
Mobil mereka sampai di sebuah restauran mewah. Merke bejalan masuk menuju ke dalam restauran itu. bukannya senang Manda terlihat melangkahkan kakinya ke belakang, bersembunyi di balik punggung Aron.
Baru beranjak masuk ia melihat begitu mewahnya restaurant itu, bahkan semua yang makan dari kalangan Elit. Manda bisa menyimpulkan semuanya, dari gaun perempuan yang mereka gunakan, semuanya dari brand terkenal. Mulai dari tas mewah, jam tangan mewah. Dan make up yang begitu wow...
Dan juga yang lelaki, dari sekujur tubuhnya berpakaian rapi dengan balutan jas yang menutupi tubuh mereka. Dan tak lupa mengenakan Jam tangan berbagai merk terkenal. Dan sepatu dengan brand mahal.
"Kenapa kamu bersembunyi di belakangku?" Tanya Aron menoleh ke arah Manda.
Manda mencengkram erat lengan hem Aron. "Sebaiknya kita pulang saja yuk, atau makan di tempat lain yang lebih sederhana gitu, jangan si sini?" Ucap Manda menyenbunyikan wajahnya di punggung Aron. Ia hanya melihatkan dua mata yang memutar melihat sekelilingnya.
Sepertinya mereka memandang ke arah Manda dengan tatapan jijiknya, namun melihat siapa lelaki yang di depannya itu. Mereka tak berani berkutik bahkan melihat Manda saja ia tak berani. Apalagi jika mengumpatnya. Si lelaki sadis itu tidak mungkin membiarkan siapa yang bersamanya di hina begitu saja. Apalagi jika wanita itu istrinya.
Semua orang di kota tahu siapa yang menikahi pengusaha kaya di kita ini. Yaitu gadis kecil yang terlihat norak. Dengan gaya yang biasa saja. Dan pastinya gudak ada spesialnya dari Manda. Hanya wajah cantik alami lah yang membuatnya sangat cocok mengenakan pakaian apapun sebenarnya.
Aron memegang tangan Manda di lengannya. "Sudahlah, jangan takut. Aku bersamamu sekarang, tak ada lagi yang berani menghinamu maupun menyentuhmu sekarang" Gumam Aron, ia ingin membuat hati Manda tenang saat bersamanya, dalam dekapannya hangatnya.
Manda yang begitu polos, perlu perlindungan dari sosok lelaki dewasa seperti Aron. Karena ia belum mengenal dunia yang begitu kejam dari dunia pengusaha maupun bisnis seperti Aron.
Manda masih menutupi wajahnya.
"Tetapi lihatlah mereka!, mereka sangat cantik-cantik dengan balutan make up mahal. Dan fashion mereka sangat bekelas dengan sepatu higles yang termahal. Lha, ku lihatlah, aku sekarang bepakaian hanya mengenakan kaos longgar biasa, dengan sandal rumah yang biasa di pakai. Rambut tak tertata rapi dan bahkan wajah tanpa balutak make up seperti mereka" gumam Manda mengintip di balik punggung Aron.
"Kenapa kamu malu syang, kamu itu istri orang terkaya di sini, jadi jangan minder dengana apa yang kamu pakai sekarang. Bahkan jika restaurant ini menolak kamu untuk masuk, menikmati hidangan yang ada. Aku akan membeli restaurant ini sekarang juga. Dan memecat semua yang berani mengusirmu" Aron meyakinkan Manda lagi untuk tetap tenang. Tapi sepertinya masih merasa ragu.
"Kamu membawaku ke tempat yang salah, sekarang ayolah kita pulang" gumam Manda menaeik-narik kemeja yang menempel di punggung Aron.
Krukkk...krukkk...
Bunyi suara perut Manda membuat semua mata tercengang, menatap ke arah Manda.
Manda semakin berjalan mundur, menupi wajahnya yang terlihat memerah, di belakang punggung Aron tepat.
"Hadeh. Kenapa perut ini tidak bisa di kompromi sama sekali sih, lagian bunyinya terlalu keras" gumam Manda.
Aron hanya tersenyum melihat tikah istrinya itu. Saat hamil seperti ini, istrinya semakin menggemaskan bahkan dia benar-benar seperti anak kecil kali ini.
"Kamu sini!" Aron memanggil pelayan yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
"Iya tuan" pelayan itu beranjak mendekati Aron dan menundukkan badannya.
