Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Bertemu Kesha


Manda berjalan menuju ke kamar Duke di bantu dengan Vina yang selalu Stay untuknya. Ia tidak pernah lupa untuk membantunya kemanapun manda berjalan. Ia sangat sabar merawatnya, dan sekaligus membantunya saat Aron tidak ada di rumah. 


"Vin" panggil Manda. 


"Ada apa da?" Tanya Vina, menoleh ke arah Manda, dengan tangan masih memegang ke dua bahu Manda sangat erat dari belakang. Mereka menampakan kaki mereka kompak menaiki anak tangga.


"Kamu tinggal di sini ya, nanti Aron akan ke luar kota. Aku ingin kamu temani aku Vin." ucap Manda, dengan wajah memohon pada Vina, ia berharap Vina mau tinggal bersamanya. 


"Kapan suami kamu berangkat da?" Tanya Vina. 


"Entahlah, mungkin nanti sore. Kamu sehari saja tinggal di sini ya, temani aku. Aku gak mau di sini sendiri Vin, apalagi Fany masih berada di kota ini" ucap Manda, yang merasa takut dengan keadaannya sekarang.


"Baiklah, aku akan tinggal di sini, nanti biar pelayan aku yang bawakan baju ganti ke sini" gumam Vina, mendengar jawaban setuju dari Vina, manda tersenyum senang, mendengar apa yang di katakan Vina. Ia bisa bernapas lega kali ini, ada orang yang selalu setia menemaninya. 


"Emangnya kenapa kamu takut dengan wanita itu. Apa kamu punya masa lalu yang membuat kamu trauma dengan wanita itu? Atau dia apa pernah menyakiti kamu sebelumnya?" Tanya Vina, yang perlahan membuka pintu kamar anaknya. 


Manda menceritakan semuanya pengalaman dengan Fany pada Vina sahabatnya. Ia yakin jika Vina pasti bisa menjaga rahasia itu. 


Vina menanggapinya dengan wajah serius, sampai dia terbawa dengan suasana hati Manda yang sangat tidak bisa ia bayangkan. Hingga tetesan air mata tiba-tiba keluar dari mata bulat Vina. Ia melihat Manda yang juga, mulai meneteskan air matanya. Pengalaman hidup yang membuat Vina tidak menyangka jika Manda pernah mengalami keterpurukan dalam hidupnya. Tapi sekarang dua sudah bahagia, dan bisa hidup bahagia bersama dengan Manda. 


Vina tidak bisa bayangkan jika dirinya jadi Manda, pasti sudah akan frustasi. Entah bisa sembauh atau enggak mentalnya. Tapi ia salut dengan Manda bisa menghadapi semuanya dengan sabar, hingga kebahagiaan kinu datang sendiri padanya. Dan keluarganya juga bahagia, dan di karuniai banyak anak. 


"Manda kamu wanita yang benar-benar sangat hebat" ucap Vina, menepuk pundak Manda, mencoba menguatkan Manda agar tetap tegar dalam menjalani cobaan hidup yang memang menyakitkan. 


"Tapi sekarang aku sudah bahagia, aku gak mau wanita itu mengganggu kebidupanku lagi dengan Aron, aku gak mau dia mnegusik aku dengan keluarga kecil aku. Apalagi anak-anakku sampai tahu nantinya." ucap Manda. 


"Tenang saja aku akan bantu kamu jika kamu butuh aku. Kapan saja aku akan selalubada untuk kamu" ucap Vina. " udah sekarang kita makan dulu ya, agar hati kamu bisa tenang sejenak" lanjutnya. 


"Mama kenapa menangis" ucap Duke yang berlari menghampiri Manda yang duduk di sofa. 


"Gak apa-apa syang, mama hanya kelilipan tadi" ucap Manda beralasan. 


"Benar mama gak apa-apa?" Tanya Lia yang nengikuti Duke menghampiri Manda. 


"Gak apa-apa syang, ayo kita makan bersama" ucap Manda. 


"Iya ma, ayo kita makan" ucap Duke, yang duduk di samping ibunya. 


Mereka segera makan dengan lahapnya. Tak lama terdengar bel pintu berbunyi, Manda bangkit dari duduknya, berjalan ke balkon kamarnya. Ia ingin memastikan apa itu benar Aron atau orang lain yang datang ke rumahnya "Sepertinya itu suami aku Vin" ucap Manda pada Vina. 


"Apa perlu aku bukakan pintunya Da, sebelum Fany berani membuka pintu untuk suami kamu" ucap Vina yang curiga dengan fany. 


"Sepertinya sudah di buka sama dia" Gumam Manda, dengan wajah terlihat murung. Terpapang raut wajah sedih di wajahnya, ia hanya bisa berharap jika Aron akan tetap setia dengannya. Dan tidak terpengaruh dengan godaan Fany.


"Apa perlu kita turun sekarang da?" Tanya Vina, yang bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak tahu lagi apa yang harus di perbuat untuk membantu Manda. 


