
Tepat 20 menit kemudian Aron sampai di depan rumah sakit tempat Manda di rawat. Dia membuka pintu mobil dengan sangat buru buru. Ia tak sabar ingin melihat keadaan Manda bagaimana sekarang. Dia mulai berjalan masuk ke dalam dengan langkah semakin cepat.
Lagian dia juga tinggi jadi setiap ia melangkah terlihat lebih cepat.
" kak kamu sudah sampai??"
Vino memang sengaja menunggu kakaknya di luar dia tidak mau mengganggu Manda yang sedang tidur di dalam.
" gimana keadaan dia??"
" Dia baik baik saja, kak Aron masuk saja aku mau pergi menemui pacar selinganku" Ucap Vino lirih menepuk pundak Aron dengan senyum manisnya berlari pergi meninggalkan Aron yang masih berdiri di depan pintu.
" Dasar tu bocah" Aron menggelengkan kepalanya tak percaya adiknya bisa seperti itu. Baru berusia 17 tahun sudah berani bermain wanita.
Ia perlahan membuka pintu kamar ruangan Manda, dengan sangat hati hati. Ia tidak mau mengganggu Manda yang masih berbaring di ranjangnya.
" Aku datang?" Ucap Aron berdiri di samping Manda berbalik arah dengan wajah Manda.
Manda yang pura pura tertidur hanya diam tak bersuara. Ia mencoba mendengarkan apa yang di katakan Aron untuknya.
" Apa kamu suka dengan semua yang ku berikan padamu? Pasti kamu tadi sudah melihatnya kan. Itu tanda maaf dariku aku tidak maksud untuk membuatmu seperti ini" Manda mengedipkan mata ia seoalah menutup mulutnya rapat rapat. Menahan air mata yang sudah terbendung di matanya.
" Aku akan menikahimu, tapi jangan salah sangka . Aku menikahimu bukan karena cinta hanya karena ingin menebus kesalahanku" Ucap Spontan Aron membuat Manda terdiam seketika ia tak bisa menahan air matanya lagi.
Manda membuka matanya seketika mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kedua punggung tangannya. Ia membalikkan badannya menatap Aron. " aku tahu pertemuan kita juga bukan di landasankan cinta, tapi karena hutang kakak iparku. Aku mau menikah denganmu tapi juga bukan karena cinta. Aku mau kamu tanggung jawab atas semua yang kamu lakukan" aron terdiam seketika mendenagr ucapan Manda.
Memang tidak ada ikatan cinta di antara mereka. Manda hanya sebatas Simpanan bagi Aron karena memang dia sudah punya istri sah meskipun tidak tinggal serumah. Kelakuan nya membuat dia harus menanggubg semua penderitaan Manda. Dia tidak mau Manda terpuruk seperti itu. Meskipun bukan karena Cinta tapi sehendaknya dia bisa melihat Manda bisa tersenyum lagi dan melanjutnya sekolahnya.
Semua masih terdiam saling menatap satu sama lain. " kapan kita akan menikah Om" Manda memberanikan diri untuk bertanya pada Aron. Mencoba tersenyum mematap mata Aron
" Jika kamu mau menikah sekarang tidak apa aku akan menikahi kamu di rumah sakit" Ungkap Aron kini wajahnya mulai dingin tak seperti aron yang nampak khawatir dengan keadaan Manda sebelumnya.
" Baiklah, tapi aku ingin 1 syarat setelah menikah" Manda menghela nafasnya dalam dalam.
" Apa?" Hanya satu kata keluar dari mulut Aron. Dia memang tidak mau terlihat lemah di depan Manda.
" aku hanya ingin tetap bebas pergi kemanapun termasuk kerja dan sekolah"
" Baiklah" Aron pergi begitu saja tanpa selatah kata lagi pada Manda.
Mendengar suara pintu tertutup Manda nampak sangat lega. Iblis itu benar benar sudah pergi. Dan kali ini ia hanya terdiam diri merenung dengan apa yang dia katakan barusan. Apa itu keputusan yang tepat atau akan semakin membahayakan dia nantinya. Aron sangat ganas bahkan lebih ganas dari pada hewan buas. Apakah dia sanggup bertahan menjadi istri simpanan Aron. Entahlah...
Hanya takdir yang bisa memjawab semuanya.
" Apa aku tadi mimpi mendengar Om aron mengucap kata maaf padaku" Manda terdiam mengingat kejadian tadi benar benar di luar dugaan dia.
Seorang datang membawa penghulu. Karena memang mereka sama sama beragama sama. Pernikahan sederhana pun di mulai. Membuat Manda terdiam seketika, apa yang barusan ia katanan di anggap serius oleh Aron dan kini hari ini detik ini dia akan segera menikah meskipun hanya pernikahan siri. Tapi itu membuat Manda lega ada yang mau menikahinya. Jika dia menikah dengan orang lain tidak mungkin mau menerima keadaannya. Dengan semua kondisinya sekarang.
