
Sehabis begadang dengan Kesha, berbincang tentang masa lalu. Dan berbicara tentang anaknya nanti, kesha berencana untuk menghubungi kak Jack, untuk membawa Manda pergi dari kota ini, tapi Kesha bilang kak Jack gak bisa menemaninya, ia takut jika Aron akan salah paham lagi dengannya.
Kali ini Jack hanya bisa membantunya untuk ke bandara dan tinggal bersama temannya di Indonesia, di sana temannya sudah tinggal lama, sudah hampir 3 tahun. Ya, sejak temannya itu, menikah dengan orang Indonesia. Mereka memutuskan untuk tinggal di sana. Dan Jack menyuruh Manda pergi ke sana sendiri.
Kesha sudah menceritakan semua pada Jack, sehingga malamnya Jack mengirim pesan ke Manda, jika ia mau membantunya, tapi jangan sampai Aron tahu, ia tidak mau jika Aron salah paham lagi padanya. Kini hubungan Jack dan Aron sudah membaik semenjak salah paham itu terselesaikan, di antara mereka berdua.
****
Keesokan harinya, Manda masih berbaring di ranjangnya dengan tubuh masih terasa sangat lemas. Dan perut terasa sangat lapar kali ini.
Kruukkk..krukk
Manda terdiam bersandar di ranjangnya, sambil mengusap lembut perutnya. "Lapar sekali"Gumamnya merintih, entah kenapa ia selalu merasa ingin makan dan makan, entah itu makanan pokok atau sekedar cemilan, serasa mulutnya kali ini ingin selalu mengunyah.
Ia membuka selimut tebal yang menutupi sebagian kakinya, dan beranjak berdiri dengan tangan menyangga ke tembok putih di sampingnya. Benar-benar ia terasa lunglai kali ini. "Apa kalau hamil seperti ini ya?" Manda nampak sangat cemberut, ekspresi wajahnya kesal, lapar bingung jadi satu.
Ia berjalan perlahan, meski kakinya kini terasa sangat berat. "Kesha kenapa gak kesini, aku minta bantuan siapa lagi kalau bukan dia kali ini"Gumam Manda mencoba berjalan menuju ke pintu kamarnya.
Pintu tiba-tiba terbuka, sebelum Manda membukanya. Terlihat kesha berdiri di depannya.
"Manda!, kamu mau kemana? kamu istirahat saja, jangan terlalu capek ya, dan ingat kata dokter, kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran" Kesha mencoba mengingatkan lagi apa kata dokter padanya. Kesha kini lebih bawel banget, dari pada ibunya dulu. Perhatiannya membuat Manda kagum. Tapi bawelnya itu benar-benar mengalahkan ibu-ibu.
Kesha memapah tubuh Manda untuk kembali ke ranjangnya lagi, dan segera membaringkan tubuhnya yang kini terasa sangat lemas itu.
"Udah jangan kamana-mana lagi, kalau kamu butuh apa-apa kan tinggal telfon aku, Da" Cerocos Kesha tak hentinya, dia bergitu sangat cerewet kali ini saat Manda hamil, yang paling perduli dengannya kini hanya Kesha, bahkan Aron tak mencarinya.
Sejak kemarin malam ia tidak bertemu dengan Aron dan Fany, apa mereka pergi kencan, atau entah kemana ia juga tidak tahu, yang paling penting bagi Manda kali ini adalah kesehatan bayinya
"Kamu tunggu di sini sebentar, jangan berdiri lagi ya" Kesha menegaskan, dan beranjak dari kamar Manda, ia tak bilang mau pergi kemana. Mungkin ambil minum atau makanan Manda berharap itu.
Karena saat ini ia sudah tak bisa menahannya, perutnya sangat lapar ia butuh asupan makanan. Padahal tadi mau bilang ke Kesha, tapi dia berjalan keluar dengan langkah terburu-buru.
Tak lama Kesha berjalan masuk ke kamar Manda, membawa satu nampan makanan yang kini membuat air liurnya menetes seketika.
"Wah, baru aku mau bilang ambilkan makanan. Tapi kamu sepertinya sudah tahu isi hatiku"gumam Manda, segera meraih senampan makanan itu dari tangan Kesha.
Manda terdiam, makanan yang kesha bawa hanya Sayur-sayuran, buah-buahan yang sudah di kupas dan di belah menjadi beberapa bagian. Padahal ia berharap ada lauk yang lebih enak dari pada hanya sayur. Manda menghela napasnya kesal.
