
“Makanya udah tahu kalau ini itu bukan mimpi, tapi kamu malah berhayal” ucap Kesha. Kembali mentap ke erah pantai.
“Iya, aku hanya mastiin Kesha” ucap Vino.
Kesha tersenyum, menyandarkan kepakanya di bahu Vino, sangat
mesra. Di balas dengan sentuhan lembut jemari tangan Vino di atas kepalanya.
Hingga turun di pipinya, jemari Vino
mengusap berkali-kali.
“Apa kamu gak mau pergi sekarang?” tanya Vino.
Kesha melirik jam tangan di pergelangan tanganya, sudah
menunjukan pukul delapan malam. Mereka masih tetap Stay di pinggir pantai.
Semilir angin pantai, manusuk ke tulang Kesha, membuat wanita itu, mengusap
tnganya berkali-kali, menghilangkan rasa dingin yang semkain menjalar di
tubuhnya.
Vino yang menyadari hal itu, ia melepaskan jaketnya,
memakaikan jaketnya pada tubuh Kesha. Lalu memegang ke dua tangannya. “Kamu
kalau dingin bilang, jangan diam saja. Sekarang kita pulang ya!!” ucap Vino.
Kesha mentap mata Vino yang membuatnya benar-benar kagum
dengannya. “Makasih ya!!” ucap Kesha.
Vino bergegas membantu Kesha untuk berdiri, dan beranjak
pergi dari pantai itu.
----
Di sisi lain Vina yang dari tadi pagi belum pulang ke
rumahnya. Sesudah ia keluar dari hotel, ia tidak menginjakkan kakinya sama
sekali di rumahnya. Hingga membuat orang taunya khawatir.
Vina merasa pikirannya benar-benar kacau, ia tidak bisa jika
harus, berada dalam bayang-bayang penyesalah. Ia seharian mencari ketenagan
mengelilingi kota. Dan berhenti di supermarket untuk membeli beberapa minuma.
Dan segera pergi lagi menuju jembata yang mnejulang panjang menghubungkan kota.
Hingga malam tiba, ia berhenti di sana, keluar membawa beberapa minuman dan
duduk di pinggiran jembatan mentap ke laut luas di depanya.
“Pemandangan yang sangat indah” ucap Vina, dengan tangan
membuka minuman dingin yang ia beli tadi, meneguknya operlahan. Kembali lagi
mentap ke arah laut.
“Tapi tak seindah hatiku sekarang, aku merasa tidak ada
orang yang sangat menyayangiku. Tidak ada yang perduli dengan aku. Dan Vino
juga pasti sekarang bersama dengan Kesha.” Ucap Vina, meneguk lagi minumannya.
“Semoga kalian bisa bersama lagi, Aku harap hubungan kalian membaik” Vina tak
berhenti terus berbicara sendiri, dan. Tes..
Tiba-tiba air mata keluar dari mata indahnya, wajah yang
semula tersenyum , berubah jadi sebuah tangisan yang semakin menjadi. “Aku
benci kehidupanku..” teriak Vina, meneguk minumanya sampai tak tersisa,
mencengkram erat botol minuman itu, melemparanya jauh ke depan.
“Kenapa... Kenapa kisah cintaku seperti ini? Kenapa aku
selalu menederita karena cinta, apa semua cinta memang sudah tidak berpihak
lagi padaku, apa semuanya sudah menjauh dariku... “ teriak Vina menggema ke
seluruh penjuru pantai.
Vina terdiam sejenak, ia mulai teringat dengan kenangan lalu
yang membuat ia jadi seperti ini, di mana saat ia kecil bertemu dengan seorang
laki-laki, dan memberinya sebuah permen saat dia menangis. Dan setelah itu
mereka selalu bertemu di tempat yang sama. Bermain bersama, Vina yang dulu
tidak punya teman, dan selalu di jauhi teman-temannya. Ia merasakan punya teman
baru saat bertemu dengannya, bahkan dia mau begitu saja menerimanya sebagi
teman.
Hingga mereka berjanji, akan selalu jadi teman selamanya.
Tapi stelah berbicara itu, keesokan harinya ia sudah tidak bertemu lagi dnegannya.
Bahkan, sudah tidak ada lagi kabar darinya. Hingga, Vina lupa dengannya. Dan di
saat seperti ini, ia kangaen dengannya yang selalu menghiburnya dulu. Teman
masa kecil yang selalu ia rindukan.
“Kamu di mana?” tanya Vina pada dirinya sendiri, dengan pandangan
kosong menatap ke depan. Dan air mata seakan sudah habis tak tersisa lagi.
Hingga matanya mengering. Vina terseyum tipis, mengambil minumannya lagi,
meneguknya setengah botol.
