
Mendapatkan ijin dari ayahnya untuk pergi tapi hanya sebentar. Dan ia harus di antar sopir. Ayahnya melarangnya untuk pergi sendiri malam-malam begini. Dan Vina segera pergi dengan sopir untuk mencari Vino di tempat pertama kali ia bertemu dengannya. Ia berharap jika dia bisa bertemu lagi di sana. Kalau tidak ada di sana, Vina berencana untuk pergi ke sebuah cafe dekat kemarin saat ia bersamanya.
"Apa aku hubungi saja dia ya" gumam Vina, yang masih memegang ponselnya. Ia ragu ingin menghubunginya lebih dulu. Lagian juga dia gengsi harus menghubungi laki-laki duluan. Meski ia punya nomor Vino, tapi dia pikir dua kali menghubunginya. Lagian apa yang di bicarakan nanti di telepon. Dan dari kemarin ia belum juga berani untuk menghubungi Vino lebih dulu.
"Non kita kemana?" Tanya sopir Vina.
"Ke halte depan pak, kita berhenti di sana dulu pak. Nanyi kalau ada laki-laki lewat panggil dia ya pak" ucap Vina.
"Iya non"
Hampir setengah jam menunggu Vino tidak kunjung datang juga. Merasa sudah kesal, dan bosan menunggu. Vina memutuskan untuk segera pergi ke dari halte itu. Ke sebuah cafe tujuan selanjutnya.
"Non gimana apa kita masih menunggu laki-laki itu di sini" tanya sopir.
"Kita pergi saja pak, kita ke sebuah cafe di dekat sini ya pak" ucap Vina. Meski tidak begitu jauh dari rumahnya. Ia lebih memilih naik mobil agar lebih aman, dari lelaki penggoda yang tiba-tiba datang, seperti kemarin
"Baik non" ucap sopir.
Sampai di sebuah cafe, Vina segera turun dan masuk ke dalam cafe. Ia memutar matanya melihat seluruh ruangan itu. Apa ada Vino gak di sana. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya untuk duduk di kursi. Vina menatap ke samping seketika matanya melotot melihat siapa yang menariknya.
Albert lagi, kenapa selalu dia, seolah itu yang ada dalam pikirannya sekarang.
Ia menarik napasnya sejenak.
"Kamu lagi, kamu lagi. Aku bosan melihat wajah kamu" ucap Vina, dengan nada kesalnya. Dengan tatapan tajam ke arah Albert
"Apalagi aku, juga sangat, sangat malas bertemu dengan kamu. Tapi mau gimana lagi, ini juga sudah takdir kita bertemu" ucap Albert menarik bibirnya tipis.
"Tapi kenapa aku di takdirkan bertemu dengan kamu, aku merasa ingin sekali pergi saja. Dari pada aku harus bertemu dengan kamu" ucap Vina dengan nada menantangnya.
"Hufff.. dasar wanita kepedean banget. Udah ganjen, malah sekarang ke pedean. Aku tau kamu ke sini pasti cari cowok kan. Kamu tidak pernah luput dari cap ganjen dari ku. Wanita ganjen yang selalu dekat-dekat dengan cowok. Dan sok dekat, sok akrab" sindir Albert dengan tatapan tidak suka pada Vina.
"Siapa yang sok dekat, aku ke sini tidak ganggu kamu. Kenapa kamu menarikku untuk duduk di sini" ucap Vina semakin kesal, bibirnya menggertak menahan rasa marah yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kamu jangan berdiri di situ, aku mau pesan sesuatu tapi kamu tutupi dengan tubuh kamu" jawab Al semakin kesal di buatnya.
Vina yang sudah mulai munutup emosinya. Ia mengertakkan kakinya ke lantai dan bangkit dari duduknya. Pergi meninggalkan Albert sendiri.
"Pergi sana" gumam Al.
Vina duduk menjauh dari Albert, sambil menunggu Vino. Yang entah dia akan datang ke cafe itu atau tidak. Ia memesan sebuah minuman dingin, dengan wajah masih khawatir dan terus gelisah menunggu Vino.
Sudah hampir 15 menit berlalu, Vino juga belum datang. Al yang tahu jika Vina sedang gelisah sendiri duduk di meja, dengan tangan memegang gelas cafe late dingin di depan.
"Hai wanita ganjen" teriak Al membuat semua pengunjung di sana menatap ke arah Vina.
Vina yang sadar jika ada seseorang cowok yang nyebelin. Tiba-tiba memanggilnya. Dia memang sengaja membuatnya malu di depan umum, dengan mengatakan hal yang tak seharusnya di katakan di depan semua orang.
"Heii ganjen, apa kamu gak punya telinga" teriak Albert. Vina semakin kesal, rahangnnya mulai mengeras, aliran darahnya seakan sudah naik ke atas, dengan wajah yang mulai memerah. Ia mengepalkan tangannya.
