
Aron berjalan ringan dengan hentakan kaki yang selaras menuju kamar, langkahnya terhenti mendengar panggilan dari Vino.
"Kak bukannya kakak mau jemput seseorang, biar aku yang menyambutnya" Vino nampak sangat antusias kedatangan seseorang yang membuat kakaknya bisa marah besar apa lagi dia adalah seorang wanita.
Dan baru kali ini kakaknya Aron membawa wanita lagi datang ke rumah . Dulu wanita yang datang ke rumah hanya mantan kekasihnya waktu SMA. Dan kini sepertinya kak Aron mulai berubah sedikit demi sedikit dia berani membawa wanita ke kamarnya.
"Nanti aku akan suruh menemuimu" Aron nampak datar mengalihkan pandangannya. Dalam hati ia bicara lain. Sebenarnya tak ingin ada yang boleh kenyentuhnya kecuali dia. Tetapi dia adik kesayangannya ia harus rela membiarkan adiknya yang memilih nanti .
"Baiklah, jika wanita izinkan aku bermalam dengannya gimana" Vino nampak meringis menggaruk kepala belakangnya yang sebenarnya memang tak gatal. ia mencoba bercanda dengan kakaknya, yang nampak dingin seperti es.
Semenjak kehilangan kekasihnya sifatnya berubah dingin seperti manusia es, dan selalu ingin melukai seseorang. Atau karena dia terlalu kecewa dan menyesal dengan semua perbuatannya membuat ia jatuh ke dalam titik ini.
Tak mengubris ucapan Vino. Aron beranjak pergi menuju ke kamar. perlahan ia memutar gagang pintu berwarna emas dengan desain klasik. Dan pintu kamar berwarna putih menjulang tinggi dengan ukiran arsitektur yang bagus. Nampak seorang gadis yang masih berdiam diri dengan mata di balut kain yang menghalangi pandangannya, ia tak bisa berkutik, meski dirinya berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari jeratan Aron. Namun nihil, Ia mulai terdiam seolah ia pasrah dengan keadaan.
Ia merasa hal baru akan segera terjadi padanya. meskipun Manda berusaha keras melepaskan diri. Namun masih tetap tidak ada hasilnya. Hingga kini atsmosfer di dalam ruangan nampak berubah mencengkam dan menakutkan. Manda terdiam seketika merasa udara di ruangan itu nampak sangat sesak. Seolah ia tak bisa bernafas lagi. Ia memasang pendengaran yang tajam mendengar hentakan sepatu yang mendekat ke arahnya.
"Siapa kamu??" Manda nampak was-was mencoba berdiri. Namun bukannya berdiri tegap ia tersandung membuat ia lunglai akan terjatuh. Dengan sigap Aron menangkap tubuh mungil Manda dengan tangan kekarnya. Aron menatap wajah cantik wanita di dekapanya itu sangat berbeda dari yang lain. Ia membuat hatinya merasa sangat kacau.
Aron seolah memungkiri hatinya, ia melupakan sejenak rasa kasihan.
" Aku kembali lagi gadis kecil..!!" bisik Aron lirih dengan tangan mulai membuka tutup matanya.
Mendengar suara berat Aron membuat bulu kuduk Manda merinding seketika.
" Om...??" Pandangan yang masih samar ia mencoba mengedipkan mata berkali-kali. Wanita itu nampak terkejut seketika melihat siapa yang ada di depan pandanganya kali ini.
" Kenapa om menyakitiku seperti ini. Apa salahku?? Kalau soal ganti rugi aku akan bekerja keras untuk melunasi semua ganti rugi itu. asalkan om memberiku waktu" Manda mencoba mendorong tubuh Aron dengan badan mungilnya menjauh darinya.
melihat tatapan Aron yang yang mengobarkan api kemarahan. wanita itu nampak ketakutan, ia berjalan mundur hingga kakinya terpojok di ranjang putih yang kini akan jadi miliknya itu.
"Harus berapa tahun aku menunggu ganti rugi. aku hanya ingin kamu disini bersamaku ingat itu" Aron mendorong tubuh manda hingga terjatuh diatas ranjang putih yang sangat kuas bahkan seperti kamar seorang putri kerajaan.
Manda terdiam, air matanya tak bisa terbendung lagi. Matanya mulai meneteskan butiran kristal bening yang membasahi pipi mulusnya.
Terlintas dalam hati Aron merasa kasihan. Rasa belas kasihan pada Manda mulai nampak di wajah Aron. Ia merangkak ke ranjang hanya untuk melepaskan kain yang masih menghalangi manda untuk leluasa bergerak.
Namun manda berpikir lain, ia takut jika sesuatu terjadi padanya. Ia memejamkan matanya erat seakan pasrah dengan semua keadaan.
"Hari ini aku tidak akan menyentuhmu, dan ingat jangan kabur dariku" pungkas Aron berdiri menuju ke balkon kamar yang menjulang langsung dengan menatap pemandangan laut yang sangat luas. Ia berdiam merasakan desiran angin yang membuat rambutnya yang semula rapi jadi berantakan.
Manda hanya terdiam, apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi. Ia sangat takut jika nanti Aron akan merenggut kesuciannya. Ia beranjak berdiri dari ranjangnya, menatap Aron yang berada di balkon. Manda mengehela nafas. mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati Aron di balkon.
"Om??" Ucap manda polos.
Aron tak menggubris manda ia tetap memandang pemandangan laut yang mengingatkan dirinya dengan kenangan lalu yang membuat dia harus kehilangan seseorang yang dia sayangi karena kebodohannya.
