Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 239


Vino segera pergi dari restauran itu.


“Kamu mau kemana?” tanya Kesha, menyandarkan kepalanya di


bahu Vino.


“Mau pulang, emangnya kamu mau kemana lagi.” Ucap Vino,


melirik sekilas ke arah Kesha yang terlihat sangat ,manja dengannya.


Sha, aku suka jika kamu bisa seperti  ini terus, rasanya aku gak mau jauh darimu.


Aku ingin sellau bersama kamu, merasakan sifat manja kamu. Yang membuat aku


merasa sangat nyaman. Aku suka sifat kamu yang seperti ini Sha. Semoga aku dan


kamu bisa seperti ini terus. Batin Vino, mengusap beberapa detail  ujung kepala Kesha, dan fokus kembali


mengemudi mobilnya.


“Oya, Vin. Besok kamu ikut aku ya!!” ucap Kesha, duduk tegap


ke tempatnya semula, melirik ke arah Vino yang  masih tetap fokus dengan jalan di depannya.


“Emangnya kamu besok mau kemana?” tanya Vino.


“Sudah gak sah banyak tanya deh. Besok kamu tahu pergi


kemana. Pokoknya, aku mau kamu stay di depan rumah aku jam delapan pagi. Kita ajak Duke dan Lia juga. Agar mereka


tidak ganggu Manda yang sibuk ngurusin anak baru mereka” ucap Kesha.


“Tapi kalaumereka ikut, kita gak bisa mesra-mesraan dong”


ucap Vino, menggoda.


Kesha menguntupkan bibirnya beberapa senti, dengan ke dua


alis mengerut


“Emangnya kita pergi mau pacarana” ucap Kesha, tersenyum


tipis.


“Iya, siapa tahu saja. Kamu mau pacaran dengan aku sekarang.


Gimana kalau kita baikan lagi seperti dulu’ ucap Vino, seketika membuat Kesha


semakin tak bisa menahan tawanya.


“Jadi, sekarang kamu nembak aku nih, ceritanya.” Ucap Kesha


menggoda.


“Menurut kamu gimana?” tanya Vino, mencolek pipi lembut


Kesha.


Kesha menarik bibirnya miring ke kanan dan ke kiri,


bergantian. Menimang-nimang apa yang di katakan Vino, dengan jaro telunjuk dan


jempolnya menggoso-gosok pelan dagunya.


“Emm.. Gimana ya, sepertinya, aku pikir-pikir dulu ya, lebih


baiknya gimana nanti” gumam Kesha, seketika membuat Vino mengerutkan bibirnya.


Kecewa dengan jawaban yang di berikan Kesha untuknya.


Kesha yang melihat Vino, dengan wajah nampak muram,


tersenyum tipis. “Kenapa kamu malah tersenyum gitu?” tanya Vino kesal.


“Lagian kamu itu lucu!!” ucap Kesha yang masih tidak berheti


tersenyum.


“Lucu gimana?” tanya Vino.


“Wajah kamu seperti anal kecil yang minta permen tapi gak di


beliin” vanda Kesha.


“Iya, minta permen bentuk hati tapi gak dapat-dapat” goda


Vino, seketika membuat Kesah terdiam. Mentap ke arah Vino.


“Kamu, selallu ya. Bisa saja kalau kamu merayuku”


“Aku gak merayu kamu, tapi itu kenyataan. Jika aku memang


susah banget dapatin hati kamu lagi”


“Ya, kalau kamu minta hati aku, terus aku pakai hati siapa


dong?” canda Vina.


“Kamu pakai hatiku, biar kamu tahu gimana rasanya jatuh


cinta tulus tapi gak di hargai. Gmana rasanya berjuang tapi gak di hargai” ucap


Vino, meraih tangan Kesha di pahanya. Ia menggeggam erat tangan Kesha dengan


salah satu tangannya, fokus mengemudi mobilnya.


“Sha, apa kamu tahu. Selama ini aku menderita saat kamu


benar-benar jauh dariku. Aku merasa gak ada harapan lagi untuk melanjutkan


hidup. Tapi aku sadar saat aku melihat kamu lagi di  bus waktu itu wajah kamu yang nampak sangat


ceria. Padahal kamu punya beban kehidupan yang sangat berat. Kamu mampu


menjalani semuanya, Aku benar-benar salut dengan kamu.” Ucap Vino, melirik ke


arah Kesha sekilas, lalu memandang ke jalan di depannya.


Vino yang fokus dengan jalan di depannya, ia tidak sadar


jiak Kesha sudah tertidur. “Sha, kenapa kamu diam?’ tyanya Vino, melirik


sekilas ke arah Kesha.


“Yaww... Ternyata dia sudah tidur” gumam Vino, tersenyum


tipis, dengan tangan kiri mencoba mengusap lembut pipi Kesha dengan jemari-jemarinya.


Kamu sangat cantik Sha, aku merasa beruntung bisa bersama


dengan wnaita sebiak kamu, secantik kamu. Dan wanita hebat yang bisa membuat


hatiku benar-benar takhluk padamu. Pikir Vino.


