Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kenyataan tentang Albert


"Kamu siapa namanya, dari tadi kita berbincang, tapi aku belum tahu nama kamu." ucap mama Albert.


"Saya, Vina. Tante, " Vina terlihat ragu-ragu, ia meremas jari-jari tangannya, yang terasa sudah basah, di penuhi keringat. Rasa gugup semakin menjalar pada tubuhnya.


"Bahkan kakinya, tak berhenti menghentakkan ke lantai bergantian. "Vina, jangan takut, tante tidak jahat."


Vina meringis, mencoba untuk tersenyum lebar.


"Iya, tante." ucap Vina, masih gemetar, bibir bawahnya semakin bergetar, ia hanya bisa menggigit bibirnya, memasukan ke dalam sela-sela giginya.


"Mama, kakak pulang?" teriak seorang wanita, berjalan turun dari anak tangga.


Dia siapa? Bukannya Albert anak tunggal, dan dia tadi bilang, kalau dia tidak memiliki saudara kandung. Pikir Vina, menatap wanita cantik berdiri di depannya. Ia mulai teringat juga dengan kakaknya, sebenarnya siapa dia sebenarnya.


"Albert, masih di depan. Mungkin, dia lagi bertemu dengan seseorang. Atau nunggu papa kamu." ucap mama Albert, menyambut gadis itu duduk di sampingnya.


"Ini siapa ma? Apa calon istri kak Albert?" tanya gadis itu.


"Iya, syang"


Gadis itu menatap dari ujung kaki, Vina hingga ke atas kepalanya, membuat Vina merasa risih dengan tatapannya.


"Kamu kenapa syang?" tanya Albert, berjalan menghampiri Vina, yang sepertinya terlihat muram.


"Kak, Albert. Kenapa kakak pergi gak bilang-bilang." ucap gadis itu. Beranjak berdiri, memeuk erat tubuh Albert, Vina yang melihatnya, merasa sangat geram.


"Elis, aku bukanya gak mau bilang, tapi kamu itu yang gak ada di rumah." ucap Albert.


Banyak yang aku ingin tanyakan padanya, katanya dia punya kakak. tapi dia pernah bilang tidak punya saudara kandung. Maksud dia apa, dan siapa kakak dan adiknya ini. Gumam Vina dalam hatinya.


"Udah, aku mau bicara dengan mama, dulu. kamu nanti saja ya, bicara. Aku akan ke kamar kamu." ucap Albert, membuat Vina seketika menautkan keningnya.


Apa yang di katakan, kenapa dia berbicara saja di kamar, apa mereka melakukan sesuatu. Ah.. Gak mungkin, pasti mereka hanya saudara kan, bukan lebih dari itu. Aku saja yang terlalu takut kehilangan Albert, karena sudah terlanjur menyerahkan semuanya, aku takut kehilangan dia. Padahal aku belum tahu, dia benar-benar baik atau enggak. Aku gak tahu masa lalunya. Vina terus bergumam dalam hatinya.


"Vina, kamu kenapa diam?" tanya Albert, merengkuh Vina dari samping, ia menarik pinggang Vina lebih mendekat.


"Kalian kapan menikah?" tanya mama Albert.


"Dua hari lagi, Ma!!"


"Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?"


"Belum sama sekali, makanya aku minta bantuan mama dan kamu, Elis syang!!" ucap Albert.


"Aku di kasih hadiah apa jika mau bantu," goda Elis.


"Nanti kakak, kan belikan kamu sesuatu," ucap Albert.


"Baiklah!! Kakak harus janji ya, jangan bohong."


"Sekarang antarkan Vina, masuk ke dalam kamarnya, sudah malam. aku mau bicara dengan mama." ucap Albert, pada Elis.


"Siap!!" Elis sangat antusias, ia beranjak berdiri, memegang tangan Vina.


"Ayo, kak Vina." ucap Elis.


"Aku pergi dulu ya," ucap Vina.


"Iya, kamu istirahat ya, besok tante, mau ajak kamu dan Elis belanja. Sekalian beli gaun untuk kamu." ucap mama Larisa, mama Albert.


"Iya, tante. Makasih!!" Elis segera membawa Vina masuk ke dalam kamarnya, yang dekat dengan kamarnya.


"Ma, gimana dengan pesta pernikahan kita nanti," ucap Albert, pada . Yang memang dari tadi sangat akrab berbincang dengan calon istri Albert.


"Mama, dan papa akan persiapkan semuanya. Tapi dia sekarang masih di luar negeri. Dan besok baru pulang. Aku akan bilang padanya nanti," mama Larisa.


