Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Jenguk Manda


"Nanti kamu mau ikut aku jenguk Manda gak?" tanya Vina, penuh keraguan dalam dirinya. Sebenarnya ia gak mau ajak dia, takutnya malah makin berkesempatan untuk mendekati Manda.


"Kenapa memang, bukannya kamu tadi bilang kalau aku hanya mengganggu hubungan antara suami istri itu. Kenapa kamu malah mengajakku sekarang" ucap Albert yang memang lagi fokus mengemudi mobilnya. Tidak memandang sedikitpun ke arah Vina.


"Jadi kamu nurut apa kata aku sekarang, atau memang kamu ada perasaan ya dengan aku ya. Udah aku bilang aku yakin, dan sangat yakin jika kamu lama-lama suka dengan aku. Tapi kamu saja yang masih malu-malu" ucap Vina menggoda dengan penuh percaya diri.


"Apaan sih, siapa juga yang suka dengan kamu. Lebih baik kamu diam saja di situ duduk tenang dan jangan banyak bicara. Atau aku turunkan kamu di sini" ucap Albert mengancam.


"Baiklah" ucap Vina mengalah dari oada ia di turunkan di tengah jalan oleh lelaki jutek di sampingnya itu, dengan senyum manis di bibirnya. Ia sekarang tahu jika Albert pasti lama-lama akan suka dengannya. Hanya saja dia pasti malu jika mengakuinya. Tapi Vina sangat yakin dengan apa yang ada di pikirannya itu semua akan menjadi kenyataan.


"Rumah kamu di mana?" tanya Al dingin.


"Kenapa tanya rumah aku, apa kamu mau bertemu dengan orang tuaku juga ya. Membicarakan soal pernikahan kita, atau pertunangan kita lebih dulu" jawab Vina dengan senyum menyungging di bibirnya. Ia terus mencoba menggoda Albert hingga wajahnya mulai memerah malu, dan semakin kesal.


"Kamu mau pulang gak, kalau gak mau ya sudah silahkan turun di sini" ucap Al, yang sudah semakin kesal di buatnya.


"Iya, aku tadi hanya bercanda. Kenapa kamu jadi marah gitu" gumam Vina, menatap ke depan.


Albert hanya diam, tak perdulikan Vina yang terus berbicara di sampingnya. "Rumah aku di ujung jalan sana, kalau kamu mau mampir sejenak atau hanya minum teh gak masalah, rumah aku sangat kecil." ucap Vina mencoba merendah diri.


"Siapa yang tanya" ucap Albert jetek.


Vina mengerutkan bibirnya, setiap berbicara dari tadi selalu salah di mata Albert. Ia memikirkan cara untuk bicara lebih jauh lagi dengan Al, tapi sepertinya dia memang tidak bisa di ajak bercanda apalagi bicara serius dengannya, malah semakin marah dia nanti denganku.


"Gimana kalau kita ke rumah Manda dulu, aku dengar Manda sudah di bawa pulang" ucap Vina memecahkan keheningan di antara mereka.


Albert hanya diam, ia bingung mau jenguk Manda atau tidak, tapi Manda pasti butuh taman juga saat dia sakit. Tapi dia juga tidak butuh teman laki-laki. Lagian dia juga sudah punya suami. "Kalau kamu mau rumah Manda aku antar, tapi aku mau pulang sendiri. Dan kamu bisa pulang naik taxi kan" gumam Albert, yang langsung memutar balik mobilnya. Karena arah ke rumah Manda sudah lewat, ia harus putar balik dan mengambil jalan pintas menuju ke rumah Manda.


"Kenapa kamu gak ikut, kalau kamu dengan aku. Aku gak merasa khawatir jika kamu akan dekat dengan Manda" ucap Vina. "Lagian kalau kamu sampai berani mendekati Manda maka aku sendiri yang akan bertindak" ucap Vina mengancam.


"Gak usah banyak bicara, sekarang cepat lihat ke depan" ucap Albert yang sudah menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Manda.


"Kita sudah di depan rumah Manda, tapi aku belum menghubunginya. Sekarang dia di rumah atau tidak" ucap Vina yangvterlihat bingung mengacak-acak dalam tasnya mencoba mencari ponselnya.


Albert menatap aneh pada Vina. "Lagian dari tadi kamu banyak bicara. Dan gak mungkin Manda keluar rumah kalau dia sakit. Jadi sekarang dia pasti ada di rumah" ucap Albert yang mulai turun dari mobilnya.


~


Di sisi lain, Aron masih membuat masakan untuk Manda. Kali ini ia ingin memanjakan istrinya yang lagi sakit. Dan sesekali memanjakannya.


"Tuan, ada tamu di depan" ucap pembantu Aron berlari kecil menghampiri Manda dan Aron di dapur.