Kesha. Vino sengagaja tidak membangunkan Kesha, Ia mengangkat tubuh Kesha ala bridal style, berjalan menuju ke depan rumahnya.


“Permisi tante” ucap Vino dengan suara agak keras. Ia mau


mengetuk pintu tapi tangannya gak bisa.


“Iya, siapa?” mama Kesha, berjalan cepat membuka pintu


rumahnya.


“Ehh... Vino, Kesha ketiduran laginya. Kebiasaan banget dia”


ucap mamanya, yang hanya bisa menggelengkan keplanya. Saat Kesha tidur, memang


sangat pulas meski tangannya di tarik-pun ia tidak kunjung juga bangun.


“Iya tante. Saya boleh antarkan kesha ke kamrnya tante?”


tanya Vino, dengan nada sopan pada mama Kesha, calon mertuanya nanti.


“Boleh, udah cepat bawa dia masuk ke kamarnya. Dan nanti


jangan lupa ya, Vin. Nyalakan ac kamarnya, ia akan bangun jika ac kamarnya


tidak menyala.” Ucap mamanya mengingatkan Vino.


“Iya, tante.”


Vino segera menaiki anak tangga, berjalan ringan menuju ke


kamar Kesha yang  memang berada di lantai


dua. Vino, mencoba membuka pintu kamar kesha, sebisa mungkin dengan tanganya


yang masih membawa beban berat tubuh Kesha.


Saat pintu mulai terbuka, ia segera masuk dan membaringkan


tubuh Vina di ranjangnya, menutupi separuh tubuh Kesha dengan selimut tebal


milik wanita di depannya itu. Vino tidak langsung pergi, ia melihat Kesha saat


tertidur, bibir tipisnya, dengan wana merah muda alami itu sangat, menggoda


dirinya. Vino membelai lembut wajah Kesha dengan jemarinya, menyilakan helaian


rambut tipis yang, menutupi dahinya.


Kesha, kamu itu bagaikan sebuah bunga, yang harus tetap di


rawat, di jaga, dan selalu d sirami dengan binih-bnih cinta. agar bunga itu


bisa tumbuh dengan sempurna dan indah. Mula sekarang, aku yang akan menjadi


petani bunga itu, aku yang akan selalu merawat kamu. Menjaga kamu sampai akhir


aku menutup mata nanti. Gumam Vino, dengan jemari masih mengusap lembut wajah


Kesha. Ia tidak berhenti memandang Kesha yang tertidur pulas di ats ranjang


empuk miliknya.


Vino, mengecup bibir Kesha lebut. Lalu mengecup keninganya. “Selamat


malam, Sha. Semoga kamu mimpi indah, dan selalu mimpi tentang kisah cinta, kebahagiaan


kita yang sudah ada di depan mata.”


Vino segera berdiri, mengambil remot ac-nya. Ia segea


mendinginkan ac-nya. Dan bergegas pergi meninggalkan Kesha terbaring sendiri di


kamarnya.


Pria itu, menutup pintunya pelan-pelan agar Kesha tidak


terbangun dari tidurnya.


“Vino, kamu langsung pulang” tanya mama Kesha yang baru saja


berjalan menaiki anak tangga.


“Iya, tante. Aku tadi bawa barang-barang aku. Buat pindah


satu rumah dengan kak Aron.”


OO.. ya suah, besok tante akan bantu kamu beres-beres”


“Gak usah tante” ucap Vino yang langsung menolak bantuan


dari mama Kesha.


“Ya, sudah.. Biar Kesha besok yang bantu kamu. Sekarang kamu


pulanglah. Nanti kak kamu khawatir”


“iya , tante. Kau pulang dulu” Vino bergegas pergi dari


rumah Kesha ,membawa mobilnya dan masuk ke halaman rumah Aron.


Dengan raut wajah penuh dnegan kebahagiaan, Vino berjalan


masuk dengan bibir tak berhenti bernyanyi tanpa suara lagi. Memutar-mutar kunci


mobilnya dengan telunjuk tanganya.


Terlihat Aron berdiri di ruang tamu, dan sepertinya dia baru


saja pulang kerja.


“Vin, kamu baru pulang. Dari mana saja kamu? Tanya Aron seakan


terlihat tegas.


“Pergi dengan Kesha kak,” ucap Vino dengan bangganya. “terus


gimana, kamu bisa dapatkan hati nya lagi gak?” tanya Aton memastikan.


Vino berjalan mendekati Aron, menepuk-nepuk bahunya, sambil


berbisik. “Sebentar lagi adik kakak ini akan menikah” bisik Vino dengan bangganya.


Ia melangkahkan kakinya pergi menuju kamar barunya, yang memang sudah ia


tempati dua hari ini.


Vino memang tidak mudah menyerah jika memamg sudah


benar-benar jatuh cinta. Aku suka semangatnya. Gumam Aron, berjalan masuk ke


dalam kamarnya.