Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
kelembutan Aron


Aron masih berdiri di balkon kamarnya menatap pemandangan indah yang masih bisa ia tatap hari ini. Entah kedepannya ia tak perdulikan itu. Kini hatinya mulai menemukan kebahagiaan baru yang sudah


lama ia nantikan. Dan dia berharap semoga ia bisa terus seperti ini tanpa rintangan lagi.


Kali ini pikirannya tentang Manda berhenti seketika. Ia teringat dengan fany, lelaki itu mulai memikirkan tentang sebuah perceraian pada Fany. Tak perduli lagi dengan perjodohan orang tuanya dulu, yang membuat ia harus menikah terpaksa bukan karena cinta.


" Maafin aku ma. Mungkin aku akan segera menceraikan Fany aku tidak bisa menjaga amanatmu lagi. Karena aku tak mau terus membohongi hatiku. Kali ini aku ingin Manda menjadi istri sahku dan mulai hidup baru"


Aron tersenyum tipis mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit.


" Dia wanita yang baik, aku yakin kamu juga akan suka" lanjut Aron.


Ia sudah menemukan kebahagiaan yang ia cari. Dan sudah tak mau lagi mencari kebahagiaan baru untuknya. Aron bergegas masuk ke dalam kamarnya. Duduk di ranjang menanti Manda keluar dari kamar Mandi.


Hingga hampir setangah jam menunggu ia yang sudah tak sabar lagi menunggu menghentak-hentakan kakinya ke lantai dna ke dua tangan di bibirnya.


Manda tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuatnya gelisah dan khawatir jadi satu. Lelaki itu Beranjak berdiri mengetuk pintu kamar Mandi berkali-kali.


" Ada apa? Teriak Manda dari dalam kamar Mandi.


" Gak papa" Arok yang semula khawatir kini semakin pudar, mendengar suara Manda di dalam. Pertanda di baik-baik saja, perasaan tak ingin kehilangan membuat ia terlalu khawatir.


***


Di balik kamar mandi. Manda sudah masih berendam di bathup. Ia terdiam di sana, kegundahan hatinya kali ini mengganngunya. Perasaan takut, ragu, jadi satu dalam sebuah perasaan hati.


Ia berpikir jika Aron memang tak sungguh serius padanya. Tetapi dalam hatinya percaya jika Aron benar-benar serius dengan ucapannya.  Dia sudah mulai berubah tak seperti Aron yang kejam, bengis, kaku bahkan seperti manusia es.


Namun kini perlahan semua sifat yang lalu perlahan hilang, membuat Manda semakin pusing.


" Apa yang harus aku lakukan nantinya" Gumam Manda beranjak dari dalam bathup meraih handuk di sampingnya, untuk menutupi tubuh mungilnya.


Ia berjalan ringan, menuju ke depan kaca menatap dirinya di balik kaca. " Apa aku pantas hidup bahagia" kata Manda menatap kaca di depannya, dengan menyentuh pipi kanan dan kirinya.


"Fany terlihat cantik, dan kenapa Aron lebih memilihku" cerocos Manda dalam dirinya sendiri. Ia terus bertanya-tanya pada dirinya. Suatu saat apa dia pantas bersanding dengan Aron dan hidup bahagia bersama.


Tapi entahlah, apa yang di lakukan dulu padanya, membuat ia takut itu akan terulang lagi. Bahkan ia ingin membalas kekejiaan yang pernah Aron lakukan padanya. Tapi ia mengurungkan niatnya dalam-dalam. Ketika tahu sifat lembut Aron yang meluluhkan hatinya, bahkan kini ia sangat memanjakannya.


Selesai menatap dirinya di depan kaca. Manda beranjak menuju ke pintu. Ia memutar gagang pintu berwarna perak itu. Dan perlahan membukanya. Tatapannya langsung tertuju pada Aron yang duduk dengan raut wajah gelisah. Bahkan ia terus menyentuh kepalanya.


Manda berjalan ringan duduk di sebelah Aron. " Apa kamu sakit ? " Tanya manda mencoba menyentuh dahinya yang terasa sangat panas.


Aron menyetuh tangan manda, " udah aku gak papa jangan khawatir" Gumam Aron memegang tangan kanan Manda, sebuah kecupan mendarat di bibir Manda membuat wanita di depannya itu melebarkan matanya seketika.