Merasa bosan , ia beranjak berdiri merasakann hembusan angin
pantai yang membuat hatinya semakin sejuk. Vina memejamkan matanya,
merentangkan ke dua tangannya, merasakan angin pantai yang mulai masuk ke dalam
pori-porinya dan dinginya semakin menusuk ke tulang nya.
“Aku merasa sangat tenang. Sanga damai seperti ini” ucap
~~
Albert yang dari tadi cemas mencari Vina, ia sampai menelusuri
setiap sudut kota. “Vina, kamu di mana? Aku harap kamu tidak melakukan hal
bodoh” gumma Albert, menggigit jemarinya, menghilangkan rasa cemas yang semakin
menjadi. Hingga ia tidak sadar melintas di melewati mobil Vina. Ia melirik
sejenak, orang yang berdiri di atas jembatan.
Ia menggelengkan
kepalanya. “Apa dia sudah gila mau bunuh diri” ucap Albert. “Sepertinya, memang
dia sudah gila” Albert menghentikan mobilnya, dan beranjak turun, berlari
menghampiri wanita di atas jembatan itu. Ia tidak sadar jika mobil Vina ada di
depanya.
“Eh... turunlah, apa yang kamu lakukan” ucap Alber, dengan
kepala sedikit mendongak entap wanita itu.
“Turunlah!!” ucap Albert lagi, mengulurkan tanganya ke atas.
Ajah wanita itu tertutup rambut panjangya, membuat Albert
tidak bisa melihat jelas siapa wanita di depannya itu. Vina hanya diam, ia
merasakan relaksasi angin laut yang membuat ia tak mendengarkan semua suara
mobil yang lewat bahkan orang yang dari tadi menyuruhnya turun.
“Ehh.. Gadis gila, cepatlah turun!!” ucap Albert yang sudah
semakin kesal, ucapanya tidak di hiraukan dari tadi.
“Kamu mau turun sekarang tidak,, peganglah tanganku.. Jangan
bertindak bodoh wahai gadis gila.. “ ucap Albert, menguluran tanganya lagi ke
depan.
Vina perlahan membuka matanya, ia melihat ke bawah seorang
laki-laki yang terus memanggilnay gadis gila dari tadi.
“Vina??” ucap Slbert terekjut.
“Albert! Kenapa kamu ada di sini” ucap Vina yang terkejut
saat Albert ada di dekatnya.
“Kamu turun dulu.. Jangan bertindak bodoh Vin, kamu turun ya
sekarang. Kita akan bicarakan baik-baik” ucap Albert, mengulurkan tanga ke atas
lagi, berharap vina akan menerima uluran tanganya.
Vina mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa maksud Albert.
“Vina, turunlah... Jangan mencoba bunuh diri. Aku gak mau
jika kamu melakukan hal bodoh itu. Kasihan keluarga kamu yang dari tadi juga mencari
kamu”
Vina menatap semakin aneh, dan tertawa. “ Apa kamu pikir aku
akan bunuh diri.” Ucap Vina.
Albert terdiam, ia mengerutkan keningnya. Menarik kembali
tanganya yang mengulur ke atas.
Vina mencoba untuk duduk. Sreetttt...
Aaaa..
Vina terpeleset hampir jatuh ke laut.
Dengan sigap tangan Albert memegang tangan Vina. “ Vina
peganglah erat tanganku” ucap Albert, mencoba menarik tangan Vina ke tas secara
perlahan, dan. Bukkk..
Tubuh Vina jatuh tepat di atas tubuh Albert, dalam dekapan
erat tangan Albert. Tangan Albert mendarat di pinggang Vina. Ke dua mata mereka
saling tertuju. Dengan detak jantung saling berpacu cepat.
“Maaf!” ucap Albert, yang tidak melepaskan tanganya, di atas
pungung Vina.
“Kamu jangan berdiri lagi di situ bahaya” ucap Albert lirih,
dengan tangan kanan, mengusap lembut pipi Vina.
“Emangnya kenapa, dan kenapa juga kamu menolongku. Bukanya
kamu sangat benci dnegan aku” ucap Vina beranjak berdiri, duduk di mobil
depannya.
“Aku menolong kamu, karena kau gak mungkin tega melihat
orang mau jatuh ke bawah. Entar di kira aku yang membuat kamu celaka” ucap
Albert, duduk di samping Vina.
“Ini minuman, minumlah” ucap Vina, mengulurkan sisa minuman
yang ia beli tadi di supermarket.
Albert menerima, lalu membuka botol minuman itu, meneguknya
perlahan, kemudian meletakkan minuamn di samping duduknya.
“Kenapa kamu tidak pulang” tanya Albert, menatap ke arah
Vina, yang masih meneguk minumannya.