Dengan terpaksa ia makan, makanan yang ada di nampan itu, dari pada ia kelaparan nanti. Kasihan juga bayi yang ada dalam kandungannya gak dapat Gizi sama sekali nantinya.
Tak butuh waktu lama Manda menghabiskan semuanya, kesha duduk terdiam, di samping Manda melebarkan matanya melihat Manda makanan begitu lahapnya, seakan tak ada beban pikiran lagi yang mengganggunya.
"Sa!!" Panggil Manda memegang tangan Kesha yang mau beranjak berdiri.
"Aku hanya ingin kamu sembunyikan kehamilanku ini pada siapa pun termasuk Fany dan Aron. Mereka jangan sampai tahu" Gumam manda menundukkan kepalanya.
Kesha tahu jika Manda masih merasa terpukul mengetahui semuanya. Di saat ia hamil butuh belaian kasih sayang dengan Aron, malah dia tak perdulikannya lagi sekarang.
Semoga kamu tetap sabar Manda jalani semuanya, kamu wanita yang hebat berjuang sendiri, gumam Kesha.
"Da, tenang saja aku akan merahasiakan semuanya dari nenek sihir itu dan Kak Aron. Tapi setidaknya aku ingin tahu rahasia kamu kenapa menjauh darinya. Dan soal ini aku sudah bilang dengan kak Jack, agar membantumu" Kesha duduk di ranjang Manda dengan tangan merengkuh bahu Manda.
"Kak Jack kemarin malam, sudah menghubungiku. Aku menerima bantuannya. Dan aku juga memtuskan mau pergi juga meninggalkan rumah ini untuk sementara. Aku harus merahasiakan ini semua dari Aron, kalau dia sudah pergi meninggalkan Fany, maka aku akan mau memberi tahu jika ini anaknya" Ucap Manda lirih, seakan berat untuk mengungkapkan semuanya.
Kesha merasakan kesedihan yang berat di hati Manda, namun kini ia sudah punya semangat baru, yaitu sebuah baby kecil di dalam perutnya. Setidaknya itu bisa mengontrol emosinya lagi, di saat ia merasa tersakiti. Dan kesha sebenarnya berharap jika Kak Aron mulai baik lagi dengan Manda, dan merawat ke anaknya bersama. Ya setidaknya hubungan mereka kembali harmonis, tanpa penganggu seperti nenek sihir, Fany.
Kesha saja merasa muak dengan Fany, namun apa boleh buat ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat mereka. Karena Kesha juga tidak ada wewenang di rumah ini. Ia hanya bisa merawat Manda, menjaga Manda dari ganguan nenek sihir itu.
Manda menepuk pundak Kesha yang dari tadi hanya diam melamun, manda hanya mengamati raut wajahnya, ia tak tahu apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.
"Sha!" Panggil Manda, kesha masih diam melamun hal yang tidak Manda ketahui.
"Sha!!" Manda kali ini menapuk pundak Kesha semakin keras. Membuat Kesha terjingkat menatap ke arah Manda. "Eh, iya Da, ada apa?" Tanya Kesha nampak linglung.
"Kamu punya makanan gak, cemilan atau apa gitu"Ucap Manda dengan kedipan menggoda ke arah Kesha.
"Kamu mau cemilan, baiklah aku akan pergi carikan cemilan kamu di sepermarket terdekat"kesha tersenyum dan beranjak dari duduknya.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu membaut Kesha Dan manda saling menatap satu sama lain, seolah dalam pikiran mereka berkata sama. Siapa dia, apakah Fany, atau Aron.
"Siapa?"teriak kesha lantang, hingga terngiang di ruangan itu.
"VINO!"
"OH! Vino" Manda mengguk-anggukan kepalanya. Menepuk tangan Kesha untuk segera membukanya.
Namun kesha merasa sangat ragu, ia ingin melangkah untuk membuka pintunya, namun langkahnya terasa semakin berat.
"Udah cepat buka"Manda tersenyum tipis menggoda Kesha.
Kesha menarik napasnya, mengeluarkan perlahan. Ia merasa sangat gugup, ia takut jika Vino akan membawanya keluar untuk berbicara masalah tadi malam. Ia bingung jika harus menjawab itu semua.