Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kenyataan yang belum terungkap


Manda hanya diam, ia merenung sesaat membayangkan saat ia bersama dengan Aron sebelumnya. Kenangan itu tak pernah ia lupakan, hal yang paling membahagiakan dalam hidupnya, bersama dengan orang yang ia sayang. Aron kini bahkan yang menggantikan kasih sayang orang tuanya dulu. Ia mendapatkan jati dirinya kembali setelah beberapa bulan tersiksa dengan penyakitnya dan dalam kehidupan Aron.


Manda tak melupakan semuanya, ia masih ingat dengan jelas apa yang selama ini mereka lalui bersama. "Aku butuh waktu untuk sendiri, biarkan aku pergi beberapa saat untuk memikirkan semuanya. Aku tidak pernah membinvimu atas semua yang kamu lakukan. Aku hanya kecewa denganmu."ucap Manda tanpa memandang ke arah Aron.


Aron memegang tangan Manda.


"Manda, jangan pernah meragukanku."Ucap Aron mencium lembut tangan Manda.


Manda terdiam, ia ingin menjerit sekuat tenaga, ingin rasanya marah namun apa boleh buat ia tidal bisa marah dengan Aron. Hatinya bimbang dengan apa yang harus ia lakukan nantinya.


"Aku tidak bisa marah denganmu, aku gak bisa"Gumam Manda beranjak pergi, menarik tangannya kembali dari genggaman Aron, Ia menteskan air matanya beranjak pergi.


"Manda"panggil Aron, memegang pergelangan tangan Manda. "Jangan pernah pergi dari rumah ini, kamu boleh mengurung dirimu di kamar selama beberapa hari. Dan aku tidak akan menemuimu sampai kamu benar-benar bisa percaya denganku. Jika kamu merasa menemukan jawaban temui aku. Tapi mungkin aku akan pergi untuk membuktikan semuanya padamu."ucap Aron menarik tangan Manda, memeluk tubuhnya dalam dekapan hangat tubuh Aron.


Aron mengusap lembut rambut Manda, di iringi dengan butiran air mata keluar dari mata mereka. Manda yang masih seegukan hanya diam, ia menerima pelukan Aron menghilangkan amarahnya sejenak.


Meski Manda belum bisa menerima kenyataan jika suaminya adalah pembunuh orang tuanya, mungkin jalan terbaik adalah menenangkan diri sejenak dari semua masalah. Bukannya lari dari kenyataan tapi ia ingin memikirkan keputusan yang terbaik untuk hubungan mereka berdua dan untuk anaknya nanti. Ia juga mencoba untuk menghilangkan rasa dendam yang dulu pernah membara atas korban pembunuhan keluarganya.


Dendam yang dulu menyiksanya, perlahan mulai hilang di selingi kehangatan kasih sayang dari Aron. Semua sekarang berubah menjadi hal yang apling mengecewakan dalam hidupnya.


"Manda beri aku waktu untuk mencari tahu semuanya, saat kita tidak bertemu beberapa hari nantinya, aku ingin memberi bukti padamu, aku janji akan mebawa siapa dalang oembunuh itu"gumam Aron, menyeka air mata Manda yang membasahi pipinya.


"Maaf"ucap Manda menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa minta maaf, semua salah aku. Jadi aku yang akan bertanggung jawab menyelesaikan semuanya." Ucap Aron mencoba tersenyum di depan Manda.


"Sekarang kamu istirahat, tetapi jangan bertindak bodoh seperti tadi. Aku gak mau kehilangan kalian berdua, kamu dan baby kita."ucap Aron mengusap lembut perut Manda.


Ia membungkukkan badanya sedikit, dan berbisik pada perut Manda. "Syang jaga mama ya, kamu juga harus tetap sehat di dalam. Gak boleh nakal"ucap Aron mencium lembut perut Manda sebagai tanda perpisahan.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Manda.


"Aku akan menyelidiki semuanya, Kamu di rumah gak perlu pergi kemana-mana. Kesha dan Vino akan jagain kamu di sini. Aku akan kembali saat aku sudah menemukan semua bukti itu."ucap Aron tersenyum tipis mengusap lembut rambut Manda, dan beranjak pergi. belum sempat melangkahkan kakinya keluar, ia menoleh ke belakang menatap Manda sekilas.


"Dan jangan lupa makan, jaga kesehatan untuk anak kita. Tunggu aku kembali lagi"ucap Aron, lalu menutup pintu kamar Manda.


