
Vina tersenyum tipis, Menatap ke depan, dengan tangan yang
masih memegang botol minuman dingin. Vina meneguk minumannya lagi. “Aku bentar
lagi juga pulang, hari ini aku ingin bebas. Meski hanya satu hari” ucap Vina,
melirik beberapa detik ke arah Albert.
“Terus kenapa kamu tadi berdiri di atas jembatan seperti
itu. Kalau kamu jatuh tadi gimana, dan kalau gak ada aku apa jadinya kamu. Terjatuh
ke pantai,” celoteh Albert yang terlihat khawatir dengan keadaan Vina. Ia gak
mungkin membiarkan Vina melskukan hal bahaya lagi.
Vina tersenyum tipis, menatap ke arah Albert, “Aklu itu
tidak mau bertemu dengan kamu lagi. Tapi, kenapa kamu masih ada di sini, dan
kenapa juga kamu menolongku” ucap Vina, menatap sinis ke arah Albert di
sampingnya.
“Sha.. Eh.. Maksud aku Vina..”
Mendengar nama Kesha. Seketika, Vina tersenyum sinis, menatap
ke depan, kembali meneguk minumannya lagi.
“Sha,, maksud kamu? Apa kamu belum bisa melupakan dia. Terus
kenapa kamu ada di sini menemuiku. Apa kamu mau menyakiti aku lagi, aku gak mau
hanya untuk pelampiasan nafsu kamu, aku gak mau.. Dan agak akan mau lagi..”
potong Vina cepat, tidak memberi cela pada Albert untuk meneruskan ucapanya.
Vin, aku bisa bicara baik-baik dengan kamu” ucap Albert.
“Bicara baik-baik apa, kamu mau bicara jika kamu mau menikah
dengan Kesha, dan gak akan ada rasa tanggung jawab kamu sama sekali. Apa kamu
ingat, apa yang kamu lakukan padaku, itu sudah menyakiti batinku, kamu merusak
segalanya. Merusak hidup aku, apa kamu gak punya hati sama sekali. Untuk
meminta maaf, dan akan bertanggung jawab...” ucap Vina, dengan emosi
meluap-luap, ia mengungkapkan semua isi hatinya yang dari tadi ia pendam
sendiri.
Albert hanya diam, seakan memang ia belum bisa menemukan
jawaban yang tepat untuk sebuah masalah yang ia hadapi sekarang.
Vina melirik beberapa detik ke arah Albert. Ia tersenyum tipis,
meneguk kembali minuman di tangannya sampai tak tersisa, lalu melemparnya jauh
ke laut.
“Aku yakin, kamu gak akan bisa jawab. Dan kamu gak mungkin
meningalkan Kesha. Tapi kalau Kesha tahu yang sebenarnya apa dia masih mau
dengan kamu.” Ucap Vina. “ Dia gak akan mungkin mau, aku yakin dia akan lebih
memilih Vino yang bisa menjaga kehormatanya, dari pada sama laki-laki yang suka
bermain dengan wanita lain di belakangnya.” Lanjut Vina menjelaskan.
“Iya, aku tahu Kesha gak mungkin menerima aku, tapi jika aku
menikah dnegan kamu. Apa kamu mau menerima aku?” ucap Albert memecahkan
keganduhan hati Vina, ia menatap ke arah Albert, dengan mata penuh harapan. Ia
ingin Albert memang benar-benar akan menikahinya Pikir Vina.
Lbert menggerakkan kepalany sembilan puluh derajat menatap
wajah Vina, yang terlihat menunduk. “Keapa kamu diam?” tanya Albert.
“Aku mau lihat dulu, apa kamu memang punya tanggung jawab
untuk menikahiku nantinya. Atau kamu hanya ingin senang-senang dengan aku” ucap
Vina, menegaskan.
“Beri aku waktu, aku ingin bicarakan semuanya pada Kesha,
besok aku akan menemuinya. Dan akan bicarakan semuanya. Aku ingin dia yang memilih,
akan tetap menikahiku atau pergi dengan laki-laki yang dia sayang.”
Vina beranjak berdiri, mendengar Jawaban yang tidak
melegakkan telinga dan hatinya. Ia ingin marah, tapi ia juga tidak berhak
marah. Semua juga salah. “Minggir aku mau pergi!!” ucap Vina, yang mulai masuk
ke dalam mobilnya.
“Vin, kamu mau kemana. Dengarkan penjelasanku dulu... Vin,
aku ingin bicara dengan kamu. Jangan seperti ini Vin” ucap Albert yang mencoba
mencegah Vina pergi.
Namun, Vina tidak perdulikan Albert, ia menutup kaca
mobilnya dan beranjak pergi. Mobil Vina melaju dengan kecepatan sedang, pergi
meninggalkan Alberts sendiri.
“VINA.... AKU GAK AKAN LEPAS DARI TANGGUNG JAWAB” teriak
Albert menggema.
