
"Dimana aku?" tanya Manda dengan dirinya sendiri, yang baru terbangun dari tidurnya.
"Kenapa kepalau sakit sekali"lanjut Manda terus memegangi kepalanya yang terasa masih sangat pusing. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" gumamnya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, hingga ia tak sadarkan diri.
"Iya aku ingat, kemarin aku mabuk gara-gara minum satu gelas wine, tapi di mana Aron sekarang?"lanjutnya, ia membuka selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya menatap sekelilinya sejenak. kamar itu nampak sangat sepi, hanya ada dia di atas ranjang putih. Manda beranjak berdiri dari ranjangnya.
Manda bergegas masuk je dlaam kamar mandi, "Arin!" panggil Manda membuka kamar Mandi itu, nampak kos9ng tak ada siapapun di dalam. "Lantainya masib kering, berarti Aron belum masuk ke kamar mandi"Gumam Manda.
"Syang kamu di mana?" Teriak Manda berlari menuju balkom kamarmya.
"Aron kamu di mana? Kenapa kamu pergi" gumam Manda lirih.
Ia memutar matanya tidak ada Aron di balkon.
"Gak ada, di mana dia? Apa dia gak mau pulang denganku kemarin malam? Jadi dia benar-benar pergi,"gumam manda menundukkan kepalanya, dengan tangan menyangga tubuhnya di pagar balkon. Butiran air mata keluar dari mata indahnya hingga jatuh ke bawah.
Mand amemejamkan matanya, berharap Aeon akan selalu menemaninya. "Tetaplah disini, jangan pergi"gumam Manda lirih.
"Kenapa kamu pergi? kenapa?" Teriak Manda, meluapkan rasa kecewanya yang terus berkecamuk dalam hatinya.
"Aku sudah maafin kamu, aku tahu aku salah sudah menuduhmu. Tapi setidaknya kamu pergi membawaku, jangan tinggalkan aku di sini"Manda terus menggerutu dengan nada tinggi, membuka matanya lebar menatap ke depan, melihat luasnya taman di rumah Aron. Harum bunga taman di pagi hari menyeruak masuk dalam penciuamnnya, membuat suasana hati Manda yang semula kacau, perlahan mulai tenang.
Kreeekkk...
Suara pintu terbuka membuat Manda menoleh seketika,
"Syang kamu sudah sadar"Tanya Aron berjalan mendepati manda dengan membawa satu nampan makanan soup dan buah-buahan untuk Manda.
Manda yang semula tak bisa menahan amarahnya karena terus di bumbui rasa bersalah dalam dirinya. Ia kini tersenyum menatap wajah Aron masih ada di depannya. "Apa aku mimpi?"tanya Manda mencoba mencubit ke dua pipinya. "Aww sakit ternayat"ucap Manda merintih sakit. Air mata kebahagiaan terus menetes berjalan perlahan mendekati Aron yang meletakkan nampannya di ranjang Manda.
Aron tersenyum menatap istrinya itu, namun senyum sapa paginya perlahan pudar, menatap mata Manda yang terlihat sedih.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Aron menyeka air mata Manda yang membasahi pipinya.
"Kamu belum pergi"ucap Manda tepat di depan Aron.
"Syang aku gak bisa pergi jika melihat kondisi kamu seperti itu, tadi malam. Aku mengantar kamu pulang sampai ke rumah. Sebenarnya aku mau pergi tapi tanganmu mengggenggam erat pergelangan tanganku. Dan terus mengingau tidak mengizinkan ku pergi. Mendengar itu, ku yidak tega harus meninggalkan kamu dan anak kita."Ucap Aron memegang ke dua pipi Manda, jemarinya mengusap lembut pipi Manda.
Manda menatap ke arahnya, Ia tersenyum memeluk erat tubuh Aron meluapkan rasa gembira yang tak bisa ia tahankan lagi. "Manda kamu kenapa?" tanya Aron melepaskan pelukan Manda.
"Aku senang kamu tidak jadi pergi, aku berharap kamu tetap disini, temani aku dan anak kamu ini"ucap Manda.
"Iya syang, aku janji akan temani kamu. tidak akan berniat meninggalkan kamu lagi"ucap Aron mnegusap pipi Manda, lalu memeluk erat tubuhnya, mengusap punggungnya berkali-kali.merasakan hangatnya dekapan tubuh masing-asing dalam bakutan cinta yang berkorbar.
Aron melepaskan pelukan Manda. ia memenag ke dua pipi Manda tanpa balutan make up mahal seperti wanita lainnya.
"Sekarang kamu makan dulu, aku sudah masak soup buat kamu. Kamu harus makan, kamu tadi tahu perjuanganku bangun pagi hanya untuk siapain makan pagi buat kamu"ucap Aron, mengusap ubun kepala Manda.
"Iya"ucap Manda tersenyum lebar, ia tidak menyangka jika ini bukan mimpi, Aron masih di depannya, bersamanya, menemaninya lagi, dan terus menjaganya dan babynya.
"Syang kenapa kamu melamun?" tanya Aron menatap aneh wajah manda dari dekat hanya berjarak 2 jari dari hadapanya. "Aku masih belum menyangka jika kamu masih di sini"ucap Manda.
