Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 210


“Sha!! Kamu mau kemana?” tanya Manda yang merasa sangat aneh


pada penampilan teman aku yang sudah sangat rapi.


Kesha tersenyum, menatap Manda di balik kaca.


“Kamu lupa Da!! Hari ini orang tua aku akan datang, jadi aku


harus segera pergi jemput dia.” Ucap Kesha dengan senyum mandi terukur di


bibirnya.


Manda duduk di ranjang Kesha, dengan pandangan menatap ke


arahnya. “Tapi apa kamu sudah melupakan kejadian kemarin malam?”tanya Manda


penuh ragu, ia sebenarnya tidak mau mengungkit masalah itu lagi jika Kesha sudah


lupa dengan masalahnya. Tapi ia juga penasaran kenapa dia secepat itu melupakan masalahnya dengan


Vino. semudah membalikkan tangannya, melupakan smeua yang terjadi dengan Vino,Kesha benar-benar aneh!!.


“Masalah itu Da, aku sudah melupakannya. Aku gak mau lagi


bahas tentang itu.” Ucap Kesha, ia menarik napasnya, menahannya sejenak, lalu


mengeluarkan secara perlahan. “Sekarang adalah hari yang aku tunggu, sudah


hampir tiga tahun aku tidak pernah bertemu lagi dengan orang tua aku. Dan


sekarang aku akan bertemu dengan mereka, tidak ada hal yang paling bahagia


sekarang kecuali bertemu dengan mereka. Aku juga tidak mau Da, kelihatan sedih


di depan mereka” lanjut Kesha, yang mulai meletakkan sisir di meja, dan


beranjak mendekati Manda, dan duduk di sampingnya.


Manda hanya diam, menatip setiap langkah Kesha, ia tidak bisa


menebak suasana hati Kesha sekarang, terkadang dia sangat sedih, dan terkadang


ia tiba-tiba bahagia seperti ini. Apa dia punya laki-laki lain, yang menggantikan Vino di


hatinya? Tapi! Mana mungkin, aku gak percaya jika dia begitu mudah melupakan


Vino dalam hitungan jam, padahal dia baru kemarin bilang jika memang dirinya


masih mencintai Vino, dan sekarang raut wajahnya berubah, dalam pikiran Manda


selalu bertanya-tanya membuatnya terasa pusing sendiri.


Kesha, mengerutkan keningnya, menatap aneh pada Manda yang


tiba-tiba terdiam. Kesha melambaikan tangannya di depan wajah Manda. “ Da!! Kamu


gak apa-apa?” tanya Kesha, menatap wajah Mnada yang bengong dari tadi, dengan


pandangan kosong.


"Da!!" panggil Kesha, menepuk bahu Manda.


“Eh,, iya Sha!! Ada apa? “ tanya Manda tersentak, menatap ke arah Kesha.


“Kamu gak apa-apa? Kenapa kamu hanya diam dari tadi? apa ada masalah?”


“Aku gak apa-apa Sha, tadi itu hanya kepikiran sesuatu saja,


sekarang aku mau ajak kamu bersiap pergi jemput orang tua kamu. Tapi aku mau ganti baju dulu Sha, dan


sekalian mau lihat Aron, apakah dia sudah selesai atau belum” ucap Manda.


“Gak usah da, aku bisa pergi sendiri jemput ke dua orang


tua aku, aku gak mau terus merepotkanmu. Bahkan aku sudah banyak sekali


merepotkanmu. Dan bahkan aku berhutang banyak padamu.” ucap Kesha menolak ajakan Manda.


“Gak ada yang merasa di repotkan di rumah ini, aku sudah


menganggap kamu sebagai keluarga aku. Jadi jangan ragu lagi kalau kamu mau


minta tolong apapun dengan ku dan Aron” ucap Manda, memegang ke dua bahu Kesha.


“Tapi da a---“


“Gak usah tapi-tapian, jangan membantah apa yang aku


katakan. Anggap saja aku melakukan balas budi atas semua yang kamu lakukan dulu padaku, kamu dulu sudah baik banget denganku Sha!.”


Kesha yang semula murung, menundukkan kepalanya. Ia menarik


kemabali kesedihannya, dan senyum merekah keluar dari bibir Kesha.


“Emm, baiklah. Aku tunggu kamu di raung tamu” ucap Kesha.


“Oya da, aku mau ke kamar anak-anak kamu ya, dari kemarin


malam aku belum melihat mereka kangen juga rasanya, tidak melihat kelucuan mereka. Ekspresi wajah gemesin mereka bikin aku tak bila lupa da!” ucap


Kesha.


