Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Episode 232


Kesha dan Vino yang masih berdiri di depan pintu rumah


Manda. Mereka masih berdebat, belum ada titik teranganya.


“Awas jika kamu berani mengintipku” ucap Kesha.


“Enggak!!” ucap tegas Vino.


Ia segera menarik tangan Kesha masuk ke dalam mobilnya.


“Eh... kamu mau bawa aku kemana?” tanya Kesha, mencoba


melepaskan tangan Vino.


“Udah, diamlah!! Aku gak akan menyakiti kamu” ucap Vino,


yang segera membuka pintu mobil untuk Kesha.


“Sekarang kamu duduk, dan jangan banyak tanya lagi. Kamu mau


kemana-pun aku akan antar, dengan sepenuh hati.” Ucap Vino, menutup pintunya


dan berlari kecil memutar, lalu masuk ke dalam mobil. Ia segera menyalakan


mesin mobilnya.


Dan dengan terpaksa Kesha hanya diam, mengikuti apa kata


dia. Dan Jika bukan Manda yang menyuruhnya untuk membantu Vino beres-beres. Aku


juga gak mau pergi dengannya. Pikir Kesha.


“Meski kamu menganggap aku sebagai sopir kamu, aku akan


menerima dengan lapang dada” ucap Vino, mencolek dagu Kesha.


“jangan berani pegang-pegang aku” gumam Kesha, mengusap dagunya


bekas colekan Vino.


Vino hanya tersenyum tipis, ia segera pergi menjalankan


mobilnya pergi dari halaman rumah Manda.


Hampir sepuluh menit perjalanan, Kesha hanya diam, tanpa


melirik ke arah Vino sama sekali.


Merasa sunyi tanpa suara Kesha, Vino mencoba membuka


mulutnya untuk memulai pembicaraan lebih dulu, memecahkan keheningan di antara


mereka.


“Sha, gimana soal kemarin?” tanya Vino, membuat Kesha


mengerutkan keningnya bingung.


“Maksud kamu?”


“Soal pembicaraan orang tua kamu” jelas Vino.


“Aku gak tahu, masih belum ada jawaban. Memangnya kenapa?”


Vino menelan ludahnya, ia mengira akan dapat jawaban yang


membuat ia seharian memikirkannya. Sebuah kata ‘iya yang sulit anget untuk


keluar dari mulut Kesha.


“Kenapa kamu diam?” tanya Kesha.


“Mikirin kamu!!” goda Vino.


“kenapa mikirin aku, kamu tahu aku ada di samping kamu”


“Karena, kamu itu ngangenin.” Goda Vino, mencubit pipi kanan


Kesha.


Kesha hanya diam, ia sudah tidak mempan lagi dengan rayuan


Vino yang dari dulu sudah sering ai dengarkan. Dan semuanya sama, tapi hasilnya


tidak seperti kenyataan.


---


Aron yang tadinya ada meeting mendadak, ia sudah kembali


untuk menemani Manda dan ke-empat anaknya.


“Syang!! Aku pulang” panggil Aron, berjalan masuk ke dalam


kamar Manda yang memang tidak di kunci.


Manda mneyambut suaminya dengan senyum hangat, dan sebuah


kecupan di bibirnya.


“Kenapa kamu lama syang?” tanya Mnada, melonggarkan dasi


Aron.


“Maaf syang, tadi aku itu bertemu dengan Clienty jua, hanya


satu jam saja.” Ucap Aron, demgan ke dua telapak tangan Aron memegang pipi


Mnada sampai ke belakang telinganya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Manda


Aron hanya diam, ia mengecup kening anaknya. “Syang janganm


gitu, kalau anak-anak lihat gimana?” tanya Manda malu.


“Mereka gak akan lihat syang, lagian lihatlah. Merka sibuk


bermain dengan ke dua adiknya” lanjut Aron.


Manda tersenyum, melihat anak-anakanya yang sudah mulai


menrima adiknya.


“Syang aku mau mandi dulu, kamu gak mau nemenin?” tanya Aron


menggoda.


“Apa sih syang!! Gak mau”


Aron, terdiam mencubit pipi Manda yang kini terlihat semakin


cabi.


“Mama, Excel nangis” ucap Duke.


“Iya syang!”


“Udah sekarang kamu urus anak kita, aku mandi dulu”


“Iya syang!!”


