Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Tersadar


Aron terbaring lemah dalam penanganan dokter di UGD. Hanya ada satu dokter yang biasa menangani Aron sebelumnya. serta dua suster yang membantunya di dalam. Sepertinya mereka memeriksa kondisi Aron saat ini seperti apa.


Dan di luar Vino dan Manda berharap Aron baik-baik saja. Dan bisa berkumpul lagi dengan mereka. Kini Manda hanya terdiam tubuhnya seakan mengigil ketakutan. Ia memeluk tubuh Kesha erat, menghilangkan rasa takut dan cemasnya yang menjalar ke tubuhnya, rasa khawatir selalu terlintas di benaknya.


" Sudah jangan nangis kalau Aron melihatmu seperti ini pasti dia sedih juga" Ucap Kesha mencoba menenangkan hati Manda. Ia membelai lembut rambut Manda. Berharap sahabatnya itu berhenti menangis.


Sejak ia bertemu di rumah ia belum berhenti menangis. Hingga wajahnya mulai pucat, matanya mulai memerah serta membengkak. Kesha merasa sangat kasihan dengannya. Ia terus bergumam dalam hatinya, jika ia jadi Manda entahlah apa bisa ia bertahan.


Kamu begitu kuat Manda, cobaan berat apapun kamu bisa hadapi. Bahkan meskipun kamu menjadi simpanan kak Aron hatimu bisa terima. Dan memaafkan begitu saja kekejaman Aron dulu. Dan kini melihat Fany tidur dengannya saja kamu masih perduli dengan Aron. Apakah cinta sesakit itu hingga kamu harus menderita seperti ini.


Kesha melirik ke arah Vino, yang kebetulan ia juga melirik ke arahnya. Entah kenapa ia tak bisa memaafkan Vino begitu saja. Beda dengan Manda yang masih di kasih kelembutan hati.


"Sa!!  Aku takut Sa, gimana dengan keadaan Aron di dalam, apa dia baik-baik saja. Kenapa dokter tidak keluar dari tadi.. aku ingin melihat keadaannya sa.. aku ingin melihat dia" Manda mencengkram erat lengan baju Kesha. Mengoyang-goyangkan meluapkan rasa cemasnya.


" hikss..hikss.."


" Manda tenanglah, aku yakin kak Aron baik-baik saja. Dia juga mencintaimu kan. yakinlah cinta kalian tak akan di pisahkan. Kamu harus tenang dan percayalah pasti Aron akan cepat sembuh" Ucap Kesha menarik tubuh Manda dan memeluknya lagi. Air matanya tak bisa tertahan melihat Manda begitu terluka dan khawatir seperti itu. Saat Aron terbaring tak berdaya di dalam.


Vino hanya memandang Manda, meskipun sempat ada rasa, tapi sepertinya itu tak mungkin. Ia salah jatuh cinta pada orang yang sudah bersuami. Dan dia juga tahu itu, apa lagi Manda adalah istri kakaknya sendiri. Kini ia harus membuat hatinya lebar melepaskan cintanya pergi. Sudah tak ada harapan lagi untuknya. Dan tidak akan mungkin ada harapan.


Mereka sama-sama jatuh cinta, meskipun awal kak Aron kasar dengannya. Namun Manda lama kelamaan luluh dengan kak Aron. Dan aku bukan apa-apa. Aku salah mencintainya. Bahkan aku mengabaikan sosok yang selama ini selalu menemaniku. Bahkan dia sangat mencintaiku, selalu menemaniku bahkan rela berjuang demi aku selama ini. Namun apa balasanku, aku menyakitinya dan menyukai orang lain. Mungkin aku terlalu bodoh melepaskan wanita yang perduli denganku, hatiku sangat labil sekaan tak bisa memilih di antara mereka.


Vino memandang kesha yang begitu tulus sahabatan dengan Manda. Bahkan ia rela balik lagi hanya untuk Manda bukan untuk dirinya. Bahkan ia tak hentinya terus bergumam dalam hati dnegan tatapan mengarah pada Manda dan kesha.


Tak lama dokter keluar dari ruangan itu. Manda berlari mendekati dokter. Namun seakan mulutnya tak bisa berbicara menatap dokter yang sudah berdiri di depannya. Sebenarnya ia tak sabar mendengar kabar baik darinya.


" Gimana dok kondisi kak Aron?" Tanya Vino mendekati dokter itu.


" Dia baik-baik saja, hanya kini tubuhnya masih lemas. Tolong jaga dia, jika Aron terus minum maka entahlah apa dia bisa di tolong atau tidak" Ucap dokter itu beranjak pergi dengan wajah nampak menunduk, seolah menyembunyikan sesuatu.


