
Satu hari kemudian.
Kesha dan Vino langsung menuju ke Roma, mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka bulan madu di sana, untuk sekedar libaran, dan menikmati jalan-jalan ke luar negeri bersama dengan istrinya.
Setelah kejadian 2 hari yang lalu, Vino sudah ajak Kesha lebih dulu di Vila. Dan keesokan harinya, mereka langsung berangkat dan hingga memakan waktu hampir 1 hari lebih perjalanan. Dan akhirnya mereka sampai, di hotel. Tak mau keluar untuk melihat pemandangan Salju di luar, Kesha dan Vino memilih untuk langsung tidur, tubuhnya masih terasa sangat capek, lama perjalanan di udara untuk menuju ke tempat tujuannya sekarang.
Berbeda dengan Vina dengan Albert, meski mereka tidak janjian, tanpa saling tahu, jika Kesha dan Vino juga ada di roma.
"Syang! Aku ke kamar mandi dulu," ucap Albert, tanpa di perdulikan Vina yang sibuk berberes bajunta.
Albert yang baru tiba di Roma, ia beranjak menuju ke kamar mandi, tanpa perdulikan Vina yang masih beres-beres kopernya, mengeluarkan semua barang-barangnya, dan segera ia meletakkan di lemari apartemen milik Albert.
Albert memang sengaja membeli apartemen di Roma, karena memang urusan pekerjaan yang harus membuat dia bolak-balik Roma ke Paris, karena memang dia kuliah sembari kerja, jadi harus banting tulang sendiri. Ia tidak mau bergantung pada orang tuanya. Meski perusahaan yang ia bangun dari nol adalah perusahaan yang baru saja ia beli di Roma.
"Tapi semenjak orang tuanya menyuruh ia belajar lagi dalam urusan bisnis, ia lebih memilih untuk pergi ke rumah kakaknya dulu. Sembari menghindari ayahnya yang memang sering tidak akur.
"Syang!!" panggil Vina, memang dia tidak sadar jika Albert sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia yang terlalu sibuk, tak mendengar apa yang di karakan Albert tadi.
"Syang? Tolong bantu aku!!" pinta Vina, yang masih sibuk sendiri.
"Syang!! Apa kamu sedang gangguan telinga, aku panggil kamu, tapi kamu gak jawab dari tadi." Vina menoleh ke belakang, seketika ia mengerutkan keningnya, menarik bibirnya sinis.
"Selalu, kalau mau kemana-mana gak pernah bilang padaku. Dasar, David!" umpat kesal Vina, meneruskan kembali kegiarannya, selesai semuanya.
Vina membaringkan tubuhnya di atas ranjang, merentangkan ke dua tangannya, merenggangkan ototnya yang terasa sangat kaku.
"Aku gak menyangka, jika kita beneran menikah," gumam Vina, mengangkat tangannya kanannya, ke depan, dengan mata memandang telapak tangannya. Rasanya masih belum yaki jika ini bukan mimpi.
Vina memutar kembali kenangan bersama dengan Albert, saat dia kuliah di Sydney, semua kenangan mereka tidak ada hal yang romantis. Dan gara-hara suatu insiden, harus membuat Albert jadi sadar dan mengejarnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Albert, yang baru keluar dari kamar mandi, ia melangkahkan kakinya mendekati Vina yang berbaring melamun menatap ke atap langit kamarnya
Vina segera menyadarkan pikirannya, ia tersenyum menatap Albert, memegang lengan tangannya, lalu menariknya hingga jatuh di ranjangnya.
"Apa kamu mau sekarang, syang?" tanya Albert, menggoda.
"Bukan itu yang aku mau. Aku mau istirahat dulu sebentar. Lagian kita sudah bulan madu di awal." jawab Vina tanpa rasa malu dalam hatinya.
"Aku hanya ingin berbincang dengan kamu syang!! Sambil menukmati pemandangan indah di sini"
"Baik! Tapi buatkan aku teh hangat, udara di luar sangat dingin, aku mau minuman yang hangat, atau pelukan dari tubuh istri aku, untuk menghangatkan tubuh aku seluruhnya."
Vina mengerutkan keningnya, menatap aneh pada Albert. "Maksud kamu?" tanya Vina.
"Jangan pura-pura, syang!" gumam Albert, mencolek pipi Vina.
"Udah aku buatkan teh hangat duku," Vina segera beranjak menuju dapur, membuatkan teh hangat untuk suaminya. Dan Albert hanya diam, memiringkan badannya, dengan tangan kanan menyangga kepalanya, tersenyum menatap istrinya yang aibuk buat minuman untuknya.
"Syang! Jangan manis-manis," ucap Albert.
"Iya, memangnya kamu gak suka manis?" tanya Vina, ia memang tidak terlalu mengenal suaminya itu. Kenal juga belum ada satu tahun, baru satu semester dan belum tahu satu sama lain.
"Meski pahiy, saat meliaht kamu, pasti akan selalu terasa manis. Kamu saja sudah melebihi gula manisnya."
"Basi!!"
"Emang masakan bisa basi,"
"Lagian kamu gombal udah basi, udah banyak orang yang bilang seperti itu." ucap Vina, melangkahkan kakinya, dengan membawa dua cangkir teh hangat untuknya.
"Berarti aku harus cari gombalan lain, agar kamu bisa semakin cinta padaku," ucap Albert, beranjak bangkit dari ranjangnya, melangkahkan kakinya menuju ke sofa. Dan segera duduk sembari menikmati wajah cantik istrinya di depannya.
