
Albert segera membuka pintu, dan mengambil empat koper yang berada di depan pintunya. Ya, karena memang Vina yang membawa barang-barang banyak sekali.
“Sini koperku, aku mau pergi.” Ucap Vina, yang sudah berjalan keluar, mencoba menarik kopernya.
Albert memegang tangan Vina, menariknya ke dalam lagi, dengan salah satu tangan memasukan kopernya. Albert melemparkan tubuh Vina di
atas ranjangnya, dan ia beranjak pergi lebih dulu, mengambil koper yang lainya dengan segera, kemudian menutup kembali pintunya rapar-rapat.
Vina beranjak berdiri dengan wajah terlihat sangat kesal, ia melangkahkan kakinya berjalan mendekati Albert. “Buka pintunya.” Ucap Vina,
dengan tatapanya yang semakin menajam.
“Enggak!!”
“Buka!!”
“Enggak, kamu harus di sini. Jangan pernah pergi lagi dariku.” Ucap Albert, memegang tangan Vina mengecup kasar bibir gadis itu,
dengan tangan memegang kepalanya.
Vina terus meronta melepaskan kecupannya, dan. Plakk...
Tangan Vina menadarat dengan sempurna di pipi kiri Albert. Ia tak perdulikan itu, Albert menarik kepala Vina, dengan salah satu memegang
tangannya sangat erat, mencium lagi bibir Vina semakin kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, tanganya dengan segera merobek, dan membuang semua helaian kain yang menutupi tubuh mungil Vina.
Emmm.. emmm..
Vina mencoba meronta namun tubuhnya seakan tidak bisa melawan tubuh Albert yang kini sudah menindihnya. Albert semakin menderet ke bawah, ia mengecup leher Vina, hingga ke dadanya Membuat gadis itu yang ingin sekali menolak, ia hanya bisa diam meneteskan air matanya.
Yang kini benda keras yang mulai masuk ke dalam miliknya. Ia mengigit bibirnya, dengan ke dua tangan mencengkram erat tubuh Albert, hingga
menyisakan bekas cakaran di punggung pria itu. Benda keras tu semakin dalam
membuat gadis itu tak berhenti meneteskan air matanya.
Kenapa aku harus seperti ini lagi, kejadian ini terulang lagi. Kenapa aku terjebak bertemu
dengannya. Yang akan membuat hidupku semakin hancur nantinya.
Hampir sepuluh menit berlalu, Albert semakin melancarkan permainanya, tanpa perdulikan Vina yang terlihat terus menangis.
Vina semakin mendesah merasakan gencatan semakin keras dari Albert. Dan membuat lahar keluar dari tempatnya, membuat Albert segera mengakhiri permainannya. Duduk di atas tubuh Vina, mengusap lembut keringat wanita itu yang mulai membasahi wajahnya. Ia mengecup kening Vina, dan berbisik. “makasih!!”
Albert Membaringkan tubuhnya di samping Vina. merentangkan ke dua tanganya, sekaan sudah ouas dengan apa yang ia lakukan. Namun, gadis itu tidak perdulikan Albert, memiringkan tubuhnya berlawanan arah dengan pria
kejam di sampingnya. Vina menutup tubuhnya dengan selimut tebal milik Albert, mencengkram erat selimut itu, dan. Tes..
Buliran air mata jatuh kembali dari mata indahnya. Albert, yang sadar Vina marah dengannya. Ia merengkuh erat tubuh Vina, dari belakang. Mengecup
belakang telinga gadis itu, sambil berbisik. “Maafkan aku!! Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Dan mulai sekarang aku mau ada di sisiku. Besok kita
bertemu dengan orang tua kamu agar kita bisa segera menikah dalam minggu ini.”
Vina hanya diam, ia masih tidak terima dengan apa yang di lakukan Albert, ia tidak percaya dengannya. Di otaknya terbayang saat pertama
kali bertemu dengan wanita itu. Wanita yang bilang jika dia adalah pacar Albert. Bahkan dia sangat cantik dan juga seksi, pasti akan lebih membuat dia
tertarik dari pada bersamanya.
“Vina, kenapa kamu diam. Apa kamu masih marah dengan aku” tanya Albert, semakin mempererat pelukannya. Meletakkan dagunya di pundak Vina,
sambil mengecup leher gadis dalam dekapannya itu, sangat lembut.
