
Vino dan kesha bergegas turun menemui Vina yang sudah
menunguunya di ruang keluarga.
Vino tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap ke belakang
ke arah Kesha yang dari tadi diam, seakan memang ia cemburu dengannya saat
ingin menemui Vina.
“Syang!!” panggil, mesra Vino dengan talapak tangan menyentuh pipi kanan Kesha
lembut.
“Kenapa kamu cemberut, katanya gak cemburu.” Ucap Vino,
memelankan nadanya, ia tidakmau membuat Kesha bertambah emosi nantinya.
“Siapa yang cemberut aku hanya kesha dengan laki-laki yang
plin-plan nantinya. Soal perasaan cinta dan hatinya.” Sindir Kesha kesal.
Vino tersenyum tipis. “ gimana bisa kamu berbicara seperti
itu, aku gak akan plin-plan soal persaan di hati kau hanya kamu. Udah deh,
sekarang jalan dan ikut aku, percaua sama aku, aku gaka kan menyakiti kamu
lagi, Sha.” Ucap Vino, memegang lengak Kesha, mencoba menuntunya menuruni anak
tangga.
“Bentar!! Aku gak pervaya dengan kamu,” ucap Kesha, yang
menghentikan langkahnya lagi.
Vino, menarik napasnya beberapa kali, ia mencoba untuk tetap
bersabar menghadapi Kesha yang membuat ia benar-benar menahan amarahnya. “Apa
dari kemarin kurang apa yang aku bilang padamu?” tanya Vino.
“Gak gak mau hanya sebatas kata-kata, buktikan!!” ucap Kesha
tegas.
“Baiklah!! Man tangan kamu?” ucap Vino.
“Buat apa?”
“Vino, meraih tangan Kesha, meletakkan telapa tangannya di
atas telapak tanagn Kesha. Perlahan memasukan jemarinya di sela-sela jatri
Kesha. “Jangan lepaskan, aku ingin kamu genggam tangan aku terus, sampai Vina
pulang. Biar kamu tahu, jika aku dan Vina tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku
juga mau bicara dengan kamu. Saat Vina sudah pulang nantinya. Tapi kamu harus
janji, kamu gak boleh marah, dan kesal. Karena vIna sekarang lagi dalam suasana
sedih.” Ucap Vino.
Kesha mentap ke arahnya, ia melihat wajah Vino yang memang
tulus dengannya. Tapi ia ingin buktika lebih lagi, Kesha ingin tahu gimana cara
dia perlakukan dirinya nanti. Sebelum menikah.
“Kok, kamu tahu jika Vina dalam suasana sedih,” tanya Kesah,
sambil berjalan beriringan dengan alunan hentakkan kaki yang sama.
“Entar kamujga akan tahu” ucap Vino, menariknya duduk di
sofa, sampingnya.
“Kenapa kamu lama?” tanya Aron pada Vina.
“Lagi nenangin si bawel ini, yang gak mau katanyaberteu
Vina. Karena dia itu sebenarnya emburu denganku. Ia takuk kalau aku suka dengan
Vina. Padahal aku gak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Ya gak Vin” ucap
Vino, panjang lebar, membuat Kesha yang merasa malu, ia menvubit pinggung Vino.
“Sakit” bisi Vino.
“makanya, jangan bilang yang tidak-tidak” ucap Kesha.
“Iya, iya” jawab Vino.
```
“Sha, kamu jangan cemburu dengan Vino, dia itu hanya suka
dengan kamu. Aku memang dulu pernah suka dengannya. Tapi itu dulu, dan perasaan
itu sekarang berubah. Saat aku sadar jika Vino masih tetap mencintai mantanya.
Dan aku gak mau menganggu hubungan kalian.” Ucap Vina, tersenyum tipis.
“Aku tahu semuanya” ucap Kesah datar.
“Iya, kalau kamu tahu kenapa kamu cemburu?”tanya Vino,
memastikan.
“Karena kamu pernah nyakiti aku” ucap Kesha, membuat Vino
terdiam seketika, menean ludahnya. Dan menutup mulutnya rapat, dari pada ia
berbicara namun selalu tidak di hargai oleh kesha. Lebih baik diam, dan
mendengarkan dari pada harus banyak bicara tapi ujunganya lansgung menusuk ke
hati. Pikir Vino.
“Aku ke sini, hanya untuk pamit pada kalain, jika aku akan
pergi. Dan Kesha, segalah menikah dengan Vino. Dia itu tulus padamu,
sangat-sangat tulus. Tidak ada laki-laki yang seperti dia, dari pada kamu
dengan Albert, dia laki-laki play boy. Yang tidak pernah tanggung jawab dengan
apayang ia lakukan dengan pacar-pacarnya.”
“Apa kamu juga kenal Albert?” tanya Kesha.
“Aku kenal dia, sangat kenal dia. Sangat-sangat kenan
dengannya. Tidak hanya satu kempus dengannya. Aku juga pernah dekat dengannya.”
Ucap Vina, “Dia itu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan selalu lari
dari kenyataan. aku gak mau terjerumus dengan rayuan tipu daya dirinya” ucap Vina,
seolah meluapkan amarah ya yang terpendam.