Vina mendengar teriakan Albert, ia tak perdulikan lagi.
Aku akan mempertimbangkan lagi dengan kamu, jika kamu
memamng benar-benar meninggalkan Kesha. Aku juga gak mau dia akan jadi korban
kamu. Kamu harus bisa benar-benar memilih, dan baru kamu boleh tanggung jawab
atas apa yang kamu perbuat padaku. Jangan main enakknya sendiri Albert.. Aku
mengemudi mobilnya, dan langsung pulang ke rumahnya.
Sedangkan Albert, ia masih duduk meratapi semua yang terjadi.
Pria itu berdiri menatap ke laut. “Aaaaa..... kenapa semuanya seperti ini. Aku gak
bisa memilih.. Kenapa,, aku juga gak bisa meninggalkan orang yang aku suka,
meski dia tidak menyukaiku..” Teriak Albert megungkapkan semua unek-unek dalam
hatinya.
Albert, terdiam. Ia melirik jam tangan yang melingkar di
tangannya, jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. “Alku coba hubungi
Kesha, siapa tahu dia belum tidur” gumam Albert, mengambil ponsel di dalam
sakunya, mencari kontak napa Kesha di ponselnya. Ia segera mengubungi Kesha.
`````
Di sisi lain kesha yang baru pulang dari pantai. Vino
mengajaknya ke sebuah restauran, menikmati makanan laut yang memang ke sukaan
Kesha dari dulu.
“Sha, bentar deh!!” ucap Vino, memegang ujung bibir Kesha.
“Ada apa?” tanya Kesha, menghentikan makanya.
“Ada sisa makanan nempel di bibir indahmu” ucap Vino, sambil
menggoda Kesha.
“Jangan merayuku lagi, aku gak mau di gombalin terus dengan
laki-laki play boy. Yang memang raja nya merayu wanita” sindir Kesha.
“Ya, kalau aku merayu hanya khusus merayu, bidadari terindah
yang di ciptakan untukku”
Kesha hanya diam, tersipu malu di buatnya.
Drrtttt... drrttt. .. drttt.
“Sha, ponsel kamu getar tu” ucap Vino.
Kesha segera meriah ponselnya, dan menatap layar ponsel yang
masih menyala. Membuat mata Kesha melebar seketika. Melihat sebuah panggilan
dari ‘Albert’.
“Kenapa dia menghubungiku?” gumam Kesha lirih.
“Siapa?” tanya Vino yang penasaran.
Kesha hanya diam, ia mengangkat teleponnya, dan beranjak
berdiri, berbicara menjauh dari Vino.
“Sepertinya telepon dari Albert” ucap Vino lirih, yang mulai
melanjutkan makanya, dengan wajah yang sudah terlihat tidak mood lagi untuk makan.
Vino mentap tajam ke arah Kesha.
\~\~\~
“Albert, ada apa?” tanya kesha, berbicara lirih, dengan
tangan kanan, menutupi teleponya. Ia tidak mau jika Vino mendengarkan
pembicaraan mereka lebih jauh, yang akna mengakibatkan salah paham padanya.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Albert.
“kenapa memangnya?” tanya Kesha jutek.
“Gak ada apa-apa. Kenapa kamu tumben belum tidur jam segini?”
tanya Albert.
“Belum ngantuk, maaf aku sekarang lagi gak ingin di ganggu.
Dan lebih baik kamu matikan telepon kamu. Dan Besok kita bertemu sesuai apa
yang kamu bicarakan emarin, aku juga ingin bicara sama kamu.
“ Iya, tapi tunggu dulu Sha!!” uacp Albert, mencegah Kesha
mematikan teleponnya lebih dulu.
“Ada apa lagi?” tanya Kesha semakin kesal.
“Sku hanya ingin tanya. Apa kamu sapai hari ini, sudah suka
dengan ku?” tanya Albert, ia sudah tidak sabar mendengarkan jawaban dari Kesha.
“Besok, kamu akan mendapatkan jawaban semuanya. Maaf!!” ucap
kesha, yang langsung mengakhiri panggilannya.
Kesha segera duduk kembali di kursinya. Menatap ke arah
Vino, yang sudah mulai menunjukan wajahnya yang terlihat cemburu.
“Siapa tadi?” tanya Vino.
Kesha hanya diam, dan langsung melanjutkan makanya lagi.
“Kenapa kamu diam, pasti dapat panggilan dar Albert ya?” tanya
Vino, memastikan.
“Iya” jawab Kesha datar, ia menyudahi makannya. Dan segera
meraih satu gelas minuman di depannya, meyeruput minuman oitu perlahan. Dan
kemudian meletakkan kembali di meja.
“Ayo kita pulang sekarang.” Ucap Kesha, beranjak berdiri.
Belum juga dapat jawaban dari Kesha, Vino bergegas berdiri.
Dan beranjak mengikuti Kesha.