Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Jalan-Jalan


"Kita mau kemana?" tanya Manda merangkul tangan kiri Aron dengan langkah kaki kompak beriringan memgelilingi kota.


"Jalan-jalan syang menikmati keramaian kota saat malam hari"gumam Aron.


"Tapi gak ada niat buwat beli sesuatu gitu"Tanya Manda mendongakkan kepalanya menatap Aron yang memang lebih tinggi darinya.


Jika betada di dekat Aron tubuhnya terlihat sangat mungil, hanya sepundaknya.


"Emangnya kamu mau beli apa, oleh-oleh? siapa juga yang mau kamu belikan oleh-oleh?"ucap Aron mensap ranbut Manda hingga berantakan.


"Ih jangan sentuh kepalaku, lihatlah jadi berantakan rambutku"gumam Manda.


Mendengar kata oleh-oleh Manda hanya diam sejenak, ia mulai teringat dengan kakak kandungnya. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kakanya itu, sejak dia tinggal bersama Aron. Bahkan kakaknya juga tidak mengabarinya sama sekali,  gimana nasib dia sekarang ia juga tidak tahu.


Lelaki dengan balutan jaker kulit hitam itu mengerutkan keningnya menatap Manda yang diam menunduk"


"Kenapa kamu jadi nunduk gitu? Apa ada masalah?" tanya Aron menarik dagu Manda ke atas untuk menatapnya.


"Syang, apa ada masalah"tanya Aron.


Manda mematap mata Aron.


"Aku ingat kakak aku, meskipun dulu dia tidak pernah menganggapku tapi setidaknya dia adalah kakak aku. Aku ingin sekali bertemu dengannya"Ucap Manda.


"Baiklah kalau begitu beli oleh-oleh buwat kakak kamu nanti saat kita sudah mau pulang ya, Besok kita akan pulang. Jadi kita nimkati hari terkahir kita di sini, lagian kenapa kamu harus sedih gitu. Jangan  sedih ya, nanti cantik kamu hilang jadi jelek tu. Sekarang senyum ya? Habis liburan kita akan menjenguk kakak kamu." ucap Aron menarik bibir Manda agar bisa tersenyum kembali.


"Aww... sakit .."ucap Manda cemberut.


"Yah, ngambek lagi nih istri bawelku satu ini"gumam Aron.


Manda terdiam dan semakin mempererat rengkuhan tangannya. Di balas dengan pelukan pi belakang punggung Manda.


"Syang kamu ciba lihat ke depan?" tanya Aron, menunjuk ke depan.


"Emang ada apa di depan, apa ada yang lebih menaeik selain melihat pahatan wajah tampan seperti ini lebih baik"ucap Manda tersenyum tipis.


Ini gombalan istr8 aku atau gimana sih, tapi kenapa dia gumeb-tumabena bicara seperti ini padaku, batin Aron.


"Coba deh lihat ke depan syang, aku yakin anak kita tertarik." Ucap Aron.


"Gak mau, aku mau melihat wajah suami aku. Lagian apa ada yang lebih enak di lihat selain wajah suami aku ini"ucap Manda membuat wajah Aron memerah.


"Ya udah jadi kali ini gak usah jajan kalau gitunya, Lihatin wajah aku pasti anak kita sudah kenyang"goda Aron, di balas tatapan aneh dari Manda. Ia medengar seilas ucaoan jajanan. Matanya langsung melebar.


Manda menatap ke depan sekilas, berbagai penjual makanan jalanan khas Italia, terlihat di depan matanya, matanya tak berhenyi memandang, membuat air liurnya menetes. "Syang.." Sapa Manda lembut dengan rayuan menggoda.


"Ada apa syang"di balas dengan jawaban lembut dari suaminya itu. Ia sebanrnya tahu apa maksud dari ucapan Manda yang mencoba merayunya.


"Boleh minta sesuatu?" tanya Manda menatap Aron.


"Minta apa?" tanya Aron, seolah ia tidak tahu apa yang di minta Manda.


"Itu"Manda menunjuk salah satu jajanan di sana . "Sepertinya enak." belum ada jawaban dari Aron, Manda dengan segera manarik tangan Aron tanpa lama-lama berpikir lagi, untuk menghampiri jajanan di sana.


"Yang ini ya syang"gumam Manda.


ia seperti anak kecil yang merengek minta jajan pada Aron.


"Baiklah"ucap Aron pasrah. Ia segera memeriksa kantong celana dan bajunya.


Gawat aku gak bawa uang lagi, kenapa aku jadi lupaan gini ya. Kalau Manda merengek minta lebih gimana nantinya, gumam aron dalam hatinya.


"Eh..pemisi, berapa harga satu trapizino"tanya Aron pada penjual.


Manda mengerutkan keningnya, katanya ornag kaya tapi kenapa beli makanan saja tanya lebih duluan sih.


Manda menarik ujung jaket Aron menatap sisi ke arahnya. "Kamu apa-apaan sih kenapa tanya dulu"ucap Manda kesal. "Gak penting tanya harga, langsung saja pesan"ucap Manda merengek menarik-narik ujung jaket Aron.


Aron mengusap lembut rambut Manda.


"Aku itu lupa gak bawa uang banyak syang, ini ada sisa dikit di kantong jaket aku. Dan atm aku juga gak bawa, ponsel juga ketinggalan di kamar hotel." ucapnya, di balas Manda dengan tatapan melotot ke arah Aron.


"Apa ? "tanya Manda tak percaya. "Kenapa kamu bisa lupa bawa uang sih. Kenapa bisa ceroboh banget kamunya"ucap Manda semakin kesal.


