
30 menit perjalanan. Mereka sampai di rumah megahnya. Kali ini Aron berniat akan membawa Manda pergi ke rumah yang dulu pernah jadi kenangan buruk mereka berdua. Tapi belum ada rencana kapan meteka akan pindah kesana. Ya, mungkin menunggu Vino lulus sekolah, lagian bentar lagi perayaan kelulusan dia.
Tapi meskipun pernah jadi kenangan buruk, rumah itu memang untuk Manda saat ini, dan ia juga sudah mengurus semua sartifikat atas namanya. Dan semua perusahaan nanti juga sudah akan diatas namakan anaknya tapi menunggu setelah lahir. Meskipun sekarang belum lahir sih.
"Udah sampai turun gak?" Tanya Aron.
Manda yang masih ngambek, ia tetap duduk di tempatnya dengan memasang wajah cemberutnya. "Gak mau!" Ucapnya melemparkan pandangan berlawanan Arah.
Aron tersenyum tipis, melihat wajah istrinya saat dia ngambek membuatnya benar-benar ingin sekali mencubitnya. "Benar gak mau turun" gumam Aron.
"Enggak!!" Jawab Manda jutek.
"Ya sudah kalau gak mau turun, tidur saja di dalam mobil yang sudah aku kunci itu" ucap Aron dengan nada bercanda. Ia beranjak pergi mencoba menjahili Manda kali ini. Habis dari tadi Manda terus ngambek gak jelas gitu, jadi semakin membuat Aron gemes sama Manda ingin menjahilinya terus.
"Eh... tunggu!!"Manda memanggil Aron dengan nada malu, wajah menunduk ke bawah.
"Eh.. ada apa ya?" Tanya Aron, dia bergaya sok cuek dengan Manda.
"Buka mobilnya, aku mau turun"ucap Manda lirih.
"Apa-apa aku gak denger" Ucap Aron seakan dia gak mendengar ucaoan Manda. Dia benar-benar sangat suka menjahili Manda kali ini. Wajahnya yang lucu saat ngambek bikin dia terhibur.
"AKU MAU TURUN!!" Teriak Manda keras.
"Oh.. iya, oke.." Aron membalikkan badannya menghampiri Manda. Ia segera membuka pintu mobil Manda. Tak mengizinkan kakinya turun menginjak bawah. Ia segera mengangkat tubuh Manda, berjalan masuk ke dalam rumah.
"Turunkan aku" ucap Manda memukul dada Aron.
"Sudahlah diam, kamu istriku jadi terserah aku mau apain kamu saja sekarang. Kamu tinggal diam dan kalungkan tangamu ke leherku, jangan bergerak nanti kamu jatuh gimana? Aku akan menaiki tangga jadi jangan bergerak ya, badanmu mulai berat kaki ini" Ucap Aron, ia narik alisnya dengan tatapan menggoda pada Manda.
Enak saja di bilang aku berat, kan tubuhku berbobotnya 45 kg masihan, segini masih kecil dan imut-imut, gumamnya dalam hati, meski sempat kesal di bilang berat. Sama saja Aron menghina dia gendut.
Manda hanya terdiam, ia melihat wajah tampan Aron di atasanya.
Manda terus tersenyum memandang wajah suaminya itu, ia kini mulai terkagum-kagum dengannya.
Suami yang dulu sangat ia benci, sekarang menjadi suami idaman baginya, ternyata menikah dengan Aron tak terlalu buruk baginya. Semakin lama Aron semakin baik dengannya, bahkan dia tidak pernah marah lagi dengan manda lagi. Meskipun dia pernah cuek tiga hari padanya. Tapi selama itu Aron tak pernah membentak Manda.
"Kamu pasti lagi terpanah ya lihat ketampanan suamimu ini" Canda Aron pada Manda, penuh percaya diri.
"Ih.. apaan sih, tampan dari mana, gak ada tampannya sama sekali" ucap Manda, ia memalingkan pandangannya, agar tak terlihat jika dia bohong.
Tapi sebenarnya tampan juga sih kalau di lihat-lihat, tapi mending bicara bohong saja, pada dia besar kepala, dan kepedean entar, gumam Manda dalam hati.
"Tu dalam hatimu bilang aku tampan" ucap Aron menggoda.
Manda terdiam, ia menelan ludahnya karena terlalu merasa sangat malu kali ini.
Ini orang bisa baca apa hatiku atau gimana sih, kenapa apa yang baru aja aku ucap di hati dia tahu. Gumamnya.
"Apaan sih gak tu, jangan sok tau deh"Gumam manda mengerutkan bibirnya. Ia benar-benar betek hari ini dengan Aron. Dia tak berhentinya menjahili Manda. Benar-benar membuatnya geram.
"Baiklah kalau kamu gak mau ngaku"kali ini senyum semringai Aron dan tatapan mesumnya, membuat Manda mulai curiga.
Aron membuka pintu kamar Manda dengan kakinya, ia melangkahkan kakinya masuk, lalu menutup rapat pintu Manda, agar kali ini tidak ada yang menganggunya lagi.