Mendengar suara sesegukan Vina, seketika Albert melepaskan pelukannya, membalikkan badan Vina menatap ke arahnya. Ia menyeka air mata yang
membasahi pipi wanita di depannya itu dengan jemari tangannya. “Kenapa kamu menangis?” tanya Albert lembut. “Jangan lagi meneteskan air mata, aku gak mau kamu membuang air matamu percuma.”
Vina hanya diam, dan tak hentinnya terus menangis. “Maafkan aku!!” ucap Albert, menarik tubuh Vina masuk dalam dekapan hangat tubuhnya,
Vina yang tak hentinya terus menangis tersedu-sedu, dengan ke dua tangan mencengkram erat selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
“Kenapa kamu melakukan ini, Albert.” Tanyan Vina, memukul dada bidang Albert berkali-kali.
“Aku melakukan ini karena aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku gak mau menyesal nantinya.” Ucap Albert, memegang ke dua tangan Vina,
mencegahnya agar tidak terus memukulnya.
“Tapi bukan gini caranya,” ucap Vina, menyandarkan kepalanya di dada bidang Albert, dengan sigap laki-laki itu mendekapnya sangat erat, mencoba menenangkan hati Vina.
“Percayalah, aku akan selalu ada buat kamu. Dulu kamu yang mengejarku sekarang biar aku yang akan mengejarmu, mengejar cintamu." ucap Albert, membuat hati Vina merasa tenang sejenak.
Vina menarik napasnya dalam-dalam, mengengeluarkan secara perlahan, mencoba menahan emosi yang membuat hatinya terluka.
“Sekarang kamu jangan menangis lagi, kita sekarang mandi dulu, Dan setelah itu pergi ke rumah orang tua kamu. Untuk membicarakan jika kamu mau hidup mandiri tinggal di luar rumah, dan aku juga akan bilang pada mereka akan menikahimu dengan segera. Kalau perlu dalam minggu ini.” Uacp Albert, mengecup kening Vina.
“Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?” tanya Vina ragu.
“Iya, aku sangat yakin. Aku ingin membuktikan pada kamu jika aku benar-benar serius dengan kamu.”
“Tapi, bagaimana dengan wanita itu? Bukanya dia adalah pacar kamu.”
Albert melepakan pelukannya, meletakkan ke dua telapak tangannya di pipi Vina, “Dia bukan siapa-siapa aku, aku sudah tidak ada hubungan sama sekali dengannya.” Ucap Albert, dengan nada lembutnya.
“Apa benar yang kamu katakan,” Vina menyeka air matanya, menatap mata Albert.
“Percaya padaku, aku tidak akan berbuat bodoh lagi,
menyia-nyiakan wanita yang tulus seperti kamu.” Gumam Albert.
Vina menarik ke dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis di wajahnya. Vina memeluk erat tubuh Albert, yang terlihat masih
telanjang dada.
Laki-laki itu tersenyum, membalas pelukan Vina, mengusap lembut punggungnya, dan sala satu tanganya mengusap rambut Vina yang memang
masih terlihat sangat berantakan. Akibat ulah kasar Albert.
Aku merasa sangat nyaman berada dalam dekapan kamu, aku harap akan terus seperti ini selamanya. Dan semoga kamu tidak ingkar dengan janjiku, akan segera menikahiku, Albert.
“Sekarang ayo kita mandi,” ajak Albert, melepaskan
pelukannnya.
“Kamu mandi saja lebih dulu,” gumam Vina, beranjak duduk dengan tanagn menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Kenapa di tutupi syang, aku sudah melihatnya.” Goda Albert.
“Jangan terlalu lama lihat, nanti kamu malah katagihan.” Goda Vina, membuat Albert semakin tertarik, ia meletakkan kepalanya di ke dua paha
Vina, yang kakinya memang terbujur lurus di ranjangnya.
Vina tersenyum, mengusap rambut Albert. “jika kita seperti ini nanti saat menikah, pasti lebih menyenangkan.” Goda Albert.
“Apaan sih kamu, sudah lebih baik kamu mandi dulu, syang.” ucap Manja Vina.
“Sama kamu ya, kita mandi bersama.” Albert menatap ke atas melihat wajah cantik Vina dari bawah.
------
Note :
Kisah mereka selanjutnya, dengan judul
" Cintai aku, suamiku"