
“Tuan, Anda sudah di tunggu, nyonya besar di dalam.” Ucap seorang pelayan berjalan sedikit berlari kecil menghampiri Albert. Dan badan menunduk.
“Iya, aku akan segera masuk.” Ucap Albert, menggerakkan kepalanya sembil puluh derajat menatap ke arah Vina ke dua mata mereka saling tertuju, seakan Vina ingin menyuarakan isi hatinya. Jika dia saat ini rau, takut, gugup, jadi satu berkecamuk dalam hatinya. Namun mulutnya seakan terkunci rapat, untuk mengungkaplkan rasa ragunya dalam hati, saat melihat tatapan Albert penuh harap padanya.
Pelayan itu beranjak pergi, “Tunggu!!”
“Iya tuan,”
“Di mana mama aku sekarang?” tanya Albert, semakin mempererat tangannya, memegang tangan kembut milik Vina.
“Dia di rumah keluarga, tuan.” Ucap pelayan itu, “Saya permisi dulu, tuan.” Lanjutnya sedikit menunduk.
“Iya,”
Albert segera menuntuk tangan Vina, melangkahkan kakinya kembali menuju ruang keluaga yang berjarak lumayan jauh, karena memang rumah Albert sangat luas antara ruang tamu dan keluarga berjarak hampir satu ruang tamu lagi luasnya, untuk sampai ke sana.
Albert sesekali menatap ke arah Vina, “Apa yang kamu pikirkan?” tanya Albert, dengan tangan mengusap tangan Vina, yang ada dalam genggamannya.
Vina hanya diam, seakan tidak mendengar apa yang di katakan Albert tadi. “Vina tangan kamu angat dingin, apa kamu takut dengan orang tua ku?” tanya Albert, menghentikan langkahnya.
Vina hanya diam, menundukkan kepalanya, dengan raut wajah mula pucat pasi, rasa takut semakin menjalar di tubuhnya.
Aku sangat gugup, aku taku jika keluarga Albert tidak menerimaku. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pergi? Atau tetap melanjutkan, untuk menemui orang tuanya? Pikir Vina dalam hatinya.
Ia mencengkram ujung gaun selutut miliknya. Hingga menjadi gumpalan, menaha rasa gugup dalam hatinya.
“Vina, kamu gak apa-apa, kan?” tanya Albert, memegang dagu Vina, sedikit mendongakkan kepalanya agar, melihat ke arahnya.
Tatapan mata Vina masih menatap ke bawah, seakan tidak mau mebtap mata Albert. Ia tidak mau jika Albert tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
“Jangan takut, orang tua aku sangat baik, dia tidak pernah membedakan status sama sekali,” ucap Albert, mencoba membuat Vina agar tidak terlalu gugup lagi.
“Tapi, aku ragu Al, apa orang tua kamu mau menerimaku?” tanya Vina penuh keraguan, menyelimuti hatinya.
“Yakinlah, orang tua aku pasti menerima kamu, dan kita akan segera menikah,” yakin Albert.
“Iya, kamu jangan terlalu gugup,” saut seorang dengan suara serak seorang wanita, yang menbuat wajah Vina tertegun seketika. Albert menoleh menatap mamanya uang sudah berjalan mendekati Vina dan dirinya.
“Mama!!” sapa Albert, dengan bibir mengembang, membentuk sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
Vin hanya melirik ke arah Albert, dengan wajah terkejut, ia tidak berani menatap mama Albert, yang kini berada tepat di depannya.
“Vin, coba lihat ke arah mama ku, dia ingin berbicra padamu,” ucap Albert lirih.
“Tapi..”
“Sudah, mamaw aku, baik kok.” Ucap Albert, mencoba meyakinkan Vina.
Vina, mengernyitkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam.
Oh.. Tuhan.. Semoga saja mama Albert baik, jauhkan pikrian negatif ini.
Ia mulai menggerakkan badanya, menghadap ke mama Albert, dengan mata masih terpejam rapat, perlahan ia membukanya. Sebuah senyuman terpapang di raut wajah mama Albert.
Menatap wajah cantik, dan muda mama Albert, membuatnya semakin tertegun, dengan mata berbinar, tak berhenti mengagumi kecantikan mamanya.
