
"Syang, kamu mau makan apa?" tanya Aron, pada Manda di sampingnya.
"Makan steak syang, lagi pengen makan steak aku" ucap Manda dengan manjanya.
"Baiklah, makanya setelah jalan-jalan atau sekarang syang" tanya Aron lagi.
"Sekarang saja gimana syang, setelah jalan-jalan entar kelamaan."ucap Manda, "Anak kita udah lapar banget nih syang, gak bisa nunggu lama dia"Gumam Manda mengerutkan bibirnya manja, mengusap lembut perutnya di sambut dengan gerakan kecil dari babynya.
"Syang, anak kita gerak nih"ucap Manda, ia begitu senang dengan pergerakan babynya yang kini semakin hari semakin banyak dan aktif.
"Aku sudah gak sabar kamu lahiran syang" ucap Aron.
"Kurang beberapa bulan lagi syang,"ucap Manda.
"Baiklah"ucap Aron, tersenyum. Mengusap kepala Manda lembut. "Tapi istri aku yang cantik ini, lama-lama terlihat lebih gendut sekarang. Pipi kamu juga semakin tebal syang. terlihat lebih cabi, tapi manis"ucap Aron menggoda.
Ya semenjak hamil memang badan Manda yang kecil, kini dia berbobot 58 kg, padahal biasanya hanya 48kg. Hamil ini ia naik 10 kg, lumanya berisi sekarang tubuh Manda.
"Biarin tebal, emang kalau aku gendut kamu gak suka" ucap Manda kesal.
"Suka syang, kenapa juga aku gak suka. Kalau kamu gendut juga aku gak perduli. Kamu tetap cantik di mataku. Dan kamu juga tetap istriku, mau bagaimana-pun bentuk kamu juga kita masih sama, kamu masih istriku."ucap Aron, memegang tangan Manda. dengan tangan kanan fokus dengan jalan di depannya.
"Maaf syang, hanya ini yang aku jalani denganmu, semoga aku bisa hidup lebih lama lagi, dan bisa melihat anak kita samapao dewasa, dan bisa menatapmu hingga wajah kamu mulai mengerut."gumam Aron dalam hatinya, ia tak berhenti mengusap kepala Manda, dengan pandangan sesekali melirik ke jalan didepannya.
"Kamu bisa saja syang, kalau merayuku."gumam Manda.
"Syang fokus dengan jalan di depan, jangan pegang-pegang tanganku"ucap Manda, meraih tangan Aron di atas kepalanya.
"Iya syang maaf, udah kita sampai di restauran terdekat"ucap Aron.
"Eh.. sepertinya itu Vino?" tanya Manda menatap ke sebuah cafe kecil di samping restaurant itu.
"Vino? Di mana dia?"tanya Aron semakin penasaran. Ia menatap ke arah di mana Manda menunjuk, tidak ada Vino di sana. Hanya waiters laki-laki yang lagi melayani pelangganya.
"Di sana syang, di sebuah cafe."ucap Manda "Tapi aku gak yakin jika itu Vino, atau mungkin aku terlalu kepikiran Vino dan Kesha jadinya sampai terbayang Vino"ucap Manda.
"Gak ada syang, mana Vino, mungkin kamu terlalu capek. Sekarang kamu istirahat sja ya syang"ucap Aron.
"Ya, sudah gak apa-apa syang. Nanti Vino juga pasti akan ketemu kok"lanjut Aron.
"Sekarang kita turun, dan makan dulu. Aku juga sudah mulai lapar nih"gumam Aron, menatap ke arah Manda.
Aron segera melepaskan sambuk pengaman, dan dengan segera turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Manda. Seperti biasa, ia selalu membantu Manda turun dari mobil. Dan selalu memegang ke dua bahu Manda, menuntunnya kemana-mana.
"Syang, maaf ya" ucap Aron.
"Maaf untuk apa syang?" tanya Manda, menoleh ke belakang, menatap Aron bingung.
"Aku gak bisa membahagiakan kamu seperti dulu lagi, meski kita sekarang masih ada uang. Tapi tidak seperti dulu lagi syang"ucap Aron.
