
Hampir 20 Menit perjalanan menuju ke rumahnya. Vino memegang tangan Manda masuk ke dalam rumah dengan sangat hati hati. Mereka berjalan saling bercanda dan tertawa bersama. Perlahan Vino membuka pintu rumahnya, lalu menutupnya kembali.
" ehem..hem..." Vino tersentak seketika mendengar suara kakaknya. Vino dan Manda sontak kompak memandang ke arah ruang tamu di depannya.Senyum mereka terhenti seketika pudar,wajah mereka nampak lesu menatap takut melihat Aron.
" Dari mana saja kalian jam segini baru pulang??" Aron duduk di sofa ruang tamu dengan kaki bersila tatapan sangat tajam. Dia terlihat marah melihat Manda berjalan apa lagi tak sadar mereka berpegangan tangan dengan terus tertawa bercanda bersama berjalan masuk ke dalam rumah.
" kakak?" Vino terkejut jika Aron masih belum tidur.
" Kamu dari mana?? Aku tanya jawab dulu ?" Amarah Aron menggelegar ke penjuru ruangan membuat Manda bergidik ketakutan. Dia bersembunyi di balik punggung Vino agar tidak menatap amarah Aron yang semakin menjadi.
Aron melirik tajam ke arah Manda. Ia menarik kasar tangan Manda dari belakang punggung Vino.
" Sini kamu??" Manda hanya menundukan kepalanya bergetar ketakutan mendengar bentakan Aron.
" Kak ?? Sudahlah kak jangan kasar sama dia" Vino mencoba memegang tangan Manda namun Aron menepis tangan Vino.
" Gak usah ikut campur, kamu cepat pergi ke kamar" pungkas Aron dengan nada semakin tinggi.
Tak bisa berkutik mendengar perintah kakaknya Vino bergegas menuju ke kamarnya. Ia menoleh sejenak menatap Manda yang masih menundukan kepalanya. " Kasihan dia, padahal baru saja aku merasa nyaman berteman dengannya" Vino melanjutkan perjalanannya menuju ke kamar.
" ikut aku!!" Aron menarik kasar tangan Manda berjalan dengan langkah terburu buru melewati anak tangga menuju ke kamar Manda.
Manda mengehela nafas mengumpulkan keberaniannya untuk melawan Aron. " lepaskan aku" Dia menarik tangannya dari cengkraman Aron.
" Aku bisa jalan sendiri Om" Aron terdiam seketika dia melihat Manda kini semakin berani padanya. Bahkan Manda berjalan lebih dulu menuju ke kamarnya. Lama terdiam Aron beranjak melanjutkan langkahnya. Dia membuka pintu kamar Manda melihat dia duduk termenung sendiri menatap lautan di balik kamarnya.
" Kenapa dia nampak kesepian??" Batin Aron dengan hentakan kaki yang sangat hati-hati dia tidak mau mengganggu lamunan Manda. dia duduk di samping ranjang Manda menyentuh pundaknya, membuat Manda sontak menoleh seketika.
" lebih baik Om cepat katakan apa yang Om mau. Jika sudah silahkan Om pergi dari kamarku. Aku ingin sediri dulu!!" Pungkas Manda Lirih menatap wajah Aron yang terlihat berbeda dari yang ia ketahui tadi. Kini Aron tak menampakkan wajah dingin penuh amarah. Dia terlihat lebih polos dan lugu membuat Manda mengernyitkan matanya melihat keanehan pada diri Aron.
" Kenapa Om diam saja dan tak henti menatapku" tanya Manda.
Aron hanya diam tak menggubris pertanyaan Manda, dengan sigap dia menarik tangan manda masuk dalam dekapan hangatnya. Ia mencium lembut bibir sexy Manda. Kini dia tidak bermain kasar seperti biasa yang dia lakukan. namun manda masih tetap menolak ciuman Aron.
Ia mendorong tubuh Aron menjauh darinya, lalu beranjak berdiri Dengan tangan sangat cepat melayang menampar pipi kanan Aron.
"Jangan sekali kali Om menciumku?"
Kali ini Aron terlihat sangat marah di buatnya. Ia beranjak berdiri mendorong tubuh Manda tingga terjatuh di ranjang. Aron sangat tidak suka di tolak oleh wanita. Amarahnya kini semakin memuncak. Wajah lembut berubah jadi bengis seakan ia ingin menerkam habis Manda di depannya. Dengan segera dia **** tubuh Manda membuat kakinya tak bisa berkutik untuk melawan. Dan tangan Aron mengunci ke dua tangan Manda di atas sangat erat.
Manda tak bisa mengelak lagi, ia ingin sekali memukul dan menendang Aron jauh dari nya namun ia tak bisa bergerak sama sekali. Tubuh Aron sangat kekar dia tidak bisa mengimbangi kekutan tubuhnya yang sangat kuat. Manda hanya gadis kecil bertubuh mungil tak bisa melawannya.
Manda memejamkan matanya terlihat pasrah dengan apa yang terjadi . Dia memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri berkali kali dia menolak ciuman dari Aron. Namun Aron tak berhenti di situ. Dia melumat kasar bibir manda membuat dia tak bisa bergerak lagi untuk menolak.
Hari sudah semakin gelap Aron terus menciumi bibir dan leher Manda. bahkan Manda masih berpakaian sekolah lengkap belum sempat dia ganti pakaian .
Manda mulai membuka perlahan matanya melihat jelas sepasang bola mata yang membuat jiwanya merasa bergidik ketakutan. Tubuhnya seakan lemas tak berdaya. Dengan berat hati dia sudah mulai menerima apa yang Aron lakukan dengannya malam ini. Mungkin ini adalah hari yang sangat buruk baginya. Harus menemani binatang buas seperti Aron.
