Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 246


Vino dan kesha bergegas turun menemui Vina yang sudah


menunguunya di ruang keluarga.


Vino tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap ke belakang


ke arah Kesha yang dari tadi diam, seakan memang ia cemburu dengannya saat


ingin menemui Vina.


“Syang!!” panggil, mesra Vino dengan talapak tangan menyentuh pipi kanan Kesha


lembut.


“Kenapa kamu cemberut, katanya gak cemburu.” Ucap Vino,


memelankan nadanya, ia tidakmau membuat Kesha bertambah emosi nantinya.


“Siapa yang cemberut aku hanya kesha dengan laki-laki yang


plin-plan nantinya. Soal perasaan cinta dan hatinya.” Sindir Kesha kesal.


Vino tersenyum tipis. “ gimana bisa kamu berbicara seperti


itu, aku gak akan plin-plan soal persaan di hati kau hanya kamu. Udah deh,


sekarang jalan dan ikut aku, percaua sama aku, aku gaka kan menyakiti kamu


lagi, Sha.” Ucap Vino, memegang lengak Kesha, mencoba menuntunya menuruni anak


tangga.


“Bentar!! Aku gak pervaya dengan kamu,” ucap Kesha, yang


menghentikan langkahnya lagi.


Vino, menarik napasnya beberapa kali, ia mencoba untuk tetap


bersabar menghadapi Kesha yang membuat ia benar-benar menahan amarahnya. “Apa


dari kemarin kurang apa yang aku bilang padamu?” tanya Vino.


“Gak gak mau hanya sebatas kata-kata, buktikan!!” ucap Kesha


tegas.


“Baiklah!! Man tangan kamu?” ucap Vino.


“Buat apa?”


“Vino, meraih tangan Kesha, meletakkan telapa tangannya di


atas telapak tanagn Kesha. Perlahan memasukan jemarinya di sela-sela jatri


Kesha. “Jangan lepaskan, aku ingin kamu genggam tangan aku terus, sampai Vina


pulang. Biar kamu tahu, jika aku dan Vina tidak ada hubungan apa-apa. Dan aku


juga mau bicara dengan kamu. Saat Vina sudah pulang nantinya. Tapi kamu harus


janji, kamu gak boleh marah, dan kesal. Karena vIna sekarang lagi dalam suasana


sedih.” Ucap Vino.


Kesha mentap ke arahnya, ia melihat wajah Vino yang memang


tulus dengannya. Tapi ia ingin buktika lebih lagi, Kesha ingin tahu gimana cara


dia perlakukan dirinya nanti. Sebelum menikah.


“Kok, kamu tahu jika Vina dalam suasana sedih,” tanya Kesah,


sambil berjalan beriringan dengan alunan hentakkan kaki yang sama.


“Entar kamujga akan tahu” ucap Vino, menariknya duduk di


sofa, sampingnya.


“Kenapa kamu lama?” tanya Aron pada Vina.


“Lagi nenangin si bawel ini, yang gak mau katanyaberteu


Vina. Karena dia itu sebenarnya emburu denganku. Ia takuk kalau aku suka dengan


Vina. Padahal aku gak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, Ya gak Vin” ucap


Vino, panjang lebar, membuat Kesha yang merasa malu, ia menvubit pinggung Vino.


“Sakit” bisi Vino.


“makanya, jangan bilang yang tidak-tidak” ucap Kesha.


