Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Belanja


Manda memegang bahu Kesha, Ia mencoba menenagkan hati Kesha, yang terlihat nampak sedih. "Sha, kamu kenapa?" tanya Manda yang tidak tega melihat Kesha yang menunduk dari tadi.


Sepertinya ada yang di sembunyikan Kesha dariku, apa mungkin dia punya masalah serius dengan Vino, tau siapa. Tapi kalau dengan Vino, dari tadi mereka akur-akur saja tidak ada hal aneh dalam hubungan mereka, gumam Manda. yang masih duduk menepuk pundak Kesha.


"Gak apa-apa, aku hanya malu sama diriku sendiri."ucap Kesha yang dari tadi hanya diam, seakan ia menyembunyikan sesuatu. Dari wajahnya sudah terlihat tak seperti biasanya. Entah apa yang di sembunyikan dirinya. Kesha juga tidak cerita pada Manda.


"Ya udah, tapi kamu jangan sedih gitu. Kalau masalah kamu tentang kak Aron aku yakin dia pasti setuju kok menikah dengan Vino, Kamu tenang saja ya. Semoga kamu secepatnya bisa menikah dengannya"gumam Manda.


"Aku gak permasalahkan tentang itu Da, Jika memang boleh ya aku tetap akan menikah. Kalau tidak di ijinkan dulu, aku ingin melanjutkan kuliahku." ucap Kesha, lirih seakan ia sudah tak bisa menahan air matanya. Yang sudah terbendung mau kekuar dari mata bulatnya.


Manda merasa masih aneh dengan Kesha, ia yakin jika dia ada masalah lagi.


"Sha, cerita denganku, apa ada masalah lagi selain dengan Vino?" tanya Manda.


Tanpa membuka mulutnya, Kesha memeluk tubuh Manda erat. "Sha kamu kenapa?" tanya Manda mengusap lembut punggung Kesha.


"Da, mungkin sekarang aku belum bisa cerita. Tapi lain waktu aku akan ceritakan masalah aku ke kamu. Aku ingin menenangkan hatiku dulu." ucap kesha tersenyum tipis seolah tak terjadi apa-apa dengannya.


"Kenapa kamu gak bisa cerita sekarang?" tanya Manda.  "Tapi kalau memang kamu ingin tenang dulu gak apa-apa"lanjutnya.


Ini masalah aku dengan keluargaku"ucap kesha yang tak sengaja butiran tetesan kristal itu keluar dari mata bulat Kesha.


"Sha kamu nangis, cerita denganku apa sebanrnya yang terjadi. Biar kamu bisa tenang. Siapa tahu aku bisa bantu kamu"ucap Manda, memegang ke dua bahu Kesha.


"Gak Da, ini rahasiaku"ucap Kesha, menyeka air matanya dengan punggung tangannya, mencoba tersenyum menatap di depan Manda.


"Baiklah, mungkin kamu sekarang belum bisa menerima masalah itu. Tapi kalau kamu sudah tenang bicaralah padaku"ucap Manda, tersenyum tipis mencoba memberi semangat padanya. "dan sekarang kamu jangan sedih lagi ya, nanti kalau Vino tahu dia khawatir denganmu"gumam Manda.


"Iya Da, oya kamu sudah minum obat belum?" tanya Kesha pada Manda.


"Belum, ini baru mau minum. Oya kapan aku boleh keluar Sha, aku merasa sudah baikan sekarang. kenapa gak boleh langsung pulang saja, biar bisa merasakan tidur nyaman di kamar sendiri"ucap Manda.


"Udah besok kalau kamu sudah benar-benar sudah baikan pasti kak Aron akan membawamu pulang. Tapi kamu bisa tanya kak Aron nanti, boleh gak kamu pulang"Kesha menepuk pundak Manda.


"Oya, kamu tadi suruh beli kak Aron apa sih da?" tanya Kesha yang teringat tentang Aron tadi.


"Buah, aku suruh dia beli beberapa buah sekaligus di pasar tradisional"ucap Manda tersenyum, membayangkan jika Aron berada di pasar, tawar menawar dengan pedagang.


"Apa? Kak Aron kepasar. Apa aku gak salah denger"ucap Kesha, ia terkejut mendengar hal itu. Apalagi kak Aron belum pernah sama sekali pergi ke pasar sebelumnya. Tapi demi menuruti apa kata Manda dia rela pergi ke pasar sendiri.


"Iya, aku memang sengaja, agar dia bisa ngerasain gimana susahnya belanja di pasar. Sambil desak-desakkan dengan pengunjung lainnya.


Kesha tertawa kecil, ia benar-benar tak bisa bayangkan saat kak Aron di pasar. Namun pikirannya terdiam sejanak, Ia yang semula membayangkan Aron pergi ke pasar. Berubah wajah jadi Vino.