Dan merasa tidak ada jawaban dari Vina. Kini Albert semakin ingin menggodanya. "Ganjen sini" teriak Albert, membuat semua para pengunjung di sana tidak berhenti menatap ke arah Vina, membuat Vina semakin malu di buatnya dan.
BRAAKKK..
"Beraninya kamu mempermalukanku di depan umum" ucap Vina penuh emosi menjalar di tubuhnya.
Vina yang sudah mulai tak bisa menyembunyikan kemarahanya ia menggebrakan meja sangat keras. Dengan tangan meraih cafe latte miliknya dan berjalan ringan, dengan senyum sinis ke arah Albert, ia berjalan ringan menghampiri lelaki itu dan.
Vina menyiramkan satu gelas cafe latte miliknya tepat ke wajah Albert. Membuat Albert marah, ia bangkit dari duduknya. Dan mengangkat tanganya ingin menampar Vina. Namun, ia mengurungkan niatnya, menatap sekelilingnya. Semua mata menatapnya tajam, di kira ia ingin bertindak kasar dnegan wanita. Ia mengurungkan niatnya, dan melemparkan tangannya ke bawah.
"Shiittt.." umpat Albert dengan bibir menuntup, dan tatapan tajam kas matanya.
"Apa kamu mau menamparku?" Ucap Vina tanpa rasa takut padanya. "Kamu yang memulai, kenapa kamu malah marah" ucap Vina.
Albert yang sudah merasa malu, ia menarik tangan Vina keluar dari cafe itu. "Apa maksud kamu dengan ini semua" ucap Vina.
"Dasar wanita ganjen, kamu beraninya menyiram aku, membuat bajuku basah kuyuk gini" ucap Albert, berjalan mendekati Vina membuatnya terpojok di balik mobilnya.
"Apa yang akan kamu lakukan" tanya vina, mencoba mendorong tubuh Albert, namun tubuhnya yang kuat, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Aku gak akan menyakiti kamu, tapi aku ingin memberi kamu sebuah pelajaran yang membuat kamu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Termasuk melawanku." Ucap Al.
"Apa maksud kamu" gumam Vina, tanpa ada jawaban dari bibir Albert, benda kenyal sudah menempel di bibirnya. Membuat ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Vina terus meronta, menolak apa yang di lakukan Albert namun tubuhnya seakan tak berdaya Dan tiba-tiba seorang lelaki mendorong kuat tubuh Albert menjauh dari Vina dan.
Bukkk...
Sebuah pukulan mendarat di pipi Albert. Membuatnya jatuh tersungkur ke bawah. "Jangan main kasar dengan wanita" ucap Seorang lelaki yang tak di kenal olehnya.
Vina menatap ke depan, dengan punggung tangannya terus mengusap berkali-kali bibirnya bekas kecupan Albert yang membuatnya merasa jijik.
"Vino?" Ucap Vina, yang terkejut melihat Vino ada di depannya.
"Dasar sialan! Siapa kamu?" Ucap Albert, yang masih tersnungkur, dengan tangan mengusap wana merah kental segar yang keluar dari ujung bibirnya.
"Aku teman dia, jangan beraninya kasar dengan wanita. Aku gak suka ada senang yang kasar dnegan wanita" ucap Vino dengan tangan menunjuk ke wajah Albert.
Albert beranjak berdiri, dan memalingkan badannya dengan wajah kesal, ia segera masuk ke dalam mobilnya.
"Minggir, itu teman yang kamu tinggu sudah datang" ucap Albert, ia mendorong tubuh Vina yang masih bersandar di mobilnya.
Albert melepaskan bajunya, dan membuka kaca mobilnya, melemparkan baju uang ia kenakan ke wajah Vina. "Cuci itu, bawa besok saat di kampus" ucap Albert, menutup kembali kacar mobilnya, lalu melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Vino.
"Gak papa, makasih kamu sudah membantuku. Aku beruntung bisa bertemu dnegan kamu lahi sekarang" ucap Vina.
"Kenapa kamu di sini malam-malam gini?" Tanya Vino.
"Emm. Aku tadi... hanya mampir saja" ucap Vina, beralasan. "Oya kamu baru pulang?" Lanjutnya.
"Iya, aku baru pulang. Tadi ada lembur si pekerjaan aku. Lumayan uangnya bisa buat makan dan biaya sehari-hari" ucap Vino.
"Ya sudah, sekarang udah malam. Kamu lebih baik pergi. Jangan keluar malam-malam begini gak baik buat wanita" ucap Vino.
"Baiklah, sekali lagi makasih ya" ucap Vina, yang tak bisa berhenti tersenyum memandang wajah Vino di depannya.
"Iya, sama-sama" ucap Vino.
"Byee.. kamu hati-hati ya" ucap Vina, yang mulai berjalan perlahan dengan pamdangan masih menatap ke arah Vino, ia melambaikan tangannya memandang wajah Vino sebelum pulang.