Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Pertemuan jadi salah paham


“Syang ayo cepat berangkat” teriak Manda yang sudah berdiri


di depan ruang tamu, dan Aron masih di dalam kamarnya. Entah, apa yang masih ia


lakukan dari tadi belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan, Manda sudah berdiri dari lima belas menit lalu.


Manda melirik sekilas ponselnya. Dua puluh panggilan tak terjawab


dari Vina. Manda semakin kesal dengan Aron, bahkan kini Vina terus


menghubunginya. Namun ia tidak berani mengangkat telefonnya. Thing... Ada


sebuah pesan juga dari Vina, Manda segera membacanya.


Da, aku tunggu kamu di cafe, alamatnya sudah aku kirimkan. Jangan


lama-lama, aku tunggu, bye.


“Vina sudah menghubungiku berkali-kali, dan mengirkan aku pesan.


Tapi Aron belum juga keluar, manda semakin geram di buatnya, sudah janji jam


sembilan malam tapi ia malah telat. Ia merasa gak enak dengan Vina yang sudah


menunggunya lama.


“SAYANG BURUAN KELUAR” teriak Manda, yang sudah tidak sabar


lagi menunggu Aron.


Duke dan Lia berlari menghampiri mamanya. Perasaan yang


semula kesal dengan Aron, seketika berubah melihat ke dua anaknya. Ia tersenyum


tipis menatap ke dua anaknya yang berdiri tepat di depannya.


“Kalian belum tidur?”tanya Manda, mengusap ke dua pipi


anaknya itu.


“Mama mau pergi?”tanya Duke yang berdiri tepat di depannya.


“Duke dan Lia tidur dulu ya, mama mau pergi sebentar, nanti


kalau mama sudah pulang. Mama tidur di kamar kalian” ucap Manda mengusap lembut


kepala ke dua anaknya itu.


“Baik ma!” ucap Duke dan Lia kompak. Ia segera masuk ke


dalam kamarnya, di susul dengan dua baby sister mereka yang berjalan di


belakangnya.


“Syang, apa kamu masih lama?” teriak Manda yang sudah tidak sabar lagi terus menunggu, ia melirik jam


tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah tepat pukul sembilan malam.


Aron masih belum juga keluar. Mnada menghentak hentakan kakinya, tak sabar


menunggu Aron.


Aron yang mendengar teriakan Manda yang menggelegar ke


seluruh penjuru ruangan, bergegas keluar.


“Iya syang, ini aku keluar” ucap Aron, segera berlari


teburu-buru menghampiri Manda.


“Kenapa kamu lama sekali syang, aku sudah nunggu dari tadi”


Ucap Manda kesal.


“Maaf syang, tadi ada telepon sebentar jadi aku angkat dulu”


ucap Aron, tak mau di sudutkan.


“Memangnya telepon dari siapa syang?” tanya Manda penasaran.


“dari manajer Mo Syang, dia katanya dapat alamat lengkap


Vino. Jadi aku suruh paparazi untuk menyelidiki tempat tinggal Vino. Aku gak


mau gegabah langsung menghampirnya. Kalau dia tahu pasti dia gak mau bertemu


dengan aku, dan pergi lagi dari tempat tinggalnya saat ini, aku ingi


menyelidiki lebih lanjut lagi di mana dia bekerja saat ini, dan di mana dia


kuliah.” Aron berbincang dengan Manda sambil menuntunya masuk ke dalam mobilnya


yang sudah terparkir di depan.


“Oo,, ya sudah gimana nanti kita coba selidiki sendiri syang,


aku kan juga ingin bertemu dengan adik kamu juga syang.” ucap Manda.


“Jangan syang, kamu lagi hamil jangan banyak tingkah, kamu


tetap stay di rumah, jangan pergi kemana-mana. Aku gak mau ada apa-apa


nantinya,” gumam Aron, memegang ke dua bahu Manda memapahnya masuk ke dalam


mobil.