"Biarkan saja, kita tunggu saja di sini Vin. Aku yakin dia pasti akan langsung ke sini" ucap Manda beranjak duduk kembali. 


Duke terdiam, ia sadar jika ibunya lagi sedih, ia yang sudah selesai makan. Berlari keluar dari kamarnya dan beranjak menemui papanya. Namun tidak menemui papanya, ia mengintip dari kejauhan apa yang di lakukan ayahnya. 


~


"Kamu sudah pulang" ucap Fany pada Aron. 


"Sudah, kemana Manda?" Tanya Aron, menatap sekelilingnya. Ia tidak melihat Manda di sekitar ruang tamu. 


"Dia di atas bersama anak kamu" ucap Fany. 


"Terus, kenapa kamu masih ada di sini?" Tanya Aron sinis. 


"Aku ingin di sini dulu, apa kamu mau aku bautkan teh" ucap Fany, menawari teh hangat untuk Aron yang baru selesai meeting. 


"Gak usah sudah gak haus" ucap Aron, tanpa menatap sedikitpun ke arah Fany, ia langsung berjalan melewati Fany, dan mulai menampakkan kakinya menaiki anak tangga menuju ke kamar anaknya. Tanpa perdulikan Fany yang masih berdiam mematung di depan pintu.


Fany tersenyum tipis, dan beranjak pergi masuk ke kamarnya lagi.


~


"Manda kamu di dalam" ucap Aron, dengan tangan terua mengetuk pintunya.


"Aku ada di dalam syang dengan Vina" gumam Manda. Mendengar ucapan Manda Aron langsung masuk ke dalam kamar anaknya. 


"papa pulang" ucap Lia memeluk Aron. 


"Di mana Duke?" Tanya Aron. 


"Aku di sini" ucap Duke yang berjalan di belakang Aron. 


"Kamu dari mana syang?" Tanya Manda. 


"Tadi lihat tante dekat-dekat dengan papa" ucap Duke polos. 


manda menatap ke arah Aron. "Ayo ikut aku bawa dia pergi dari rumah sini ke hotel, sebaiknya dia menginap di hotel" ucap Manda. 


"Baiklah" ucap Aron yang langsung menuruti apa kata Manda. 


Tak lama mereka segera pergi menuju ke hotel untuk mengantar Fany dan anaknya. Duke dan Lia bersama dengan Vina. Ia menitipkan sebentar anaknya pada Vina sekalian Ia mangantar Aron untuk ke bandara. 


Selesai mengantar Fany ke hotel, Manda langsung menuju ke bandara. "Syang aku berangkat dulu" ucap Aron. 


"Iya syang, nanyi Vina akan menginap di rumah bantu aku jaga anak-anak" ucap Manda. 


"Iya syang, aku juga gak mau kalau kamu sendiri di rumah" ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda dengan jemari tangannya. 


"Oya syang. Kamu belum mandi dan gak bawa baju?" Tanya Manda. 


"Gak usah syang, manajer aku sudah siapkan semuanya" ucap Aron. 


"Ya sudah hati-hati ya" gumam Manda mengecup tangan Aron. 


"Kamu juga pulang hati-hati ya syang" Aron menarik kepala istrinya mengecup keningnya lembut.


"Bye.." Aron melambaikan tangannya dan segera pergi meninggalkan Manda. Ia tidak punya waktu lama lagi. Karena Aron sudah akan take off.


Manda segera pulang menemui ke dua anaknya yang sendiri dengan Vina di rumahnya.


Manda yang hanya berdua dengan sopir, ia melihat kesha lagi di tempat bersama di tempat yang sama seperti kemarin ja melihatnya. namun ia tidak mengenakan jaket, hanya mengenakan masker dan topi kenutupi wajahanya. Manda segera membuka pintu mobilnya.


"KESHA!" teriak Manda dengan suara lantangnya.


Kesha tak sengaja menoleh dan melihat Manda, ia melebarkan matanya dan spontan langsung berlari menjauhi Manda.


"Pak berhenti dulu" ucap Manda.


"Maaf non, gak bisa pesan dari tuan harus segera sampai ke rumah" ucap sopir itu.


mendengar itu, Manda hanya bisa diam menuruti apa kata sopir. Apalagi itu udah pesan dari Aron. ia tidak bisa apa-apa lagi  selain menurut apa kata Aron.


sopir segera membawa Manda pulang dan bertemu anak-anaknya. Ia harus mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Kesha. lagian dia juga tidak mungkin berlari mengejarnya saat hamil besar gini.


"Maaf non" ucap sopir Manda.


"Gak apa-apa, lagian aku juga gak mungkin mengejar dia, saat hamil besar gini pak" gumam Manda.


"Iya non" ucap sopir itu.


Manda segera masuk ke dalam rumahnya, Ke dua anaknya sudah menunggunya di dalam.