
Di sebuah ruangan rumah sakit Manda mulai perlahan membuka matanya. Pandangannya tertuju langsung pada sosok lelaki di sampingnya yang sekarang menemani dia. Duduk di kursi samping ranjangnya dengan tangan terus memegang jemari jemari lentik manda yang masih lemas.
" Vino??"
Sebuah senyuman manis menyapa Manda saat dia mulai membuka matanya. Manda mencoba memaksa dirinya untuk duduk meskipun dia sangat kesusahan. Dengan sigap Vino membantu memopang Manda perlahan duduk di ranjang.
" kamu jangan terlalu sering bergerak" pungkas Vino memegang erat tangan Manda. Sebuah pegangan erat tak berarti bagi Manda ia langsung memeluk tubuh Vino meluapkan semua kegundahan dan ketakutan yang menjalar dalam hati dan tubuhnya. Ingin sekali ia menceritakan semua masalah dan semua unek unek dalam fikirannya agar tidak membawa beban bagi fikirannya saat ini. Namun ia masih belum bisa meluapkan semua masalahnya pada orang lain.
Vino terdiam menerima pelukan Manda, ia membelai lembut rambut panjang Manda mencoba menenangkan hati Manda. Namun bukan karena cinta ia menerima sebuah pelukan tak terduga itu. hanyalah merasa kasihan padanya. Dan kakaknya yang menyuruh dia untuk menjaga Manda sementara saat dia pergi ke kantor karena urusan yang sangat penting.
Vino juga tidak tahu urusan apa yang di bilang kakanya. Dia juga tidak mau tahu semua urusan kakaknya karena memang itu privasi bagi kakaknya. Tapi dia juga harus pulang sekolah lebih awal dan menemani Manda di rumah sakit.
" Kamu kenapa nangis??" Vino perlahan melepaskan pelukan Manda, mengusap air mata yang mmbasahi pipinya.
" Senyum dong, kamu pasti kuat hadapi semua masalah kamu. Meskipun aku tidak tahu apa yang membebani fikiran kamu tapi aku yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya" manda mencoba tersenyum tipis menyeka air mata dengan punggung tangannya.
" Makasih, hanya kamu teman aku sekarang" pungkas Manda yang mulai muncul senyum merekah dari bibir manisnya.
" Tapi kalau memang kamu teman aku kenapa gak cerita apa masalah kamu" Ucap Vino memegang tangan kiri Manda dengan ke dua tangannya.
" Aku akan cerita semuanya tapi gak sekarang, nanti saat aku sudah tenang" Batin Manda menatap diam Vino di depannya.
Melihat Manda hanya terdiam Aron seakan tahu fikirannya. " Baiklah jika kamu tidak mau cerita".
Manda mulai sadar jika Aron tidak ada di rungan itu. Dia mulai gelisah kenapa Aron tidak menjenguknya. Atau memang benar jika dia hanyalah simpanan yang tak berharga. Jika sudah puas maka akan di buang begitu saja. Manda terus melirik sekelilingnya. Terlihat di meja kecil dekat ranjang. Ada beberapa ranjang buah dan sepaket bunga serta Boneka Doraemon kecil bertuliskan TERSENYUM LAH.
Manda langsung senyum mendadak melihat lucunya boneka itu. " Apa semua ini kamu yang siapin" tanya Manda mencoba meraih boneka Doraemon itu.
" entahlah siapa yang menaruh semua, tadi aku hanya bawa buah. Dan tidak lupa ini dia..." Vino mengeluarkan serangakai bunga lily yang begitu indah.
" Ini untukku" Manda tersenyum meraih bunga pemberian Vino dan meletakkan kembaki boneka entah dari siapa itu.
" Iya pasti untuk siapa lagi kalau bukan untuk gadis cantik di depanku" pungkas Vino mencoba menggoda Manda. dan dia ingin melihat Manda tersenyum lagi.
Sebuah ponsel berbunyi di balik saku baju Vino.
Dengan segera, Vino membuka ponselnya dia tersenyum melihat siapa yang telfon itu. Seorang yang dia kenal yaitu kekasihnya. Vino langsung tanpa menunda lagi segera mengangkat telfon kekasihnya itu.
" Vin...?"
" iya sayang"
" ada kabar gembira jika aku akan balik lagi kota Z Kamu tunggu aku di sana ya aku sudah tak sabar bertemu denganmu".
" Benarkah?? Kapan kamu akan pulang?"
Manda terdiam seketika mendengar ucapan Vino dengan kekasihnya dia benar benar merasa ingin sekali marah. Namun manda tak berhak untuk marah. dia bukan siapa siapa bagi Vino dan yang jauh di sana adalah pacar Vino.
Manda mulai meletakkan kembali bunga lily di meja dekat bunga mawar entah pemberian dari siapa.
" rahasia, aku ingin kasih kejutan buwat kamu nantinya" Kekasih Vino tiba tiba memutuskan telfonnya.