“baiklah” ucap Manda.


“Syang, emangnya Vina kenapa ajak kita bertemu, bukannya


setiap hari kamu juga bertemu denganya saat kuliah” tanya Aron, yang mulai


menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.


“aku juga gak tahu syang, tapi kita ikuti saja apa kata dia,


katanya dia ada yang ingin ia bicarakan. Dan itu sangat penting.” Gumam Manda.


Mereka juga tidak lupa menjemput Kesha dulu di tempat


kerjanya.


“Sha, ayo cepayt masuk, aku mau ajak kamu sekalian ke cafe,


teman aku mau bicara sama kamu” ucap Manda yang melihat Kesha berdiri di halte


menunggu bis datang.


“Emangnya ada apa da?” tanya Kesha ia bingung, padahal ia


juga tidak kenal dengan teman Manda tapi kenapa dia ingin bicara dengannya.


“Suda masuk dulu, nanti kita tanya saja sama dia. Lagian


dari pada kamu di sini sendiri malam-malam begini, nanti takutnya malah ada


irang yang goda kamu, apalagi jalanan juga sepi”


Kesha, menghembuskan napasnya dan segera masuk ke dalam


mobil Aron.


Tak lama perjalanan mereka samapi di sebuah Cafe di mana


Vian sudah menunggunya.


Mnada segera berjalan masuk ke dalam Cfe di bantu dengan


Aron yang terus memegangnya erat. Menuntunya berjalan, “Dimana Vina?” tanya


Aron. Manda terdiam, memutar matanya mencari di mana tempat Vina duduk.


“Bukannya itu Vina, dengan seorang lelaki? Siapa dia?”


“sudah ayokita ke sana setelah itu kita segera pulang,


jangan kelamaan keluar malam” ucap Aron yang segera melnagkahkan kakinya


mendekati di mana tempat Vina duduk sekarang. Lelaki dengan Vina yang semula


duduk di samoingnya, ia beranjak dari duduknya dan berjalan pergi, tanpa mentap


ke arah Manda dan yang lainnya.


“Vin!” panggil Manda, membuat Vinba menoleh seketika.


“Eh Manda, kalian duduk saja dulu, mau pesan apa biar aku


yang pesankan” ucap Vina.


“terserah, sama seperti kamu saja” jawab Manda yang mulai


duduk di samping Vina.


“ya sudah, bentar ya aku pesankan dulu” Vina segera beranjak


pergi ke kasir untuk memesan dan sekalian ia membayar semua pesanannya.


“Tadi siapa? Sepertinya aku kenal dengannya?” tanya aron


pada Manda di sampingnya.


“Sama sepertinya aku juga kenal dengannya, nanti kita coba


tanyakan saja pada Vina” ucap Manda.


“Eh.. Vin” Suara seorang lelaki yang membuat Kesha, Manda


dan Aron menoleh kompak ke arah sumber suara itu. Mereka trerkejut, melebarkan


matanya tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Vino!” ucap Vina, yang klangsung bangkit dari duduknya.


Bibirnya bergetar tak percaya, iangin sekali ia menenteskan air matanya tak


menyangka bisa melihat laki-laki yang selalu bersamanya dulu.


“Kesha!” gumam Vino, yang masih tidak menyangka berhadapan


dengan Kesha lagi.


“Jadi kamu yang datang bersama dengan Vina teman Manda


tadi?” tanya Kesha memastikan.


“Iya, kamu kenapa bisa ada di sini?” tanya Vino penuh


keraguan, ingin seali tangannya memegang ke dua pipi Kesha yang selama ini udah


tidak pernah tersentuh dengan jemarinya.