“Kamu boleh main kapan saja dengan anak aku, selagi dia gak


tidur” ucap Manda menggoda, “ hehe.. Iya enggak-lah Da” Jawab Kesha.


“Udah aku pergi dulu ya, bye” ucap Manda bangkit dari


duduknya.


“Kita pergi ke atas bersama Da, sekalian aku tuntun kamu


untuk menaiki tangga, Kau juga gak tega kalau lihat kamu naik tangga sendiri. Apalagi saat


“Baiklah, ayo jalan” gumam Manda, Kesha segera nasuk ke


dalam kamar Joy dan Cia sedangkan Manda pergi ke kamarnya menemui Aron, belum


sempat menemui Aron, Dan.


Thinggg.. Tunggg,,


Bel pintu rumahnya berbunyi. “Siapa yang datang sayang


pagi-pagi begini” tanya Aron, yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan


tangan mengusap rambutnya yang masih basah.


“Gak tahu syang!! Aku saja juga baru masuk ke kamar” ucap


Manda, duduk di ranjangnya. “Syang, aku ambilkan baju juga ya, aku capek jalan”


ucap Manda dengan penuh manja, merengek seperti anak kecil.


Aron tersenyum , melemparkan handuknya tepat di wajah Manda,


“Baiklah aku akan ambilkan, istri aku yang manja” gumam Aron, yang mulai


membuka lemarinya, menggeser baju yang tergantung rapi di lemari, mengolak alik,


melihat ada yang pas untuk tubuh Manda yang semakin membesar itu atau tidak.


“Syang kalau buang handuk jangan sembarangan, emang wjah


aku gantungan” decak kesal Manda, menguntupkan bibirnya.


“lagian salah sendiri kamu itu gemesin tau gak, wajah kamu


kalau manja buat aku tambah ingin mencubit ke dua pipi cabi kamu." gumam Aron.


“kamu cubit aku, akau akan balas” ancam Manda.


“Cubit apa, hyoo.”


“Cubit milik kamu” ucap Manda dengan mata melebar, seketika membuat wajah Aron


menegang, dengan tangan merayap menutupi miliknya. “Jangan syang!! Ini satu-satunya


milik aku, kalau gak ada ini nanti gimana kalau aku buat anak lagi dengan kamu


nantinya” Seketika Manda melebarkan matanya, dengantatapan tajam mengobarkan


percikan api.


“Kamu bilang apa tadi?” tanya Manda memastikan.


“gak bisa bikin anak lagi syang” ucap Aron dengan senyum menggoda,


menarik alisnya ke atas.


“Siapa juga yang mau bikin anak lagi, aku sudah capek syang


anak dua di tambah lagi dua. Apa kamu mau bikin rambutku lama-lama rontok” ucap manda


kesal.


“Enggaklah syang kalau rontok, di kasih penumbuh rambut biar


gak rontok.” Canda Aron, semakin membuat Manda kesal,ia beranjak berdiri dan


mencubit lengan Aron.


“Sakit sayang!! Ampun syang!! Udah sakit, lepaskan!” ucap


Aron merengek kesakitan.


“Salah sendiri, aku bicara serius kamu malah bercanda” gumam


Manda kesal, melipatkan ke dua tangannya di dada, melemparkan pandangannya


berlawanan arah.


“Iya! Iya! Aku serius” gumam Aron, melebarkan bibirnya, dengan


kedipan menggoda ke wajah Manda. Aron mencolek dagu Manda, membuat dirinya yang


menahan tawa.


“Syang kalau kamu mau ketawa, ketawa saja. Kalau di


sembunyikan bisa jadi penyakit ” goda Aron, membuat Manda melebarkan


matanya.


“Ih.. nyeselin tahu gak, kesel aku sama kamu syang” gumam


Manda, mecubit lengan Aron.


“ Sakit syang, jangan cubit napa?” gumam Aron.


“Udah, ayo buruan, kita sudah di tunggu Kesha di depan.”


“Eh, bentar syang! Tadi bukannya ada tamu ya, terus kenapa


pembantu kita tidak bilang ya.” Ucap Aron, yang tiba-tiba teringat jika tadi


ada yang memencet bel rumahnya. Dengan segera ia memakai bajunya. Selesai pakai


baju sendiri, Aron tidak lupa membantu Manda untuk pakai bajunya. Dan segera


pergi menemui anaknya dan Kesha.