"Bawa makanan yang paling spesial di sini, untuk istriku yang lagi hamil muda. Jangan pakai minyak, aku tidak mau dia terlalu banyak makanan berminyak. Atau bawa semua menu vegetarian di sini dan minuman dari sayur."gumam Aron menjelaskan sangat detail apa yang ia pesan untuk istrinya itu. Bahkan pelahan hanya menulis sebagian dan mengangguk, seraya ia sudah paham dengan apa yang di pesan oleh Aron itu.
Seandainya tidak ada Aron, pasti semua yang di sana bakal menghinanya tak henti-hentinya. Mungkin tak sebatas di hina lebih tepatnya di tendang keluar deh, sebelum masuk ke restauran itu. Entar di kirannya pengemis.
Aron menarik tangan istrinya itu untuk berdiri di sampingnya. "Jangan di belakangku, kamu sekarang sudah resmi jadi nyonya pertama tuan Aron, jadi jangan ragu atau takut lagi pada semua orang." Gumam Aron. Ia mendorong ke dua pundak Manda untuk duduk di kursi yang sudah ia siapkan untuknya.
"Syang aku malu! " Bisik Manda menyondongkan wajahnya ke depan.
"Udahlah, ngapain juga kamu malu" Helaian sentuhan lembut jemari Aron membuat pipi Manda merah merona seketika.
Ia hanya bisa tersenyum manis, dan mencoba menghilangkan rasa malunya. Ya, mungkin mdnghilangkan sejenak sampai dia keluar dari restauran itu.
Tak lama 3 orang waiters datang membawa beberapa makanan yang spesial untuk Manda. Dan tak lupa 3 macam jus dari bebagai sayuran untuknya. Aron benar-benar sangat perhatian dengan babynya dan Manda. Dia menjaga kesehatan ke dua orang yang oaling ia sayang itu. Tapi satunya belum lahir.
Aron benar-benar menjaga pola makan istrinya, agar saat hamil tidak makan-makanan yang sembarangan atau bisa di bilang makanan berlemak dan lainnya. Baby pertama harus dijaga dengan baik, itulah prinsip Aron jangan sampai terjadi apa-apa. Jadi di kemudian hari jika mau nambah baby lagi, ia sudah tahu cara menjaga baby dengan baik.
"Ini tuan semua makanan vegetarian, yang sangat spesial di sini" gumam salah satu waiters itu.
Manda terdiam, ia menelan ludahnya berkali kali. Tadi pagi kesha menyuruhnya makan sayur sekarang Aron juga menyuruhnya makan semua sayuran. Aku manusia apa kambing ya. Di kasih daun-daunan terus, gumamnya dalam hati.
Mau makan saja rasanya jadi malas, makanan di depannya tak membuatnya selera, tapi mau gimana lagi jika dia tidak makan pasti, lelaki di depannya itu melotot tajam ke arahnya. Lebih baik cari aman saja lah, gumamnya. Ia tak berhenti berbicara dalam hatinya. Sesekali melirik ke arah Aron.
"Kenapa diam?" Tanya Aron.
Manda masih diam, tak menggubris ucaoan Aron, mau nelan saja rasanya susah kalau kayak gini. Gumamnya lirih.
"Manda!!. Kamu gak suka" tanya Aron lagi. Ia memegang tangan Manda yang sepertinya mencengkram erat gelas jus yang ingin ia minum.
Sebelum tu gelas pecah gara-gara Manda, Aron segera menyelamatkan gelas itu. Ia takus istrinya terluka nantinya.
"Ini aku makan kok" Ucap Manda msnarik napasnya, msncoba tersenyum lebar di depan Aron.
"Habisin ya?" Ucap Aron.
Manda menganga seketika, seakan mulutnya mau menolak tapi suaranya terasa tertekan tak bisa mengucapkan kata itu keluar dari mulutnya.
"Gilaa!! Aku makan semuanya, makanan dauanan gini. Omg!, bisa gK ganti posisi ya, yang hamil tu yang laki" gumamnya. Sambil membayangkan gimana jadinya jika Aron yang hamil. Hahaha..pasti sangat lucu.
"Kenapa kamu tersenyum?, udah cepat makan" Ucap Aron mendorong satu piring sayuran yang entah apa namnya itu. Manda saja tak begitu tahu. Bentuknya aneh, entah gimana cara mereka masaknya.