Jemari jemari lentiknya memucat seketika, Manda mencengkram Sprei tebal di bawah nya. rasa sakit yang terasa seperti di cabik cabik seorang iblis yang sangat ganas. Bahkan dia lebih ganas dari iblis. Pemainannya Aron semakin menjadi, di merobek semua helaian kain yang menutupi tubuh mungil Manda sangat kasar. Dan terus menciumi mengigitnya sangat kasar.
Aron sudah tak tahan lagi menahan nafsunya. Dia sangat ingin melahap lebih dalam Manda.
" Om jangan Masukkan" mohon Manda mencoba menolak. Karena memang dia masih Virgin dia tidak ingin ada seseorang yang membobolnya kecuali suaminya nanti.
Tangisan tersedu sedu terdengar jelas di telinga Aron. " Om Jangan" Teriak Manda mencoba meronta namun apalah daya Manda tak bisa menghentikan keinginan Aron yang snagat kuat itu. " Tenanglah pertama mungkin akan erasa sakit. Kamu nikmati saja" Bisik aron lirih tepat di telinga Manda.
" Om jangan.. aku mohon om jangan lakukan itu padaku..." Manda terus menangis tak henti dia memohon pada Aron namun apalah daya Aron yang sudah menjurumuskan Aron kecil ke dalam dengan berbagai perlawanan yang sangat sulit untuk masuk. Milik manda sangat sempit membuat Aron harus berusaha keras untuk masuk.
" Ternyata dia masih Virgin, aku kira Vino sudah menikmatinya" batin Aron melanjutkan usahanya.
" Sa....Sakit Om" Teriakkan keras Manda mencengangkan seluruh ruangan.
" Tahanlah Sakitnya hanya sebentar Manda" Bisikan menggoda Aron membuat Manda terdiam seketika.
Vino yang mendengar teriakan keras dari Manda berlari menuju kamar Manda karena memang dia sangat khawatir dengan keadaan temannya itu. Vino membuka perlahan pintu yang tak di kunci. Dia melihat Aron sangat lihai menggerakan tubuhnya bermain dengan Manda.
" kenapa aku merasa sangat sakit melihat mereka berdua, bukannya mereka akan segera menikah wajar saja jika mereka berhubungan badan.kak Aron Juga pasti akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang ia lakukan pada Manda" Batin Vino dengan tangan memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
Manda menoleh ke arah pintu melihat Vino terdiam menatap Manda. Tangisannya semakin menjadi dengan tubuh masih mengikuti irama permainan Aron.
"Hiks....hiks..."
" Vino maafkan aku!! " Batin Manda.
" aku ingin sekali berteriak minta tolong padamu, dan memelukmu erat Vino" Batin Manda yang terus menatap Vino.
Manda menatap Vino dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ia berharap Vino menolongnya dari seorang iblis ini. Namun Vino tak bisa kerkutik apa apa pada kakaknya bahkan dia belum pernah berani melawan kakaknya sebelumnya. Sementara Vino melihat Manda sangat kasihan. Ingin sekali dia menolong Manda namun " maaf Manda aku gak bisa" Batin Vino memalingkan wajahnya dari pandangan Manda.
Desahan terus terdengar dari mulut manda membuat Vino sudah tak tahan melihatnya lagi. Dia menutup perlahan pintu kamar Manda agar tak mengganggu Aron bermain dengan manda dan beranjak kembali ke kamarnya.
Suhu panas tubuh Aron di atasnya membuat Manda terpaksa harus mengikuti irama yang di lakukan Aron semakin cepat
Pada suatu gerakan gemulai Aron serasa dia di sentuh oleh Es yang sangat dingin wajahnya mulai memucat seketika. Aron menerkam bibir Manda kasar seolah dia ingin memakannya habis.
Manda terus berdesah di alam bawah sadar.
Tangsin Manda semakin pecah. Gerakan Aron sangat cepat membuat nafasnya tak beraturan. " hikss.. Sakit Om" punkas Manda. Aron tak perdulikan kesakitan Manda kini dia semakin menjadi erangan keras Aron terdengar sangat jelas tanda dia sudah mulai klimaks. Aron merasa sangat capek dia membaringkan tubuhnya sejenak di samping Manda. Dengan puluh keringat membasahi tubuhnya.
" Makasih Manda" Senyum tipis Aron seolah senyum kemenangan bagi dia telah membobol keprawanan Manda. Bisikan Aron di telingannya membuatnya Merinding ketakutan.
Manda terus menangis tak hentinya, sesuatu yang sangat ia jaga di nodai paksa oleh Aron. Dia ingin sekali marah dengan keadaan namun semua sudah terlanjur terjadi. " Om jahat" Ucap manda lirih dengan tangisan semakin menjadi.
" Aku benci sama Om. Aku benci!!" Bentak Manda berkali kali memukul dada bidang Aron yang terlentang di sampingnya.
Aron mendekap erat tubuh Manda mengehentikan tangisannya. " aku akan menikahimu dengan segera" Bisik Aron membuat Manda terdiam seketika. Dia suka dengan seseorang tapi kenyataannya berpihak lain dia harus menikah dengan Aron yang sudah punya istri. Di sisi lain Manda sangat bingung Aron sudah merebut kesuciannya tak mungkin ada yang mau menerimannya nanti jika bukan Aron.
" Kalau kamu menjawab dan diam berarti kamu mau menikah denganku" Pungkas Aron dan kini semakin memeluk erat tubuh Manda hingga mereka tidur pulas di ranjang tanpa helaian kain yang menutipi tubuh Manda.