Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 238


Vina tersenyum tipis, Menatap ke depan, dengan tangan yang


masih memegang botol minuman dingin. Vina meneguk minumannya lagi. “Aku bentar


lagi juga pulang, hari ini aku ingin bebas. Meski hanya satu hari” ucap Vina,


melirik beberapa detik ke arah Albert.


“Terus kenapa kamu tadi berdiri di atas jembatan seperti


itu. Kalau kamu jatuh tadi gimana, dan kalau gak ada aku apa jadinya kamu. Terjatuh


ke pantai,” celoteh Albert yang terlihat khawatir dengan keadaan Vina. Ia gak


mungkin membiarkan Vina melskukan hal bahaya lagi.


Vina tersenyum tipis, menatap ke arah Albert, “Aklu itu


tidak mau bertemu dengan kamu lagi. Tapi, kenapa kamu masih ada di sini, dan


kenapa juga kamu menolongku” ucap Vina, menatap sinis ke arah Albert di


sampingnya.


“Sha.. Eh.. Maksud aku Vina..”


Mendengar nama Kesha. Seketika, Vina tersenyum sinis, menatap


ke depan, kembali meneguk minumannya lagi.


“Sha,, maksud kamu? Apa kamu belum bisa melupakan dia. Terus


kenapa kamu ada di sini menemuiku. Apa kamu mau menyakiti aku lagi, aku gak mau


hanya untuk pelampiasan nafsu kamu, aku gak mau.. Dan agak akan mau lagi..”


potong Vina cepat, tidak memberi cela pada Albert untuk meneruskan ucapanya.


Vin, aku bisa bicara baik-baik dengan kamu” ucap Albert.


“Bicara baik-baik apa, kamu mau bicara jika kamu mau menikah


dengan Kesha, dan gak akan ada rasa tanggung jawab kamu sama sekali. Apa kamu


ingat, apa yang kamu lakukan padaku, itu sudah menyakiti batinku, kamu merusak


segalanya. Merusak hidup aku, apa kamu gak punya hati sama sekali. Untuk


meminta maaf, dan akan bertanggung jawab...” ucap Vina, dengan emosi


meluap-luap, ia mengungkapkan semua isi hatinya yang dari tadi ia pendam


sendiri.


Albert hanya diam, seakan memang ia belum bisa menemukan


jawaban yang tepat untuk sebuah masalah yang ia hadapi sekarang.


Vina melirik beberapa detik ke arah Albert. Ia tersenyum tipis,


meneguk kembali minuman di tangannya sampai tak tersisa, lalu melemparnya jauh


ke laut.


“Aku yakin, kamu gak akan bisa jawab. Dan kamu gak mungkin


meningalkan Kesha. Tapi kalau Kesha tahu yang sebenarnya apa dia masih mau


dengan kamu.” Ucap Vina. “ Dia gak akan mungkin mau, aku yakin dia akan lebih


memilih Vino yang bisa menjaga kehormatanya, dari pada sama laki-laki yang suka


bermain dengan wanita lain di belakangnya.” Lanjut Vina menjelaskan.


“Iya, aku tahu Kesha gak mungkin menerima aku, tapi jika aku


menikah dnegan kamu. Apa kamu mau menerima aku?” ucap Albert memecahkan


keganduhan hati Vina, ia menatap ke arah Albert, dengan mata penuh harapan. Ia


ingin Albert memang benar-benar akan menikahinya Pikir Vina.


Lbert menggerakkan kepalany sembilan puluh derajat menatap


wajah Vina, yang terlihat menunduk. “Keapa kamu diam?” tanya Albert.


“Aku mau lihat dulu, apa kamu memang punya tanggung jawab


untuk menikahiku nantinya. Atau kamu hanya ingin senang-senang dengan aku” ucap


Vina, menegaskan.


“Beri aku waktu, aku ingin bicarakan semuanya pada Kesha,


besok aku akan menemuinya. Dan akan bicarakan semuanya. Aku ingin dia yang memilih,


akan tetap menikahiku atau pergi dengan laki-laki yang dia sayang.”


Vina beranjak berdiri, mendengar Jawaban yang tidak


melegakkan telinga dan hatinya. Ia ingin marah, tapi ia juga tidak berhak


marah. Semua juga salah. “Minggir aku mau pergi!!” ucap Vina, yang mulai masuk


ke dalam mobilnya.


“Vin, kamu mau kemana. Dengarkan penjelasanku dulu... Vin,


aku ingin bicara dengan kamu. Jangan seperti ini Vin” ucap Albert yang mencoba


mencegah Vina pergi.


Namun, Vina tidak perdulikan Albert, ia menutup kaca


mobilnya dan beranjak pergi. Mobil Vina melaju dengan kecepatan sedang, pergi


meninggalkan Alberts sendiri.


“VINA.... AKU GAK AKAN LEPAS DARI TANGGUNG JAWAB” teriak


Albert menggema.


