri Manda yang sedang berdiri di depan lemari. Ia ingin memgambil sebuah baju tidur untuk ia kenakan. Namun kedatangan tiba-tiba Fany membuatnya terkejut dan mengehentikan aktifitasnya.
Dengan senyum tipis menarik bibirnya sinis. Ia memegang pipinya yang memerah karena tamparan Fany. Ia tak berniat membalasnya hanya jalan pelan-pelan mendekatkan tubuhnya sangat dekat.
Namun apa yang ia terima?.
" Ternyata kamu memang wanita jalang" Pungkas Fany ia tidak mau Manda terlihat tetap tegar berhadapan dengannya. Ia mendorong tubuh Manda hingga tersungkur ke lantai berwarna agak coklat . Manda mendongakkan kepalanya tatapan tajam mengarah pada Fany seolah wanita itu tidak terima di perlakukan seperti itu.
Fany melipat ke dua tangannya. " percuma kamu melotot kali ini kamu tidak akan bisa mendapatkan hati Aron" Fany menarik bibirnya sedikit dengan tatapan sinis mengarah pada Manda.
Tak mau kalah Manda beranjak bangkit mendorong keras tubuh Fany hingga terpental ke belakang. " Emang kamu pikir aku wanita lemah yang gampang kamu injak-injak" Manda menarik bibirnya menatap sinis dengan menoleh ke belakang sedikit seolah ia meludah namun tidak ada ludahnya. " kita lihat saja hati Aron akan berpihak pada siapa nantinya. Jangan pikir aku akan menyerah gitu aja padamu. Jangan harap !" lanjut Manda dengan santainya membuka lebar kelopak matanya dengan senyum tipis seraya menantang Wanita itu untuk beradu kelicikan mereka masing-masing.
" Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang" Gumam Fany mencoba berdiri tegap kembali dengan memabalas tatapan menantang ke arah Manda. Mereka seling memandang tatapan mereka terkunci seolah ada aliran listrik yang menjalar jalar di mata mereka.
" Baiklah" Balas Manda lirih dengan senyum tipis namun kali ini terlihat sangat menakutkan.