
3 bulan kemudian..
Kini kandungan Manda sudah menginjak 7 bulan.
Semenjak tahu anaknya laki-laki. Aron benar-benar melepaskan perusahaannya, dan memilih hidup sederhana bersama Manda di Sydney. Mereka memang sengaja menjauh dari kehidupan di sana. Tidak mau ada orang akan berniat menyakiti orang yang ia sayangi.
Seperti yang di rencanakan Aron sebelumnya, bahwa ia akan membalasnya. Membalas semuanya pada mertuanya. Dan Aron sudah melepaskan perusahaanya pada orang yang pernah menghancurkan kehidupan Manda dan dirinya. Yaitu orang tua mantan istrinya, meski mereka sudah ada di dalam penjara, tapi ia tidak mau saat lepas mereka akan balas dendam. Dan dengan terpaksa ia melepaskan perusahaan peninggalan orang tuanya itu ke tangan mereka. Hal itu juga tidak jadi sebuah penyesalan bagi Manda dan Aron.
Sebelumnya Aron berita pada Manda. Dan Manda mendukung semua keputusan Aron. Asalkan ia tidak menyesal kemudian hari. Ia sebenarnya ingin melihat Manda hidup bahagia, tapi meskipun dalam kesederhanaan mereka juga terlihat bahagia.
Dan sekarang Aron membawa Manda tinggal di Sydney di rumah yang sederhana tidak terlalu mewah, dan Aron juga menjalankan perusahaan yang sebanarnya sudah lama di rintis namun karena jarak yang jauh, ia tidak bisa setiap hari mengontrol anak perusahaan miliknya itu. Meski hidup dalam kesederhanaan mereka sangat bahagia seperti itu, karena sangat langka merasakan indahnya jadi suami istri yang saling membantu, dan bekerja sama dalam melakukan segala hal rumah tangga berdua. Dan hubungan mereka semakin hari semakin harmonis tanpa ada salah paham lagi di antara mereka berdua.
Sekarang Aron dan Manda berjuang lagi dari nol, untuk membangun perusahaannya yang baru ia jalankan lagi, meski tidak terlalu besar seperti perusahaannya sebelumnya. Dan Manda tahun depan setelah anaknya lahir juga akan masuk ke sebuah universitas di Sydney.
Tapi berbeda dengan Vino, Meski mereka sekarang sama-sama tinggal di Sydney, Vino jarang sekali menemui kakaknya, ya, dan apalagi menghubunginya , sama sekali tidak pernah, sejak kejadian beberapa bulan lalu Vino dan kakanya yang saling bertrngkar satu sama lain, mereka akhirmya putus kontak. Dan kasha juga tidak bisa di hubungi, entah pergi kemana dia. Mungkin karena kakaknya yang tidak memperbolehkan Vino menikah muda dengan Kesha, ya meskipun bukan hal itu yang di inginkan Aron, jika dia tahu sebanarnya Vino tidak mungkin kesal dengan kakanya.
Aron tidak mengizinkan menikah karena ia masih muda, dan juga belum punya pengalaman kerja sama sekali. Takutnya akan ada banyak hal yang akan ia lewati dalam rumah tangganya nanti. Vino juga gak tau kalau Aron tinggal di Sydney.
Ya, meskipun kini mereka hidup dalam kesederhanaan tanpa pembantu banyak seperti di rumahnya dulu, Manda tidak menyesalinya. Ia terkadang mencuci baju sendiri, memasak sendiri dan membantu menyiapkan semua kebutuhan Aron saat berangkat kerja, maupun pulang kerja. Ini jadi kesempatan dia untuk bisa memanjakan Aron, dan jadi istri yang lebih berguna untuk Aron. Manda melakukan itu dengan senang hati, tanpa mengeluh pada Aron.
Dan Aron juga seperti biasa masih tetap kontrol kondisinya di rumah sakit. Dan selalu rajin minum obat, tapi ia masih tetap sama menyembunyikan penyakitnya di depan Manda.
Manda berjalan masuk ke kamarnya dengan membawa satu cangkir kopi untuk Aron, Meletakkan di samping meja kecil ranjangnya.
“Syang kamu mau makan apa?”Tanya Manda berjalan menghampiri Aron yang duduk di ranjangnya.
Tanpa di suruh, Manda merasa Aron banyak pikiran dengan segera ia menghampirinya, memijat keningnya perlahan.
“Syang”ucap Aron, mendongak menatap ke arah Manda di belakangnya, dan hanya di balas dengan sebuah senyuman manis oleh Manda.
