
Selesai makan, Vino duduk terdiam, bersandar di sofa, dengan pandangan mata terarah pada pantai di depannya. Terbesit dalam benaknya untuk membuat kejutan untuk Kesha. Setelah pacaran dulu, ia tidak pernah sama sekali membuat moment romantis berdua. Dan saat ini saatnya, ia mulai beraksi menunjukan kesetiaan dan keseriusannya.
Vino melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Mereka Belum berberes sama sekali, semua kado yang di berikan para temannya dan kekaknya belum sempat mereka buka.
Vino melirik ke arah Kesha, gadis cantik yang baru saja ia nikahi itu, yang kini terdiam memandang pantai, di jendela kamarnya, dengan ke dua tangan menyangga dagunya, menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, dan senyum manis bahagia terpancar dari wajah cantiknya. Pakaian kaos tipis dan rok pendek yang ia kenakan membuat penampilannya sangat berbeda. Terlihat lebib menggoda.
"Pemandangan yang indah, ya?" tanya Kesha. Memejamkan matanya, menikmati angin malam, yang menghembus wajahnya, membuat helaian tipis rambutnya berantakan.
Pandangan Vino tertuju pada lekuk tubuh istrinya itu, membuat air Liurnya menetes seketika. Ia tidak bisa menahanya lagi, tapi Kesha terlihat sangat asyik menikmati pemandangan pantai, ia tidak mau menganggunya lebih dulu.
"Syang!! Apa kamu tidur? Kenapa kamu gak jawab pertanyaan aku?" ucap Kesha kesal.
"Iya, syang! Ada apa?" tanya Vino, yang baru terbangun dari pikiran kotornya.
"Pemandangannya bagus, gak?" tanya Kesha, yang mulai menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis.
Vino masih memandang kaki mulus Kesha, perlahan pandanganya naik ke atas, bibirnya masih belum bisa tertutup rapat, "Ada yang jauh lebih indah syang!!" goda Vino, seakan matanya sudah mulai nakal, tak hentinya memadangi rok pendek sepaha milik istrinya itu. Rok yang sangat pendek, bahkan jika ia menunduk pasti akan terlihat jelas dari belakang.
Drrrttt... Drrrttt...
Vino beranjak berdiri, langkahnya terhenti saat ponselnya menyala.
Mendengar ponselnya bergetar, di atas meja. Ia segera meraihnya, melirik ponsel yang masih menyala, seketika matanya melebar, melihat sebuah pesan dari 'Kak Aron'.
"Ada apa, kaka Aron mengirim aku pesan. Apa mau kasih aku hadiah yang lebih mewah lagi." gumam Vino, membayangkan sebuah hadiah mobil mewah, atau hanya sekedar tiket liburan keliling dunia.
Wajah Vino berubah menciut seketika, membayangkan yang berbeda dari pikirannya tadi. "Atau hanya ucapan selamat saja darinya," lanjutnya.
Vino menggelengkan kepalanya satu kali, menghilangkan pikirannya tentang hal itu dan segera membuka pesan darinya. membaca dengan wajah mata mengernyit melihat setiap huruf di layar ponselnya.
"Keluarlah, ajak istri kamu jalan ke pinggir pantai, aku sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian." pesan Aron.
Vino menarik sudut bibirnya, "Apa ada kejutan, lebih baik aku keluar. Sekalian jalan-jalan dengan Kesha, pasti dia senang. Setelah itu, dia pasti mau di ajak melam pertama." pikir Vino dalam hatinya.
Vino berjalan mendekati istrinya, memeluk Kesha manja dari belakang. Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Kesha.
"Syang!! Hari ini aku mau ajak kami keluar dulu," ucap Vino.
Kesha membalikkan badannya, Dengan salah satu memegang tangan Vino, dan tangan kanan, mengusap lembut pipi suaminya. "Padahal tadi aku mau bilang seperti itu tadi, tapi mancing kamu. Tetap saja gak peka," gumam Kesha, membalikakan badanya, membelakangi Vini. Melipat ke dua tangannya kesal.
Vino tersenyum, memandang bibir Kesha yang sudah manyun beberapa senti. Ia memegang tangan Kesha, menariknya segera keluar dari Vila.
