Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Berantem Manja


"Ya udah kalau makan, cepat habiskan jangan banyak bicara"ucap Aron mencubit hidung mungil milik Manda.


"Iya, iya"jawab Manda kesal. "Jangan cubit hidungku"lanjutnya, memegang hidungnya yang terlihat memerah karena cubitan Aron


"Jadi mau di belikan buah sekarang atau tidak?" tanya Aron menatap ke arah Manda yang terlihat kesal dengannya.


"Terus aku sama siapa di sini? Kenapa gak nunggu Vino dan Kesha kembali dulu" tanya Manda menatap sekelilingnya yang terlihat sepi.


"Ya kalau merrka kembali syang, lagian mereka ada masalah yang harus di selesaikan berdua. Jadi jangan ganggu mereka"ucap Aron.


"Aku gak ganggu hanya minta di teminin di sini"jawab Manda. "Lagian aku sama siapa di sini akalu gak sama mereka"lanjut Manda kesal.


"Ya sendiri"goda Aron tersenyum tipis ke arah Manda.


"Haa... Apa kamu tega ninggalin aku sendiri. Kalau aku di culik orang gimana kamu gak bisa ketemu aku lagi dan anak kita" tanya Manda, mengerutkan bibirnya. Ia kesal sebenarnya dengan Aron di tinggal sendiri gak ada temannya. Kalau ada Kesha ia lebih memilih bersamanya. Bisa saling cerita padanya. Tapi kalau Aron gak beli buah perutnya sudah menendang-nendang memberontak minta cepat makan buah yang ia inginkan itu.


"Syang, siapa yang tega meninggalkan kamu sendiri di sini. Lagian kamu juga yang suruh aku beli sendiri tadi. Terus kenapa aku boleh pergi. Jadi nyidamnya di tunda dulu ya. Besok saja, atau lusa atau minggu depan" gumam Aron menggoda.


"Tega kamu syang, baby kita udah ngiler gini kamu malah nunda, nunda sih. Aku pengennya sekarang"ucap manda semakin kesal. Ya tahu sendiri rasanya istri nyidam makanan kalau gak dituruti marah-marah gak jelas.


susah hadapi ibu hamil, ada sjaa permintaannya. tapi tidak amsalah kalau dalam batas wajar. Kalau minta yang aneh-aneh aku pikir-pikir dulu, batin Aron.


"Kenapa kamu diam?" tanya Manda mendekatkan wajahnya tepat di wajah Aron dan hanya berjarak dua telunjuk tangan.


Aron mulai memasang wajah seriusnya. sekana ia ingin mentakana hal serius pada istrinya. Manda menatap Aron yang nampak serius ia kendekatkan duduknya ke arah Aron.


"Kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Aron, semakin mendekatkan wajahnya.


Manda hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang di oikirkan Aron. "Emang aku bisa menebak pikiran kamu seperti peramal gitu"ucap Manda kesal.


"Baiklah dengarkan baik-baik" ucap Aron serius. " Aku itu lagi mikir gimana cara membelah diri jadi dua syang. Agar aku bisa jaga kamu dan satunya bisa membeli apa yang kamu mau di pasar"Ucap Aron menggoda Manda. Lagian istrinya itu ada-ada saja. tubuhnya hanya satu tapi suruh melakukan 2 kegiatan secara bersamaan gimana jadinya.


Manda mengerutkan bibirnya, "Tau lah, terserah kamu" Gumam Manda kesal. Ya dia kesla Aron amalh mengajaknya bercanda. Lagian ia memang benar ingin buah dan tapi takut jika tidak ada temannya.


"Selalu ngambek deh, kenapa sekarang jadi dikit-dikit ngambek syang. Apa emang efek ibu hamil seperti itu?" tanya Aron.


"Jangan panggil aku ibu, aku belum jadi ibu-ibu."Gumam manda mengelak.


"Ya elah syang, udah menikah jadi ya udah ibu ibu, lagian juga sudah mau punya anak. nanti orang -oeang panggilnya ibu Manda."ucap Aron tertawa.


"Kenapa kamubtertawa, i bilangin aku bukan ibu-ibu"Bentak Manda. Aron terdiam seketika, ia mencoba mrngecek suhu tubuh istrinya itu.


"Masih normal"lanjutnya.


"Emang kamu pikir aku kenapa," Manda melebarkan matanya, dengan kedua tangan kepinggang seakan menantang ke arah Aron.


"Tu kan, ada taringnya keluar"Aron memegang bibir Manda yang memang dari tadi terus manyun.


"Udah sana pergi aku sendiri saja, lagian siapa juga yang takut. Aku gak takut, lebih baik sekarang kamu pergi dan cari buah yang aku minta. Aku kasih waktu hanya 2 jam. Harus sudah ada di sini lagi. gak boleh membantah dan gak boleh mengelak. Cari pasar yang dekat dari sini"Ucap Manda.