"Siapa?" tanya Aron, bingung siapa jam segini datang ke rumahnya.


"Teman non Manda tuan, yang biasanya ke sini jemput non Manda kalau kuliah" jawab pembantunya yang memang tidak tahu namanya.


"Manda ada teman kamu" ucap Aron, yang langsung menoleh ke arah Manda yang duduk di kursi roda sampingnya, melihat dia memasak dari tadi.


"Bentar, biar aku antar syang." gumam Aron yang memang sudah selesai memasak, ia mematikan kompornya dan mendorong kursi roda Manda untuk menemui Vina yang sudah di persilahkan duduk oleh pembantu mereka di ruang tamu.


"Vina! Albert!" ucap Manda terkejut memandang Albert yang ikut dengan Vina di sana.


"Kenapa kalian sekarang sering bersama" ucap Manda curiga jika di antara mereka ada hubungan. Meski bukan urusan dia jika memang ada hubungan antara mereka. Tapi setidaknya Manda juga ikut senang jika temannya itu bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Albert laki-laki yang di inginkan Vina dari kemarin, Manda yang tahu perjuangan dia selama ini untuk bisa dekat dengan dia, dan sekarang sepertinya lagi membuahkan hasil juga.


"Tadi aku kebetulan saja lewat dan bertemu dengan dia" ucap Albert menvoba mencari alasan.


"Gak Da! Tadi aku sama dia di kampus dan dia itu ajak aku ke cafe bersama teman-temannya. Terus sekalian pulangnya aku ajak dia jenguk kamu" ucap Vina, melotot ke arah Albert, ia tidak mau jika albert membalas ucapanya tadi.


"Kalian mau minum apa, biar aku yang ambilkan" ucap Aron memotong pembicaraan mereka.


"Gak usah, aku hanya ingin jenguk Manda saja kok." jawab Vina. "Lagian tadi aku udah kenyang minum di cafe" lanjutnya.


"Oo. ya sudah" ucap Aron duduk di sofa, dan membiarkan Manda tetap di kursi roda sampignya.


"Kamu gak napa-napa kan?" tanya Albert mencoba meraih tangan Manda, namun demgan sigap Aron, mencegahnya dan meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat agar tidak ada orang lain yang berani menyentuh tangan lembut istri kesayangannya itu.


"Dia gak apa-apa, hanya kurang darah dan drop. Makanya aku suruh dia untuk duduk saja di kursi roda, biar gak banyak bergerak." ucap Aron. Dan di sambung dengan senyuman oleh Manda, ia tahu jika suaminya itu merasa khawatir dan cemburu dengan Albert, tapi dengan begitu Albert bisa sadar jika dia punya suami gak mungkin mau dekat dengannya.


Vina yang duduk di depan Albert menatap tajam ke arahnya. Ia kecewa dengan Al hang semula dia tidak mau mengganggu Manda, dan kinj di depannya dia bahkan berani mau menyentuh tangan Manda. "Dasar gak punya malu, di depan suami Manda mau memegangnya dan sok perhatian dengannya" batin Vina kesal, ia mengerutkan bibirnya, sembari menatap tajam ke arah Albert.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Albert pada Vina.


Vina hanya diam tak perdulikan Albert. "Oya Da, kamu sudha minuk obat?" tanya Vina mengalihkan pembicaraan.


"Belum, ini mau makan, suami aku sudah siapkan makanan untuk aku dan anak-anak. Apa kalian mau makan juga dengan kita?" tanya Manda.


"Wah suami kamu pintar masak ya Da, enak banget punya suami yang selalu perhatian denganmu. Dan selaku memanjakanmu. Aku jadi iri denganmu Da." ucap Vina sambil melirik sinis ke arah Albert. Seakan menyindir Albert agar dia tahu tempat dan posisinya di hati Manda, yang di anggap sebagai teman tidak lebih.


Manda tersenyum. "Iya, aku beruntung bisa dapat suami seperti dia. Banyak cobaan yang sudah kita lewati bersama. Aku berharap bisa sampai tua seperti ini dengan suami aku" ucap Manda dengan nada bangga tersirat dalam hatinya.


"Udah ayo kita makan bersama" ucap Aron.


" Gak usah, aku dan Vina mau pulang" ucap Albert yang merasa kesal hati dan pikirannya.


"Iya, Da aku pulang dulu ya, besok aku akan ke sini lagi" ucap Vina.


"Iya Vin, beneran kamu gak makan dulu sebelum pulang?" tanya Manda memastikan.


"Gak usah Da, aku sudah kenyang" gumam Vina, yang segera meraih tangan Albert dan segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah Manda.


Aron dan Manda mengantar mereka sampai di depan pintu rumahnya. "Hati-hati ya Vin" ucap Manda melambaikan tangan ke arah Vina.