
" Sudah jangan terlalu lama pegang gaunku" Bentak Manda pada Jack di belakangnya.
" baru saja selesai, udah di tolongin gak terima kasih malah marah-marah" ucap Jack beranjak pergi dengan wajah terlihat sangat kesal pada Manda.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ia terdiam seketika menatap dasinya. helaian benang dasi Jack terlihat tersangkut di resleting Manda membuatnya tak bisa berkutik. Kalau ia memaksa untuk menarik juga gak menyelesaikan masalah nanti tambah marah tuh Manda.
Ia mencoba menariknya namun tetap tak bisa. " Kenapa kamu narik-narik gaun ku. Apa kamu mau bertindak jahat denganku" Bentak manda sembari menoleh ke belakang. Denhan ke dua tangan sebisanya mentupi tubuhnya meskipun masih lengkap mengenakan baju.
" Dasi aku nyangkut kamu tenang aja jangan bergerak aku lepaskan dulu resleting gaunmu" melihat ekspresi wajah Manda terlihat sangat marah. Ia mencoba menjelaskan lagi. " Udah tanang saja aku tidak akan melihatnya, hanya sebentar saja. Kalau aku lepas dasiku dari kerahnya bisa-bisa Aron marah entar di kira kamu berhubungan dengan lelaki lain" lanjutnya. Dengan senyum tipis.
Manda masih terdiam dengan mata sedikit melebar dan bibir mengerucut menatap tajam ke arah Jack.
" Baiklah , cepat keburu Aron datang. Aku tidak mau nanti dia salah paham lagi" Ucap Manda dengan nada juteknya. Ia melemparkan pandangannya berlawanan Arah .
Dengan segera Jack membuka resleting manda sedikit. Lalu segera melepaskan dasinya. Belum selesai menutup lagi tiba-tiba seseorang mengejutkannya.
" Apa yang kalian lakukan" suara lantang yang sangat familiar di telinga mereka itu membuat Manda dan Jack menoleh seketika.
Jack masih memegang resleting gaun Manda, belum sempat menariknya ke atas, tiba-tiba Aron sudah berdiri dengan tatapan sangat tajam dan dingin pada mereka. Jack sadar dnegan tatapan Aron seketika melepaskan tangannya dari gaun Manda.
Aron terlihat lebih santai dengan senyum semringai.
" Aku gak nyangka teman aku sediri menikung ku dari belakang, dan kamu Manda dasar wanita murahan" Ucap Aron lirih dengan berjalan santai menatap ke arah mereka bergantian.
Pintu ruangan yang belum tertutup itu membuat semua karyawan berebut melihat moment menegangkan itu. Bahkan belum pernah terjadi moment seperti itu dalam kantornya. Mereka tak mau melewatkan pertandingan seru antara mereka.
Jack berjalan menghampiri Aron mencoba menjelaskan padanya. " Aron aku bisa jelaskan padamu, ini tak seperti yang kamu lihat"
"Gak ada yang perlu di jelasin lagi" Aron memotong pembicaraan Jack, seolah ia tak mau mendengar penjelasan apapun darinya. Aron benar-benar kecewa pada kereka. Apa yang ia lihat itulah kenyataannya.
" Sekarang cepat pergi dari sini aku tidak mau melihatmu di sini" Ucap Aron pada Jack dengan tangan menunjuk ke pintu keluar. Ia masih punya batas marah dengan Jack. Karena dia sahabatnya, bahkan ia sudah anggap dia seperti keluarganya sendiri.
Dan dia juga yang membantu Aron dulu bisa bangkit dan bisa sesukses ini. Kalau bukan berkat dukungan dan bantuanya entah gimana kehidupannya sejak orang tuanya meninggal. Mungkin sudah jadi gelandangan dan hidup di jalanan. Karena ia dulu tak punya pengalaman sama sekali dalam berbisnis. Dan apalagi ia dulu masih remaja tak begitu pintar dan suka sekaki menghamburkan uang.
***
" Baiklah aku akan pergi. Tapi setidaknya nanti dengarkan penjelasan manda dulu jangan salah paham pada kita" Ucapnya. Ia segera beranjak pergi sebelum amarah Aron mulai memuncak. Sepertinya ia harus menyerahkan semua pada Manda. Berharap ia bisa membuat Aron percaya padanya. Agar tidak terjadi salah paham yang menimbukan perpecahan dalam sahabat dan keretakan rumah tangganya nanti.