“Sha, percayalah, Vinon itu memang yang terbaik buat kamu.
“Ya, sudah. Aku mau oergi dulu sekarang. Aku gak mau ganggu
kalian lagi.” Ucap Vina beranjak berdiri.
“Kamu mau pulang sekarang?” tanya manda pada temannyua itu.
“Iya, da aku ingin pulang sekarag. Dan menyiapkan semua
barang-barang aku” ucap Vina.
“Apa kamu benar akan pergi ke paris? Tanya Vino.
“Iya, Vin.” Ucap Vina .
“Baiklah, kalau gitu hati-hati. Aku antarkan kamu sampai ke
depan.” Ucap Manda sambil gendong anaknya.
Aron dan yang lainya, beranjak berdiri mengantar Vina sampai
ke depan rumahmya. Ia merasa bersalah terhadap Vina. Deangan semua rencananya
untuk menyatukan Albert dan Vina. Ternyata berujung sakit hati terhadap Vina.
“Vin, kalau kamu nanti sudah samoaiu di paris kamu hubungi
aku ya,,” ucap Manda.
“Apa kamu mau ke sana juga?” tanya Aron, melirik ke arah
Manda. Denga tangan emndekap anaknya brandon
“Anak kita masih kecil syang, jadi kita harus tetap di sini
saja sampai anak kita sudah satu tahun. Baru kita jalan-jalan lagi. Sekalain
ajak Duke dan Lia. Mereka juga tidak pernah sama sekali jalan-jalan ke luar
negeri.” Ucap Manda.
“Baiklah, aklu nurut saja sama kamu.” Ucap Aron, emngusap
ujung kepala Mnada le,nut.
“Kalau nanti kalain jalan-jalan ke paris, kalain harus
mampir ke tempat tinggal aku yang baru ya, aku pasti akan menyambut kalian
dengan baik. Dan bukannya kalian dulu tinggal Di London.”
“Iya, rencana nanti kalau Duke dan Lia sudah dewasa, aku mau
tinngal lagi di sana. Dan kamu cepatlah menikah, agar kamu bisa bahagian nanti,
apalagi kalau sudah punya anak. Keluarga itu terasa sangat lengkap” sindir
Manda, dengan senyum menggoda, ia menepuk bahu Vina.
“Iya, doakan saja, biar aku bisa nyusul kalian. Dan punya
anak banyak seperti kalain. Pati rumah rame.” Canda Vina, dengan senyumnya.
Vino yang berdiri di samping Kesha, dengan tangan yang masih
tetap saling bepragnagn seakan memang tidak mau saling jauh satu sama lain.
Vino mengusap ujuk kepala Kesha dengan tangan sedikit mengacak-acak rambut
Kesha.
“Itu dengar apa kata Manda, segera mneikah. Biar punya
keluarga lengakap dan bahagia” ucap Vino, mengusap hidung Kesah dngan ujung
jari telunjuknya.
Dengan cepatt kesha menepis tangan Vino. “Apaan sih Vino,
menikah bisa kapan saja, asalakn hati sudah siap” ucap Kesah, mentap ke samping
melihat jelas wajah Vino sangat dekat dengannya, mereka saling memandang dengan
senyum tipis terpaut dari bibir mereka berdua.
“Jangan menatapku seperti itu” ucap kesha, menyentuh
hidungnya dengan tekunjuk tangannya.
Vino, memegang pipi Kesha, “ Kamu kapan mau menikah dengan
aku, aku sudah menunggu jawaban itu dari kamu” ucap Vino, semakin mendekatkan
wajahnya ke arah Kesah.
“Nanti kamu juga akan dapat jawabannya” ucap Kesha,
menyentuh kepala belakang Vino, denga ke
dua dahi mereka menyatu, hembusan napas berat mereka berpacu sangat cepat.
“ehem,.. Ehem..” di sini ada orang, ajnga melakukan itu di
sini” sindr Mnada, sontak mengakhiri pandangan mereka. Dengan senyum tipis
kompak mereka memandang le arah Manda, Aron dan Vina malu-malu.
“Dasar yang lagi bersemi cintanya, seakan semuanya di anggap
gak ada. Dan terasa dunia milik berdua.” Ucap Vina bercanda.
“Iya” jawab Kesah datar, ia memalingkan pandangannya
berlawana arah. Karena memang ia tidak suka dengan Vina.
Vina yang merasa Kesha tidak suka dengannya, Vina menelan
ludahnya. Dan menganggap iti semua baik-baik saja dan gak ada masalah sama
sekali.
“Ya, sudah aku pergi dulu ya,” ucap Vina, mengeluarkan senyum,
termanisnya. Dan bergegas pergi dari rumah Manda, masuk ke dalam mobilnya.
Melihat Vina yang sudah pergi menjauh, dari rumah Manda.
Kesha menghentakkan kakinya dan beranjak masuk ke dalam rumah, dengan perasaan
kesalnya, meninggalkan Manda dan yang lainya, yang masih berdiir di depan
p[intu rumahnya.
“Vin, cepat lihat Kesha, dia kenapa. Sepertinya dia cemburu
dengan kamu” ucap Manda.
“Iya, aku coba lihat dulu” gumam Vino, berjalan mencari
Kesha.