Jika Vino pergi ke pasar, gimana ya. Past8 dia menolaknya, batin Kesha dalam hatinya.


"Kamu beruntung Da, dapat suami yang nurut banget sama kamu. meskipun pertama kamu menderita dulu. Tapi sekarang kak Aron sudah banyak berubah. Itu semua juga karena cintanya yang semakin dalam padamu"ucap Kesha memegang ke dua bahu Manda. ia tak berhenti tertawa dengan pikiran terus membayangkan hal aneh itu.


"Udah Sha, jangan bilangin Aron lagi, kalau dia pulang gimana? Dan denger pembicaraan kita"ucap Manda, menatap ke arah pintu, memandang sejenak Aron sudah pergi belum.


"Gak mungkin lah, kak Aron secepat itu pergi belanja, emang kamu tadi kasih waktu dia belanja berapa menit Da?" tanya Kesha, semakin penasaran dengan cerita Manda. Bahkan kini dia kagum dengan cinta mereka, semakin lama mereka semakin romantis.


"Aku kasih waktu 2 jam, sudah cukup lama kan?" tanya Manda menarik alisnya ke atas.


"Kasian Sha, pasarnya kan jauh"Ucap manda menundukkan kepalanya.


------0000----


POV Aron.


Ah adanya pasar ini, lebih baik aku kesini saja, lagian manda juga gak tahu. Yang penting aku nurut semua kata dia, batin Aron.


Aron berjalan masuk ke dalam pasar. Ia menghantikan langkahnya sejanak, menatap sekelilingnya yang begitu banyak pengunjung yang berdesak-deskan jika ingin membeli sesuatu.


"Kenapa hari ini ramai banget pengunjungnya"gumam Aron kesal.


"Terus sekarang apa dulu yang aku mau beli, buah atau apa ya"gumam Aron dalam hati, dengan pandangan mata memutar menatap sekelilingnya. Begitu banyak orang yang akan berbelanja di pasar itu.


Baru pertama kali, Aron masuk di sebuah pasar. Dan harus saling berdesakan. Karena kebetulan hari inu hari minggu. Dan pasar itu terlihat sangat ramai. Banyak pengunjung yang menghabiskan liburannya untuk berbelanja.


"Kalau bukan karena Manda aku gak mau pergi ke pasar seperti ini"gumam Aron kesal, ia menarik napasnya, menahan sejenak. Lalu menghembukan perlahan. Aron segera mulai berjalan mencari di mana temvah buah. Sekalian memebali beberapa bahan makanan. Untuk masakin manda nanti kalau sudah di rumah.


"Aku harus belanja semangka, sepertinya ini segar-segar"gumam Aron, yang mulai mengambil beberapa buah Apukat, berlajut jalan lagi, ua mengambil buang anggur yang terbungkus rapi. Dan tak lupa terkahir apukat. Gak kamu menunggu lama karena antrian panjang di kasir. Aron bergegas menuju kasir, ia dapat antrian paling belakang.


Menciba untuk bersabar, Aron terus menghentakkan kakinya. Ia menatap ke arah jam tangan yang mel8ngkar di tangannya, sudah hampir 1 jam lebih ia di pasar itu. Dan belum juga membayarnya. ia masih antrian hampir 20 orang lagi.


"Aku gak mau kalau seperti ini"gumam Aron kesal.


"Tak lama gilrian Aron untuk membayar semuanya. Selesai membayar ia bergegas pergi menuju ke mobil, karena waktu yang di berikan Manda sangat sedikit.


"Arggg.. macet lagi"gumam Aron, memukul setir mobilnya.


"Terus apa yang aku lakukan sekarang, atau aku lari saja. bawa beberapa buah, dan belanjaan lainnya biar di mobil. Dan Vino yang membawanya nanti.


Aron membuka pintu mobilnya, melnagkah turun.


Brakkk...


Ia segera berlari secepat kilat menuju ke rumah sakit yang masih lumayan jauh. Aku gak mau kalau manda marah, gara-gara menunggunya sangat lama.


"Hahh... Hah..."Aron memegang pintu masuk rumag sakit, ia mencoba mengatur napasnya, yang ngos-ngosan.


---000--


"Kenapa Aron lama ya" tanya Manda yang terus melihat jam dinding di tembok rumah sakit itu.


"Bentar lagi juga datang"ucap Keshan tak lama Aron datang dengan keringat menetes dari wajahnya. Dengan napas masih ngos-ngosan berjalan mendekati manda yang masih di periksa oleh dokter.


"Kamu baru sampai syang"tanya Manda.


"Macet syang"ucap Aron.


"Ya sudah deh"gumam Manda.