" Ya di matiin " Batin Vino terlihat sangat kesal. Belum juga selesai berbicara pada kekasihnya udah buru-buru di matiin gitu aja.
" Apa udah gak sayang lagi dia" Vino terus berdecak kesal gak jelas. Tanpa perdulikan Manda lagi yang mulai membaringkan badannya lagi.
Dia ingin menutup rapat telinga dan matanya tidak mau mendengar kenyataan dan melihat hal menyakitkan di depannya nanti. Dia mulai memejamkan matanya pura pura untuk tidur.
" Manda?? Apa kamu sudah tidur" Vino mencoba melihat wajah Manda yang berbaring ke kanan.
Vino perlahan berjalan mengendap endap dia takut jika Manda tahu dia keluar. Ia membuka pintu perlahan , lalu menutupnya kembali. Melirik sekilas Manda dari balik kaca kecil di pintu yang tembus pandang langsung ke arah Manda.
" Sepertinya dia benar benar sudah tidur" Batin Vino segera menghubungi kakaknya.
" Kak??"
" Ada apa ??"
" Manda sekarang sudah sadar, tapi sepertinya dia masih kecapek'an jadi tidur lagi dia"
" Baiklah aku akan segera kesana, kamu jangan kemana mana dulu tetap di sana tunggu sampai aku datang" Aron mematikan ponselnya bergegas pergi menemui Manda.
#Aron POV
" Tuan ini berkas yang tuan cari" Sambung seorang Assistennya dengan tatapan ingin menerkam tubuh Aron dalam pelukannya.
" Baiklah letakkan, kamu cepat pergi" Aron nampak dingin dan cuek pada setiap wanita.
Sebenarnya sudah lama Assistennya itu memendam rasa dengan Aron meskipun Aron tekenal sadis bahkan dia tak perduli itu semua. Dia selalu melihat Aron dari jauh tanpa berani mendekatinya secara langsung. Kini dia mulai mengumpulkan semua keberaniannya untuk mendekati Aron. Dia tahu jika Aron akan menikahi seorang gadis kecil dalam minggu ini.
" Tuan..?"
" ada apa?" Aron tak memandang sedikitpun Assistennya bernama Mike itu. Ia masih Fokus membaca dengan teliti berkas tentang kehidupan Manda dan masa lalu Manda.
" Tuan mau minum apa?" Mike memberanikan diri berjalan mendekati Aron .
" gak usah bentar lagi aku akan pergi" Pungkas Aron masih terlihat acuh tak acuh pada Mike.
" oh.. baiklah" Mike menggenggam rok pendeknya menghilangkan rasa takut dan gemetar pada tubuhnya. Dia benar benar sudah gila berani mendekati Aron yang tak pernah sedikitpun tertarik dengannya.
Mike menghela nafas panjangnya mengumpulkan semua keberaniannya untuk lebih berani lagi.
Mike bertindak bodoh dia melepas semua helaian benang yang menempel di tubuhnya agar Aron sekali saja melirik dia.
Dengan sangat percaya diri Mike berjalan mendekati Aron memeluk tubuhnya dari belakang dan menyentuh dadanya dengan jemari jemari lentiknya mencoba menggoda Aron.
" Apa yang kamu lakukan?" Aron terlihat mulai sangat marah wajahnya memerah seketika. Tatapanya sangat tajam bahkan ingin menerkamnya. Namun dia tahu batas Aron hanya menepis tangan Mike di tubuhnya. Ia beranjak berdiri membawa dokumen itu.
" Tuan jangan pergi" Mike memeluk Aron dari belakang. Semua tubuhnya menempel di punggung Aron dengan di selingi air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya yang terbalut make up mahal.
" aku tidak tertarik denganmu maupun tubuhmu" Aron menarik kasar tangan Mike dan melepar tubuhnya ke lantai.
" jangan pernah tunjukan wajah kamu lagi di sini, meskipun kamu berdiri di depan ku tanpa sehelai kain pun aku tak perduli" Aron terlihat sangat marah dia berkata dengan menunjuk nunjuk wajah Mike.
Tak lama seorang masuk membuka kantornya. " Tuan ada apa" tanya seorang Manajer di sana.
" Urus dia kalau kamu memang mau bawa dia tidur denganmu. Aku tak sudi lihat tubuhnya yang murahan itu" Aron tak sekalipun melirik ke arah Mike yang masih
Menangis tersedu di belakang. Dia mencoba menutupi tubuhnya dengan tangannya . Benar hal gila yang di lakukan Mike agar Aron mau menyentuhnya.
Namun itu jadi hal keberuntungan bagi seorang manajer itu. Dia bisa mendapatkan tubuh mungil Mike.
" Baik tuan"
" Aron bergegas pergi dengan langkah sangat cepat. Dia sudah benar benar telat untuk menjenguk Manda di rumah sakit. Tanpa perdulikan mereka yang masih di dalam ruangannya ia berjalan keluar sendiri. Langkahnya semakin cepat menuju ke sebuah mobil yang sudah terparkir di depan kantornya.