
Selesai periksa, Aron kini di sibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk. Ia harus segera buat proposal untuk meeting besok dengan para client baru, untuk perusahaan barunya di Sydney. Kebetulan meeting itu di laksanakan di perusahaannya, jadi dia tidak usah pergi jauh-jauh ke Sydney meninggalkan Manda.
"Ih.. sibuk sendiri, nyebelin"gumam Manda, yang dari tadi duduk di ranjang menyangga dagunya, menatap Aron yang sibuk sendiri dengan laptopnya dari tadi, tanpa perdulikan Manda.
"Huaaammmm"Manda mencoba pura-pura menguap untuk cari perhatian Aron. "Lapar"ucap Manda lirih.
"Tetep sibuk, kenapa gak di suruh manajernya atau siapa gitu yang kerjain proposal. Kenapa harus dia, sekarang udah cuekin aku"gerutu Manda lirih.
Manda beranjak berdiri, melangkah dengan sangat hati-hati mau keluar dari kamar. Manda berjalan mengendap-endap, melirik sekilas ke arah Aron.
"Syang kamu mau kemana?" tanya Aron, menatap istrinya yang diam-diam keluar dari kamarnya.
Manda yang terkejut menoleh ke arah Aron, tersenyum tipis. menggaruk kepala belakangnya yang tidak terasa gatal itu. Ia malu aksinya ketahuan Aron. Padahal ia mau makan duluan tanpa menunggu Aron, lagian dari tadi perutnya sudah kelaparan menunggu dia kerja tanpa perhatikan dirinya.
"Mau cari makan syang"ucap Manda, tersenyum tipis, menunjukan gigi putihnya. menatap ke arah Aron yang duduk di sofa sibuk dengan laptopnya.
"Makan apa?" tanya Aron, menutup laptonya, meletakkan di meja, lalu beranjak berdiri mendekati Manda. Dengan kedipan mata menggoda.
"Ehh.. gak tahu, siapa tahu pembantu kita sudah masak buat kita tadi, tau makan buah juga bisa. Atau makan mie, dll yang ada stok di dapur"ucap Manda.
"Jangan makan mie"ucap Aron.
Manda hanya diam menundukkan kepalanya.
"Sekarang duduk"ucap Aron, menarik tangan Manda agar duduk di sofa kamarnya.
"Kenapa kamu suruh aku duduk?" tanya Manda, menatap Aron bingung.
"Duduk dulu"ucap Aron.
"Emangnya kamu mau apa sih syang?"tanya Manda.
"Buka laptopnya"ucap Aron.
"Emang ada apa di laptopnya?" tanya Manda semakin bingung di buatnya.
"Buka dulu" ucap Aron.
"Baiklah"ucap Manda, yang mulai membuka laptop Aron perlahan. dengan mengernyitkan matanya menatap ragu ke arah laptop itu.
"Gak ada apa-apa syang" ucap Manda, menatap detail laptop itu. Memang tidak ada apa-apa di dalamnya.
"Nyalakan syang"gumam Aron, mengusap dadanya. Menatap Manda yang bergitu polos tak paham dengan maksudnya.
"Oo. di nyalakan"gumam Manda. "Baiklah"lanjutnya, Manda segera menyalakan laptopnya. Ia melihat desain kamar anak yang sangat bagus, yang cocok untuk anak laki-lakinya nanti.
"Ini syang?" tanya Manda, menatap kagum dengan desain kamar buat anaknya nanti.
"Iya syang, ini akan kita buat di rumah baru kita nantinya. Sekarang sudah aku mulai seuruh orang menggambar desain ini."ucap Aron.
"Rumah baru? Emang kita gak akan tinggal di sini lagi?" tanya Manda bingung.
Aron duduk di samping Manda mengusap rambutnya lembut. "Syang, bukannya aku sudah bilang ke kamu. Jika kita akan tinggal di luar negeri, yaitu di Sydney kita dan anak kita akan menetap di sana. Dan di sini biarkan rumah kita di sini. Jangan sampai di jual. Biar buat bekal anak kita nantinya. Perusahaan aku juga sudah aku rencanakan untuk di serahkan pada mantan mertua aku yang dulu haus dengan harta. Dari pada jadi persetruan dan jadi dendam kelak nanti. Mendingan kita mengalah dan menjalani hidup baru di Sydney"ucap Aron, menarik kepala Manda menyandarkan kepalanya di bahu Aron.