Senyum yang indah terpancar dari bibir tipisnya, membuat suasana hati Aron yang semulah gaduh, kini merasa kembali tenang. Ia sangat beruntung mendapatkan istri yang begitu perhatian padanya.
“Makasih ya syang”ucap Aron, menyentuh tangan kanan Manda.
“iya syang, biarkan aku memijat kening kamu biar lebih rileks”ucap Manda, ia dengan senang hati melakukan itu. Selesai memijat kening Aron, ia memijat pundak Aron dengan penuh perasaan.
“Sekarang diamlah, biar enggak terlalu pusing lagi, dan biar lebih nyaman. Aku kan pijat kamu. Setelah itu kita makan. Aku yang akan masakin buat kamu”gumam Manda.
“Kamu mau masakin aku apa syang?”Tanya Aron, memegang tangan Manda di pundaknya.
“Sesuatu pokoknya syang”gumam Manda mendekatkan wajahnya di samping pipi kiri Aron dari belakang.
“Jangan terlalu capek syang, lagian juga ada pembantu. Jadi gak usah maksain diri ya. Aku gak mau kamu terlalu capek syang”Ucap Aron, menoleh menatap Manda di sampingnya.
“ya, udah sekarang ayo kita masak bersama syang, tapi ingat kalau capek kamu istirahat, aku gak mau kamu pura-pura kuat nantinya. Kasihan baby kita”Aron memegang tangan Manda, beranjak berdiri memegang perut Manda yang sudah semakin membesar.
Usia kandungan Manda sekarang sudah 7 bulan, jadi ia gampang banget capek jika terlalu banyak bergerak. Dan apalagi sekarang ia juga fokus dengan ibu rumah tangga yang ia jalani, dan banyak tugas yang di kerjakan hingga menguras otaknya. Apalagi Manda tidak pernah bekerja keras sebelumnya, jadi itu yang membuat fisik Manda tak bisa menyesuaikan saat hamil.
Jemari Aron mengusap lembut pipi Manda, lalu mengecup keningnya.
“Makasih syang selalu ada buat aku”ucap Aron.
“Iya syang, aku akan selalu ada buat kamu, apapun yang terjadi. Jadi kamu gak usah khawatir lagi aku akan pergi di saat kamu terpuruk seperti ini.”ucap Manda tersenyum tipis menatap Aron.
---00—
“Syang stok makanan habis, besok kita beli lagi ya, ini tinggal pasta syang, kamu mau?”Tanya Manda.
“Aku apa-apa syang”gumam Aron, segera mengambil beberapa bahan untuk membuat pasta. “syang biar aku saja yang masak ya”ucap Aron.
“Udah aku saja syang”ucap manda
“Aku, kamu duduk saja jangan masak, kamu sudah capek bekerja seharian kan, sekarang biarkan aku masak untuk kamu”ucap Aron dengan nada tinggi, membuat manda bergidik takut
"Baiklah, syang. Jangan marah gitu"ucap Manda mengerutkan bibirnya.
"Lagian kamu itu selalu bikin aku kesal, jangan bantah apa yang aku katakan syang. Kamu sudah terlalu capek jadi jangan pulang malam ya syang"gumam Aron, mengusap kepala istrinya, yang terlihat cemberut menatap ke bawah.
"Jangan marah gitu aku yakut"ucap Manda polos.
"Maaf syang"ucap Aron, memeluk tubuh Manda.
"Sekarang kamu duduk ya syang, jangan banyak gerak lagi. Biarkan aku yang menuruti apa kata kamu. kamu duduk dan istirahat ya"ucap Aron, mengusap punggung Manda.
"Iya, syang"ucap Manda melepaskan pelukan Aron dan beranjak duduk di ruang makan, menunggu Aeon masak untuknya.
"Syang jangan lama-lama ya, aku lapar"ucap Manda.
"Iya syang"gumam Aeon yang segera buat susu untuk Manda. dan memasak pasta untuknya.
Tak butuh wkatu lama semua sudah siapa dan segera meletakkan di meja makan. "Ini buat kamu" ucap Aron, mengulurkan satu gelas susu pada Manda.
"Makasih syang"kamu cepat duduk sini. Kita makan berdua ya"ucap Manda.
"Iya, sama-sama syang."ucap Aron, duduk di depan Manda. dan menikmati makanan yang sudah di sajikan oleh Aron. Dia sudah susah payah kembuatkan Manda makanan, meski hanya makanan sederhana ia tidak protes dan lebih menikmati. Dengan saling menyuapi satu sama lain. Agar terlihat lebih mesra.