Gadis Simpanan Om Tampan

Gadis Simpanan Om Tampan
Kepikiran Vino


Manda yang sudah sampai rumah, ia tidak bisa lupa saat bertemu dengan Kesha tadi. Tapi yang ia bingungkan kenapa dia bilang jika tidak seperti dulu lagi. Sebenarnya Kesha ada masalah apa, ada apa dengan keluarganya. Kenapa dia jadi seperti ini, harus bekerja keras sendiri. Dan Vino di mana? kenapa dia tidak bersama dengan Vino. Apa mereka sudah berpisah, atau Vino kenapa. Pikiran itu selalu mengganggu Manda yang duduk bersandar di ranjangnya dengan tatapan kosong. 


Ia tidak sadar Aron datang berjalan menghampiri Manda. "Syang kamu masih mikirin Kesha ya?" Tanya Aron, yang duduk di samping Manda. Memasukan ke dua kakinya ke dalam selimut tebal yang menutup ke dua kaki Manda. 


" iya syang, apa kamu tahu kenapa Kesha jadi gak punya apa-apa gitu. Bahkan sampai dia malu bertemu dengan kita?" Tanya Manda menoleh menatap ke arah Aron. 


"Aku tadi masih suruh manajer kita dulu, untuk segera mencari informasi tentang orang tua Kesha di korea. Dan sekalian aku suruh dia untuk cari Vino. Aku yakin jika Vino ada di sini" ucap Aron, yang teringat lagi dengan adiknya. Sudah lama ia menghilang tanpa ada kabar sama sekali darinya, hanya karena salah paham yang terjadi antara mereka. Hubungan kakak adik harus terpisah seperti ini. 


Manda menyandarkan kepalanya di bahu Aron, dengan ke dua tangan memegang erat tangan kanan suaminya itu. Manda bersandar mesra di bahu Aron. 


"Terus gimana, apa sudah ada informasi tentang mereka?" Tanya Manda. 


"Belum ada syang, kita tunggu saja dulu ya, semoga cepat dapat informasi tentang mereka. Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka. Dan dengan seggera mereka cepat di temukan kembali." ucap Aron, dengan tangan mengusap lembut rambut Manda.


"Syang aku kasihan dengan Kesha, dia sekarang sepertinya menderita. Bahkan dia tidak punya apa-apa lagi. Pasti kuliah dia pakai uangnya sendiri. Dan biaya hidupnya juga pasti oakai uang dia sendiri. Selama 3 tahun ini eknapa kita tidak tahu syang kalau merekamenderita seperti itu." Gumam Manda yang merasa sangat iba dengan temannya itu, Kesha yang dulunya manja dengan ke dua orang tuanya kini berubah drastis membuat Manda merasa ingin sekali membantunya. Dulu Kesha yang embantunya saat dia kesusahan, dan sekarang ia sendiri yang akan membantunya. 


KLINGGG.. 


Mendengar ponselnya berbunyi. Ia melepaskan tangan Manda daei tangannya, Aron segera melihat siapa yang mengirim pesan padanya. 


"Siapa syang?" Tanya Manda, menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan Aron. 


"Manajer syang" gumam Aron, membuka pesan darinya. 


keluarga Kesha sudah lama bangkrut, dan sekarang orang tuanya berada dalam penjara, dan anaknya harus melunasi semua hutangnya. Soal Vino belum ada kabar kelanjutan lagi.


Aron segera menghubungi manajernya, setelah membaca pesan yang di kirimkan padanya tadi. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh dari Manda. Ia tidak mau jika Manda tiba-tiba memotong memotong pembicaraannya.


"Iya tuan, apa tuan sudah membaca pesan yang saya berikan tadi" tanya Manajer Moo. 


"Bayar semua hutang keluarga Kesha dan keluarkan keluarganya dari penjara. Aku mau besok semua sudah beres." ucap Aron tegas. 


"Baik tuan" ucap manajer Moo. 


"Dan gimana apa kamu sudah tahu di mana keberadaan Vino" tanya Aron. 


