
Manda masih berdiam di dalam bathup kamar Mandi. Ia benar-benar betah berendam terus. Bahkan Aron sudah pergi menemui seorang pengacaranya nanti. Untuk urusan yang sangat penting. Sebelumnya Aron belum bilang pada Manda. Karena ia ingin memberinya kejutan nanti. Kalau ia bilang duluan bukan kejutan dong namanya.
Sebelum bayinya lahir, ia berniat membawanya pergi jalan-jalan sekedar liburan bersama. Lelaki itu sudah memikirkan gimana kelanjutan untuk membuat Manda senang saat hamil, tidak ada beban pikiran sama sekali yang mengganggunya.
Syang kamu nanti panggil papa sama mama atau panggil papi mami, gumam Manda, mengusap perutnya. Ia berusaha mengajak baby dalam kandungannya berbicara. Meakioun belum ada respon sama sekali.
Tapi terserah kamu mau panggil apa, yang penting kamu tumbuh sehat ya, dan selalu sayang sama kita ya, lanjut manda. Ia benar-benar terlihat sangat bahagia punya seseorang yang bisa di ajak curhat sekarang. Meskipun tidak bisa bertukar pendapat.
Tok...tok...
Suara ketukan pintu membuat Manda tersadar dari lamunannya.
"Siapa?" Tanya Manda.
"Aku kesha" jawab kesha di balik pintu kamar mandi.
Manda segera beranjak dalam bathup kamar mandi. Ia meraih handuk yang sudah di persiapkan sebelumnya oleh Aron untuknya, lalu membalutnya ke tubuh mungilnya.
"Ada apa sha?" Tanya Manda, mengusap rambutnya yang kini terlihat basah.
"Kenapa kamu lama sekali di dalam kamar Mandi?" Tanya Kesha. Ia sudah menunggu dari tadi duduk di ranjangnya. Namun Manda belum juga keluar dari Kamar Mandi.
"He..he. maaf, tapi kenapa kamu gak bilang kalau kamu nunggu aku sih" Jawab manda, ia segera menuju ke lemari di depannya, meraih salah satu baju, yang tertata rapi berjarjar bergantung di lemarinya.
Kesha mengernyitkan matanya, ia melihat sebuah tanda biru di leher belakang Manda. "Da, leher kamu kenapa?" Tanya Kesha, beranjak mendekati Manda. Ia mencoba mematikan sebuah tanda merah itu.
"Apaan sih sha" Manda yang terlihat malu menepis tangan Kesha dari lehernya.
"Hyoo.. sapa tu yang gigit" tanya kesha dengan menjahilinya. Ia mencoba menatap detail cap biru itu.
"Apan sih Sha, gak usah lihat"ucap Manda wajahnya terlihat memerah, ia menutup rapat leher belakangnya dengan telapak tangannya.
"Cie.. sekarang malu-alu nih yeee." Ejek Kesha. Wajah Manda semakin memerah kali ini. "Oya Da, apa kamu sudah baikan sama kak Aron ya?" Tanya Kesha beranjak duduk di ranjang milik Manda.
Manda terdiam, ia tersipu malu kali ini.
"Iya aku baikan sama Aron, dan kamu tahu gak" gumam Manda moloncat duduk di samping kesha. "Tahu apa?" Tanta kesha menatap Manda bingung.
"Kalau sebenarnya Aron itu cuek dengannku hanya untuk memancing Fany, dan kamu tahu gak?" Ucap Manda kegirangan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Kesha. "Ya gak tahu lah Da" jawabnya malas, ya orang gak tahu di tanya terus sih, gumam kesha dalam hati.
"Ya, harusnya kamu tahu dong" ucap Manda. "Sebenarnya ... aku tu" Manda menghentikan ucapannya. Membuat Kesha yang dari tadi pasang wajah serius mendengarkan cerita Manda, di buatnya kesal. "Kamu kenapa Da, cepat cerita" ucap Kesha sudah tak sabar mendengar kabar baik dari Manda.
Kesha tahu jika yang Manda ceritakan pasti kabar baik, lagian dia terlihat sangat senang setelah berada lama dalam kamar mandi. Meski pikiran liar kesha sudah tertuju pada itu. Tapi belum saatnya ia tanya pada Manda.
"Aku sekarang jadi istri pertama Aron"Ucap Kesha dengan penuh kebahagiaan terpaut di wajahnya.
"Apa??" Kesha melotot tak percaya dengan apa yang di katakan Manda itu. "Benar kamu jadi istri pertama kak Aron sekarang??" tanya Kesha penuh rasa ragu.