" Kamu istriku yang istimewa" Ucap Aron dengan senyum tipis. Jantung Manda seakan mau keluar. Baru kali ini Aron tersenyum di depannya. Dulu ia sangat dingin dan kaku bahkan senyum sedikutpun tak keluar dari raut wajahnya.


Mereka saling memandang, tatapan mereka terkunci dalam satu perasaan dan hati yang sama. Jantungnya kini terasa sudah mau copot di buatnya.


Manda terdiam mengusap lembut wajah suaminya itu, lalu mengacak-acak rambut Aron. " Udah cepat mandi keburu siang" Ucap Manda menarik tangan Aron menuju kamar mandi.


Solah ia tak ada lagi rasa takut yang menyelimuti hatinya. Kebahagiaan Manda kini terasa sangat lepas, seolah senyumpannya sudah kembali lagi seperti dulu. Namun kini berbeda ia hidup dengan suaminya bukan orang tuanya lagi.


" kamu mau ikut mandi lagi gak?" Tanya Aron dengan kedipan menggoda. Dan tangan kiri bersandar menyangga tubuhnya di depan pintu.


" Apaan sih ! Aku sudah mandi " Manda merasa snagat malu, ia mendorong pelan punggung Aron masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup kembali.


Manda membalikkan badan tersenyum tipis dengan tangan memegang dadanya.


Kebahagiaan masih terpancar di wajahnya. Jantungnya berdegup sangat kencang kali ini. Benar-benar membuatnya sangat gugup berhadapan dengan Aron secara langsung.


" Sepertinya aku benar-benar memendam rasa dengannya" gumam Manda berjalan menuju ke lemari. Dengan hati yang masih berbunga-bunga. Kali ini ia ingin tampil cantik saat berjalan dnegannya nanti. Apalagi ini pertama kalinya Aron mengajak Manda ke perusahaan miliknya.


" Lebih baik pakai gaun atau berpakaian blazer" Manda nampak menimang nimang rencananya. Ia membayangkan jika dia memakai blazer.


" ah.. tidak..tidak" Ucapnya menggelengkan kepalanya. Seraya dalam bayangannya ia tak pantas memakai blazer seperti ibu-ibu saja.


Tanpa pikir panjang lagi. Ia segera membuka lemarinya, lalu memilih bebegai gaun yang cocok untuknya. Ia menggeser-geser gantungan ke kiri, mengolak alik menatap detail seisi lemari. Sepertinya ini cocok.


Manda meraih sebuah gaun dengan panjang selutut berwarna pink. Ia tak mau berpakaian formar seperti yang lainnya di kantor. Manda ingin tampil berbeda seperti gadis remaja pada umumnya. Ia tak mau jadi orang lain yang tak sejalan dengannya.


Manda tak perduli dengan omongan orang nantinya. Meskipun banyak netizen yang suka nyinyir. Ia tak perduli ini jalannya, dan ini kehidupannya. Orang lain tak merasakan apa yang ia alami.


Tak lama Aron keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah. Ia berjalan ringan dengan tubuh berbelut handuk, menuju ke depan kaca menghampiri Manda.


Manda menatap kagum, seakan matanya berbinar melihat tubuh kekar Aron yang berbentuk dari pantulan cermin di depannya.


Aron melemparkan handuk pada Manda, hingga jatuh tepat di wajahnya. Seketika Manda terkejut membalikkan badannya. Ia meraih handuk di wajahnya dengan dengusan nafas kasar menatap Aron.


" Keringkan rambutku" Pungkas Aron. Duduk di ranjang seakan memberi kode padanya agar cepat mengeringkan rambutnya.


Manda segera mengusap lembut rambutnya agar cepat kering, dengan handuk kecil yang tadi di lempar Aron ke arahnya.


" Kenapa kamu ajak aku ke kantormu" Tanya Manda dengan tangan masih mengusap lembut rambut Aron


Aron memegang tangan Manda di kepalanya. Ia menodongakkan kepalanya menatap wanita itu di sampingnya. Dengan senyum terpancar dari raut wajah Aron.


" Aku ingin mengenalkan pada semua pegawaiku, jika kamu adalah istriku" Jawab Aron. Dengan jemari menyentuh pipi mulus Manda yang sudah di balut make up tipis.


Wajahnya kini nampak memerah seperti kepiting rebus. Sentuhan lembut Aron membuatnya seakan tak bisa bernafas lega.