
Manda menjinjitkan kakinya, meraih wajah Aron yang tidak bisa ia gapai karena terlalu tinggi baginya, tubuhnya yang mungil hanya bisa memegang dada Aron. Ia menarik kepala Aron agar ia menunduk, Manda dengan segera mengecup pipi kanan dan pipi Aron bergantian,
"Kamu jangan seperti itu syang, gemas tahu gak"ucap Manda dengan senyum tipisnya, di balas dengan sentuhan lembut dari jemari Aron.
"Lagian kamu juga mau saja di cium"ucap Aron.
"Mana aku tahu syang, kalau dia mau menciumku. Udah sekarang kita pergi yuk"gumam Manda.
"Baiklah, tapi jangan gitu lagi ya syang, aku tidak suka, melihat kamu dengan lelaki lain"ucap Aron, memegang tangan manda, mengecup ke dua tangan Manda. Ia tidak mau kalah dengan Arta yang lebih dulu terlihat romantis dengan Manda. Sebagai suaminya ia ingin terlihat lebih romantis lagi dari orang lain, tidak boleh kalah dengan orang lain.
"Syang sudah lepaskan tanganku, malu di lihat orang"gumam Manda. Aron yang mencium punggung tangannya sanga lama, tak berhenti melepaskan. Ia terus mengecup tangannya, dia ingin menghilangkan bekas Arta di tangan Manda.
"Sudah syang, aku hanya ingin bekas ciuman itu hilang dari tanganmu, sekarang biarkan tangan lembut ini aku akan terus pegangi, agar dia tidak jauh dariku,"ucap Aron, memegang tangan Manda, menuntunnya pergi dari restaurant itu, ia meninggalkan uang di meja, sesuai dengan bill yang di bawakan waiters tadi.
"Tuan, maaf"ucap Waiters yang mengejar mereka sampai ke depan restaurant.
"Ada apa?" tanya Manda bingung.
"Ini uang tuan, tadi semua sudah di bayar dengan teman tuan" ucap waiters itu, mengulurkan uang ke arah Aron.
"Teman siapa?" tanya Aron bingung.
"Teman yang makan bersama tuan tadi" ucap waiters.
"Arta?" gumam Manda.
"Oo. ya sudah makasih ya sebelumnya"ucap Aron, meraih kembali uangnya. Ia semakin kesal hari ini, selalu kalah start dengan Arta.
"Sekarang cepat masuk dalam mobil syang, aku mau balikkan uang taman kamu itu, ku gak mau makan dari uang dia"ucap Aron, yang semakin kesal di buatnya.
"Kita mau cari dia di mana syang"tanya Manda, menatap suaminya itu bingung.
"Entah kemana, ku gak mau di bayar makanannya oleh dia"gumam Aron, yang mulai membantu Manda masuk ke dalam mobilnya.
Manda yang bingung dengan tingkah cemburu suaminya itu, ia hanya bisa berdengus kesal.
"Ya sudah sekarang kita pergi dulu, siapa tahu nanti kita bertemu dia di jalan"ucap Manda.
"Iya, syang. Kamu baik-baik ya syang"ucap Aron, mengecup kening istrinya itu.
"Baik-baik kenapa maskudnya?"tanya Manda bingung.
"Baik-baik jangan sampai terkena Virus dia"ucap Aron yang masih kesal dengannya. Bagimana tidak kesal ia harus nelihat istrinya di perlakukan seperti itu dengan lelaki lain.
Manda seketika tertawa, tak hentinya hingga sakit perutnya. Wajah Aron yang semakin menggemaskan saat cemburu itu bikin ia ingin sekali mencubitnya.
"kenapa kamu tertawa?" tanya Aron.
"Kamu itu lucu syang" gumam Manda.
"Lucu gimana?" tanya Aron, yang fokus dengan jalan di depannya.
"Sangat lucu kalau kamu cemburu, pipi kamu memerah"ucap Manda.
" Udah syang, lihat depan, pemandangannya bagus"ucap Aron, yang sudah melewati jembatan herbaour, Manda menatap sekelilingnya, pemandangan yang begitu indah dengan gedung opera ada di depan.
"Kita mau ke sana syang?" tanya Manda.
"iya syang, bukannya kamu mau foto-foto nantinya."ucap Aron.
"Iya syang, ya sudah cepat syang, aku sudah gak sabar"gumam Manda, yang sudah tidak sabar untuk berfoto ria di sana. mengabadikan momen dengan perut yang membuncit.
"Syang, sini biar aku bawa uangnya. Siapa tahu kita bertemu dengan Arta nantinya"ucap Manda.