"Iya" jawab Manda singkat menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Kesha tersenyum lebar, ia tidak menyangka apa yang di harapkan Manda kini mulai jadi kenyataan . "Aku turut senang juga Da, sekarang kamu bisa jadi istri sah Aron, oya sekarang gimana dengan Fany?" Tanya Kesha, yang tiba-tiba teringat tentang Fany.
Manda terdiam sejenak. "Aron sudah menceraikan Fany, dan entah kemana dia sekarang pergi" ucap Manda menundukkan kepalanya seolah ia merasa sedih dengan kepergian Fany.
"Aku tu bukannya sedih, tapi aku nenunduk gembira, akhirnya nenek lampir itu pergi jauh-jauh deh dari hadapanku" ucap manda dengan nada mengoda jengkel pada kesha.
Kesha mengusap dadanya, menatik napas lega. Akhirnya mereka bisa bahagia juga, aku sudah tak sabar ingin sekali menggodanya bertemu dengan dengan Aron dan Manda berdua.
"Tapi kapan peresmian pernikahan sah kamu akan di mulai, semoga secepatnya ya" Manda terdiam seketika, saat Kesha bilang begitu, seraya ia baru sadar jika dia belum sah dengan Aron, terpikir dalam benaknya apakah Aron akan meresmikan pernikahanya atau hanya sekedar seperti ini.
"Da, kenapa kamu diam?" Tanya Kesha,
Manda mencoba tersenyum lagi kali ini, "gak napa-napa" jawabnya singkat.
Brakkk....
Suara pintu terbuka keras membuat dua wanita yang sedang bercengkrama berdua. Langsung loncat berdiri dari duduknya. "Ternyata kamu ada di sini?" Gumam Fany, dengan senyum sadisnya kali ini.
"Emangnya kenapa? " tanya Manda denganajah menantangnya.
"Gak apa-apa, setelah Aron meresmikan cerai denganku jangan senang dulu. Apa kamu lupa jika aku sedang hamil"ucap Fany mendekatkan wajahnya tepat ke arah wajah manda.
Manda senyum tipis, "Benarkan itu anak Aron?" Tanya Manda dengan tatapan sinisnya.
"iya pasti anak Aron, lagian aku masih istrinya jika tahu aku sedang hamil" ucap Fany penuh percaya diri.
"Berbahagialah dengan hayalanmu Fany" gumam Manda mengejek.
Sebuah tamparan hampir saja melayang di wajah Manda, namun dengan sigap seorang memegang tangannya erat.
"Kak Aron"ucap kesha lirih.
Aron menarik ke belakang Fany,
Plaakkk... sebuah tamparan tepat di ipi kiri Fany. "Jangan pernah kamu berani menyentuh Manda" ucap Aron, dengan nada penuh emosi.
"kita sudah cerai sekarang, jangan pernah ganggu aku lagi, dan pergilah menjauh dariku" Aron mendorong tubuh Fany yang terus berjalan mendekatinya.
"Aron aku gak mau cerai, bukanya kamu tahu kalau aku sedang hamil" ucap Fany memohon-mohon pada Aron.
Aron terdiam, ia mengeluarkan ponselnya yang memngirim semua bukti yang ada di dalam ponsel Fany.
fany segera menbukanya, ia terdiam seketika, dengan bola mata melebar tak percaya, bagaimana bisa Aron mendapatkan buktinya. kini perlahan Fany berjalan mundur.
"Dalam kandymunganmu bukan anakku, Dasar wanita jalang. sekarang cepat keluar dari rumahku, bereskan semua baju kamu, terus angkat kaki dari rumahku. Dan soal keluargamu, kamu bisa lihat besok di kantor polisi" gumam Aron dengan nada marah menunujuk je arah pintu, agar Fany cepat keluar dari kamar Manda.
"Sialan, baraninya kamu menjebloskan keluargaku ke dalam kantor polisi"ucap Fany, ia menggertakkan giginya dengan amarah yang semakin menggebu-gebu.
"Aku akan terus menghantuimu" ancamnya. "Aku tidak akan pernah meluoakanmu, suatu saat aku akan membalasmu" teriak Fany dengan nada kesanya, seakan ingin menerobos mendorong tubuh Manda. Namun kesha dengan sigap berdiri di depan Manda, untuk melindunginya.
Aron tersenyum tipis. "Pengawal cepat bawa wanita ini pergi dari hadapanku"Gumam Aron, tepat pengawalnya sedang berpatroli di dalam rumahnya.
"Baik tuan" dua pengawal itu segera menarik tangan Fany kelaur dari rumah Aron dan melemparnya keluar.
"Awas kalian tak akan bahagia" gumam fany, dengan tatapan tajamnya.