
Manda duduk santai di meja makan, ia tinggal menunggu roti buatan Aron yang masih dalam open . Padahal awalnya ia ingin membuat roti tapi, gara-gara lupa bahanya jadi ia tugaskan semua pada Aron. Sekali-sekali suami manjakan istrinya saat lagi hamil seperti ini.
"Syang sudah belum?" teriak Manda.
"Bentar syang, ini baru saja mau ke situ. Tingga ambil piring untuk wadah syang" Ucap Aron berjalan mendekati Manda dengan 2 piring kue.
"Lama banget sih syang"Teriak Manda, yang sudah habis memakan soup yang ia buat tadi.
Ia duduk menyangga dagunya, menunggu Aron yang tak kunjung selesai.
"Syang berapa lama lagi?" Teriak Manda.
"Iya, iya syang"
Aron berjalan mendekati Manda.
"Tara kue soffly... Eh bentar sepertinya aku salah"Aron terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali nama kue itu, "Oya, Kue Souffle keju perancis ala Aron"Lanjut Aron dengan bangga memamerkan kue buwatanya. Ia membuat banyak gara-gara Manda memberinya tepung banyak.
Manda terdiam mengerutkan keningnya.
"Kue perancis, perasaan tadi aku gak niat buwat kue itu. Kenapa jadinya kue souffle perancis." ucap Manda bingung menatap kue itu di depannya.
"Lagian kamu tadi lupa bahanya mau bikin kue, dan aku juga gak tahu kamu tadi mau bikin kue apa, kamu juga gak bilang sayang"ucap Aron dengan seuara lembutnya. "Oya kalau kamu masih kurang, aku masih ada stok banyak, siapa tahu kamu malam-malam lapar dan mencarai makanan di dapur. kamu bisa makan kue buatanku ini"ucap Aron, duduk di samping Manda.
"He..he iya sih. Tapi ini enak gak? kenapa aku ragu ya?" tanya Manda ragu-ragu dengan kue buatan Aron.
"Enak-lah syang lagian kue buatan aku itu selalu enak, kamu coba deh"ucap Aron penuh percaya diri. Ia segera duduk menyantap soup buatan Manda yang sudah mulai dingin.
"Ternyata enak juga masakan Manda, kenapa dulu pertama masak berantakan rasanya. Tapi sekarang beda banget, seperti buka Manda yang masak"gumam Aron dalam hatinya.
"Kenapa syang gak enak ya soup buatan aku?" ucap Manda menampakan wajah sedihnya di depan Aron.
"Ini benar buatan kamu?" tanya Aron ragu.
"Iya lah syang, emang buatan siapa lagi kalau bukan aku" ucap Manda kesal.
"Aku kira buatan pembantu"gumam Aron terkekeh kecil.
Manda mengerutkan bibirnya tanpa menatap Aron
"Kenapa muram gitu wajahnya, enak kok syang, enak banget malahan bikinan kamu. Aku percaya ini juga apsti bikinan kamu"ucap Aron mengusap rambut istrinya yang duduk si sampingnya. Mencoba merayu dia agar tidak terus-terusan cemberut.
"Ya sudah kalau gitu habiskan syang, aku mau makan kue buatan kamu ini."Ucap Manda mulai menyantap satu sendok kue ke dalam mulutnya.
Ia terdiam, rasa keju itu benar-benar melekat dengan kuenya.
"Gak di ragukan lagi, kuenya memang enak, Aron udah jagi masak dia juga bisa bikin Kue."gumam Manda dalam hati. Ia merasakan nikmatnya satu sendok pertama kue buatan Aron di dalam mulutnya.
"Gimana enak gak syang?" Tanya Aron.
"Gak enak."ucap Manda beralasan.
"Gak enak tapi kenapa masih di makan syang"goda Aron mendekatkan wajahnya ke wajah Manda.
"Emm.. Habisnya aku lapar jadi aku makan aja"gumam Manda, mencoba beralasan kembali.
"Tapi sepertinya kamu menikmati, tu lihat wajah kamu ketahuan kalalu bohong"ucap Aron mencubit hidung Manda. "Emangnya wajah aku ketahuan bohong ya"Gumam Manda.
"Iya, wajah kamu merah tu"ucap Aron.
"Udah, cepat habiskan setelah itu istirat, udah malem nih"gumam Manda, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya syang, aku udah selesai, sekarang aku mau masuk ke kemar dulu, capek banget nih. Peut juga udah kenyang udah makan banyak. Dan sisia cemilan buatanju tadi juga masih ada kalau mau coba di dapur ya cari sendiri, dan sekalian kamu bereskan semuanya ya. Aku capek gak mungkin kan kamu tega menyuruhku"ucap manda beranjak berdiri.
"Tunggu! kamu mau kabur ya?" Aron memegang tangan manda mencegahnya pergi.
"Huaaammmm"Manda menguap lebar, namun hanya pura-pura. "Tu kan aku ngantuk syang"gumam Manda. Manda teringat tentang bingkisan plastik hitam yang di lihat Aron tadi. Meski ia tadi sempat tahu sedikit tapi rasa penasaran juga belum cukup. Manda ingin membuktikan sendiri apa benar yang di tulis di kertas itu. Tapi setidaknya ia harus mencari tahu sebenarnya.