Ia menarik napasnya, menahan sejenak, lalu mengeluarkan perlahan. "Gimana bisa syang, terus gimana dong sekarang? Anak kamu ini minta jajan"ucap Manda mengelus perutanya, dengan menunjukan wajah sedihnya. Membuat Aron tak bisa mengelak lagi, melihat Manda merengek begitu ia tidak tega melihatnya.


"Sudah tenang saja" Ucap Aron memegang perut Istrinya itu. "Kamu masih bisa kok beli, tapi asalkan jangan banyak-banyak ya"gumam Aron, mengeluh oada oerut anaknya.


Aron mengingat sejenak berapa uang yang ada di dalam kantongnya. Lengan tangan kanan masuk ke dalam kantong. Ia menghitung uangnya di balik jaket agar Manda tak tahu berapa uang yang ia bawa. Takutnya dia nanti khawatir lagi gak bisa jajan. "Kamu mau berapa?" tanya Aron.


Manda masih terbebalak melihat lezatnya makanan di depan matanya itu, tetesan air liurnya membuat Aron hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Rasa apa syang" tanya Aron.


"Syang kamu jadi minta gak, mau berapa dan rasa apa?" tanya Aron penuh kesabaran. ia mengusap dadanya berkali-kali menahan rasa geramnya.


"Eh.. iya syang, aku mau gurami satu aja ya, "ucap Manda.


"Sa.." Belum selesai menemurkan ucapannua. Manda menyerobot memotong ucapan Aron.


"Eh gak jadi 2 porsi"gumam Manda meralat memotong pembicaraan Aron.


"Baiklah non"ucap Penjual Itu.


Lama menunggu makanan itu jadi, Manda merasa bosan matanya berkeliling melihat jajanan sekitarnya. Karena bagi dia menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi Manda. Apalagi melihat Aron juga tak menggubrisnya. Ia pergi sendiri di jajanan tepat di sampingnya.


"Pak ini makanan apa?" tanya Manda.


"Panele, apa nyonya mau pesan juga. Tapi nunggu di antrian terkhir ya"ucap penjual itu.


Manda melirik ke sampingnya berjejer banyak sekali pelanggan yang antri untuk mendapatkan makanan itu. Ia hanya bisa menelan ludahnya, tak mungkin ia ikut antri segitu banyaknya orang. "Apa itu enak, kenapa banyak banget yang antri"Gumam Manda dalam hatinya.


"syang kamu di sini, aku cari kamu tadi ternyata di sini. Kamu mau juga makanan itu"tanya Aron.


Manda meringis menatap Aron, "Boleh kan!?" ucap Manda menunjukan wajah polosnya.


"Gak, ini saja belum kamu makan."ucap Aron.


"Please syaang, satu deh, ya" Manda terus memohon pada Aron.


"Gak ya gak"Ucap Aron tegas, bukannya dia gak mau belikan tapi entar bayarnya pakai apa. lagian makanan yang baru saja ia pesan belum juga di makan.


Manda menekuh wajahnya kesal dengan Aeon di saat hamil ia tak perduli apa keinginannya.


"Baiklah, demi anak aku, kamu cepat pesan biar aku yang antri"ucap Aron.


"Nyonya"Panggil Penjual itu, membuat Aron dan Manda menoleh bersamaan. "Ini buwat kalian sebagai hadiah dariku untuk babynya ya"ucap Penjual itu.


"Tapi pak aku belum pesan dan belum antri di barisan belakan."ucap manda bingung.


"Sudah gak usah Non, karena aku lihat non sepertinya sedang hamil, jadi aku berikan ini untuk anak non yang masih dalam kandungan."penjual itu menjelaskan, di balas tatapan melotot tak percaya oleh Manda. Di saat ia hamil rezeki anaknya sellau saja ada.


Aron tersenyum, dan langsung meraih makanannya. "Makasih pak,"ucap Aron dengan membungkukkan punggungnya sedikit dan beranjak pergi menarik tangan Manda untuk menjauh dari sana.


"Syang.. Kenapa kamu menarikku"tanya Manda kesal.


"Aku gak mau kamu jajan terus nantinya. lagian ini juga belum di makan, Sekarang kamu makan dulu, baru kamu baru jajan lagi. Udah sekarang kamu duduk di sini dulu sambil liat air mancur di sampingmu. Aku mau lergi sebentar beli minuman"Aron segera berlari mencari penjual minuman.


Namun ia menemukan penjual Es cream di sana. "Aku belikan ini saja ya, semoga dia suka."


"Tapi apa yang dia mau ya, Aku gak tahu apa rasa kesuakaan dia"


"Maaf tuan, mau minuman apa ya?" tanya penjual itu dengan senyum.


"Eh.. coklat campur Vanila saja deh"gumam Aron yang sudah dari tadi lama berpikir.


"Ini tuan"ucap penjual itu mengulurkan dua contong Es cream berukuran besar.


"Semua berapa?" tanya Aron


"100 rb tuan"ucapnya.


Aron terdiam, "Pas sekali uangku tinggal 100ribu. habis ini aku ajak Manda langsung pulang saja ke hotel ya."gumam Aron dalam hati.


"Cepetan dong antri nih"ucap para pelanggang yang sudah berbaris di belakangnya.


"Ini uangnya"ucap Aron segera meraih es cream itu dan beranjak pergi. menghampiri Manda.


"Syang.."bisik Aron tepat di belakang telinga Manda.


Manda yang sedang menikmati bebebrpa makanan ditangannya terkejut. bibirnya tak berhenti kenunyah meskipun Aron memanggilnya.


Manda menoleh ke belakang, "Katanya beli minuman, mana"ucap manda mengulurkan tanganya.


"Tara ini dia"Lelaki itu memberikan satu contong es Cream tepat mengenai ujung hidungnya.