Jack berjalan keluar mendorong semua karyawan keluar dari depan ruangan Aron. Lalu menutupnya rapat-rapat
" apa yang kalian lihat ini bukan tontonan, cepat kerja sana " Bentak Jack dengan nada semakin tinggi membuat para pegawai itu mulai terbirit-birit pergi dari depan ruangan Aron.
***
Aron berjalan mendekati Manda dengan senyum sinis
Aron tertawa kecil memandang Manda.
" Iya kamu tak lebih dari wanita jalang dengan siapapun kamu mau, kemarin adikku sekarang temanku. Besok pegawai ku juga kamu embat" lanjutnya dengan nada semakin kasar.
Manda yang semula diam menerima setiap ucapan Aron. Kini ia semakin marah, sebuah tamparan mendarat pada pipi Aron.
" Plakk..."
" Sudah cukup kamu bicaranya, sudah cukup semua hinaan yang kamu berikan padaku. Asal kamu tahu aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Dan jika kamu menilaiku seperti itu. Kenapa dulu pertama kali kamu menyiksaku aku masih Virgin. Bahkan kamu menyiksaku berulang kali. Aku bisa memaafkanmu dengan mudah. Tapi apa balasan kamu, Sekarang cuma gara-gara masalah sepele kamu menghinaku seperti itu. Kenapa tidak dari dulu aku melakukan itu dengan lelaki lain" Ucap manda dengan nada sesegukan, tak terasa butiran kristal keluar dari mata bulatnya. Hatinya amat sesak mendengar ucapan itu keluar dari mulut Aron. Ia tak menyangka Aron menghinanya dengan ucapan seperti itu.
Aron terdiam seketika dengan tangan memegang bekas tamparan Manda sejenak. Ia tak tahu apa ia salah mengucap kata itu pada Manda. Lelaki itu berjalan mendekati Manda. Ia mencoba menyentuh tangan Manda. Namun manda menepis tangan aron dan beranjak pergi dengan rasa kesalnya. Ia membuka pintu terlihat beberapa pegawai asyik menguping di depan ruangan.
Tak perdulikan tatapan jijik mereka padanya. Ia beranjak pergi dengan ari mata semakin derasnya membasahi pipi mulusnya yang kini berbalut make up mahal yang di belikan oleh Aron khusus untuknya.
" Benar-benar wanita jalang" Ucap salah satu pegawai dengan tatapan mengejek pada Manda.
" Iya wanita murahan, tubuhnya sudah tak suci sejak dia menikah" sambung pegawai lainya.
Manda yang mendengar jelas ucapan itu hanya terdiam menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyeka air matanya dan beranjak kembali. Ia berlari keluar dari kantor Aron. Tanpa menanggapi omongan mereka yang tak pernah tahu apa yang ia derita.
****
Aeon yang masih di dalam ruangan terus teriak-teriak gak jelas.
" shiit... sialan" Teriak Aron dengan mengobrak-abrik semua yang ada di meja.
" kenapa kamu terlalu bodoh Aron" ucapnya memarahi dirinya sendiri.
Braaakkkk...
Ke dua tangan Aron menggebrak meja sangat keras. Ia tak perdulikan Manda yang keluar entah kemana. Di lain pihak hatinya sangat cemburu. Namun di sisi lain ia tak bisa begitu marah dengan Manda.
Aron terbayang lagi jika Manda pergi jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Dengan segera ia beranjak keluar mengejar Manda yang mungkin sudah menjauh.
Ia tak mau terjadi sesuatu dengan Manda. Bahkan tadi kata-katanya sudah menyakiti jati duri Manda.
Aron berlari menuju ke jalan raya. Namun tak melihat Manda di sana.
" Kemana dia pergi?" Ucap Aron dengan badan terus berputar pelan, menatap sekelilingnya. Ia berharap akan menemui Manda dan minta Maaf telah membentaknya tadi bahkan menghinanya.
maaf ya baru up lagi. tadi mau up eh ketiduran.
oya jangan lupa Vote ya pakai poin ayau memberi tips pakai koin juga boleh. Hehe.