"Sudahlah syang, jangan bilang begitu, aku tidak perduli dengan harta kamu, tapi aku perduli dengan cinta kamu. Asalkan kamu selalu ada di sampingku, aku sudah merasa sangat bahagia. Jadi jangan pernah bilang seperti itu syang, aku gak mau kamu terus menyesal seperti itu. Aku sudah bahagia seperti ini syang. selalu bahagia dengan semua keputusanmu." ucap Manda, tersenyum, mengusap lembut pipi suaminya itu.
"Makasih syang"guman Aron.
Ia segera menarik kursi ke belakang, dan mempersilahkan Manda untuk duduk lebih dulu. "Silahkan duduk tuan putri Manda"ucap Aron, seakan mempersilahkan seorang ratu untuk duduk.
"Kenapa harus malu syang, aku suka seperti ini. Biarkan apa kata orang aku tidak perduli dengan itu. Yang paling penting adalah hubungan kita selalu bahagia"ucap Aron, yang mulai duduk di samping Manda.
"Permisi tuan, mau pesan apa"tanya waiters yang berdiri di depannya.
"Steak 2 dan jus apukat"ucap Manda.
"Baiklah, apa ada lagi tuan"ucap waiters itu.
"Tidak ada, sudah cukup itu saja"Sambung Aron.
"Hai..."Sapa seseorang yang sangat familiar di telinga Manda.
"Arka?"ucap manda terkejut, tiba-tiba melihat Arka ada di restauran itu. Entah gimana dia bisa ada di Sydney juga, dan sekarang makan di tempat yang sama dengannya.
"Dia lagi"ucap Aron kesal.
"Manda, kita bertemu lagi"ucap Arka, yang tiba-tiba duduk di samping kiri Manda.
"Pergi sana"ucap Aron, mulai bangkit, mendekati Arka.
"Aku kesini untuk makan, kenapa kamu mengusirku"ucap Arka, dengan tatapan menantang. Ia tidak suka, suaminya yang selalu berburuk sangka dengan dirinya.
"Ya , sudah makan di tempat duduk lainnya, jangan di samping istriku"Bentak Aron, dengan tatapan tajam ke arah Arka.
"Sudah, kalian jangan bertengkar di sini, dan kamu syang, biarkan saja dia makan di sini. Lagian apa salahnya kita menyambut dia sebagai teman. Jangan seperti anak kecil seperti itu. Gak enak di lihat orang syang malu"ucap Manda mencoba melerai keduanya.
"Itu benar istri kamu"ucap Arka, dengan tatapan sinisnya.
"Baiklah, terserah kamu, kalau bukan karena istri aku yang menyuruh kamu di sini. Aku sudah tendang kamu keluar dari sini"ucap Aron mengancam.
Arka, hanya tersenyum menatap Aron, yang terlihat sangat tidak suka dengannya.
"Sudah-sudah, kamu duduklah Arka."ucap Manda.
Aron yang dari tadi berdiri. Segera duduk di samping manda lagi, dengan mata yang yerus nengawasi detail setiap pergerakkan tangan Arka. yang ingin sekali memegang tangan Manda.
"Manda"sapa Arta lagi.
"Ada apa?" tanya Manda, menatap bingung ke arah Arta di sampingnya.
"Gak apa-apa, aku hanya ingin melihat kamu saja"ucap Arta, tersenyum menatap ke arah Manda.
"Kamu sudah pesan makanan, kalau belum pesan dulu. Nanti di lanjut ngobrol lagi."ucap Manda. "Ya gak syang"lanjut Manda pada Aron yang dari tadi menatapnya tidak suka.
"Iya, terserah deh"ucap Aron.
"Baiklah" Arta segera memesan makanan yang ia ingin makan. Setelah selsai seperti biasa ia terus menatap ke arah Manda.
"Jangan menatap istriku seperti itu"ucap Aron, ia tidal suka jika Arta terus menatap istrinya.
"Manda boleh pegang tangan kamu"ucap Arta, tanpa perdulikan Aron yang dari tadi memang tidak suka dengan perlakuannya pada Manda. ia lebih suka dengan Manda dari pada dengan Aron yang banyak tanya.
"Buat apa?" tanya Manda bingung, Arta terlihat sangat aneh, tapi ia hanya menganggap dia hanya sebatas teman. Tidak lebih dari itu, namun Aron sepertinya selalu berpendapat lain. Manda risih jika Aron selalu begitu. Ia tidak suka jika Aron tidak bisa bertindak dewasa. Ia ingin menganggap semua teman, pagian cintanya hanya untuk Aron tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya.