Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Datangnya penganggu


Berhari-hari Aron masih berbaring di ranjangnya, belum juga ia keluar dari kamar. Manda juga selalu setia menemani Aron, menyukupi semua keinginannya.


Meskipun ia tak tahu apa sebenarnya penyakit Aron. Ia berharap dia tidak begitu parah penyakitnya dan ia hanya mengira Aron sakit biasa. Tetapi entah kenapa Vino juga selalu menghindar saat ia tanya tentang penyakit Aron. Seolah ia menyembunyikan sesuatu darinya.


Meskipun terkadang ia merasa sangat curiga dengan Vino yang selalu menghindar darinya, tapi di pikir-pikir sih, buwat apa juga curiga. Yang penting ia selalu memanjakan Aron dan selalu bersamanya untuk kesembuhan dia.


Ia tak mau lagi memikirkan apa penyakit Aron, Dan ia lebih memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Karena wanita itu takut, jika hatinya akan lebih terluka jika mendengar apa penyakitnya. Ia lebih memilih diam, dan semakin tulus merawat Aron tanpa memikirkan apa penyakitnya.


" Syang !!" Sapa Aron pada istrinya yang berdiri mengambilkan obat untuk Aron di meja samping ranjangnya.


" iya, bentar aku mau ambil obat dulu " Ucap Manda beranjak mendekati Aron, ia membawa segelas air dan obat di tangannya. 


" Sekarang kamu cepat minum, agar kamu cepat sembuh ya" Manda duduk di samping Aron membelai lembut pipi Aron.


Aron memegang tangan Manda di pipinya, pandangan mereka saling tertuju. " Terima kasih, kamu selalu sabar merawatku" Ucap Aron lirih.


" Syang. Kamu kenapa?" Suara yang sangat familiar itu tiba-tiba muncul di balik pintu. Membuat Manda melepaskan tangannya dari pipi Aron, Manda Dan Aron secara bersamaan menatap ke arah pintu. Mereka melebarkan matanya menatap sosok wanita yang sangat Manda benci, bahkan Aron menatapnya sangat jijik.


" Fany!!" Gumam mereka berdua kompak.


" Kenapa kalian terkejut gitu menatapku, apa ada yang aneh" Ucap fany dengan santainya. Ia berjalan mendekati Aron., ia menarik tangan manda menjauh dari aron.


" sekarang aku yang akan merawat dia" Ucap Fany sinis, dengan tatapan tajamnya pada Manda.


Manda tersenyum sinis, " baiklah " Manda beranjak pergi.


" Manda , kamu mau kamana?" Suara lantang Aron menghentikan langkah Manda untuk pergi.


Wanita itu menoleh sejenak. " Di sini sudah ada istri kamu, biar dia yang merawatmu. Tenang aja aku akan kembali nanti" Manda tersenyum tipis beranjak pergi. Meski hatinya sakit saat melihat Fany. Apalagi saat ia mengingat kejadian di apartement yang membuat hatinya merasa disayat-sayat. Kini ia memutuskan untuk membiarkan mereka berdua bicara. Manda tak mau mengganggu hubungan mereka lagi, ia sedikit belajar untuk mengalah. namun sebenarnya ia tak rela jika terus mengalah dengan Fany. Ia merasa Fany tidak tulus dengan aron, ia hanya memanfaatkannya.


Wanita itu berdiri tepat di depan pintu, ia merasa sangat berat untuk melangkahkan kakinya lagi, untuk pergi menjauh daei kamarnya. Manda menarik napasnya sejenak, mengatur napasnya perlahan, untuk menenangkan hatinya sejenak dari pikiran negatif tentang Aron nanti.


Ia melirik sekilas ke arah Fany, yang dari tadi terus menatapnya pergi denagn tatapan sinis. Tak lupa ia melirik ke Arah Aron yang melemparkan pandangannya berlawanan Arah dari Fany.


Manda dengan keberatan hati, ia menutup pintunya perlahan. Membiarkan dengan lapang dada mereka berdua di kamar. Meski rasa cemburu dan curiga terlintas di benaknya.


Fany duduk menyadarkan kepalanya ke pundak Aron,


"Syang apa kamu baik-baik saja, maaf kemarin aku belum bisa menjengukmu, keluargaku tiba-tiba menghubungiku dan menyuruhku untuk segera pulang" Fany memulai aktingnya yang begitu membuat pendengaranya merasa jijik.


Manda yang masih berdiri di depan pintu ia mendengar rayuan Fany membuatnya ingin muntah.


" Menjauh dariku" Aron mendorong pelan kepala Fany menjauh darinya.