Vina mendekatikan tubuhnya , ke samping Albert dan berbisik. “Albert! Apa dia mama kamu?” tanya Vina, merasa kurang yakin.
“Iya, memangnya kenapa?” jawab Albert, bebisik pada Vina.
“Dia cantik, dan terlihat masih sangat muda,” ucap Vina, semabri melirik kucing ke arah mama Albert.
“Kalian kenapa masih berbicara di situ. Ayo, masuk ke dalam.” Mama Albert, memegang tangan Vina, masuk ke dalam.
Albert hanya tersenyum, mengikuti langkah kaki Vina dan mamanya.
“Albert!!” panggil seorang wanita dengan suara khas centil miliknya, berjalan langsung masuk ke dalam rumah Albert, tanpa mengetuk pintu atau hanya mengucapkan selamat malam. Vina dan mamanya yang sudah duduk di ruang keluarga, menikmati jamuan dari mamanya. Albert melirik sejenak, memastikan jika dia tidak tahu ada seseorang wanita penggangu yang datang.
“Aira, kamu lagi! Kamu lagi!” decak kesal Albert.
“Kenapa, kamu tidak suka, ya, syang?” tanya Aira, memeluk tangan Albert.
Merasa kesal dengan apa yang di lakukan Aira, Albert mencengkram, erat tangan gadis itu, menarik tangan Aira dengan kasar keluar dari rumahnya. “Jangan ganggu aku lagi!” bentak Albert. Melemparakn tubuh Aira kasar. Dengan pandangan mata semakin menajam, seakan ingin menerkam habis mangsanya.
“kenapa syang, aku hanya ingin menagih janji kamu. Bukannya, kamu dulu pernah bilang jika kamu ingin menikahi aku nanti.” Ucap Aira, mencoba memeluk tangan Albert lagi, dengan sigap Albert menepis tangan Aira kasar.
“Jangan pernah sentuh aku!!” pekik Albert, dengan nada semakik meninggi, perempuan itu semaki membuatnya naik darah, jika berhadapan dengannya.
Aira mengerutkan bibirnya, memasang wajah menyedihkan miliknya.
“Kamu kenapa melanggar janji kamu, kamu yang bilang sendiri syang akan menikahiku. Bahkan kamu juga sudah menodai aku,” gumam Aira, sembari mengerutkan bibirnya, semakin memasang wajah menyedihkan, ia mengeluarkan sebuah ackting yang entah bagaimana balasan dari laki-laki yang ia cintai di depannya itu.
“jangan harap aku kana menikahimu, dan aku gak pernah sama sekali emnodai kamu. Hubungan kita hanya sebatas pacaran biasa. Dan gak lebih, aku juga tidak merasa pernah tidur dengan kamu,” pekik Albert, yang sudha semakin geram. “Ia mangangkat tanganya, menatap semakin tajam “Pergi dari sini!!” bentak Albert.
Yang langsung menbanting pintunya keras, dan menguncinya rapat. Agar dia tidak begitu mudah masuk, dan menganggunya dengan Vina.
Brakkk..
Suara bantingan keras pintu, membuat Aira terjingkat, terkejut. sampil mengumpat kesal di bibirnya.
Jika dia terus mengangguku, aku tidak bisa jamin Vina akan percaya lagi denganku. Bagaimana, kalau Vina nanti lebih percaya dengan apa yang dia katakan, bisa-bisa pernikahanku batal gara-gara dia. Decak kesal Albert dalam hatinya.
“Albert, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu, meskipun kamu menikah. Aku akan terus mengejarmu. Jangan harap kamu bisa jauh dariku! Gak akan bisa, dan tidak akan mungkin bisa!” teriak Aira di balik luar pintu rumah Albert.
Albert tidak perdulikan teriakan Aira, ia segera kembali dan menemui Vina dan mamanya. Mereka pasti akan menunggunya di dalam, dan Vina pasti curiga jika tidak segera ke sana.
----
“Albert, jangan harap kamu bisa pergi jauh dariku, aku akan membuat kamu mencoba merasakan suatu sensasi gimana rasanya patah hati, kamu harus merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang,” gumam Aira dalam hatinya, menarik sudut bibirnya tipis, membentuk senyuman sinis, menatap ke depan pintu coklat yang menjulang tinggi, di depannya.