Vino tahu jika dokter itu tak jujur dengannya. Dan sepertinya ada hal serius yang ingin ia katakan namun melihat Manda sepertinya dokter itu tak tega mengatakan semuanya. Ia menepuk pundak kesha. " Jaga Manda!" Bisik Vino. Lalu berlari pergi mengikuti kemana dokter itu pergi.


Manda sudah tak sabar ingin melihat Aron. Ia berlari masuk ke dalam ruang itu. tanpa menunggu perintah atau kata dokter lagi untuk masuk menjenguknya. Ia tak sabar manatap wajah suaminya yabg terbaring di dalam. Manda menatap Aron dengan berbagai selang yang menempel. Seakan ia tak percaya, Manda memeluk tubuh Aron yang masih terbaring lemah di rajang pasien.


" Hikss..hikss.. maafkan aku, aku salah, harusnya tadi aku tidak pergi meninggalkanmu. Aku ingin kamu bertahan demi aku. Tolong jangan pernah lagi menyentuh minuman" Gumam Manda menyandarkan kepalanya di dada Aron. Air matanya masih terus menetes membasahi baju pasien Aron.


" Manda!!" Kesha menyentuh pundak Manda. Seakan ia memberi kode padanya untuk melepaskan pelukannya.


" Sudah biarkan kak Aron istirahat dulu" suara lembut kesha menanangkan hati Manda sejenak. Ia beranjak melepaskan pelukannya dan berdiri di samping kesha.


Manda menarik kursi di sampingnya dan duduk di samping ranjang Aron. Dengan ke dua tangannya memegang tangan Aron. Ia terus mengecup lembut tangan Aron. Berharap Aron cepat sadar. Air matanya menetes ke punggung tangan Aron.


Membuat Aron perlahan menggerakkan tangannya. Seolah ia menerima rangsangan dari air mata Manda di tangannya.


" Dokter... Suster" Teriak kesha di depan pintu ruangan Aron.


Dua orang suster berlari mengampiri mereka. " ada apa?"


"Tolong sus cek gimana keadaan Aron. Tadi kita sudah lihat dia bergerak" Ucap kesha. Ia seolah berlari maraton, napasnya tak bisa di atur karena begitu panik dan senangnya.


" Baiklah" ucap Salah satu perawat. Perawat itu langsung memeriksa Aron.


Dan manda terus duduk, masih memegang tangan aron.


" Aron kamu bangunlah, aku ada di sini sama kamu. Aku tidak akan pergi lagi, ku akan tetap bersamamu" Ucap Manda terus mengecup tangan Aron. Bahkan meletakkan di pipinya.


Perlahan Aron membuka matanya, meskipun terlihat agak lama. Ia mengedipkan matanya. Mencoba menatap ruangan itu yang masih terlihat samar-samar dari pandangannya.


" Manda!!" Ucap Aron pertama kali.


" Aku di sini" Manda beranjak berdiri dengan tangan kiri masih memegang tangan Aron dan tangan kanan menyentuh lembut pipi Aron.


Aron tersenyum tipis menatap istrinya ada di sampingnya. " Maafin aku yang salah tidak mendengarkan apa katamu" Ucap Aron.


" Lupain saja" ucap lembut Manda.


Merasa Aron sudah mulai membaik, Manda membalikkan badan tanpa suara ia beranjak pergi.


"Manda jangan pergi" Aron memegang tangan manda mencegahnya pergi.


Wanita cantik itu menoleh melempar senyum manisnya menatap Aron. "Aku hanya ingin ke toilet" pungkas Manda polos dengan suara lembutnya.


Aron nampak malu, sebegitu takutnya dia kehilangan Manda, hingga kemanapun manda pergi selalu di cegah.


" he..he.. ya sudah cepetan" Jawab Aron seolah cuek. Ia terlihat sangat malu. Apa lagi di hadapan kesha di sampingnya. Serasa punya pasangan sendiri aja masak ke toilet saja di cegah.


Manda menganggukkan kepalanya berlari kecil memegang dengan tangan memegang rok masuk ke dalam kamar Mandi. Serasa udah di ujung, karena terlalu lama menahannya.


Vino berjalan masuk ke ruangan Aron dengan tatapan sedihnya. Ia terua menunduk berjalan menghampiri Aron.


Aron mengerutkan keningnya melihat manda sudah pergi Aron mulai menatap kesha dan vino yang hanya menunduk. Dan mereka hanya diam tanpa suara. Seolah ada hal yang di sembunyikan.


" Kenapa kalian hanya diam menunduk" Tanya Aron.


" Gak ada apa-apa kak, kamu cepat sembuh" Ucap Vino. Raut wajahnya berbeda, iabterlihat muram dan tak ada rasa bahagianya melihat Aron sudah terbangun.