Belum sempat menjawab pertanyaan Vino, Kesha berlari pergi,


meninggalkan Manda dan Aron. Merasa khawatir dengan apa yang terjadi dengan


“Vin!” teriak Aron, ingin mengejar Vino, namun i tida bis


apergi Manda memegang tangannya sangat erat. “ Jangan pergi! Biarkan mereka


berdua bicara sendiri. Biar mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, mereka


sudah dewasa jadi jangan ikut campur lagi dalam hubungan mereka. Jika kamu


tidak mau menyesal untuk yang ke dua kalinya lagi” ucap Mnada, seketika membuat


Aron terdiam, dan dengan terpaksa ia duduk lagi, menuruti apa kata istrinya


itu.


Meski ia sangat ingin bicara dengan adiknya, minta maaf


padanya, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Kesha mengira jika Vino sudah


melupakanya dan punya kekasih baru.


Vina yang melihat Vino dan Kesha berlarinkeluar, menatap


bingung ke arah Manda dan duduk kembali. “Vina, kenapa kamu bisa kenal dengan


Vino? Apa dia yang kamu maksud dulu, laki-laki yang menolong kamu saat ada


orang yang mengganggumu?” tanya Manda seakan mengintrogasi Vina.


Vina menghela napasnya, “Sebenarnya ini yang ingin aku


ceritaklan pada kamu. Aku menghubungi kamu ingin mengatakan jika saol hubungan


kalian dengan Vino. Karena aku sempat dnegar kalian bicara menyebut nama Vibo,


dan aku curiga jika Vino yang kalian maksud adalah Vino yang menyelamatkanku


kemarin, jadi aku hubungi dia untuk bertemu dengan kalian. Dan ternyata


semuanya benar.” Ucap Vina, dengan wajah nampak sangat murung, seerti menyimpan


kesedihan mendalam dalam hatinya.


“Vin, kenapa kamu gak bilang dari kemarin jika namanya


adalah Vino, yang menolong kamu. Dan biar semuanya tidak seperti ini” gumam


Manda.


“Aku juga gak tahu Da, kalau Vino kenal dengan kalian” ucap


Vina. “Tapi, sebenarnya Vino itu siapa?”


Manda terdian sejenak, ia tidak menyangka jika bertemu


dengan Vino. “Dia adalah adik aku” saut Aron. Membuat Vina semakin terkejut.


“Adik?” ucap Vina. “jadi dia adalah keluarga kalian, maaf jikaseandainya aku


tahu dari awal aku pasti akan beri tahu kalian.” Ucap Vina.


“Udah gak apa-apa, aku juga senang bisa melihat Vino lagi,


mungkin yang berbeda adalah Kesha” ucap manda.


“Berbeda gimana maksud kamu da? Bukannya mereka dulu saling


mencintaikan?” tanya Vina memastikan.


“emangnya sekarang hubungan kamu dan Vino gimana?” tanya


Manda memastikan.


“Aku gak ada hubungan apa-apa, aku hanya sebatas menggumi


dia, kalau dia sudah punya tunangan maka aku gak akan ikut campur lagi hubungan


mereka. Lagian mereka sebenarnya saling mencintai” ucap Vina.


~


Di sisi lain, Vino masih mengejar Kesha, ia terus berlari


mencoba meraih tangan Kesha.


“Kesha tunggu!” teriak Vino, memegang tangan Kesha.


“Vin, aku mohon pergilah, jauhi aku, aku bukan siapa-siapa


kamu lagi sekarang” ucap Kesha yang tidak berani mentap Vino sama sekali,


tetesan air mata masih keluar dari mata hitamnya.


“Sha, aku ingin bicara sama kamu”ucap Vino memegang bahu


Kesha, membalikkan badanya mentap ke arahnya.


“gak ada yang perlu di bicarakan lagi, semua sudah jelas,


dan semua sudah beres. Agak ada lagi hubungan di antara kita” ucap Vina dengan


kekesalan yang menggebu, ia tidak bisa jujur dengan Vino dengan keadaannya, dan


di saat ia ingin minta maaf dengan Vino ternyata apa, ia melihatnya dengan


wanita lain, itu yang membuat hatinya semakin terluka.