“Iya, iya” jawab Vino.


```


“Sha, kamu jangan cemburu dengan Vino, dia itu hanya suka


dengan kamu. Aku memang dulu pernah suka dengannya. Tapi itu dulu, dan perasaan


itu sekarang berubah. Saat aku sadar jika Vino masih tetap mencintai mantanya.


Dan aku gak mau menganggu hubungan kalian.” Ucap Vina, tersenyum tipis.


“Aku tahu semuanya” ucap Kesah datar.


“Iya, kalau kamu tahu kenapa kamu cemburu?”tanya Vino,


memastikan.


“Karena kamu pernah nyakiti aku” ucap Kesha, membuat Vino


terdiam seketika, menean ludahnya. Dan menutup mulutnya rapat, dari pada ia


berbicara namun selalu tidak di hargai oleh kesha. Lebih baik diam, dan


mendengarkan dari pada harus banyak bicara tapi ujunganya lansgung menusuk ke


hati. Pikir Vino.


“Aku ke sini, hanya untuk pamit pada kalain, jika aku akan


pergi. Dan Kesha, segalah menikah dengan Vino. Dia itu tulus padamu,


sangat-sangat tulus. Tidak ada laki-laki yang seperti dia, dari pada kamu


dengan Albert, dia laki-laki play boy. Yang tidak pernah tanggung jawab dengan


apayang ia lakukan dengan pacar-pacarnya.”


“Apa kamu juga kenal Albert?” tanya Kesha.


“Aku kenal dia, sangat kenal dia. Sangat-sangat kenan


dengannya. Tidak hanya satu kempus dengannya. Aku juga pernah dekat dengannya.”


Ucap Vina, “Dia itu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan selalu lari


dari kenyataan. aku gak mau terjerumus dengan rayuan tipu daya dirinya” ucap Vina,


seolah meluapkan amarah ya yang terpendam.


“Sha, percayalah, Vinon itu memang yang terbaik buat kamu.


“Ya, sudah. Aku mau oergi dulu sekarang. Aku gak mau ganggu


kalian lagi.” Ucap Vina beranjak berdiri.


“Kamu mau pulang sekarang?” tanya manda pada temannyua itu.


“Iya, da aku ingin pulang sekarag. Dan menyiapkan semua


barang-barang aku” ucap Vina.


“Apa kamu benar akan pergi ke paris? Tanya Vino.


“Iya, Vin.” Ucap Vina .


“Baiklah, kalau gitu hati-hati. Aku antarkan kamu sampai ke


depan.” Ucap Manda sambil gendong anaknya.


Aron dan yang lainya, beranjak berdiri mengantar Vina sampai


ke depan rumahmya. Ia merasa bersalah terhadap Vina. Deangan semua rencananya


untuk menyatukan Albert dan Vina. Ternyata berujung sakit hati terhadap Vina.


“Vin, kalau kamu nanti sudah samoaiu di paris kamu hubungi


aku ya,,” ucap Manda.


“Apa kamu mau ke sana juga?” tanya Aron, melirik ke arah


Manda. Denga tangan emndekap anaknya brandon


“Anak kita masih kecil syang, jadi kita harus tetap di sini


saja sampai anak kita sudah satu tahun. Baru kita jalan-jalan lagi. Sekalain


ajak Duke dan Lia. Mereka juga tidak pernah sama sekali jalan-jalan ke luar


negeri.” Ucap Manda.


“Baiklah, aklu nurut saja sama kamu.” Ucap Aron, emngusap


ujung kepala Mnada le,nut.


“Kalau nanti kalain jalan-jalan ke paris, kalain harus


mampir ke tempat tinggal aku yang baru ya, aku pasti akan menyambut kalian


dengan baik. Dan bukannya kalian dulu tinggal Di London.”


“Iya, rencana nanti kalau Duke dan Lia sudah dewasa, aku mau


tinngal lagi di sana. Dan kamu cepatlah menikah, agar kamu bisa bahagian nanti,


apalagi kalau sudah punya anak. Keluarga itu terasa sangat lengkap” sindir


Manda, dengan senyum menggoda, ia menepuk bahu Vina.


“Iya, doakan saja, biar aku bisa nyusul kalian. Dan punya


anak banyak seperti kalain. Pati rumah rame.” Canda Vina, dengan senyumnya.


Vino yang berdiri di samping Kesha, dengan tangan yang masih


tetap saling bepragnagn seakan memang tidak mau saling jauh satu sama lain.


Vino mengusap ujuk kepala Kesha dengan tangan sedikit mengacak-acak rambut


Kesha.


“Itu dengar apa kata Manda, segera mneikah. Biar punya


keluarga lengakap dan bahagia” ucap Vino, mengusap hidung Kesah dngan ujung


jari telunjuknya.


Dengan cepatt kesha menepis tangan Vino. “Apaan sih Vino,


menikah bisa kapan saja, asalakn hati sudah siap” ucap Kesah, mentap ke samping


melihat jelas wajah Vino sangat dekat dengannya, mereka saling memandang dengan


senyum tipis terpaut dari bibir mereka berdua.


“Jangan menatapku seperti itu” ucap kesha, menyentuh


hidungnya dengan tekunjuk tangannya.


Vino, memegang pipi Kesha, “ Kamu kapan mau menikah dengan


aku, aku sudah menunggu jawaban itu dari kamu” ucap Vino, semakin mendekatkan


wajahnya ke arah Kesah.


“Nanti kamu juga akan dapat jawabannya” ucap Kesha,


menyentuh kepala belakang Vino, denga  ke


dua dahi mereka menyatu, hembusan napas berat mereka berpacu sangat cepat.


“ehem,.. Ehem..” di sini ada orang, ajnga melakukan itu di


sini” sindr Mnada, sontak mengakhiri pandangan mereka. Dengan senyum tipis


kompak mereka memandang le arah Manda, Aron dan Vina malu-malu.


“Dasar yang lagi bersemi cintanya, seakan semuanya di anggap


gak ada. Dan terasa dunia milik berdua.” Ucap Vina bercanda.


“Iya” jawab Kesah datar, ia memalingkan pandangannya


berlawana arah. Karena memang ia tidak suka dengan Vina.


Vina yang merasa Kesha tidak suka dengannya, Vina menelan


ludahnya. Dan menganggap iti semua baik-baik saja dan gak ada masalah sama


sekali.


“Ya, sudah aku pergi dulu ya,” ucap Vina, mengeluarkan senyum,


termanisnya. Dan bergegas pergi dari rumah Manda, masuk ke dalam mobilnya.


Melihat Vina yang sudah pergi menjauh, dari rumah Manda.


Kesha menghentakkan kakinya dan beranjak masuk ke dalam rumah, dengan perasaan


kesalnya, meninggalkan Manda dan yang lainya, yang masih berdiir di depan


p[intu rumahnya.


“Vin, cepat lihat Kesha, dia kenapa. Sepertinya dia cemburu


dengan kamu” ucap Manda.


“Iya, aku coba lihat dulu” gumam Vino, berjalan mencari


Kesha.