"Kalau itu keputusanmu, aku juga gak akan melarang kamu syang, Asalkan kamu bahagia dan keluarga kita bahagia. Aku sudah senang. Kita bisa bangun usaha lagi dari nol. Dan aku yakin kamu bisa"ucap Manda menatap ke arah Aron.
Aron menatap dalam mata bulat Manda. Menguap lembut pipi Manda.
"Makasih syang, lagian kita juga bisa hidup bahagia dengan keluarga kecil kita aku sudah bahagia syang. gak perlu mewah. Dan lagian yang aku kasih hanya perusahaan itu bukan semua harta kita. Jadi meskipun begitu rumah ini dan rumah kamu juga masih utuh. "ucap Aron.
"Rumah aku?" tanya Manda bingung.
"Kenapa rumah aku" tanya Manda.
"Karena itu aku kasih buat kamu, sebagai tanda pernikahan kita dulu. Aku sudah banyak salah denganmu. Aku gak mau jika kamu akan selalu membenciku karena perbuatanku dulu"ucap Aron.
"Aku tidak akan membencimu syang"ucap Manda. "Sudah sekarang kita makan ya"ucap Manda.
"Ya sudah kamu jalan duluan saja syang, aku mau mau salin dataku dulu. Nanti aku nyusul kamu"ucap Aron.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya. Kalau lama aku tinggal makan duluan ya"gumam Manda.
Aron mengusap pipi Manda, lalu mencubitnya. "Kamu ini ya syang benar-benar menggemaskan"ucap Aron.
"Udah aku pergi dulu"ucap Manda beranjak pergi dari kamarnya. Ia sudah tidak tahan lapar yang semakin menjadi.
Aron segera menyalin datanya, namun tiba-tiba terhenti. Ia merasakan perutnya yang sangat sakit. Hingga menusuk ke jantungnya yang semakin sesak.
"Kenapa ini harus muncul seperti ini"ucap Aron, memegang dadanya yang terasa sesak.
Aron segera mencari obatnya di laci meja kecil samping ranjangnya, ia menyembunyikan obat itu sudah lama dari Manda. Tak mau Manda tahu dan membuat beban pikiran baginya yang sedang hamil.
Ia takut Manda kepikiran dan stress karena tahu kondisinya.
"Semoga lebih baik, aku harus temani Manda makan sekarang"ucap Aron, menarik napasnya. Mencoba menahan rasa sakit yang terasa menusuk ke tulang. Ia berjalan menuju ke ruang Makan menemui Manda.
"Syang kenapa kamu lama, sini makan"panggil Manda.
"Iya syang"ucap Aeon hang menahan sakitnya. Ia segera duduk di samping Manda, menikmati makanan berdua dengannya.
Makanan yang sudah di siapkan oleh para pembantunya.
---000---
Di sisi lain, Vino yang sudah menyelesaikan pendaftarannya bersama dengan Kesha, kembali ke rumahnya. Untuk nelihat kehamilan Manda yang mulai membesar. DanĀ sekalian ingin bicara lagi dengan kakaknya.
Ia berharap jika kakanya akan merestui hubungannya dengan Kesha. Hari ini ia mau jemput Kesha dulu di bandara, karena memang setelah oendaftaran mereka berpisah, dan Kesha pulang ke Korea. Karena ada masalah yang harus ia selesaikan.
"Kenapa Kesha belum.juga datang"ucap Vino yang dari tadi duduk menunggu kedatangan kesha.
Kesha berjalan melewati Vino tanpa sadar Vini duduk menatapnya.
"Sha" Sapa Vino, beranjak berdiri mengikuti Kesha.
"Dari mana kamu? Kenapa aku tidak melihatmu tadi?" tanya Kesha.
"Kamu saja jalan lihat ponsel, gak lihat ke kanan, aku dari tadi nunggu kamu"ucap Vino.
"Kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Vino.
"Mau ke pantai saja gimana?" ucap Kesha, penuh semangat. Baru datang udah di tawarin untuk jalan-jalan.
"Baiklah, di pantai belakang rumah saja ya, di sana pemandangan gak kalah bagus"ucap Vino.
"Ya, kalau itu aku sudah biasa melihat dari rumah kamu"ucap kesha, mengehela napas kesalnya.
"Udah jangan ngambek, lagian waktu kita hanya beberapa hari syang, kalau ke pantai paling dekat ya rumah aku"ucap Vino.
"Baik syang, terserah kamu"ucap Kesha terpaksa.