"Syang kenapa jadi diam? kalau kamu vepke ya sudah, u gak maksa" ucap Aron.
"Eh. gak papa syang aku ngantuk, kamu harus bereskan sendiri ya jangan minta bantuan pembantu. Lagian kamu yang terakhir masak tadi jangan minta bantuan ya"ucap Manda melambaikan tangan pergi.
"Terus siapa yang bantu aku bereskan semuanya. kalau gak boleh minta tolong pembantu"Teriak Aron.
Manda menoleh ke belakang,
"Ya kamu sendiri syang, semangat ya"Ucap manda tersenyum, memberi semangat suamianya. Ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Punya istri tapi ada aja permintaannya, kenapa aku jadi pembantu sekarang. Tapi setidaknya gak apa-apa sih, kalau itu kemauan anak aku"Ucap Aron menggelengkan kepalaya, mengusap dadanya sejanak mencoba untuk sabar.
"Maaf aku harus cari tahu apa yang kamu sembunyikan dariku syang"gumam Manda dalam hati.
Ia dengan segera mencari paket kiriman yang di sembunyikan Aron tadi, ia sangat penasaran apa benar yang ada dalam pikirannya saat ini. Manda membuka semua laci yang ada di keja kamar, Di lemari dan hingga di bawah kamar tidur.
"Ini dia" Ucap Manda mengangkat peket yang belum ia lihat dari belakang.
Manda yang sudah sangat penasaran, ia membuka semua tumpukan kertas di bungkusan plastik yang Aron sembunyikan darinya.
"Ini kasus pembunuhan"Gumam Manda yang mulai membuka lembar berikutnya.
Manda terdiam membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ada foto orang tuanya di lembaran itu. "Dan ini foto orang tuaku?"gumam Manda, beranjak duduk di ranjangnya. napasnya sudah mulai tak beraturan. Ia mulai membuka lembar demi lembar bukti itu. "Kenapa ada foto ini, dan semua tulisan ini apa maksud dari semuanya?" ucap Manda mencoba menenangkan hatinya sejenak.
Ia mulai membaca detail setiap tulisan di kertas itu. Ia terlihat sangat syok menutup mulutnya, Bahkan ia tak bisa berbicara apa-apa lagi. Seakan napasnya berhenti sejenak, Tiba-tiba butiran kristal perlahan keluar dari mata bulat Manda. Ia tidak percaya dengan apa yang ia baca dan ia lihat sekarang. Hatinya benar-benar hancur saat mengetahui semua kenyataan di depan matanya.
"Apa yang aku lihat ini kenyataan atau hanya seorang yang berniat untuk menghancurkan hubunganku dengan Aron. Aku gak tahu harus percaya siapa lagi, aku harus percaya dengan Aron atau dengan bukti yang tiba-tiba ada di kamarku"gumam Manda, Dia benar-benar kejam.
Manda beranjak berdiri dari ranjangnya.
"Arrggg... " Ia melempar bukti itu, mengobrak abrik meja rias di depannya.
"Aku bingung..." Teriak Manda memegang ke dua kepalanya, yangvterasa sangat pusing.
"Aku harus percaya siapa cintaku atau bukti itu. tapi kenapa semua terjadi sangat kebetulan seperti ini"ucap Manda di depan cermin, amarahnya sudah mulai mengibar membakar hatinya. Ia mengepalkan tangannya sangat erat.
"Prakkkk.."Manda memukul kaca di deoannya hingga pecahan kaca itu bernatakan terjatih di meja rias dan ke lantai.
Tetesan darah segar keluar dari punggung tangan Manda. Ia duduk di pojokan Meja rias duduk merangkul erat kedua kakinya, menutupi wajahnya. "Kamu jahat."Teriak Manda.
Aron Mendengar teriakan manda dari lantai bawah, "Ada apa dengan Manda?" gumam Aron. Ia segera berlari menuju ke Kamarnya.
Tap.. Tap.. tap..
"Braaakkkk.. Manda!" teriak Aron, ia melihat semua kamarnya berantakan dan kaca rias juga pecah berkeping-keping berserakan kemana-mana. "Manda!" Aron melihat Manda duduk di pojokan meja rias. Seketika langsung berlari memeluk Manda yang duduk terpojok dengan rasa takut yang membayangi dirinya.
"Lepaskan aku"Bentak Manda mendorong tubuh Aron, ia masih menangis sesegukan.
"Manda ini aku Aron, suami kamu?" ucap Aron mencoba menenangkan hati istrinya itu.
"Aku tidak perduli"Manda terus menepis tangan Aron yang berusaha menyentuhnya.
"Manda ada apa denganmu, kenapa kamu jadi seperti ini." Ucap Aron mencoba menyentuh pundak istrinya.
"Aku sudah bilang jangan sentuh aku"ucap Manda menepis lagi tangan Aron. Ia tak berhenti menangis sesegukan.
"Apa yang kamu lakukan begitu menjijikan. dasar pembunuh"Bentak Manda.
Aron menatap kertas yang berantakan di lantai. Ia mencoba mengambil salah satu kertas itu dan mulai membacanya. "Ini, Jadi kamu baca semua ini"ucap Aron.