Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Sadar


Aron menarik napasnya, menahan emosi yang seakan selalu ingin keluar dalam dirinya. Ia tidak mau amarahnya itu muncul lagi, sudah berkali-kali Aron berusaha namun sifatnya tidak bisa berubah sama sekali. Sekali ia terlihat khawatir pada seseorang dia selalu marah-marah gak jelas. Kepribadain gandanya tidak muncul.saat bersam dengan Manda. Jika ada seseorang yang menganggu hatinya seakan emosinya mulai mengobar lagi dalam tubuhnya.


"Maaf soal tadi"ucap Aron pada dokter yang masih berada di sampingnya itu.


"Iya tuan, saya juga akan berusaha keras semaksimal mungkun untuk merawat istri tuan. Sebagai dokter juga saya bertanggung jawab atas pasien saya. Semoga non Manda dan anaknya bisa sehat kembali"ucap dokter itu.


"Baiklah"ucap Aron lirih, ia menghela napas panjangnya, menahan emosi yang dari tadu mengusai jiwanya.


"Sekarang kamu boleh pergi, aku ingin di sini bersama istriku dulu"ucap Aron.


"Baik tuan, jika ada apa-apa tuan bisa panggil saya"Dokter itu beranjak pergi meninggalkan Aron dan Manda.


Aron tak perdulikan ucapan dokter itu, ia menatap istrinya yang terbaring tak berdaya di kamar pasien. Sekarang ia benar-benar lepas dengan pekerjaannya dan lebih memilih menjaga Manda. Sudah beberapa hari dia belum bisa kemvali bekerja lagi. Semua waktunya ia habiskan bersama Manda. Dan sekarang Jack yang membantu manajer perusahaan Aron untuk mengurus semua perusahaan Aron agar tetap stabil.


Aron masih terus merasa bersalag pada Manda. Gara-gara dia Manda jadi terbaring lemas di rumah sakit.


"Manda maafkan aku"ucap Aron mengusap lembut rambut Manda, ia mengecup kening Manda lembut, berharap dia dan anaknya akan baik-baik saja. Manda adalah wanita harapnnya untuk mempunyai keluarga utuh bersama. Hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Jauh dari masalah yang terus menganggunya. Dan sekaligus tanpa ada dendam lagi dalam diri mereka berdua.


Meski maslah siapa pembunuh orang tua Manda belum ketemu. Tapi sekarang Aron fokus pada istri dan aanknya lebih dulu. Semua urusan sudah ia serahkan pada manajernya. Untuk membantu dia mencari pembunuh orang tua Manda sebenarnya.


"Kak.."Panggil Vino yang tiba-tiba datang menjenguk Manda.


"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Aron, menatap ke arah Vino dan Kesha.


"Tadi bibi bilang kalau kamu bawa Manda ke rumah sakit. Jadi aku cepat kesini tadi ajak Kesha sekalian. Dia juga iangin tahu keadaan Manda."ucap Vino memegang tangan Kesha berjalan mesuk menghampiri Aron. "Sebenarnya Manda kenapa kak?" tanya Kesha.


"Aku gak tahu, tapi kata dokter karena minuman. Dan pasti itu gara-gara minum kemarin malam dia jadi seperti ini. Sekarang keadaannya sangat buruk. Hampir saja kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya. Aku terlalu bodih membiarkan dia meraih minuman di tangan wanita teman aku. Entah karena dia cemburu padaku atau apa aku juga gak tahu. Tapi aku sekarang menyesal dengan semua yang terjadi pada Manda hari ini."ucap Aron pada Kesha, ia terus kenundukkan kepalanya. Matanya sekana sudah tidak bisa membendung air mata yang ingin keluar dari mata elangnya.


Mendegar ucapan Aron, Kesha merasa sangat kecewa.


"Kenapa Manda minum kak, harusnya kakak jaga dia. Dia pagi hamil kenapa kak Aron ceroboh membiarkan Manda untuk minum. Kasiha bayi yang ada dalam perutnya kak. Apalagi di usia yang baru mau menginjak 3 bulan. Itu usia yang paling rentan untuk kondisi bayinya. Gak boleh makan dan minum sembarang"ucap Kesha menaseheti Aron, ia kesal dengan Aron yang begitu ceroboh dengan kehamilan Manda. Dia tidak benar-benar menjaganya. Harusnya sebagai suami dia tahu apa larang untuk istrinya. Dan Manda sampai bisa minum Aron hanya melihat tidak mencegahnya. Itu yang semakin membuat Kesha kesal dengannya.


Ingin rasanya marah dengan Aron, namun gak mungkin dia adalah kaka dari calon suaminya. Kalau marah sama Kakaknya, takutnya gak di izinin menikah dengan Vino nantinya.