"Hari ini jangan cemberut, aku aku memebri kamu suatu kejutan." ucap Vino penuh percaya diri, padahal bukan dia yang menyiapkan kejutannya.
"Kejutan apa?"
"Nanti juga kamu tahu," Vino melangkah ringan, memegang tangan Kesha berjalan menelusuri pinggiran pantai, merasakan hembusan angin laut yang menerpa tubuh mereka. Membuat helaian rambut Kesha bertebangan.
Kesha yang merasa tubuhnya dingin, ia menggosok-gosokkan tanganya. Melirik ke arah Vino, yang dari tadi hanya diam, seolah ia menyembunyikan sesuatu darinya.
Drrtt.. Drrtt.
Tanpa banyak berpikir, ia segera membuka ponselnya. "Kamu lurus saja ke depan, tapi suruh Kesha tutup mata dulu," pesan Aron.
"Kenapa harus Kesha yang tutup mata. Kenapa gak aku, sebenarnya adiknya itu, Kesha atau aku. Kenapa kejutan hanya untuk Kesha." gerutu Vino lirih.
"Pesan dari siapa?" tanya Kesha, mencoba melihat ponael Vino, namun ia segera menariknya ke belakang, menyembunyikan ponselnya dari Kesha.
"Kamu tutup mata dulu, nanti aku kasih tahu," Vino memutar matanya, menatap sekeliling daratan pantai itu. Ia melihat ada sebiah cahaya di depannya.
"Itu pasti kejaan kak Aron." gumam Vino lirih.
"Kak Aron?" tanya Kesha.
"Bukan, kamu mungkin salah dengar. Padahal tadi aku panggil nama kamu 'Kesha'." ucap Vino beralasan.
"Sudah sekarang kamu tutup mata dulu ya," ucap vino berdiri di belakang Kesha, ia sudah siap untuk menutup mata Kesha.
"Kenapa harus tutup mata?" tanya Kesha, menoleh ke belakang, dengan pandangan mata menajam.
"Sudah jangan banyak tanya, tutup mata dulu. Nanti kamu juga akan tahu," Vino menutup ke dua mata Kesha dengan telapak tangannya.
"Sudah sekarang kamu jalan duluan. Ikuti apa yang aku katakan ya."
"Memangnya kamu mau nagapin, Vino!!"
Vino hanya diam, ia menatap di depannya.
"Syang jalan lebih cepat, kita akan sampai," ucap Vino.
"Vino kamu mau ngapain, jangan bikin jantungku dag dig dug." ucap Kesha.
Ternyata kak Aron memang tahu apa yang ada dalam pikiran kamu. Benar-benar bagus," gumam Vino, memutar matanya, melihat hiasan lampu lampion menyebar di pinggiran pantai, dan hiasan lampu biru di dalam air membuat pantai semakin indah, saat tersapu ombak. dan taburan bunga mawar membantuk hati besar di hiasi lilin yang sudah menyala.
"Buka mata kamu sekarang?" ucap Devid, nenarik ke dua tanganya.
Kesha yang sudah mulai membuka matanya tercengang, melihat apa yang ada di depanya. Ia menganga seketika, tak bisa berkata apa-apa lagi. Selain terkagum-kagum, dan terus menggelengkan kepalanya, Kesha menutup ke mulutnya. "Ini... Ini kamu yang.. Siapin semuanya?" tanya Kesha.
"Iya bantuan Kak Aron." ucap Vino meringis.
Vino mengulurkan tanganya, dan langsung di balas oleh Kesha. Mereka berjalan menginjak bunga mawar merah yang bertaburan, seakan seperti red karpet, yang di hiasi lilid dan lampion di seitarnya.
Vino dan Kesha duduk di atas tumpukan bunga mawar. "Syang, aku gak nyangka kamu nyiapin ini semua," ucap Kesha. Tak berhenti ia terkagun-kagum, melihat oemandangan di depannya, membuat pantai lebih jadi indah saat makam hari.
Kesha memeluk tubuh Vino daru samping, mengandarkan kepalanya di bahu Vino.
"Aku ingi. seperti ini setiap saat, kamu selalu romantis padaku. Pasti akan lebih bahagia pernikahan kita." ucap Kesha.