Vina mendengar teriakan Albert, ia tak perdulikan lagi.


Aku akan mempertimbangkan lagi dengan kamu, jika kamu


memamng benar-benar meninggalkan Kesha. Aku juga gak mau dia akan jadi korban


kamu. Kamu harus bisa benar-benar memilih, dan baru kamu boleh tanggung jawab


atas apa yang kamu perbuat padaku. Jangan main enakknya sendiri Albert.. Aku


mengemudi mobilnya, dan langsung pulang ke rumahnya.


Sedangkan Albert, ia masih duduk meratapi semua yang terjadi.


Pria itu berdiri menatap ke laut. “Aaaaa..... kenapa semuanya seperti ini. Aku gak


bisa memilih.. Kenapa,, aku juga gak bisa meninggalkan orang yang aku suka,


meski dia tidak menyukaiku..” Teriak Albert megungkapkan semua unek-unek dalam


hatinya.


Albert, terdiam. Ia melirik jam tangan yang melingkar di


tangannya, jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. “Alku coba hubungi


Kesha, siapa tahu dia belum tidur” gumam Albert, mengambil ponsel di dalam


sakunya, mencari kontak napa Kesha di ponselnya. Ia segera mengubungi Kesha.


`````


Di sisi lain kesha yang baru pulang dari pantai. Vino


mengajaknya ke sebuah restauran, menikmati makanan laut yang memang ke sukaan


Kesha dari dulu.


“Sha, bentar deh!!” ucap Vino, memegang ujung bibir Kesha.


“Ada apa?” tanya Kesha, menghentikan makanya.


“Ada sisa makanan nempel di bibir indahmu” ucap Vino, sambil


menggoda Kesha.


“Jangan merayuku lagi, aku gak mau di gombalin terus dengan


laki-laki play boy. Yang memang raja nya merayu wanita” sindir Kesha.


“Ya, kalau aku merayu hanya khusus merayu, bidadari terindah


yang di ciptakan untukku”


Kesha hanya diam, tersipu malu di buatnya.


Drrtttt... drrttt. .. drttt.


“Sha, ponsel kamu getar tu” ucap Vino.


Kesha segera meriah ponselnya, dan menatap layar ponsel yang


masih menyala. Membuat mata Kesha melebar seketika. Melihat sebuah panggilan


dari ‘Albert’.


“Kenapa dia menghubungiku?” gumam Kesha lirih.


“Siapa?” tanya Vino yang penasaran.


Kesha hanya diam, ia mengangkat teleponnya, dan beranjak


berdiri, berbicara menjauh dari Vino.


“Sepertinya telepon dari Albert” ucap Vino lirih, yang mulai


melanjutkan makanya, dengan wajah yang sudah terlihat tidak mood lagi untuk makan.


Vino mentap tajam ke arah Kesha.


\~\~\~


“Albert, ada apa?” tanya kesha, berbicara lirih, dengan


tangan kanan, menutupi teleponya. Ia tidak mau jika Vino mendengarkan


pembicaraan mereka lebih jauh, yang akna mengakibatkan salah paham padanya.


“Kamu di mana sekarang?” tanya Albert.


“kenapa memangnya?” tanya Kesha jutek.


“Gak ada apa-apa. Kenapa kamu tumben belum tidur jam segini?”


tanya Albert.


“Belum ngantuk, maaf aku sekarang lagi gak ingin di ganggu.


Dan lebih baik kamu matikan telepon kamu. Dan Besok kita bertemu sesuai apa


yang kamu bicarakan emarin, aku juga ingin bicara sama kamu.


“ Iya, tapi tunggu dulu Sha!!” uacp Albert, mencegah Kesha


mematikan teleponnya lebih dulu.


“Ada apa lagi?” tanya Kesha semakin kesal.


“Sku hanya ingin tanya. Apa kamu sapai hari ini, sudah suka


dengan ku?” tanya Albert, ia sudah tidak sabar mendengarkan jawaban dari Kesha.


“Besok, kamu akan mendapatkan jawaban semuanya. Maaf!!” ucap


kesha, yang langsung mengakhiri panggilannya.


Kesha segera duduk kembali di kursinya. Menatap ke arah


Vino, yang sudah mulai menunjukan wajahnya yang terlihat cemburu.


“Siapa tadi?” tanya  Vino.


Kesha hanya diam, dan langsung melanjutkan makanya lagi.


“Kenapa kamu diam, pasti dapat panggilan dar Albert ya?” tanya


Vino, memastikan.


“Iya” jawab Kesha datar, ia menyudahi makannya. Dan segera


meraih satu gelas minuman di depannya, meyeruput minuman oitu perlahan. Dan


kemudian meletakkan kembali di meja.


“Ayo kita pulang sekarang.” Ucap Kesha, beranjak berdiri.


Belum juga dapat jawaban dari Kesha, Vino bergegas berdiri.


Dan beranjak mengikuti Kesha.