"Baiklah, terserah kamu"ucap Aron.
Aron segera membantu Manda untuk turun, ia sangat hati-hati dengan kondisi perut Manda yang sufah semakin membesar.
"Syang pelan-pelan jalannya"ucap Aron, pada Manda yang sudah jalan di depan lebih dulu.
"Ayo syang cepetan"gumam Manda, ia semakin mempercepat jalanya, hingga tiba-tiba seseorang menabraknya. dan hampir saja jatuh. Namun dengan sigap seseorang memangkap tubuh Manda.
"Manda!" Teriak Aron yang melihat istrinya di tabrak seseorang.
Manda memandang lelaki itu terkejut.
"Arta" ucap Manda.
"Heh. kamu kalau jalan pakai mata, istri aku lagi hamil Kalau sampai dia kenapa-napa aku akan laporkan kamu ke polisi"ucap Aron, menarik tangan orang yang menbrak Manda tadi. Ia merasa aman Manda di tolong oleh orang tadi. Kalau tidak entah bagaimana jadinya.
"Maaf, aku briu-buru"ucap orang itu dan segera berlari pergi.
"Sialan tu orang"ucap Aron kesal, ia menoleh ke belakang melihat Manda dengan seorang lelaki yang menolongnya.
"Arta, kamu ada di sini?" tanya Manda memamdang Arta di depannya. Ia tidak tahu gimana jadinya jika Arta tidak menolongnya tadi.
Aron yang melihat Arta, ia langsung meraih tubuh Manda dari tangan Arta.
"Lepaskan istri aku"ucap Aron, memegang tubuh istrinya itu.
"Baiklah"gumam Arta. "Lain kali kamu hati-hati. Untung saja aku tadi lewat sini. Kalau enggak gimana jadinya dengan bayi kamu."ucap Arta, tersenyum dan memberikan kiss jarak jauh pada Manda.
"Jangan kurang ajar pada istriku."ucap Aron mengancam dengan tatapan sinisnya.
"Siapa yang kurang ajar, aku tadi hanya menolongnya. Karena ada urusan di sini juga. Jadi kebetulan aku melihat Manda yang tepat di depanku mau jatuh"gumam Arta, memeberi alasan pada Aron.
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama kamu menyentuh istri aku, dan terima kasih sudah menolong istri ku sebelumnya"ucap Aron, dengan pandangan ke arah lain.
"Apa katamu terima kasih"ucap Arta tersenyum.
"Lain kali jaga istri kamu, jangan biarkan dia jalan sendiri di depan kamu. Jadi suami harus peka." ucap Arta menasehati Aron.
"Apa urusan kami"ucap Aron semakin kesal.
"Udah-udah, kenapa kalian setiap bertemu selalu berdebat. Sekarang aku gak apa-apa , jangan saling menyalahkan. Dan suami aku juga gak salah. emang akunya saja yang kurang hati-hati tadi"gumam Manda,
"Ya, sudah lain kali kamu hati-hati ya"ucap Arta, memegang helaian rambut di pelipis Manda dan menyilakan ke belakang telinganya.
Seketika di tepis oleh Aron, mendorong tubuh Arta menjauh dari Manda. "Jangan seenaknya kenyentuh istri aku, apa kamu gak lihat suaminya ada di sini. Di depan kamu, apa kamu belum sadar jika Manda sudah punya suami. Jadi jangan seenaknya memegang istri orang. Lebih baik kamu cari istri sana, biar kamu bisa memegang dia. Memanjakan dia, jangan istri orang lain"ucap Aron menegaskan dengan nada tinggi pada Arta.
Seketika Arya terdiam mendengar ucapan Aron. yang membuat hatinya merasa tersentuh. Namun ia mencoba tersenyum di hadapan Aron. "Baiklah, aku sekarang akan pergi. Semoga kalian bisa bersenang-senang dengan tangan" ucap Arta.
"Arta maafkan suami aku ya"ucap Manda pada Arta.
"Iya, gak apa-apa Da, aku mengerti perasaan suami kamu, jelas dia cemburu padaku. Tapi aku tetap suka dengan kamu"ucap Arta, dengan lambaian tangan perpisahan pada Manda.
"Syang kamu gak apa-apa?"tanya Aron, mencoba menatap detai tubuhnya. Ia takut jika Manda kenapa-napa.
"Gak apa-apa syang, sudah jangan terlalu khawatir"ucap Manda, ia teringat sesuatu dan menoleh ke arah Arta. Ada hal yang ingin ia bicarakan dan sekalian memberikan uangnya tadi.