
“Sha!! Kamu mau kemana?” tanya Manda yang merasa sangat aneh
pada penampilan teman aku yang sudah sangat rapi.
Kesha tersenyum, menatap Manda di balik kaca.
“Kamu lupa Da!! Hari ini orang tua aku akan datang, jadi aku
harus segera pergi jemput dia.” Ucap Kesha dengan senyum mandi terukur di
bibirnya.
Manda duduk di ranjang Kesha, dengan pandangan menatap ke
arahnya. “Tapi apa kamu sudah melupakan kejadian kemarin malam?”tanya Manda
penuh ragu, ia sebenarnya tidak mau mengungkit masalah itu lagi jika Kesha sudah
lupa dengan masalahnya. Tapi ia juga penasaran kenapa dia secepat itu melupakan masalahnya dengan
Vino. semudah membalikkan tangannya, melupakan smeua yang terjadi dengan Vino,Kesha benar-benar aneh!!.
“Masalah itu Da, aku sudah melupakannya. Aku gak mau lagi
bahas tentang itu.” Ucap Kesha, ia menarik napasnya, menahannya sejenak, lalu
mengeluarkan secara perlahan. “Sekarang adalah hari yang aku tunggu, sudah
hampir tiga tahun aku tidak pernah bertemu lagi dengan orang tua aku. Dan
sekarang aku akan bertemu dengan mereka, tidak ada hal yang paling bahagia
sekarang kecuali bertemu dengan mereka. Aku juga tidak mau Da, kelihatan sedih
di depan mereka” lanjut Kesha, yang mulai meletakkan sisir di meja, dan
beranjak mendekati Manda, dan duduk di sampingnya.
Manda hanya diam, menatip setiap langkah Kesha, ia tidak bisa
menebak suasana hati Kesha sekarang, terkadang dia sangat sedih, dan terkadang
ia tiba-tiba bahagia seperti ini. Apa dia punya laki-laki lain, yang menggantikan Vino di
hatinya? Tapi! Mana mungkin, aku gak percaya jika dia begitu mudah melupakan
Vino dalam hitungan jam, padahal dia baru kemarin bilang jika memang dirinya
masih mencintai Vino, dan sekarang raut wajahnya berubah, dalam pikiran Manda
selalu bertanya-tanya membuatnya terasa pusing sendiri.
Kesha, mengerutkan keningnya, menatap aneh pada Manda yang
tiba-tiba terdiam. Kesha melambaikan tangannya di depan wajah Manda. “ Da!! Kamu
gak apa-apa?” tanya Kesha, menatap wajah Mnada yang bengong dari tadi, dengan
pandangan kosong.
"Da!!" panggil Kesha, menepuk bahu Manda.
“Eh,, iya Sha!! Ada apa? “ tanya Manda tersentak, menatap ke arah Kesha.
“Kamu gak apa-apa? Kenapa kamu hanya diam dari tadi? apa ada masalah?”
“Aku gak apa-apa Sha, tadi itu hanya kepikiran sesuatu saja,
sekarang aku mau ajak kamu bersiap pergi jemput orang tua kamu. Tapi aku mau ganti baju dulu Sha, dan
sekalian mau lihat Aron, apakah dia sudah selesai atau belum” ucap Manda.
“Gak usah da, aku bisa pergi sendiri jemput ke dua orang
tua aku, aku gak mau terus merepotkanmu. Bahkan aku sudah banyak sekali
merepotkanmu. Dan bahkan aku berhutang banyak padamu.” ucap Kesha menolak ajakan Manda.
“Gak ada yang merasa di repotkan di rumah ini, aku sudah
menganggap kamu sebagai keluarga aku. Jadi jangan ragu lagi kalau kamu mau
minta tolong apapun dengan ku dan Aron” ucap Manda, memegang ke dua bahu Kesha.
“Tapi da a---“
“Gak usah tapi-tapian, jangan membantah apa yang aku
katakan. Anggap saja aku melakukan balas budi atas semua yang kamu lakukan dulu padaku, kamu dulu sudah baik banget denganku Sha!.”
Kesha yang semula murung, menundukkan kepalanya. Ia menarik
kemabali kesedihannya, dan senyum merekah keluar dari bibir Kesha.
“Emm, baiklah. Aku tunggu kamu di raung tamu” ucap Kesha.
“Oya da, aku mau ke kamar anak-anak kamu ya, dari kemarin
malam aku belum melihat mereka kangen juga rasanya, tidak melihat kelucuan mereka. Ekspresi wajah gemesin mereka bikin aku tak bila lupa da!” ucap
Kesha.