" apa kamu sudah siap??" Tanya Aron mencoba membantu Manda untuk duduk.
" Sudah" Jawab Manda nampak sangat ragu ragu . Dia tak menyangka akan segera menikah sekarang dengan orang yang tak pernah ia cintai sama sekali dan sekaligus orang yang paling dia benci. Entahlah kebahagiaan atau kesedihan yang akan ia dapatkan nantinya.
" Baiklah , aku sudah siapkan cicin berlian ini untuk mas kawin kita" kata Aron mengambis sebuah cicin dari saku jasnya.
" Baiklah pernikahan kita mulai" Kata sang penghulu. Di sana hanya ada dia dan seseorang yang tidak Manda kenal sebagai saksi.
Manda hanya terdiam melihat Aron sudah mulai mengucapkan menerima pernikahan pada sang penghulu. Ia hanya terdiam hingga tak sadar air mata menetes di matanya. Kini hidupnya sepenuhnya dalam perangkap dan genggaman Aron.
" keputusan akhir dari hidupku" Batin Manda tepat saat para saksi mengucap kata sah.
Ia mencoba tersenyum manis du hadapan penghulu untuk mengurangi rasa curiga mereka. Aron memegang jemari lentik Manda, memakaikan cicin berlian yang sudah ia bawa.
Manda hanya terdiam menutup mata menarik nafas lega untuk menerima kehidupan barunya.
Semua orang di ruangan bertempuk tangan setelah Aron selesai memakaikan cicin di jemari lentik Manda yang sudah nampak dingin. Dia terlalu gugup dengan itu semua, ia tak menyangka menikah muda namun hanya sebatas simpanan Om Aron.
Manda masih terdiam tak banyak bicara, seolah mulutnya membisu tak bisa berkata apa apa. Ingin sekali ia menolak tapi tidak mungkin. Tak lama para penghulu dan saksi pergi dari ruangan Manda di antar Aron menuju ke depan pintu ruangannya.
" huffft... " mengehelanafas panjang.
" apa aku sudah gila?" Ucap Manda mengacak acak rambutnya.
" kenapa aku harus melakukan hal konyol ini menikah dengan seorang iblis" gumam Manda lirih ia menutup wajahnya, yang sudah di penuhi dengan air mata.
Tak menyangka hidupnya akan selalu menyedihkan. Belum sempat menemukan seorang pembunuh orang tuanya. Ia harus di hadapkan dengan masalah baru yaitu masuk dalam penjara Aron. Bahkan kini dia menjadi istrinya yang berarti akan memenuhi tugasnya sebagai istri. Ia tidak bisa membayangkan itu semua melayani lahir dan batin Aron sepenuhnya. Ia masih sekolah masih punya masa depan panjang. Apa yang akan terjadi nanti jika semua tahu dia sudah menikah dengan Aron.
Apalagi jika suatu hubungan suami istri akan menghasilkan sebuah binih . Mungkin akan semakin membuat Manda malu. Akan banyak orang yang menentangnya termasuk istri sah Aron yang Masih di Kota C . Jika tahu Aron menikahinya entah apa yang di lakukan istri sahnya dengan Manda. Dia akan menyiksa Manda atau perlahan akan menyakitinya. Entahlah...
Suara pintu terbuka membuat Manda tersadar dari lamunannya.
" Om??" Panggil Manda mencoba tersenyum menyapa Aron.
" kita akan segera pulang, jadi kamu harus bereskan barang barang kamu sendiri" Manda terkejut seketika mendengar ucapan Aron. Bagaimana bisa tangan dan kakinya masih di perban dan belum sepenuhnya pulih dari luka pecahan kaca kemarin. Ia harus beres beres semuanya sendiri. Tapi Manda mencoba sabar ia mengehela nafas mulai mencabut infus di tangannya beranjak berdiri sendiri tanpa bantuan Aron.
" Aww... sakit" manda hampir saja terjatuh memang kakinya masih sangat sakit jika berdiri. Tapi Aron tak perdulikan itu ia duduk di sofa terdiam menatap layar ponselnya.
" Apa hatinya benar benar tebuat dari batu" Batin Manda mencoba berjalan perlahan membereskan semuanyanya. Tak kuasa air matanya mulai menetes lagi, ia segera menghapus dengan punggung tangannya agar Aron tak melihat jika dia lemah.
Selesai membereskan semuanya ia mencoba duduk di ranjang menghilangkan rasa sakit kakinya sejenak. Dengan pandangan tertuju pada Aron yang masih duduk terdiam di sofa tanpa sedikitpun melirik Manda.