" Tolong pergi dari sini aku tidak mau melihatmu lagi"


" Sebenarnya apa maumu" Ucap Aron yang nampak terdiam.


Meski sebenarnya ia sangat geram pada Fany, namun menghadapi Fany dengan terus terang menyerangnya sama saja bertindak bodoh. Dia sangat licik berbagai cara bakalan ia lakukan meskipun cara nekat sekalipun. Maka Aron harus memutar otak untuk membalas nya dengan perbuwatan licik juga.


Fany beranjak berdiri dengan tangan bersendekap.


" ha.ha.. pasti kamu sudah tahu kan apa keinginanku" Fany mendekatkan wajahnya ke arah Aron. Dengan lirikan menggoda padanya.


Aron manarik bibirnya tipis, " Gak usah basa-basi, cepat katakan apa yang kamu mau" Ucap Aron dengan nada semakin kesal.


Lelaki itu beranjak dari ranjangnya, mendekati Fany yang dari tadi berdiri tepat di depannya. " Jangan mengancamku" Aron mecengkram erat dagu Fany.


" lepaskan aku" Fany mencoba melepaskan cengkraman Aron yang semakin kuat, membuat ia sangat susah bernapas lega.


" Aku tidak akan melepaskan kamu jika kamu berani mengancamku lagi, aku paling tidak suka basa-basi. Kamu tahu sendiri kan aku bagaimana. jika kamu main-main denganku, maka aku tidak akan segan-segan bermain kasar denganmu. Ingat itu"  Ucap Aron dengan wajah yang sangat menakutkan. Api kemarahan berkobar dalam tubuhnya. Membuat suasana runagn itu nampak mencengkam.


" Ba-ba-baiklah. Aku katakan, tapi lepaskan aku dulu" Ucap Fany terpatah-patah. Ia merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Melawan Aron sama saja mencari mati.


Namun dengan terpaksa ia harus melaksanakan tugas berat dari orang tuanya, untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya yang kini sedang di ambang batas. Mungkin bisa di katakan mendekati kebangkrutan. Ia tidak mau dunia tahu, pengusaha paling kaya tiba-tiba bangkrut dan hidup sebagai gelandangan. Jalan satu-satunya penyelamat perusahaannya adalah Aron.


Aron melempar kasar dagu Fany.


" Uhuk..uhukk.." Fany kencoba mengatur napasnya yang terasa sulit tuk benapas. Ia mengela napas bekali-kali. " Aku ingin kamu jauhi Manda" Ucap Fany spontan keluar dari mulutnya.


" Aku tidak akan menjauhinya, tapi aku bakal mengusir kamu dari rumah ini atau kamu mau secara suka rela pergi dari sini" Bentak Aron dengan nada semakin meninggi.


" Baiklah aku akan pergi, dan bilang pada para wartawan jika kamu membunuh orang tuanya, jika Manda tahu yang sebenarnya di tv pasti ekpresi sangat manakutkan" kata Fany. Ia seraya tak ada rasa takutnya berhadapan dengan Aron, yang di kenal sangat sadis dan bengis itu.


Aron terdiam sejenak, ia bepikir jika Fany memberi tahu semuanya. Mungkin Manda akan membencinya bahkan dia tidak akan mau menemuinya lagi. Atau mungkin dia akan pergi jauh darinya dan memutuskan hubungan ini. Lelaki itu tidak rala, ia tidak mau kehilangan Manda. Namun di sisi lain ia tak bisa membiarkan fany bekuasa seperti ini.


" Shittt. " umpat Aron kesal.


Lelaki itu menarik napas sejenak, ia mencoba memberanikan diri untuk memutuskan suatu yang sangat sulit.


" Baiklah aku akan menjauhinya" Ucap Aron menundukkan kepalanya.


Ia beranjak duduk di ranjang, dengan ke dua tangan memegang kepalanya yang tarasa sangat penat.


" Nah gitu baru keputusan yang sangat tepat Aron sayang" Ucap Fany tersenyum kemenangan. Wanita itu merasa hari ini sangat bahagia bisa membuat Aron sangat pusing.


Tak sia-sia selama ini ia memutuskan untuk menyelidiki diam-diam semua tentang Manda. Ternyata benar ada suatu yang di sembunyikan Aron dari Manda. Dan ini saatnya untuk balas dendan dengan Manda.


Ia akan merasakan gimana rasanya di campakan, bahkan tidak pernah di sentuh sama sekali dengan Aron. Pasti sangat menyakitkan, gumam Fany dengan tangan bersendekap, berdiri menatap Aron yang hanya bisa diam tanpa seuntai kata lagi keluar dari mulutnya.