“Sha, aku mohon aku ingin bicara dengan kamu, jangan seperti


ini. Apa kita gak bisa bicara baik-baik” ucap Vino yang masih memegang erat


bahu Kesha.


“Vin, lepaskan aku, sudah gak ada yang perlu di jelasin


lagi.” Ucap Kesha


“Sekarang yang harusnya marah itu aku, kamu tiba-tiba pergi


ninggalin aku. Tanpa kabar sama sekali, dan kamu saat memebriku kabar sudah


menikah dengan orang lain. Harusnya siapa yang mrah.” Ucap Vino dengan nada


tinggi.


“lepaskan tanganmu dari dia” ucap seorang lelaki yang meraih


tangan Vino dari Kesha.


“Ini bukan urusan kamu” Vino menoleh melihat wajah yang


sangat familiar di matanya. “Kamu bukannya kamu laki-laki yang kemarin kasar


dengan wanita itu kan?” tanya Vino dengan senyum sinisnya.


BUKK.. BUKKKK


Pukulan Albert mendarat di wajah Vino, membuatnya tersungkur


ke bawah. “bukannya kamu sendiri yang bilang, jika tidak boleh kasar dengan


wanita. Tapi apa yang kamu lakukan dengan dia, kamu kasar dengannya” ucap Al


dengan wajah penuh emosi, dan Kesha hanya diam, memegang bahunya yang terasa


sangat sakit, akibat cengkraman tangan vino yang sangat kuat.


Vino beranjak bangkit, meraih kerah Albert.


“Ini bukan urusan kamu” Ucap Vino, yang hampir melayangkan


tangannya memukul Albert namun dengan sigap Kesha mengahadang tangan Vino tepat


di depannya.


“Apa yang kamu lakukan, sekarang kamu pergi dari sini. Aku


gak mau melihat wajah kamu lagi.” Ucap Kesha dengan nada tingginya.


“Jadi soal pernikahan itu benar, kamu menikah dengannya”


ucap Vino, dengan senyum semringai di wajahnya.


“Iya, dan sekarang kamu cepat temui pacar kamu dan jangan


ganggu aku lagi. Aku sudah hidup bahagia denganorang pilihan aku” ucap Kesha,


memegang tangan Abelt.


Vino tersenyum, dengan kepala mengangguk pelan berkali-kali.


“Baiklah, kalau itu mau kamu aku pergi” ucap Vino, “ Dan laki-laki yang bersama


kamu itu seorang brengs*k” lanjutnya dengan tangan menunjuk ke wajah Albert,


dengan tatapan tajamnya.


Kesha terdiam, tetesan air mata semakin meluas. Ia tidak


perdulikan apa yang di katakan oleh Vino tentang Albert, baginya dia hanyalah


oarang yang tidak yang ia jadikan kambing hitam.


“Sha, aku antar kamu pulang ya!” ucap Albert, memegang bahu


Kesha mencoba menenagkan hatinya.


“Jangan sentuh aku, soal tadi maaf. Kau gak bermaksud


menjadikan kamu pasangan aku.” Ucap Kesha


“Gak apa-apa, lebih baik sekarang kamu pulang. Tenangkan


diri kamu di rumah.” Ucap Akbert, ia yang semula ingin bertanya pada Kesha


tentang hubungannya dengan Vino, ia harus mengurungklan niatnya dalam-dalam


saat melihat Kesha masih menangis tak terkendali.


Albert menuntun tubuh Kesha masuk ke dalam mobilnya. Kesha


yang semula menolak, ia denga terpaksa menerimanya. Ia tidak mau lagi bertemu


dengan Vino di dalam nanti, dan mengetahuai kenyataan yang sebenarnya. “Kita ke


rumah Manda” ucap Kesha.


“Baiklah” Meski heran kenapa Kesha tinggal di rumah Manda,


namun ia hanya diam dan langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah Manda. Ia


tidak bisa berbuat apa saat melihat wanita yang ia suka terluka karena cinta.