"Jangan macam-macam" ucap manda, tatapannya kini semakin menajam ke arah Aron.
"Enggak akan syang, cuma minta jatah" Ucap Aron spontan membuat Manda seketika loncat turun dari angkatan ke dua tangan Aron.
"Maksud kamu?" Tanya Manda curiga, mengerinyitkan matanya.
"Pasti kamu tahu lah, apa tugas istri pada suami kan?" Ucap Aron, kali ini ia sudah berani terus terang dengan Aron.
Ia berpikir sejenak, apa yang di maksud Aron, nanti telanjur ia bepikiran kotor pada Aron dan dia marah-marah dan dugaannya malah ternyata bukan itu pasti malu sendiri. Hemm iya pasti kewajiban masakin suaminya ya, batin Manda seolah otaknya baru saja menemukan jawaban itu.
"Hmm.. aku tahu sekarang , kamu mau aku masakin kamu, apa kamu tadi belum kenyang makan di sana?" Tanya Manda dengan wajah percaya dirinya.
Aron melebarkan matanya menatap Manda, ia ingin sekali menepuk jidadnya berkali-kali melihat ulah kepolosan Manda itu.
Lelaki itu berdengus kesal, "Aku mau kita tidur berdua" Ucap Aron lirih.
Manda menyipitkan matanya, "Tidur??" Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Ini masih sore baru jam 17.00, kamu mau tidur berdua?" Lanjut Manda polos.
Aron mengusap dadanya berkali-kali. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mencoba sabar punya istri polos atau begonya enggak tahu. Tapi ia gak mau menyangka istrinya bego. Dia pintar cuma polosnya kebangetan bikin ia benar-benar sangat kesal.
"Ya, sudahlah lupain saja" ucap Aron kesal, ia beranjak duduk di ranjangnya, mengangkat ke dua kakinya ke atas ranjang, dengan punggung bersandar santai di ranjang Manda.
Aneh banget sih, lagian apa yang di bilang gak jelas, jadi aku mana tahu, gerutunya dengan nada kesalnya dalam hati.
"Kamu gak mandi dulu?" Tanya Manda bingung pada suaminya.
"Mandi??" Tanya Aron kembali, seraya ia baru bangkit lagi dari rasa cemberutnya. Pastinya kalian tahu lah apa yang ada dalam pikiran Aron kali ini. Benar-benar membuat Air liur Aron menetes membayangkanya. Pikiran kotor mulai meraskui otak Aron.
"Iya, Mandi!!" Jawab Manda aneh.
"Wah.. ayo, ayo kita mandi" Aron mulai beranjak turun dari ranjang. Dengan sangat antusias, ia segera menarik tangan manda untuk masuk ke dalam kamar Mandi.
Manda berdiri mematung, seolah ia mencegah Aron menarik dirinya Masuk ke dalam kamar mandi.
"Ayo.." Aron terus menarik tangan Manda untuk masuk ke dalam.
"Gak mau!!" Bentak Manda.
"Udahlah ayo mandi berdua, bukanya kamu yang ajak tadi" pungkas Aron.
Manda mengerutkan bibirnya,. "Siapa yang ajak kamu Mandi, aku tadi nyuruh kamu cepat Mandi. Gak ajak kamu Mandi berdua"tegas Manda. Ia membalikkan badannya, seraya ingin beranjak pergi. Dengan sigap Aron yang sudah tak sabar lagi. Menarik tangan Manda dalam dekapannya , lalu ia menggendong Manda dan masuk ke kamar Mandi. Ia langsung menceburkan tubuh Manda dalam bathup kamar Mandi.
Byurr....
"Kamu gak kasihan sama anak kamu" ucap Manda mengusap wajahnya yang terasa penuh dengan air.
Aron diam tak menggubris pertanyaan Manda. Aron beranjak ia tak lupa mengunci pintu kamar Mandi itu, agar Manda tak mudah untuk keluar lagi. Sekarang jadi tak ada alasan lagi baginya untuk menolak.
Happ...hap...
Manda bergaya seolah ia tergelam dalam kolam.
"Kenapa kamu?"tanya Aron bingung dengan ulah istrinya.
"Gak kenapa -napa" Ucap Manda polos.
Manda yang baru sadar, ia beranjak berdiri dengan baju yang sudah basah kuyup. "Aku mau keluar"ucap Manda beranjak pergi.
Aron memegang tangan Manda mencegahnya pergi. Ia memeluk pinggang Manda dari belakang. Dengan tangan mulai jahil menyetuh bagian atas Manda.
Manda terdiam seketika, ia ingin teriak menolaknya. Tapi hatinya menikmati sentuhan Aron.
Sentuhan itu terua menjalar, hingga terbuang satu persatu helaian kain yang menempel dalam tubuh mereka. Aron mengangkat tubuh Manda menceburkan dalam bathup. Mereka berendam berdua dengan menikmati pemadangan laut yang nampak jelas dalam bathup besar itu. Bahkan bisa di tempati 5 orang.
"Jangan melihatku" ucap Manda menutupi dadanya dengan ke dua tangannya.
"Apaan sih, sama suami sendiri kamu malu??" Tanya Aron.