#Flashback on
"Sayang apa kamu menyukaiku?" Aron merengkuh erat tubuh kekasihnya itu.
"Sangat sayang kak" balas Sindy kekasihnya dengan senyum merekah di bibirnya.
" Apa kamu mau menemaniku" Pungkas Aron menyentuh wajah putih Sindy dengan jemarinya.
Hingga beberapa saat mereka terbuai dalam alunan irama tubuh yang sama. tangisan Sindy tak menjadi penghalang hasrat Aron.
Semula sindy menolak karena dia masih sekolah SMA dia tidak mau jika nanti akan beribas buruk padanya. Sindy takut jika dia hamil di luar nikah. Namun Aron nampak tak perduli. bahkan dia sangat tega membiarkan kekasihnya menangis menanggung rasa sakit.
Namun Aron seolah tak perduli dengan jeritan Sindy yang terdengar jelas di telingannya. hingga tubuhnya sudah mulai lelah seakan sudah tak berdaya lagi tanpa tulang. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Sindy dengan keringat yang sudah membasahi sekujur tubuhnya.
Aron sekilas menatap Wanita di sampingnya. wajahnya di penuhi dengan balutan keringat. lalu ia memiringkan badanya menatap sindy, menyeka keringat di wajah Sindy dengan punggung tangannya.
"Maafkan aku." Batin Aron terus mengusap lembut wajah Sindy.
Sindy hanya berdiam di ranjang menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. wanita itu mencengkram erat selimut tebal miliknya dengan terus menangis sesegukan di balik selimut.
"Sayang kamu janji jangan marah. Aku mau bilang sesuatu ke kamu" ucap Aron masih bebaring di ranjang disamping Sindy.
Sindy tak menggubris ia masih menangis sesegukan Menutupi tubuhnya. perasaannya sangat marah dan kesal jadi satu. ia sangat kecewa dengan Aron bahkan sangat kecewa dengannya.
Seolah Aron mengerti apa yang ada di pikiran Sindy ia melanjutkan ucapanya. "Aku gak sengaja sayang, nanti jika kamu hamil aku janji akan bertanggung jawab" ucapan Aron membuat Sindy langsung bangkit dari ranjangnya.
Dia tahu apa maksud ucapan Aron padanya. Dia tahu jika keluarga Aron pasti tidak akan setuju dengan ini semua, dan dia tidak mau jika ujungnya Aron akan meninggalkannya.
Ucapan Aron bagi Sindy Bagai di sambar petir ia tidak mau menanggung malu jika memang dia akan hamil. Wajahnya nampak memerah Sindy meraih bajunya dengan cepat, ia memaki baju beranjak menuju balkon.
Aron hanya menatap kekasihnya ia merasa sangat lelah dan masih tetap berbaring di ranjang putih itu. Aron berpikir jika sindy hanya mencari udara segar di balkon kamarnya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Aron. Namun masih tak di gubris.Sindy nampak terdiam ia naik ke dan jatuh ke bawah.
Aron sontak meloncat berdiri dari ranjangnya berlari menuju balkon namun kekasihnya sudah jatuh tepat di bawah laut.Karena kebodohan dan nafsu Aron membuat dia harus kehilangan kekasihnya untuk selamanya.
--------------------------------------
"Om??" Manda dengan rasa ragu memegang pundak Aron dan berdiri di sampingnya.
"Jangan menyentuhku aku bisa ganas padamu" Ucap Aron nampak sangat cuek.
Dia tidak perdulikan manda di sampingnya pikirannya masih jauh melayang memikirkan kekasihnya. Kejadian itu sudah 10 tahun lalu waktu mereka masih SMA penyesalan itu kasih terbayang jelas di benak Aron.
Merasa tak di hiraukan oleh Aron. Manda mencoba untuk yang ke dua kalinya berbicara pada Aron. "OM aku tahu om sepertinya orang baik, om melakukan itu semua pasti ada sebabnya kan?" Merasa manda sudah ikut campur urusannya. Aron terlihat sangat marah wajahnya mulai memerah seketika.
"Ingat jangan pernah ikut campur urusanku pribadiku yang tidak seharusnya kamu ingin tahu" kali ini Aron nampak sangat marah lebih marah saat mobil kesayangannya rusak.
Aron sangat tempramental saat seseorang membahas tentang masa lalunya atau bertanya tentang masa lalu. Entah kenapa dia selalu melukai seseorang yang berani bertanya padanya. semenjak kematian kekasihnya ia menjadi sangat bengis suka menyakiti orang tak bersalah dan selalu menyiksa para wanita yang ingin bermalam dengannya.
Kini sesuatu hal buruk akan terjadi pada Manda. Kesalahan Manda yang tak seharusnya dia bertanya tentang kehidupan Aron. mebuat dia harus mendapatkan beberapa hal yang akan mengubah hidupnya dalam satu hari.
Aron menatap tajam ke arah Manda. bahkan kini tatapannya seperti seekor singa seakan ingin memangsanya.
"Ingat jangan tanya tentang kehidupanku lagi" Kata Aron dengan nada tinggi.
"Segeralah pergi ke kamar sebelah adikku ingin bertemu denganmu. Dan ingat jangan pasang wajah cengengmu itu di depannya. Kalau tidak ingin aku berbuwat lebih padamu" ucap Aron dengan wajah penuh dengan emosi.
"Sekarang kamu masih hidup di tanganku, jika kamu mengulanginya lagi aku tidak akan segan segan lebih kasar padamu" Aron beranjak keluar ia mulai membuka pintu menutup rapat pintunya kembali berjalan menuju ke kamar adiknya.