"Ya, sudah. Besok aku berniat mau menemui orang tua Vina, Ma. Dia kan baru pindah di sini, jadi tidak terlalu banyak tahu. Pernikahan aku akan di lakukan pagi hari, dan aku mau secepatnya ma."


"Albert, mama mau tanya padamu?"


"Tanya apa?"


"Maksud mama, masa lalu apa?"


"Sudah gak jadi, lupakan saja. Lebih baik kamu sekarang juga tidur. Besok kita jalan sama-sama."


------


Di sisi lain Elis, menatap wajah Vina. "Kamu gugup ya?" tanya Elis.


"Iya, ku tidak menyangka bisa amsuk di keluarga ini, apa aku bisa di terima tulus di sini. Aku takut, Elis." ucap Vina, berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Elis membuka pintu kamar, untuk Albert dan Vina nanti setelah menikah. "Setelah menikah, kamu akan tidur di sini." ucap Elis, berjalan masuk menyalakan lampunya, terlihat kamar yang begitu luas, dengan ranjang yang sudah di hiasi bungan mawar merah.


"Kenapa kamar ini banyak bunga?" tanya Vina, merasa aneh.


"Kamar ini sudah di desain lama, besok bunganya. Aku akan bersihkan. Jadi jangan khawatir." ucap Elis, menempuk bahu Vina.


"Memangnya dulu, Albert sudah mau menikah?"


"Iya, kak Albert pernah mau menikah, tapi gak jadi. Dan diam sudah merencanakan semuanya. Dan termasuk ada gaun di salam lemari di sana. Tapi semuanya batal, hanya karena masalah kecil. Mereka akhirnya berpisah." jelas Elis.


"Kalian di sini ternayata, aku cari kalian di mana-mana tadi." ucap Albert, berjalan masuk ke kamar itu.


"Aku pergi dulu, ya, Vina. Besok kita bicara lagi."


"Oke,"


Elis beranjak pergi, meninggalkan Albert dan Vina sendiri. "Selamat ya kak," ucap Elis, menepuk bahu Albert.


"Iya, bawel," Albert, mengusap ujung kepala Elis.


"Udah pergi sana." gumam Albert, segera mendekati Vina.


Melihat Elis sudah pergi menjauh, Vina berniat untuk tanya pada Albert.


"Al, aku boleh tanya?"


Albert, menatap Vina, menautkan ke dua alisnya.


"Tanya apa?" tanya Albert, duduk di ranjang, menarik tangan Vina, untuk duduk di sampingnya.


"Mama kamu masih sangat muda?" ucap Vina.


"Dia mama muda ayahku, Mama aku sudahbmeninggal lama, saat aku masih berumur 13 tahun."


"Maaf, ku gak tahu!!" Vina, menundukkan kepalanya, ia merasa menyesal sudah tanya tentang orang tuanya.


"Kalau kakak aku itu, dari istri papa aku yang pertama, dan mereka cerai. Setelah itu papa menikah dengan mama aku, tapi setelah mama aku pergi. Dia menikah dengan wanita itu." jelas Albert, seakan ia tahu apa yang ada dalam pikiran Vina saat ini, dia pasti banyak pertanyaan yang akan di tujukan padanya.


"Jadi kalian semua bukan saudara kandung?"


"Iya, dan kakak aku memilih nengembangkan usaha sendiri di Sydney. Dia kecewa dengan keputusan ayah aku, saat menikah dengan wanita muda itu. Tapi sebenarnya dia sudah tua, umurnya tiga puluh lima tahun, tapi masih terlihat masih umur 23 tahunan, seumuran kita kan." lanjut Albert menjelaskan.


"Tapi aku masih 21 tahun, belum 23, jadi kamu salah," ucap Vina tersenyum, menggoda.


"Tapi, kamu bisa menerimaku kan?" tanya Albert.


"Iya, pasti. Aku tidak akan perdulikan semuanya. Status kamu, tau masa lalau kamu." ucap Vina tegas, seketika Albert, mencium lembut bibir Vina, lalu memeluknya erat.


"Makasih!!" ucap Albert.


"Sekarang kita tidur bersama lagi, Gak?" tanya Albert.


"Vina, menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ini gara-gara kamu tadi, jak aku makan dulu, terus jalan-jalan keliling kota, eh. Ternyata sekarang sudah malam." ucap Vina.


"Memangnya kalau belum malam kenapa?" tanya Albert.


Vina hanya tersenyum, dan beranjak berdiri, menuju ke balkon kamarnya. Terlihat jelas pemandangan rumah mewah Albert, tepat di belakang rumah itu, ada lapangan golf. Membuat Vina semakin melebarkan matanya.