Vina meletakkan teh hangat di meja, seketika langsung Albert langsung menarik tangan Vina, duduk di sampingnya.
"Kamu temani aku di sini," ucap Albert, memeluk tubuh Vina dari samping.
"Alberth lepaskan dulu, aku mau mandi." ucap Vina.
"Tadi, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Albert.
"Udah lupain, sekarang lepaskan pelukanmu!!" Vina menggoyangkan tubuhnya, mencoba melepaskan pelukan Albert yang semakin erat.
"Gak mau!!" Albert menggelengkan kepalanya. "Cium dulu!" lanjutnya, mendekatkan pipi kanannya.
Vina menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman. Dan langsung mencium pipi kanan Albert tanpa rasa canggung.
"Yang inu belum," Albert, mengerucutkan bibirnta beberapa senti.
"Kenapa nambah lagi?"
"Memangnya kenapa? Kamu gak mau?"
Vina menarik napasnya dalam-dalam, menahannya laku mengeluarkan secara perlahan. "Baiklah!! Satu saja," Vina memejamkan matanya, perlahan mulai mendekatkan bibirnya, mencium lembut bibir Albert.
Albert yang sudah berhasil memancing Vina, ia memeluk erat tubuh Vina, mengusap punggungnya, membalas kecupan Vina semakin dalam, penuh gairah.
"Albert!! Lepaskan!" Vina mendorong tubuh Albert menjauh darinya, sebelum ia tambah bergairah nantinya.
"Kenapa?" Jamri tangan Albert mengusap lembut bibir Vina.
"Aku capek syang!! Besok saja ya, hari ini aku mau mandi, terus coba masak buat kamu, setelah utu istirahat."
"Memangnya kamu mau masak apa? Kita belum belanja,"
"Ya, udah cepat mandi. Setelah itu kita belanja." ucap Vina beranjak berdiri, membalikkan badannya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat Vino memegang tangannya.
"Tunggu!!"
"Apalagi, Albert, syang!!" Vina menoleh dengan memutar bola matanya malas.
"Kita mandi bersama!!" tanpa menunggu jawaban dari Vina, Albert menarik tangan Vina masuk ke dalam kamar mandi. Yang memang semula sudah di siapkan khusus untuknya. Bathup penuh dengan bunga mawar merah, di selingi minuman, dan juga buah-buahan di pinggir bathup, sembari menikmati pemandangan luar apartemen yang dari lantai lima, yang terlihat sangat bagus, terlihat semua pemandangan di luar.
Langkah Vina terhenti, saat melihat sebuah kejutan yang membuat dia tak percaya, setiap langkah menuju ke dalam bathup, di penuhi lilin berjejer menuju ke bathup di depannya.
"Ini kamu yang aiapkan semuanya?" tanya Vina.
"Iya, aku memang dari tadi di kamar mandi ngapain, kalau bukan menyiapkan semua ini. Soal buah-buahan di sini, aku suruh manajer papa aku untuk siapkan semuanya." ucap Albert.
"Makasih!!" ucap Vina, menjijitkan ke dua kakinya, meletakkan dua telapak tangannya, di telinga Albert, mencium lembut bibirnya beberapa detik.
Albert menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis, dan mulai melepaskan semua helaian kain yang menutupi tubuh mereka berdua. Tanpa ada penolakan sama sekali dari Vina.
Albert mengangkat tubuh Vina, dan langsung di balas dengan senyuman dari bibir tipis Vina. Dan melingkarkan tangannya di leher Albert.
"Kita mandi bersama syang!!" ucap Albert.
"Terserah kamu!!" ucap Vina.
Sebuah kejutan kecil yang langsung membuat hati Vina luluh seketika. Dan langsung semakin mesra memandang wajah tampan Albert.
Albert meletakkan tubuh Vina masuk ke dalam bathup, dan langsung di susul Albert, masuk dalam bathup berisikan penuh air hangat dan taburan bunga.
Vina menarik tubuhnya, menghadap ke arah Albert.
"Kamu jangan jauh dariku!!" Albert, menggeser sedikit ke depan.
"Apa perlu aku bantu kamu, basuk tubuhmu?"
"Gak!! Gak perlu!!" ucap tegas Vina, menggeleng-gelengkan kepalanya.
Albert, mengambil buah anggur di samping bathup, dengan menyuapi mulut Vina.
mereka saling menyuapi satu sama lain, dengan posisi kini mulia bergantian, Albert memeluk Vina dari belakang, dengan mata mengarah pada pemandangan di luar apartement.
"Bagus ya?" tanya Vina, melirik ke belakang.
"Iya, aku memang memilih tempat ini sebagai favoritku. Kadang bisa sampai berjam-jam menikmati minuman dan buah di sini, sambil melihat pemandangan di luar." jawab Albert, yang mulai mengambilkan minuman, lalu meneguknya perlahan. Meletakkan krmbali gelasnya.
"Kamu minum alkhohol?"
"Dikit!!" jawab Albert singkat menyantap makanannya lagi, di suapi oleh Vina.
"Kamu mau coba?"
"Enak?" tanya Vina ragu.
"Kalau kamu gak boleh minum ini. Mendingan minum jus ini saja." gumam Albert, mencubit pipi Vina yang menggemaskan.
Satu jam berlalu, mereka saling minum dengam minuman masinh-masing, dan saling menyuapi. Hingga terlelap sejenak dalam bathup.