Aron hanya diam, menatap Manda. Gimana bisa ia beli buah belum tawar menawar. Dan jarak pasar dengan rumah sakit memakan waktu 30 menit. Hal konyol yang harus ia lakukan. Ia harus membeli secepat kilat dong nantinya.


"Baiklah"ucap Aron terpaksa. Ia mendenguskan napas beratnya, entah apa bisa tepat waktu atau tidak, ia juga tidak tahu.


Suara ketukan pintu membuat mereka saling memandang sejenak, meski Manda masih kesal dengan Aron.


"Siapa itu" tanya Manda dengan nada jutek pada Aron.


"Entahlah"jawab Aron yang memang tidak tahu itu siapa.


"Kesha!!" ucap Manda terkejut. Melihat kesha berjalan masuk sendiri tanpa Vino di sampingnya.


"Kenapa kamu Sha?" tanya Manda nampak bingung menatap Kesha yang terlihat terus menunduk seakan menyembunyikan sesuatu dalam hatinya.


"Gak apa-apa Sha, oya kak kalau mau keluar, keluar saja kak gak apa. Biar Manda sama aku di sini."Ucap Kesha.


"Baiklah, tapi Vino mana? Kenapa dia gak sama kamu?" tanya Aron menatap ke belakang Kehsa tak ada Vino yang mengikuti langkah kesha masuk ke dalam ruangan Manda.


"Dia di luar, katanya mau sendiri dulu. Sepertinta kakak yang harus bicara sama Vino" Ucap Kesha, duduk di pinggiran ranjang Manda.


"Baiklah, aku titip Manda ya. Kalau ada apa-apa telefon aku."ucap Aron.


Aron mendekati Manda mengusap lembut rambutnya.


"Syang aku pergi dulu ya, kamu di sini sama Kesha. Aku akan segera dapatkan buah yang anak kita inginkan"gumam Aron mengecup lembut kening Manda.


Manda yang tadinya lagi marah, ia hanya diam. Seakan api kemarahan dalam diri Manda mulai luntur. Sebuah kecupan yang membuat dia tak bisa berbiacara apa-apa lagi.


"Iya"ucap Manda. tersenyum tipis memandang suaminya.


"Baiklah, jaga diri. Jangan lupa minum obatnya"lanjut aron berjalan terburu-buru, keluar daei ruangan Manda.


Menatap punggung Aron yang sudah berjalan menjauh darinya, Manda mendekatkan duduknya ke arah Kesha.


"Sha, sebanarnya ada apa?" tanya Manda penasaran.


"Maksudnya"Kesha nampak bingung dengan pertanyaan manda.


"Aku sebenarnya kenapa? Benar kan bayiku baik-baik saja" tanya Manda lagi.


"Oo.. Aku kirain Vino yang kenapa. Kamu gak napa-napa hanya saja kata kak Aron kamu hampir sjaa keguguran. untung saja kak Aron cepat bawa kamu ke rumah sakit. Jadi kamu dan anak kamu masih bisa tertolong." Ucap Kesha.


"Apa gara-gara minum kemarin?" tanya Manda ragu.


"Iya"Kesha mendorong dahi manda dengan telunjuk tangannya. "Kamu itu terlalu ceroboh Manda. Harusnya kamu lebih hati-hati lagi kalua minum sembarangan. Hanya karena cemburu kamu minum wine satu gelas penuh lagi. Apa kamu gak mikir anak kamu juga nantinya"ucap Kesha kesal.


Manda menunduukkan kepalanya. ia menyesal dengan kecerobohan yang ia lakukan. Seandainya bisa di ulang, gak mungkini minum wine itu dan lebih baik membuangnya ke wajah wanita yang di samping Aron kemarin dari pada harus meminumnya.


Tapi semua sudah terlambat, penyesalan juga gak ada gunanya. Lagian sekarang babynya juga tidak apa-apa lain waktu harus lebih hati-hati jangan terbawa emosi lagi, gumam Manda dalam hatinya.


"Udah sekarang gak usah di pikirin lagi, oya besok Vino mau perpisahan sekolah. Apa kamu gak datang sama Kak Aron. Dan mingggu depan Vino juga sudah akan pergi ke Sydney. Katanya dia lebih memilih kuliah di sana. Kalau aku nurut saja. Aku juga akan nerusin kuliah. Meski ketinggalan satu tahu. Dan aku baru daftar jadi mahasiswa baru." ucap kesha menundukkan kepalanya, sekaan ia menyesal tidak langsung melanjutkan kuliah dulu. Dan lebih memilih menunggu Vino agar bisa satu angkatan dengannya.


Kesha memang lebih tua satu tahun dengan Vino. Namun itu tak jadi masalah baginya.