“Kamu boleh main kapan saja dengan anak aku, selagi dia gak
tidur” ucap Manda menggoda, “ hehe.. Iya enggak-lah Da” Jawab Kesha.
“Udah aku pergi dulu ya, bye” ucap Manda bangkit dari
duduknya.
“Kita pergi ke atas bersama Da, sekalian aku tuntun kamu
untuk menaiki tangga, Kau juga gak tega kalau lihat kamu naik tangga sendiri. Apalagi saat
“Baiklah, ayo jalan” gumam Manda, Kesha segera nasuk ke
dalam kamar Joy dan Cia sedangkan Manda pergi ke kamarnya menemui Aron, belum
sempat menemui Aron, Dan.
Thinggg.. Tunggg,,
Bel pintu rumahnya berbunyi. “Siapa yang datang sayang
pagi-pagi begini” tanya Aron, yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan
tangan mengusap rambutnya yang masih basah.
“Gak tahu syang!! Aku saja juga baru masuk ke kamar” ucap
Manda, duduk di ranjangnya. “Syang, aku ambilkan baju juga ya, aku capek jalan”
ucap Manda dengan penuh manja, merengek seperti anak kecil.
Aron tersenyum , melemparkan handuknya tepat di wajah Manda,
“Baiklah aku akan ambilkan, istri aku yang manja” gumam Aron, yang mulai
membuka lemarinya, menggeser baju yang tergantung rapi di lemari, mengolak alik,
melihat ada yang pas untuk tubuh Manda yang semakin membesar itu atau tidak.
“Syang kalau buang handuk jangan sembarangan, emang wjah
aku gantungan” decak kesal Manda, menguntupkan bibirnya.
“lagian salah sendiri kamu itu gemesin tau gak, wajah kamu
kalau manja buat aku tambah ingin mencubit ke dua pipi cabi kamu." gumam Aron.
“kamu cubit aku, akau akan balas” ancam Manda.
“Cubit apa, hyoo.”
“Cubit milik kamu” ucap Manda dengan mata melebar, seketika membuat wajah Aron
menegang, dengan tangan merayap menutupi miliknya. “Jangan syang!! Ini satu-satunya
milik aku, kalau gak ada ini nanti gimana kalau aku buat anak lagi dengan kamu
nantinya” Seketika Manda melebarkan matanya, dengantatapan tajam mengobarkan
percikan api.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Manda memastikan.
“gak bisa bikin anak lagi syang” ucap Aron dengan senyum menggoda,
menarik alisnya ke atas.
“Siapa juga yang mau bikin anak lagi, aku sudah capek syang
anak dua di tambah lagi dua. Apa kamu mau bikin rambutku lama-lama rontok” ucap manda
kesal.
“Enggaklah syang kalau rontok, di kasih penumbuh rambut biar
gak rontok.” Canda Aron, semakin membuat Manda kesal,ia beranjak berdiri dan
mencubit lengan Aron.
“Sakit sayang!! Ampun syang!! Udah sakit, lepaskan!” ucap
Aron merengek kesakitan.
“Salah sendiri, aku bicara serius kamu malah bercanda” gumam
Manda kesal, melipatkan ke dua tangannya di dada, melemparkan pandangannya
berlawanan arah.
“Iya! Iya! Aku serius” gumam Aron, melebarkan bibirnya, dengan
kedipan menggoda ke wajah Manda. Aron mencolek dagu Manda, membuat dirinya yang
menahan tawa.
“Syang kalau kamu mau ketawa, ketawa saja. Kalau di
sembunyikan bisa jadi penyakit ” goda Aron, membuat Manda melebarkan
matanya.
“Ih.. nyeselin tahu gak, kesel aku sama kamu syang” gumam
Manda, mecubit lengan Aron.
“ Sakit syang, jangan cubit napa?” gumam Aron.
“Udah, ayo buruan, kita sudah di tunggu Kesha di depan.”
“Eh, bentar syang! Tadi bukannya ada tamu ya, terus kenapa
pembantu kita tidak bilang ya.” Ucap Aron, yang tiba-tiba teringat jika tadi
ada yang memencet bel rumahnya. Dengan segera ia memakai bajunya. Selesai pakai
baju sendiri, Aron tidak lupa membantu Manda untuk pakai bajunya. Dan segera
pergi menemui anaknya dan Kesha.