"Iya sha, semua salahku, aku yang salah. tapi aku berharap manda akan baik-baik saja"ucap Aron melirik ke arah manda, mengusap lembut pipinya dengan jemarinya.


"Dan aku juga ingin bicara denganmu kak.. aku mau bilang sesuatu padamu" ucap Vino ragu-ragu.


"Mau bilang apa?" tanya Aron penasaran.


"Besok aku akan ada acara kelulusan, apa kakak bisa hadir. Ini acara satu kali kak, aku sebanarnya ingin kak Aron dan Manda bisa datang."ucap Vino menundukkan kepalanya. Ia takut jika Aron akan marah dengannya. Karena ia pikir jika Aron akan oebih mementingkan Manda dari pada dirinya. Karena sepertinya keseharan Manda oebih 0enting dari pada dirinya.


Aron menyentuh pundak Vino. "Sudahlah, kalau Manda mungkin gak bisa ikut. Tapi aku akan usahakan datang. Aku tahu kakak terlalu egois dengan kamu dulu. Kakak sejak punya istri gak pernah perdulikan kamu. Tapi kali ini kakak akan datang untuk menemanimu untuk perpisahan sekolah"ucap Aron tersenyum sekana tahu semua keadaan Vmadiknya beberapa hari ini, yang selalu merasa sendiri.


Vino terkejut mendengar ucapan kakaknya itu, tidak menyangka kakaknya tahu apa isi hatinya. "Benar ya kak, tapi..."Vino berhenti berbicara, melirik ke arah Manda.


Aron yang seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Vino, ia tersenyum menatap Vino. "Aku tahu kamu pasti khawatir dengan Manda kan, aku bisa suruh Jack jaga dia. Atau mungkin nanti kalau dia sudah mendingan aku akan ajak dia. biar dia pakai kursi roda saat menghadiri acara kamu"ucap Aron menjelaskan.


"Makasih kak, tapi ada satu lagi yang ingin aku bicarakan dengan kakak. Tapi kakak jangan marah. Aku hanya ingin menunjukkan jika aku benar-benar lelaki yang bertanggung jawab."Ucap Vino mencoba basa-basi pada Aron.


Kesha yang berdiri di samping Vino tak perdulikan pembicaraan mereka. Ia hanya perdulikan Manda yang terbaring lemas di kamar pasien. Kesha berharap Manda cepat sadar dari pingsan. Dan cepat semb7h dari sakitnya. Dan babynya juga tidak kenapa-napa.


"Aku ingin menikah dengan Kesha kak, saat lulus sekolah nantinya."Ucap Vino menundukkan kepalanya. Ia takut melihat kakaknya marah.


"Vin, bukannya aku melarang kamu menikah dengan Kesha, tapi aku gak mau kamu hidup susah nantinya. Apalagi kamu belum punya pengalaman kerja. aku ingin kamu belajar kerja di kantorku. Jadi saat kamu pergi dari kakak, kamu sudah punya skill kerja. Dan Kesha juga, dia bukannya juga mau kuliah dulu"ucap Aron, Menarik tangan Vino untuk duduk di sofa. Dan Aron membiarkan Kesha untuk menjaga Manda yang masih berbaring.


"Tapi kak, aku bisa kerja sendiri. kerja apa saja aku lakukan. Dan aku gak mau ngerepotin kakak lagi. Dan aku juga gak mau biaya kuliah aku di tanggung kakak. Aku ingin bisa mandiri kak, aku ingin berjuang bersama dengan Kesha."Vino melirik ke arah Kesha calon istrinya itu.


"Kak Manda menggerakkan tangannya, sepertinya dia akan sadar"ucap Kesha, ia terlihat senang melihat sahabatnya itu segera sadar.


Aron beranjak berdiri, berjalan secepatnya menuju ke arah Manda. "Emm. Di mana aku?" tanya Manda perlahan membuka matanya.


"Manda kamu di rumah sakit sekarang, kamu tenang ya."ucap Aron, Manda mencoba duduk bersandar.


Kepala Manda terasa sangat sakit, entah itu efek obat atau memang dia sakit kepala juga.


"Apa yang terjadi denganku, apa bayiku baik-baik saja kan, dia masih retap sehat kan syang,"ucap Manda yang terlihat khawatir.


"Syang enang saja, bayi kita akan selalu sehat. Dan kita bisa berkumpul jadi keluarga seperti yang kita inginkan nantinya. Jangan terlalu di pikirkan. Sekarang lebih penting kesehatan kalian berdua. Sekarang jangan minum sembarangan lagi ya"ucap Aron memegang tangan Manda dengan tangan kiri mengusap lembut rambutnya.