 Manda segera


menenangkan Excel, memberinya asi.


````


Sudah dua hari di sebuah hotel dekat pantai. Vina dan Albert


terasa sangat menikmati,dan ini hari terakhirnya. Albert kini berbaring bersama


Vina, dengan balutan selimut tebal yang me utupi tubuh mereka.


Albert, membuka matanya, ia melirik ke samping wajah Vina


yang masih ada di sampingnya.


“Apa lagi yang aku lakukan semalam?” gumam Albert, beranja


duduk bersandar di ranjangnya. Ia memegang keplanay yang masih terasa sangat


pusing.


“Kenapa aku bisa berbaring lagi dengannya?” pertanyaan itu


terus muncul dalam otaknya.


Albert mencoba mengingat kejadian sebelum ia berada di kamar


Kemarin aku kinum di sebuah bar hotel, dengan vina. Setelah


itu aku dan dia bercerita tentang cinta yang tidak terbalas, dan malanya..


Arggg.. kenapa aku tidak bisa mengingat jelas.


---


Falsh back


“Kamu kenpa di sini?” tanya Vina yang bingung kenapa Salbert


mengajaknya untuk pergi ke sebuah bar.


“Kita senang-senang di sini, aku mau ajak kamu melupakan


sejenak masalah cinta. Yang membuat pikiran pusing” ucap Albert, yang langsung


memesan beberapa botol minuman sekaligus.


“Apa gak ada cara lain yang bisa kamu lakukan, selain hanya


duduk dan mabuk-mabukan di sini” ucap Vina, yang merasa sangat asing denga


tempat seperti itu.


Albert segera menuangkan minuman di gelas kosong depannya.


“Ini cara efektif sementara” jawab Albert, yang langsung


meminum satu gelas habis.


“Kenapa kamu menuangkan juga ke gelasku, aku hanya mau minum


orange juice” ucap Vina, yang memang gak pernah minum seperti itu.


“Cobalah, kamu harus coba juga” ucap Albert.


“Gak mau!!” jawab tegas Vina.


“Cobalah dikit saja” ucap Albert memaska, ia sudah hampit


habis satu botol, membuatnya sudah setenagh sadar.


Vina, yang semula menolak, ia dengan terpaksa meminum dua


gelas pemberian Albert bertubu, membuat ai lemas, denagn kepala suda melayang


jauh.


“Vina, kamu gak apa-apa?” tanya Albert, mencoba menepuk bahu


Albert.


“Sepertinya memang dia gak pernah minum” Albert segera


membawa Vina pergi ke kamarnya, ia tidak tahu di mana kamar Vina. Dan lebih


milih membawanya ke kamar. Dan dari kemarin Vina juga gak bilang tidur di kamar


berapa.


“Tubuhnya berat banget” gumam Albert, membaringkan tubuh


Vina di ranjangnya.


“Temani aku” Vina merengkuh leher Albert, menariknya jatuh


dalam dekapannya.


Albert yang semula tidak tertarik dengannya. Membuatnya kini


berubah Arah, Vina yang mabuk tiba-tiba menggodanya, mengecup wajahnya


berkali-kali, hingga turun ke lehernya.


“Dasar perempuan jalang” ucap aslbert, kenutup tubuhnya


dengan selimut tebal dan segera membalas dengan cepat perbuatan Vina padanya.


Membuat dia hasratnya mulai tertarik.


mereka saling berpacu dalam selimut, berguling kekanan dan


ke kiri berganti posisi.


````


Back Story.


“Shiitt.. Perempuan jalan ingi yang menggangguku kemarin


malam” ucap Albert, melirik ke arah Vina yang masih terbaring di ranjangnya.


Albert bergegas pergi ke kamr mandi, membasuh badanya yang


terasa sangat kengket. Dan masih bau minuman di tubuhnya.


Beberapa menit kemudian.  Vina terbangun dari tidurnya, ia menatap sekelilingnya, tidak ada


siapa-siapa di ruangan itu.


“Aku di mana? Bukannya ini kamar Albert” gumam Vina, melirik


ke arah tubuhnya yang hanya berbalut selimut.


“Shiitt.... Apa yang aku lakukan kemarin?” tanya Vina,


mencengkram erat selimutnya dan beranjak duduk.


Ia menatap ke lantai, semua bajunya berserakan di lantai.


“Arrgggg.. Vina apa yang kamu lakukan semalaman” ucap Vin


mengacak-acak rambutnya frustasi.


Merasa sedang tidak ada orang, vina beranjak turun mengambil


bajunya yang berserakan di lantai.


“Astaga, kenapam rok aku sobek gini” Vina, mengangkat rok


span miliknya yang sudah jadi dua.


Sudah nanti di pikir lagi.. sekarang aku harus pergi dari


sini. Pikirnya Vina.


Pandangannya terhenti mentap ke kemeja seorang laki-laki di


ranjangnya. Deangan segera Vina mengambilnya, kemudian memkainya dengan cepat.


Ia membuka pintu perlahan, dengan langkah sangat pelan, agar Albert tidak


kmendengarnya.


Vina berlari masuk ke dalam kamarnya. Ia menarik napasnya


lega bisa bebas dari Albert. Sekarang yang harus ia lakukan, segera pergi dari


sini. Tapi aku harus mansi dulu” Vina melemparkan tubuhnya di atas ranjang


miliknya. Merentangkan ke duatanganya, dengan pandnagan mentap atap langit


kamarnya.


Dua kali berhubungan dengan dia, suatu hal yangtidak pernah


aku baynagkan. Dan dia juga akan segera menikah, jadi gak mungkin nanti jika


kau hamil Dia mau bertanggungjawab. Sekarang apa yang haru aku lakukan, aku


bingung, aku gak bisa tinggal diam, dia sudah merebut kesucianku. Ucap Vina


dalam hatinya, ia meneteskan air matanya, dengan tangan terangkat melayang ke


depan.


Aku tejebak dalam sebuah perasaan yang selalu salah. Dan


selalu menyukai orang yang salah. Memang sudah nasibku harus selalu tersakiti.


Pikir Vina.