Manda melangkah duduk ke ranjangnya. Ia memijat kepalanya yang sangat pusing. Manda tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Hatinya sudah perlahan merelakan kepergian orang tuanya. Namun di sisi lain ia tidak bisa terima Aron adalah pembunuh mereka. Sampai Aron mendapatkan bukti itu. Mungkin lebih baik ia sendiri merenung memikirkan semuanya.


"Aku berharap kamu bukan pelakunya"ucap Manda.


----000---


"Kak kamu mau kamana?" tanya Vino yang baru saja pulang dari makan berdua dengan Kesha.


"Iya, malam-malam gini kak Aron mau kemana?" saut Kesha.


Aron tersenyum, menepuk pundak Vino. "Aku minta tolong pada kalian, bantu aku jaga Manda ya."Ucap Aron yang langsung masuk dalam mobilnya. tanpa bicara lebih pada Vino dan Kesha.


"Kak, tunggu kamu mau kemana?" ucap Vino mengejar laju mobil Aron yang perlahan keluar dari halaman rumahnya. Aron tak membuka kaca mobilnya dan bergegas segera keluar dari halaman luas miliknya.


"Kak..."Teriak Vino yang sudah tak sanggup mengejar mobil kakaknya yang sudah jauh di depannya.


"Kemana dia, matanya memerah seolah habis terjadi sesuatu padanya. Apa dia dan Manda bertengkar lagi"ucap Vino, yang mencoba mengontrol napasnya yang amsih ngos-ngosan.


"Vin, gimana kemana kak Aron, apa dia ada masalah lagi dengan Manda."tanya Kesha menepuk pundak Vino.


"Aku gak tau, tapi matanya terlihat habis nangis. Lebih baik sekarang kita masuk ke dalam melihat kondisi manda. Dan tanya apa  yang sebenarnya terjadi dengan hubungan mereka"ucap Vino memegang bahu Kesha.


"Baiklah,"ucap Kesha, berlari masuk ke dalam rumahnya menuju ke kamar Manda. Mereka terlihat sangat khawatir dengan kondisi Manda. Baru kali ini juga Vino melihat Aron habis menangis dan matanya terlihat bengkak.


"Brakk...Manda!!" Teriak Kesha, membuka pintunya keras dan berlari masuk ke kamar Manda, ia melihat manda duduk merenung menutup ke dua matanya. Seakan terlalu banyak beban menganggu pikirannya sekarang. 


"Manda kamu kenapa? aku tadi melihat kak Aron pergi, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian? cerita apa masalah kamu sekarang?"Ucap Kesha yang langsung memberondong berbagai pertanyaan pada Manda.


Dan Vino hanya diam, ia melihat beberapa kertas yang berserakan di lantai. "Apa ini yang membuat mereka bertengkar"gumam Vino. Ia segera mengambilnya dan mulai membaca detail apa isi tulisan di kertas itu.


"Kasus ini?" ucap Vino melotot seketika. Ketika tahu apa yang ada di depannya itu.


"Sha, ku ingin sendiri sekarang"gumam Manda.


"Da, kenapa kamu marah dengan kak Aron"tanya Vino berjalan menghampiri Manda, berduri tepat di depan Manda.


"Maksud kamu?" tanya Manda bingung.


"Kasus ini aku tahu, dulu ajudan kak Aron yang melakukannya. Dan itu bukan suruhan kak Aron. Aku tidak tahu apa motifnya. Tapi karena kondisi kak Aron yang masih snagat labil dulu. Terkadang ia juga emosi. Membuat aku menyembubyikan semua ini pada kak Aron. Dan aku juga beri tahu polisi jangan menyelidiki kasus ini. Tepat dengan kejadian ini kak Aron memang membunuh orang tapi bukan orang yang ada di foto ini. Orang yang dibunuhnya adalah orang yang telah membunuh mamaku"ucap Vino menjelaskan detai pada Manda.


Manda terdiam, bernajak berdiri dengan tatapan tak menyangka. "Apa kamu bilang? Apa kamu tahu siapa yang di bunuh, Dia adalah orang tuaku, jika yang melakukan bukan Aron, kenapa kamu menyembunyikan dari Aron? dan kenapa kamu gak bilang padanya? Sekarang Aron pergi mencari bukti. Kalau dia kenapa-napa gimana."Bentak Manda keras memegang bahu Vino, mencengkramnya sangat erat.


"Manda tenang, Vino bisa jelaskan semuanya. Apa alasan dia sembunyikan itu semua"ucap Kesha memegang kedua bahu manda dari belakang, mencoba menenangkan hatinya.