"Belum tuan, saya masih mengirimkan paparazi untuk mencari di mana dia sekarang"


"Baiklah, cepat lakukan dengan baik. Aku gak mau selama 3 tahun ini tidak ada hasil apapun. Aku mau kamu sekarang bertindak cepat. Setelah melihat keadaan Kesha aku yakin mereka tidak jadi menikah." Ucap Aron. 


Aron segera mematikan ponselnya. Berjalan menuju ke ranjangnya Dan meletakkan di meja kecil samping ranjangnya.


" Gimana syang?" Tanya Manda, memegang tangan Aron di depannya. 


"Benar ayang, Keluarga Kesha bangkrut, dan orang tuanya banyak terlibat hutang. Tapi tenang saja aku sudah surih manajer Moo untuk melunasi semua hutang keluarganya." ucap Aron mengusap lembut kepala Manda. 


"Syukurlah, kalau begitu aku merasa lega sekarang" ucap Manda, mengusap dadanya. Kali ini ia bisa bernapas lega. 


"Syang gimana kalau kamu carikan tempat tinggal juga untuk Kesha, tapi jangan terus terang sama dia. Kamu diam-diam saja memberikan tempat tinggal padanya" ucap Manda, memberikan selusi pada suaminya.


Aron terdiam sejenak, memikirkan ide Manda yang ada benaenya juga. Setelah Kesha ketemu, maka akan dnegan mudah menemukan Vino nanti, pikir Aron. Karena ia tidak tahu jika Kesha sudah lama tidak pernah lagi bertemu dengan Vino.


"Baiklah, boleh juga ide kamu syang." Ucap Aron.


"Besok kaalu kita bertemu dengan Kesha, kita segera carikan tempat tinggal untuknya. Yang lebih layak lagi. Dan Vino juga, biarkan dia tinggal di sini. Agar bisa sambil jaga anak-anak kita nantinya" ucap Aron membayangkan jika adiknya itu ada di tengah-tengaj keluarganya sekarang.


"Iya syang, aku yakin Vino akan segera di temukan, apalagi sekarang kita sudah menemukan titik terang selama bertahun-tahun menunggu" ucap Manda, mencoba menenangkan hati suaminya yang terlihat bersedih.


"Iya syang, u berharao begitu" gumam Aron. "Udah sekarang ayo kita tidur lagian sudah jam segini. Kamu harus tidur syang. Gak boleh malam-malam kalau tidur." Ucap Aron, mengusap lembut rambut Manda.


"Iya syang, tapi kamu janji kan besok cari Kesha" ucap Manda, dengan tatapan memohon pada Aron.


"Iya syang, iya sekarang kamu tidur dulu. Aku mau ke ruang kerja dulu" ucap Aron. 


"Ngapain ke ruang kerja?" Tanya Manda bingung, ia kira Aron sudah Free gak ada kerjaan lagi. 


"Banyak kerjaan syang" ucap Aron beralasan. 


"Ya sudah cepat selesaikan ya syang" ucap Manda. 


"Iya syang" gumam Aron, mengusap lembut rambut Manda. 


Manda segera berbaring di ranjangnya. Dan dengan segera Aron pergi dari kamarnya. Ia terpaksa berbohong pada Manda karena ia tidak mau Manda tahu tentang dirinya yang stres mikirin Vino. Dia satu-satunya keluarga kandung yang ia punya. Tapi kini seakan dirinya sudah tidak mrnganggapnya kakak lagi. 


Aron berjalan menuju ke ruang kerjanya, ia berdiam diri di ruang kerja. Duduk di kursi, membuka laptopnya, mencoba mencari informasi tentang adiknya. Siapa tahu dapat jawaban dari internet. Ia mencoba cek semua murid yangbterdaftar di universitas yang ada di Sydney. 


"Di mana sebenarnya Vino kuliah, kenapa dia tidak terdaftar. Apa sekarang dia ganti nama atau memang dia tidak ada di sini" gumam Aron, menyadarkan punggungnya di kursi. Merasa sudah lelah terus nencari adiknya namun tidak ada petunjuk sama sekali, hingga Aron tertidur di kursi dengan posisi duduk.