"Emangnya aku tega ninggalin kamu seperti ini, sekarang kamu duduk danmakan dulu"gumam Aron memapah tubuh Manda untuk duduk di ranjang.
Aron meraih satu mangkuk soup di nampak yang ia letakkan di aats ranjang. "Aku suapin kamu ya?" ucap Aron.
"Boleh"gumam Manda menganggukan kepalanya. Ia kini kembali Manja pada Aron seperti anak kecil.
"Buka mulutnya"Aron mulai menyuapkan satu sendok pertama soup itu ke dalam mulut Manda. .
"Kenapa syaang ekspresi wajah kamu kok gitu, masakanku gak enak ya?" tanya Aron meletakkan kembali mangkok soup di tangannya utu ke nampan.
"Aku jawab jujur atau bohong"tanya Manda menggoda.
"Terserah"ucap Aron tiba-tiba mulai kesal dengannya.
"Kenapa cemberut gitu syang?" tanya Manda mencubit hidung Aron, mencoba menggoda suaminya itu.
"Jangan cemberut lagi, enak kok masakan kamu"ucap Manda.
"Benaran?" tanya Aron mencoba memastikan, ia nenggeser duduknya agak ke depan lebih dekat dengan Manda.
"Iya syang, kamu sih keburu marah duluan, padahal setaip aku merasakan masakan kamu itu gak pernah bilangbgak enak kan. masakan kamu selalu enak syang. aku aja bingung kamu laki-laki tapi jago masak. Padahal kamu dulu terkenal sangat bengis dan kejam. Tapi punya sisi lembut juga saat masak" gumam Manda menatap wajah Aron yang hanya diam menatapi wajah cantiknya.
"Kamu jangan bohong, jujur aja syang gak apa-apa kok. Aku masak hanya asal-asalan tadi. Baru belajar tadi syang. Tapi kenapa kok enak ya? Padahal aku tadi lihat resep sayang aku gak pernah bikin soup ini sebelumnya"ucap Aron bingung.
"Berarti emang kamu bakat untuk jadi vhef syang"goda Manda.
"Jangan ngaco deh, masak aku lelaki yang di kenal sadis turun derajat jadi chef. Apa kata orang-orang syang"ucap Aron, mengusap rambut istrinya.
"Tapi kamu berbekat syang bener dehN aku aja yang belajar masak gak bisa semudah kamu langsung bisa. Kalau kamu gak mau jad chef juga gak apa-apa. Jadi aku nanti punya chef khusus sendiri di rumah. dari pada pesan makanan restauran mahal dan boros duit, pebih baik ngirit bikin makanan sendiri ala chef Aron"ucap Manda menggoda Aron.
" Istriku ini ernayat hemat juga ya, gak salah aku jadiin kamu istri pertamaku. Tapi bentar, Apa kamu bilang tadi syang? "ucap Aron menggelitiki pinggang Manda.
"Aku menawarkan jadi chef khusus untun tuan putri Manda"ucap manda menggoda.
"Awas ya kamu beraninya meny7ruh aku masak"ucap Aron, menggritik terus pinggang Manda.
"Syang geli "ucap Manda tertawa geli. "Salah sendiri berani menggodaku"jawab Aron terus menggelitik pinggang Manda.
"Syang udah, geli. Hahaha, syang udahan dong"ucap Manda tertawa geli, sampai ia mengeluarkan air mata.
Arin menyudahi candaannya.
"Kok nangis syang??" tanya Aron pada Manda.
Manda mengusap air mata dengan punggung tangannya. "Aku nangis gara-gara kamu syaang. Kalau aku jatuh di ranjang. bisa ketumpahan soup panas syang"ucap Manda.
"Hehe. Maaf deh, udah sekarang lanjut makan syang, aku suapin lagi atau makan sendiri"ucap Aron mengambil. Satu mangkok soup di nampan tadi.
"Aku makan sendiri saja"ucap Manda meraih soup di tangan Aron.
"Ya sudah, ku kupasin apel ya, sama jeruk"ucap Aron.
"Iya syang, ada apokat gak syang?" tanya Manda yang mulai menyantap sendok demi sendok soup di tangannya.
"Gak ada syang, kalau kamu mau aku akan belikan nanti"ucap Aron.
"Baiklah, cepat belikan aku apukat, anggur dan semangga ya. Tapi harus kamu snediri yang beli syang di pasar tradisional. Gak boleh menyuruh pembantu" Ucap Manda meletakkan mangkuk kosong di meja sampingnya.
Aron mendengar ucapan Manda melotot seketika. "Bagaimana bisa seorang Aron kepasar tradisioanal beli buah sendiri"ucap Aron tak menyangka ada saja permintaan istrinya itu.
"Itu yang di minta anak kamu syang, tapi besok pagi ya belinya. Aku mau besok pagi ada jus apukat di kasih susu. Dan buah semangka biwat siang hari. Dan buah anggur aku makan malam hari"ucap manda menjelaskan. seolah ia sudah jadwal makanan buah apa di hari berikutnya.
Aron mengehela napasnya, dengan terpaksa ia menuruti istrinya yang selalu minta aneh-aneh itu. Meski pengalaman pertama ia pergi ke pasar melakukan kontak tawar menawar langsung dengan pedagang. Padahal biasanya ia hanya terima beres apa yang ia inginkan.